Stockholm, 4 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PROLETAR KOMUNIS PENGEMBEK DN AIDIT DENGAN SOSIALISME-PROLETARIAT MARXISME LENIN-NYA MATI KUTU

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



AKHIRNYA PROLETAR KOMUNIS TUKANG BECAK DI TOKYO PENGEMBEK DN AIDIT DENGAN SOSIALISME-PROLETARIAT MARXISME LENIN-NYA MATI KUTU

 

"Bismillah, Dajal. Bebal, Dungu, Pasti Lebih dari itu." (Kang becak, kbecak@yahoo.com , Wed, 3 Aug 2005 19:22:23 -0700 (PDT))

 

Baiklah proletar komunis pengembek DN Aidit di Tokyo, Jepang.

 

Dengan tenaga yang masih tersisa, mata yang berjelalatan kemerah-merahan, kaki yang menerjang-nerjang, tangan dikepal kuat-kuat, mulut bergetaran, telinga memerah, itu proletar komunis tukang becak pengembek DN Aidit dengan sosialisme-proletariat Marxisme Lenin-nya dalam detik-detik akhir hidupnya, masih sempat menyemburkan getaran suara serak gombalnya yang berisikan racun sosialisme-proletariat Marxisme Lenin-nya, yang digabungkan dengan hasil kocekan cerita mitos hembusan mbah Soekarno dengan marhaenismenya, ditompangkan kedalam kancah PDIP-nya Megawati denga cairan hitam nasionalisme-kebangsaan-Jawa-nya, dililit dengan putaran asap kemenyang kejawen gaya DN Aidit yang diukir dalam bentuk untaian kata keroposnya: "Bismillah, Dajal. Bebal, Dungu, Pasti Lebih dari itu."

 

Celakanya, karena memang proletar adalah komunis, tidak paham dan tidak mengerti bagaiman mengucapkan bismillah dan bagaimana menyambungkannya, sehingga ketika mulutnya menghembuskan kata bismillah disambung setelah koma terus dengan Dajal. Bebal, Dungu.

 

Nah, inilah persis model mbah Soekarno dengan nasakomnya, nasionalisme dicampur agama dan diaduk dengan komunis. Jadilah untaian kata-kata sampah yang keluar dari otak udang proletar tukang becak komunis "Bismillah, Dajal. Bebal, Dungu"

 

Betul-betul, kunyuk rawun. Dasar komunis budek.

 

Eh, budek komunis, lain kali kalau mau menuliskan dajal, jangan didahului dengan kata bismillah. Itu artinya kalian hanya mengekor kepada mbah Soekarno yang menggabungkan Islam dengan Komunis dicampur dengan nasionalisme gaya mbak Mega.

 

Karena, kalau kalian proletar komunis mengatakan dengan nama Allah, Dajal.  Kan benar-benar budek. Dasar komunis lapuk, mengekor saja kepada DN Aidit.

 

Selamat tinggal proletar komunis budek pengembek DN Aidit dengan sosialisme-proletariat Marxisme Lenin-nya yang sudah lapuk karena penuh racun. Yang kalian terus saja jajakan dipinggir Pacitan.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Wed, 3 Aug 2005 19:22:23 -0700 (PDT)

From: Kang becak kbecak@yahoo.com

Subject: Puisi Buat Dajal

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

 

Bismillah,

Dajal.

Bebal,

Dungu,

Pasti Lebih dari itu.

 

Wassalam.

 

Kang becak

 

kbecak@yahoo.com

Tokyo, Jepang

----------