Stockholm, 3 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SAPRUDIN, ITU DIBEBERKAN FAKTA, BUKTI, SEJARAH & DASAR HUKUM TENTANG ACHEH & PAPUA, TERBONGKAR KEBOHONGAN

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



SURYA PASAI SAPRUDIN, ITU DENGAN DIBEBERKAN FAKTA, BUKTI, SEJARAH & DASAR HUKUM TENTANG ACHEH & PAPUA, TERBONGKAR KEBOHONGAN

 

"Bagai keluar dari sangkar. Refleksinya, Ahmad Sudirman berusaha menikmati kebebasan semaksimal mungkin sekaligus mewujudkan sejumlah obsesi kebebasannya. Itulah salah satu munculnya manusia-manusia kecoa model Ahmad Sudirman yang baru menafaskan diri dalam bendera demokrasi atau Hak Asasi Manusia.Yang perlu diwaspadai  lebih jauh adalah, apakah kemunculan manusia model Ahmad itu merupakan manifestasi keberontakannya akibat pemasungan hak-hak politiknya ? Apakah kehadiran Ahmad Sudirman merupakan sikap oportunitistiknya sejalan dengan kondisi objektif sekarang ini ?? Juga, apakah Ahmad Sudirman tidak menyadari bahwa pemaksaan secara subjektif lembaran-lembaran sejarah tanpa memperhatikan lingkungan masyarakat (Aceh) sekarang ini merupakan tindakan buang-buang waktu." (SP Saprudin, im_surya_1998@yahoo.co.id , Wed, 3 Aug 2005 10:16:38 +0700 (ICT))

 

Baiklah Surya Pasai Saprudin di Jakarta, Indonesia.

 

Tidak ada hubungan antara penampilan dan pembeberan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan, dan Papua Barat dengan pemasungan hak-hak politik. Tidak ada hubungan antara penampilan dan pembeberan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan, dan Papua Barat dengan demokrasi atau Hak Asasi Manusia.

 

Apa yang ditampilkan di mimbar bebas tentang hal-hal yang ada hubungan dengan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan, dan Papua Barat adalah bertujuan untuk membukakan dan menampilkan akar utama penyebab timbulnya konflik di Acheh, Maluku Selatan da Papua Barat.

 

Karena, tanpa mengenal akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat, maka hanya akan meraba-raba dan hanya dicari-cari alasannya saja. Misalnya masalah ketidak adilan, masalah tidak merata ekonomi, masalah ketidakpuasan, masalah sakit hati, dan masalah-masalah lainnya yang dikorek-korek saja.

 

Dan memang terbukti, bahwa sebagian besar rakyat di RI melihat konflik Acheh hanya dihubungkan dengan masalah ketidak adilan, masalah tidak merata ekonomi, masalah ketidakpuasan, masalah sakit hati. Padahal, sebenarnya, masalah yang paling utama dan mendasar adalah masalah dianeksasinya wilayah tanah teritorial Acheh oleh pihak RIS yang diteruskan kedalam wilayah Negara Bagian RI, dan selanjutnya berada dalam wilayah NKRI melalui jalur Sumatra Utara.

 

Nah disini kelihatan, masalah utama timbulnya konflik Acheh adalah karena adanya pelanggaran hukum teritorial yang dilakukan oleh pihak RIS dan RI. Melalui agenda ekspansi politik untuk memperluas wilayah de-facto RI dibawah Soekarno yang mengakibatkan peleburan besar-besaran dalam tubuh Republik Indonesia Serikat yang telah diakui dan diserahi kedaulatan penuh oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

 

Tetapi, oleh Soekarno RIS yang berdaulat ini dihancurkan dan dileburkan. Dimana satu persatu Negara-Negara bagian RIS dimasukkan kedalam RI melalui jalur hukum yang memang telah dicanangkan dan direncakan dari sejak awal oleh Soekarno untuk diterapkan dan dijalankan dalam tubuh RIS. Seperti, UU Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS yang dikeluarkan pada tanggal 8 Maret 1950, yang merupakan salah satu alat pembedah tubuh RIS untuk disayat-sayat, kemudian dimasukkan kedalam tubuh RI.

 

Jadi, dalam hal ini kelihatan, bahwa kelompok unitaris bertarung dengan sengitnya melawan kelompok federalis. Kelompok federalis yang dari sejak awal ingin membangun wilayah daerahnya masing-masing sesuai dengan cita-cita dan tujuannya. Kemudian duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dalam bangunan negara federasi, yang dibentuk sesuai dengan hasil kerjasama diantara Negara-Negara dan Daerah-Daerah, yang ada dan bersepakat untuk membangun negara yang berbentuk federasi yang dinamakan Republik Indonesia Serikat. Dan Republik Indonesia Serikat inilah yang telah berdiri diakui kedaulatan penuhnya, baik kedaulatan kedalam maupun kedaulatan keluar, oleh Belanda pada 27 Desember 1949.

 

Tetapi, ternyata impian yang telah menjadi realita itu, dihancur leburkan oleh Soekarno dengan ide unitarisnya. Dimana dorongan ide unitaris inilah yang dijadikan sebagai batu tembakan yang diarahkan kepada bangsa-bangsa yang telah sepakat membangun bangunan Negara Republik Indonesia Serikat.

 

Pergumulan yang berlangsung seru, antara kelompok unitaris melawan kelompok federalis dalam tubuh RIS yang berlangsung antara 27 Desember 1949 sampai 15 Agustus 1950 inilah,  yang ternyata menghasilkan dan membuahkan bom waktu di Acheh, Maluku Selatan dan di Papua Barat.

