Stockholm, 4 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SAPRUDIN MENEMPEL LAGI KE DEKAT KAUM WAHHABI SAUDI SAMBIL MANGGUL BURUNG GARUDA & PEDANG PANCASILA

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



KELIHATAN SAPRUDIN SUDAH MENEMPEL LAGI KEDEKAT KAUM WAHHABI SAUDI SAMBIL MANGGUL BURUNG GARUDA & PEDANG PANCASILA LALU MULUTNYA TERIAK: JIHAD, JIHAD

 

"Ahmad, kamu ini membawa misi jihad apa jidat sih ? Boleh saya memberikan argumen dalam konteksnya dengan masalah Aceh. Saya tidak bosan bicara masalah Aceh, karena saya orang Aceh. Walau Mr. Ahmad Sundel itu segudang pengetahuannya. Namun saya Surya Pasai Saprudin, kelahiran tahun 1975 tidak akan begitu saja menerima argumen-argumen congormu. Mr. Ahmad Sudirman yang terhormat, ketika berbicara Islam tentunya kita bicara tentang manhaj Ahlussunah Wal Jamaah, maka sejatinya kita berbicara tentang gambaran Islam yang murni dan bersih, yang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya berada di atasnya. Bagaimanapun usaha penyesatan yang dilakukan ahlil bid’ah sejak dulu meski bersembunyi di balik nama yang mulia, hakekat mereka tetap nampak. Sifat yang kentara dalam diri mereka adalah menolak untuk menempuh jalan Ahlussunnah Wal Jamaah. Sementara Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah para pengikut manhaj Salafus Shalih dalam hal aqidah, ucapan, ataupun amalan." (SP Saprudin, im_surya_1998@yahoo.co.id , Thu, 4 Aug 2005 14:56:37 +0700 (ICT))

 

Baiklah Saprudin di Jakarta, Indonesia.

 

Saprudin setelah putar-putra tidak tentu arah, akhirnya masuk lagi kejurusan Ahlussunah Wal Jamaah yang terus mengarah ke paham wahhabi alias salafi Saudi yang dikembangkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, yang sekarang mendominasi Kerajaan Ibnu Saud, sehingga paham wahhabi atau salafi menjadi dasar acuan di Kerajaan Saudi.

 

Paham wahhabi sampai ke Indonesia, melalui jalur orang-orang yang membangun organisasi Muhammadiyah. Sehingga Muhammadiyah merupakan penganut paham wahhabi terbesar di Asia Tenggara. Cabang lainnya yang memakai nama salafi tidak mau disangkut pautkan dengan wahhabi, padahal itu yang mulai mengembangkan paham salafi adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab pada abad ke 17. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab banyak dipengaruhi oleh ide yang dikembangkan oleh Ibnu Taimiyah atau nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hambali. Dimana Ibnu Taimiyah memang beberapa kali masuk dan keluar penjara di Mesir selama pemerintahan Khilafah Islamiyah Abbasiyah dibawah Khalifah Al-Mustansir 1261 M, Al-Hakim I 1262 M -1302 M , Al-Mustakfi I 1302 M -1340 M yang berpusat di Kairo, Mesir

 

Saprudin, kalau memang kalian mau menegakkan Islam dan mencontoh Rasulullah saw, tidak perlu kalian berteriak, sedangkan didepan kalian masih terpampang patung burung garuda dan paham yang diacukan kepada pancasila hasil kutak-katik mbah Soekarno.

 

Kalian dengungkan khurafat, syirik dan bid'ah. Tetapi, di gedung MPR itu terpajang patung burung garuda yang kehitam-hitaman, dengan diembel-embeli dengan kata-kata bhineka tunggal ika hasil kocak-kocek mpu Tantular dari kerajaan hindu Majapahit.

 

Nah, coba kalian pergi ke ruangan sidang gedung MPR, lihat itu patung burung garuda yang terbuat dari kayu, dan kalian tulis inilah sumber khurafat, syirik dan bid'ah. Dan inilah yang harus dihancurkan oleh para pengikut kaum wahhabi atau salafi Saudi yang mengatasnamakan kaum pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ibnu Taimiyah dengan Salafus Shalih-nya, yang sekarang bermarkas di Kerajaan Saudi Arabia.

 

Jadi Saprudin, tidak perlu kalian berceloteh tentang jihad Ahlussunah Wal Jamaah dan segala macam-nya, kalau kalian masih bergelimang dalam sistem thaghut pancasila hasil kutak-katik mbah Soekarno dan diperkuat oleh mbah Abdurrahman Wahid dengan PKB-kebangsaan-nya dan mbak Megawati dengan PDIP-nasionalisme-marhaenisme-nya.

