Stockholm, 3 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


KABAYAN, ITU HAK POLITIK WANITA DI SAUDI DIBATASI KARENA SISTEM POLITIK BUKAN AGAMA

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MANG KABAYAN, ITU HAK POLITIK WANITA DI SAUDI DIBATASI KARENA SISTEM POLITIK SAUDI ARABIA BUKAN AGAMA

 

"Hatur Nuwun atas penjelasannya, Mang. Semakin jelas sekarang bahwa hal-hal yang serba berlebihan itu tidak disukai oleh Allah, dan memang pada kenyataannya banyak berdampak negative. Maaf Mang, sayah hanya penasaran saja, karena baru tau sedikit dan ingin tahu yang lebih jelas dari berbagai sumber supaya tidak salah mengerti atau paling tidakbanyak dasar pertimbangannya. Satu lagi Mang, masih berkaitan dengan issue wanita, betulkah di Saudi Arabia hak-hak wanita sangat dibatasi lebih dari apa yang Mang Ahmad terangkan terdahulu?; Katanya, wanita dibatasi tidak boleh mengemudikan mobil (mungkin juga unta). Kalau betul, kira-kira faktor apa yang menyebabkan hal ini terjadi?  Bila dihadapkan dengan penjelasan Mang Ahmad tentang hal ini, terkesan ada perbedaan aplikasi di lapangan." (Kabayan kabayan, kabayan555@yahoo.com , 3 augusti 2005 01:59:50)

 

Baiklah mang Kabayan di Monterey, California, US.

 

Masalahnya dalam melihat dan mencontoh Rasulullah saw ketika membangun Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib, bukan adanya hal-hal yang serba berlebihan, melainkan harus digali, diteliti, dianalisa, dibandingkan berdasarkan dalil aqli dan dalil naqli. Nah disinilah permasalahannya.

 

Kemudian mang Kabayan menyinggung masalah isu hak-hak wanita di Saudi Arabia. Sebenarnya, hak-hak wanita dalam Islam itu telah jelas terpapar dalam Al Qur’an. Hanya permasalahannya sekarang adalah ketika mencoba untuk melihat, membaca, memikirkan, menganalisa, menafsirkan dan menyimpulkan dasar-dasar hukum tentang masalah hak-hak wanita ada perbedaan. Nah, disinilah permasalahannya.

 

Di Saudi Arabia itu paham wahhabi atau salafi yang dijadikan dasar acuan hukum bagi Kerajaan Saudi Arabia ini. Dimana dasar hukum yang dipakai di Saudi Arabia ini adalah dasar hukum yang telah digariskan oleh Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin 'Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi atau yang dikenal dengan nama Syeikh Muhammad bin 'Abdul Wahab pendiri Salafiyyah, yaitu pergerakan pembaharuan ketauhidan yang bertujuan memurnikan kembali ketauhidan yang telah tercemar oleh pelbagai macam bid'ah dan khurafat yang membawa kepada kemusyrikan, dimana orang-orang Salafiyyah ini disebut Wahabiyin, yakni orang-orang yang menjalankan gerakan Wahabiyah.

 

Nah, kalau di Indonesia organisasi yang menelan paham yang dikembangkan oleh Syeikh Muhammad bin 'Abdul Wahab pendiri Salafiyyah adalah organisasi Islam Muhammadiyah. Tetapi ada juga pengikut-pengikut paham wahhabi atau saklafi Saudi di RI yang memakai nama Salafi.

 

Tentang masalah wahhabi atau salafi Saudi ini telah sering dibahas Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini.

 

Kembali kepada masalah wanita di Saudi Arabia. Sebagaimana yang dijelaskan di atas paham wahhabi atau salafi yang dijadikan acuan hukum di Kerajaan Ibnu Saud ini memang dalam melihat wanita sangat tekstual sekali.

 

Tetapi, dalam kenyataan kaum wanita di Saudi mendapat kebebasan untuk mendapatkan pendidikan dari mulai sekolah dasar sampai universitas. Mereka menduduki posisi-posisi penting dalam lembaga Kerajaan Saudi Arabia. Hanya saja dalam keluarga Ibnu Saud, memang wanita tidak ditonjolkan di depan umum. Contohnya istri-istri Raja Saudi tidak pernah tampil didepan umum dan tidak pernah tampil bersama dalam hal-hal yang menyangkut kenegaraan.