 

Ambisi politik perluasan wilayah RI keluar wilayah de-facto-nya, telah mengorbankan cita-cita dan tujuan bangsa-bangsa yang sebelumnya telah mampu dan telah siap membangun Negara dan Daerahnya masing-masing. Dengan melalui jalur perundingan politik dalam tubuh RIS, pihak unitaris dibawah Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya telah menggaet dan telah memberikan benih-benih pertentangan dan gejolak yang dahsyat dalam tubuh RI-Jawa-Yogya dikemudian hari.

 

Dan memang terbukti, tidak kurang dari tiga tahun dari sejak dijelmakannya NKRI pada 15 Agustus 1950, dari reruntuhan RIS yang tiang-tiangnya dijadikan bangunan RI-Jawa-Yogya, telah lahir akar penyebab timbulnya konflik wilayah teritorial, yaitu di wilayah teritorial Acheh, pada 20 September 1953. Wilayah teritorial Acheh, yang ditelan begitu saja oleh Soekarno dengan RIS-nya, ternyata dalam jangka waktu kurang dari tiga tahun telah melahirkan sumber kemelut dan konflik Acheh yang berkepanjangan yang berlangsung sampai detik sekarang ini.

 

Nah, inilah salah satu contoh, kalau rakyat di RI mau memahami dan mau mendalami akar penyebab timbulnya konflik Achen ini.

 

Dimana akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh dihubungkan dengan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI, dan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya bisa diuji secara ilmiah. Karena itu tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa sejarah akar utama timbulnya konflik Acheh ini merupakan sejaerah yang sifatnya subjetif.

 

Jadi, kalau Ahmad Sudirman membeberkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang wilayah teritorial Acheh yang dianeksasi oleh RIS dan RI-nya Soekarno memang ada fakta, bukti sejarah yang bisa diuji keilmiahannya. Dan justru, fakta, bukti sejarah yang dibeberkan inilah yang sangat erat dengan lingkungan dan keadaan wilayah Acheh yang memang secara hukum sepihak dimasukkan oleh Soekarno kedalam tubuh RI melalui jalur Sumatra Utara.

 

Karena itu sangatlah salah kalau Saprudin menyatakan: "apakah Ahmad Sudirman tidak menyadari bahwa pemaksaan secara subjektif lembaran-lembaran sejarah tanpa memperhatikan lingkungan masyarakat (Aceh) sekarang ini merupakan tindakan buang-buang waktu."

 

Apa yang dipaparkan Ahmad Sudirman tentang fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum mengenai penganeksasian Acheh oleh RI ini bukan merupakan fakta, bukti sejarah yang subjectif sifatnya, melainkan justru berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang objektif, yang bisa diuji keabsahan dan kebenarannya berdasarkan metode ilmiah yang berlaku.

 

Terakhir, Ahmad Sudirman akan terus memberikan tanggapan kepada siapapun yang mencoba untuk menampilkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang Acheh, Maluku Selatan, dan Papua Barat dihubungkan dengan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI.

 

Karena dengan dibeberkannya fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang Acheh, Maluku selatan dan papua Barat hubungannya dengan RI, maka akan terlihat dan akan terbuka kebohongan yang sebelumnya ditutup-tutupi oleh pihak Soekarno dan para penerusnya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Wed, 3 Aug 2005 10:16:38 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin <im_surya_1998@yahoo.co.id>

Subject: Ahmad Sudirman ????

To: SP Saprudin <im_surya_1998@yahoo.co.id>, muba zir <mbzr00@yahoo.com>, Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>

 

Assalamualaikum wr. wb.

 

Bagai keluar dari sangkar. Refleksinya, Ahmad Sudirman berusaha menikmati kebebasan semaksimal mungkin selagius mewujudkan sejumlah obsesi kebebasannya. Itulah salah satu munculnya manusia-manusia kecoa model Ahmad Sudirman yang baru menafaskan diri dalam bendera demokrasi atau Hak Asasi Manusia.

 

Yang perlu diwaspadi  lebih jauh adalah, apakah kemunculan manusia model Ahmad itu merupakan manifestasi keberontakannya akibat pemasungan hak-hak politiknya ? Apakah kehadiran Ahmad Sudirman merupakan sikap oportunitistiknya sejalan dengan kondisi objektif sekarang ini ?? Juga, apakah Ahmad Sudirman tidak menyadari bahwa pemaksaan secara subjektif lembaran-lembaran sejarah tanpa memperhatikan lingkungan masyarakat (Aceh) sekarang ini merupakan tindakan buang-buang waktu.

 

Secara psikologis, siapapun yang dibelenggu hak dan kepentingannya apalagi menelan waktu puluhan tahun, akan meronta, memberontak, bahkan berusaha melakukan perhitungan untuk pembalasannya. Kondisinya sangat manusiawi.

 

Sebuah renungan di tengah mayoritas muslim, apakah Ahmad Sudirman akan terus berkutbah untuk diperdengarkan kepada kaum-kaum Barisan Sakit Hati ?

 

Dapat ditegaskan, egoisme kaum Barisan Sakit Hati  (Ahmad Sudirman) untuk memaksakan argumen-argumen dengan mengetengahkan Konflik Aceh, akan mengguratkan sejarah baru penderitaan rakyat yang berkepanjangan.

 

Sekali lagi perlu direunungkan, akan relakah lumuran pertumpahan darah menggenang di tengah masyarakat Aceh sebagai korban agresivitasnya (GAM) untuk ongkang-ongkang di kursi empuk ?

 

Jika hanya senyum lega yang menghiasasi wajah kecoa GAM, maka itulah potret iblis tiranis sesungguhnya.

 

Wassalamualaikum wr. wb.

 

Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------