 

Cerita jihad, dikening masih ada tempelan burung garuda dan coretan butiran ampas pancasila. Apa pula budak leutik satu dari banten ini, mau cerita-cerita jihad segala macam.

 

Sekarang begini saja Saprudin, daripada kalian mencla-menclo, kesana-kemari, yang tidak tentu arah. Dalami dulu itu Islam, mengaji yang benar. Tidak perlu dulu cerita jihad segala macam, sambil tangan acung-acungkan patung burung garuda dan mulut celoteh pancasila sakti segala macam. Mengaji bukan membeo kepada mereka yang teriak-teriak wahhabi atau salafi Saudi.

 

Itu mereka kaum wahhabi atau salafi Saudi pun saling gebuk satu sama lain. Begitu juga orang-orang pengikut wahhabi atau salafi Saudi yang ada di negara sekuler pancasila RI, mereka saling gebuk satu sama lain juga, padahal mereka sama-sama membawa nama Ahlus Sunnah wal Jamaah Salafus Shalih yang sumbernya di Saudi Arabia.

 

Kalau sudah saling gebuk satu sama lain, bagaimana mereka tidak sesat. Saling menganggap benar sendiri. Padahal sama-sama Salafus Shalih. Artinya, mereka yang memahami Al-Qur'an dan Sunnah dari sahabat Nabi saw, tabi'in, dan tabiit tabi'in. Dimana sampai ke tabiit tabi'in atau para pengikut tabi'in yang hidup antara tahun 100 H - 300 H / 790 M - 913 M . Atau sampai ke masa Khilafah Islamiyah dibawah Abbasiyah dibawah Khalifah Al-Muqtadir 908 M - 932 M. Inilah yang dinamakan pemahaman Al-Qur'an dan Sunnah menurut Salafus Shalih mengacu paham wahhabi dari kaum wahhabi Saudi.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Thu, 4 Aug 2005 14:56:37 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin im_surya_1998@yahoo.co.id

Subject: Ahmad kamu membawa misi Jihad apa Jidat Botak ???

To: SP Saprudin <im_surya_1998@yahoo.co.id>, Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar alchaidar@yahoo.com

 

Assalamualaikum wr. wb.

 

Ahmad, kasihan deh lu !! (Anda ternyata sudah tua juga ya, lahir tahun 1954)

Ahmad, kamu ini membawa misi jihad apa jidat sih ?

 

Boleh saya memberikan argumen dalam konteksnya dengan masalah Aceh. Saya tidak bosan bicara masalah Aceh, karena saya orang Aceh. Walau Mr. Ahmad Sundel itu segudang pengetahuannya. Namun saya Surya Pasai Saprudin, kelahiran tahun 1975 tidak akan begitu saja menerima argumen-argumen congormu.

 

Mr. Ahmad Sudirman yang terhormat, ketika berbicara Islam tentunya kita bicara tentang manhaj Ahlussunah Wal Jamaah, maka sejatinya kita berbicara tentang gambaran Islam yang murni dan bersih, yang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya berada di atasnya. Maka ketika menyerukan manhaj Ahlussunah Wal Jamaah, berarti kita menyerukan untuk berpegang teguh dengan manhaj Islam yang lurus yang mereka (para pendahulu) telah menempuhnya, bukan ajakan untuk taqlid terhadap pribadi tertentu sebab tidak ada yang patut diikuti (secara mutlak) kecuali Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

 

Oleh karena itu manhaj Ahlussunah Wal Jamaah bukanlah manhaj yang beragam warna sehingga bisa berubah-ubah manakala salah satunya dibutuhkan. Misalnya dalam masalah fiqh dan tauhid mengikuti para ulama yang menempuh manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah, dalam hal politik mengikuti tokoh-tokoh politik dengan alasan mereka lebih paham perpolitikan, dalam bidang jihad bersama dengan tokoh-tokoh yang diistilahkan dengan “ulama mujahid”.

 

Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menyatakan, “Seorang muslim yang bertumpu pada Al-Kitab dan As-Sunnah tidak akan dapat berwarna-warni secara mutlak. Adapun muslim yang bertumpu pada jamaah atau kelompok hizbiyyah –meski (menamakan dirinya) Islam– akan memaksanya sehingga ia harus banyak warna dengan dalih bahwa itu adalah ijtihad dan perubahan.” (Fatawa fi Al-Jama’at wal-Ahzab Al-Islamiyyah hal. 25)

 

Menjadi kebiasaan ahli bid’ah dan ahli batil, ketika mereka menebar racun kesesatan, permusuhan, menumpahkan fitnah dan menampakkan kedok kebaikan, menebeng di balik gambaran keislaman.