 

Tentu saja, karena dalam wilayah Kerajaan Saudi Arabia tidak dibenarkan adanya partai politik, dan seluruh rakyat tidak diberikan hak politiknya. Seperti wanita tidak diberikan hak memilih, hanya laki-laki yang telah berusia 21 tahun keatas yang dibenarkan untuk ikut pemilihan guna memilih setengah dari anggota Majelis Lokal atau Propinsi, dan memilih sepertiga jumlah anggota Majelis Syura (40 anggota). Jumlah seluruh anggota Majelis Syura adalah 120 anggota dan Ketua Majelis Syura ditunjuk oleh keluarga Kerajaan. Dimana pemilihan anggota Majelis Lokal atau Propinsi dan Majelis Syura ini ditetapkan oleh Dewan Menteri pada bulan Oktober 2003, dan dijalankan pada bulan Februari sampai April 2005.

 

Memang dalam masalah hak politik bagi kaum wanita di Kerajaan Saudi Arabia masih dibatasi. Dan hal ini memang karena pandangan paham wahhabi atau salafi yang sangat tekstual tentang keterlibatannya kaum wanita di dunia politik. Wanita bisa mendapat pendidikan, pekerjaan yang sesuai dengan kewanitaannya dan tidak menjadi objek kejahatan kaum laki-laki, tetapi dalam masalah hak dalam bidang politik, kaum wanita masih tetap dijaga dan tidak dibenarkan. Contohnya tentang tidak adanya hak memilih bagi bagi kaum wanita Saudi untuk memilih wakil-wakil anggota Majelis Propinsi dan Majelis Syura.

 

Jadi, sebenarnya faktor yang memberikan keterbatasan hak politik bagi kaum wanita di Saudi Arabia adalah karena sistem politik yang dianut oleh Keluarga Kerajaan Saudi Arabia yang merupakan sistem politik yang hanya menonjolkan kaum laki-laki saja. Dimana kaum perempuan diletakkan dan dijaga dibelakang dan didalam kamar. Urusan politik dan pemerintahan adalah urusan laki-laki dari Keluarga Ibnu Saud. Kaum perempuan menyokong dari belakang layar, tidak boleh ikut campur dan memprotes hal-hal yang menyangkut kebijaksanaan politik, pemerintahan yang dijalankan oleh Keluarga Ibnu Saud. Dan Para ulama wahhabi atau salafi tidak dibenarkan ikut campur dalam urusan pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia. Mereka para ulama wahhabi atau salafi hanya dibenarkan memberikan fatwa, saran, baik diminta atau tidak diminta. Adapun pelaksanaannya, itu sepenuhnya dijalankan oleh Raja dan keluarga Raja Ibnu Saud.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

From: kabayan kabayan kabayan555@yahoo.com

Date: 3 augusti 2005 01:59:50

To: Ahmad Sudirman ahmad_sudirman@hotmail.com

Subject: Aplikasi di lapangan

 

Basmalah 3x,

Salam,

 

Hatur Nuwun atas penjelasannya, Mang. Semakin jelas sekarang bahwa hal-hal yang serba berlebihan itu tidak disukai oleh Allah, dan memang pada kenyataannya banyak berdampak negative.

 

Maaf Mang, sayah hanya penasaran saja, karena baru tau sedikit dan ingin tahu yang lebih jelas dari berbagai sumber supaya tidak salah mengerti atau paling tidakbanyak dasar pertimbangannya.

 

Satu lagi Mang, masih berkaitan dengan issue wanita, betulkah di Saudi Arabia hak-hak wanita sangat dibatasi lebih dari apa yang Mang Ahmad terangkan terdahulu?; Katanya, wanita dibatasi tidak boleh mengemudikan mobil (mungkin juga unta). Kalau betul, kira-kira faktor apa yang menyebabkan hal ini terjadi?  Bila dihadapkan dengan penjelasan Mang Ahmad tentang hal ini, terkesan ada perbedaan aplikasi di lapangan.

 

Sekian Mang, terima kasih. Hamdalah

 

Wassalam,

 

Kabayan

 

kabayan555@yahoo.com

Naval Postgraduate School

Monterey, California, US

----------