 

Bagaimanapun usaha penyesatan yang dilakukan ahlil bid’ah sejak dulu meski bersembunyi di balik nama yang mulia, hakekat mereka tetap nampak. Sifat yang kentara dalam diri mereka adalah menolak untuk menempuh jalan Ahlussunnah Wal Jamaah. Sementara Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah para pengikut manhaj Salafus Shalih dalam hal aqidah, ucapan, ataupun amalan.

 

Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, “Pokok-pokok As-Sunnah bagi kami adalah berpegang teguh dengan apa yang ada di atas para shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam serta mencontoh mereka.” (Ushul As-Sunnah hal. 35)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menerangkan tentang jalan yang ditempuh Ahlus Sunnah. Beliau berkata, “Jalan yang ditempuh Ahlus Sunnah adalah mengikuti atsar-atsar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lahir dan batin, mengikuti jalan orang-orang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta mengikuti wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah bersabda: ‘Hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah ia dan gigitlah dengan gigi geraham…’.” (Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah dengan syarahnya hal. 179-180, cetakan Darul Fikr)

 

Nebeng-menebeng adalah gaya yang disukai banyak orang. Pasalnya, di samping mudah, juga praktis dan gratis. Namun hal itu sangat berbahaya manakala ahli bid’ah dan ahli batil yang memperagakannya. Tentu, mengakibatkan banyak umat akan tertipu. Di kala manhaj Salafus Shalih mulai kembali dikenal umat dengan karunia Allah lalu dengan keutamaan para ulama Ahlus Sunnah yang senantiasa menyerukan untuk kembali kepada dakwah Islam yang haq, maka untuk menjauhkan umat dari As-Sunnah dan para ulamanya dan menyebarkan kerancuan di tengah-tengah mereka, tak sedikit dari para ahli bid’ah yang sembunyi di balik manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah.

 

Saya tidak mengingkari fardhiyyatul jihad (kewajiban jihad, dakwah dll), namun tentu jihad atau dakwah harus dilakukan di atas ilmu, memenuhi syarat-syaratnya, senantiasa bersama waliyyul amri atau amir.  Jihad tidak boleh dilakukan dengan serampangan dan semangat konyol yang pada akhirnya mati dalam keadaan tolol!

 

Mengklaim orang-orang yang berjihad dan terlibat di medan jihad sebagai orang yang pasti mendapat petunjuk secara umum, ini adalah vonis gegabah dan tanpa ilmu. Sebab, kenyataannya didapati orang-orang yang berjihad namun tidak di jalan Allah. Tak sedikit pula orang-orang yang menyerukan jihad dan terlibat dalam peperangan ternyata aqidahnya rusak, keyakinannya menyimpang dan moralnya bejad. Mungkinkah mereka di atas hidayah, tidak !!!

 

Fenomena yang seperti ini jauh mula telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana ada yang berperang karena dorongan Mencari Fakta/Kebenaran, Hak Asasi Manusia, Demokratisasi, Nasionalisme atau sekedar ingin dibilang pemberani atau juga demi meraih kedudukan. Ketika hal itu ditanyakan kepada Rasulullah, “Manakah yang di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Siapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, dialah yang di jalan Allah.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya akan pasti datang suatu zaman menghampiri manusia, di mana orang yang berperang tidak tahu untuk apa ia berperang dan orang yang terbunuh tidak tahu atas dasar apa ia terbunuh.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya no. 2908) Adapun ayat yang dia jadikan dalil: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-’Ankabut: 69)

 

Jadi, siapa yang berjihad dan berada di front-front jihad tidak otomatis sebagai orang-orang yang mendapat hidayah. Tetapi siapa saja yang berjihad sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya, berpijak di atas As-Sunnah dan kesatuan aqidah yang benar, mereka itulah yang akan mendapatkan janji Allah yang ada pada ayat tersebut.

 

Mujahid atau ulama mujahid adalah mereka yang membela agama Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hujjah dan burhan (keterangan), membantah orang-orang yang menyimpangkan dari agama Allah Subhanahu wa Ta'ala.

 

Dunia dewasa ini sudah sangat akrab dengan kata-kata jihad, tetapi yang disesalkan telah terjadi pergeseran dari makna yang sebenarnya kepada makna yang salah. Hampir semua aksi mengatasnamakan jihad mulai dari Ahmad Sudirman yang berkoar-koar di pembuangan Swedia sampai kepada demonstrnas perusakan sejumlah tempat,  atas nama jihad dan pembelaan Islam. Salah kaprah !!!

 

Wassalamualaikum wr. wb.

 

Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------