Stockholm, 10 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


DHARMINTA, ITU BANGSA PAPUA DAN ACHEH SEDANG BERJUANG UNTUK MENENTUKAN NASIB MEREKA SENDIRI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



DHARMINTA, ITU PIHAK RI MASIH TETAP MENJALANKAN POLITIK ANEKSASI MODEL SOEKARNO TERHADAP WILAYAH PAPUA DAN ACHEH

 

"Kegiatan Dewan Adat  Papua." (Helmut Kmur, helmut_kmur2002@yahoo.com , Tue, 9 Aug 2005 21:42:53 -0700 (PDT))

 

"Setelah sadar ketidak efektipan opini gombal atas Aceh. Asudirman coba-coba pelesir ke Papua. Mau cari kotheka bung ? Tapi ingat jangan lagi tanam benih permusuhan dan menebar profokasi dengan analisis yang bodoh lagi " (Matius Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com , Tue, 9 Aug 2005 23:48:56 -0700 (PDT))

 

Baiklah saudara Helmut Kmur di Jayapura, Papua dan saudara Matius Dharminta di Jakarta, Indonesia.

 

Nah Dharminta, itu setelah dibeberkan dan dijelaskan Ahmad Sudirman tentang fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI-Jawa-Yoga dihubungkan dengan Acheh, Papua dan Maluku Selatan, ternyata telah membuka mata orang-orang yang sadar dan berlapang dada, bahwa apa yang telah dilakukan mbah Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya merupakan suatu pelanggaran hukum, baik hukum internasional maupun hukum yang dibuatnya sendiri. Dimana dengan telah melakukan penelanan, penganeksasian, pendudukan wilayah-wilayah yang ada diluar de-facto dan de-jure RI-Jawa-Yogya, seperti Acheh, Papua dan Maluku Selatan, ternyata menimbulkan bumerang bagi kehidupan dan jalannya roda RI-Jawa-Yogya sampai detik sekarang ini.

 

Hanya model orang-orang seperti Dharminta yang dia sendiri tidak mampu menampilkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum mengenai dimasukkannya Acheh, Maluku Selatan dan Papua kedalam wilayah RI-Jawa-Yogya, tetapi pandainya sekedar menelan mitos Acheh, Papua dan Maluku Selatan yang diciptakan mbah Soekarno, maka akhirnya itu Dharminta tidak menyadari bahwa sebenarnya bangsa Acheh dengan disepakatinya Perundingan Helsinki 17 Juli 2005 adalah merupakan titik tolak berdirinya Pemerintah Sendiri di Acheh dengan mengacu kedapa dasar hukum MoU Helsinki 2005 dengan diawasi oleh Acheh Monitoring Mission dari Negara-Negara anggota Uni Eropa dan Negara-Negara anggota ASEAN, yang sebelumnya belum pernah terjadi dalam sejarah Acheh dan sejarah jalur proses pertumbuhan RI-Jawa-Yogya kaitannya dengan Acheh.

 

Dengan adanya Negara-Negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa dan Negara-Negara ASEAN untuk melaksanakan hasil Kesepakatan Helsinki 2005 ini menjadikan pondasi dan jalan yang luas bagi terbentuknya Pemerintah Sendiri Acheh dengan dasar undang-undang yang mengacu kepada MoU Helsinki 15 Agustus 2005 yang merupakan hasil kesepakatan Helsinki yang diparaf pada tanggal 17 Juli 2005 oleh masing-masing Ketua Tim Juru Runding ASNLF/GAM Teungku Malik Mahmud dan Ketua Tim Juru Runding RI Hamid Awaluddin dengan disaksikan oleh Presiden Martti Ahtisaari.

 

Selanjutnya mengenai Papua, di mimbar bebas ini telah banyak dibahas tentang akar utama timbulnya konflik Papua.

 

Nah, dengan telah dijelaskan dan dibeberkannaya fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang dianeksasinya Papua oleh mbah Soekarno melalui RI-Jawa-Yogya-nya dan oleh mbah Soeharto dengan pepera model Jenderal Soeharto yang menyimpang dari Perjanjian New York 15 Agustus 1962, maka rakyat yang ada di RI telah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya.

 

Hanya persoalananya, masih ada orang-orang yang menutup mata, menutup hati dan memekakkan telinganya dari fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum mengenai dianeksasinya Papua kedalam RI dan akal bulus Jenderal Soeharto dengan pepera 14 Juli 4 Agustus 1969 model Jenderal Soeharto-nya.

 

Generasi muda Papua bukan menghilangkan perjuangan penentuan nasib sendiri Papua melalui jalur referendum atau plebisit atau penentuan pendapat rakyat, melainkan justru makin menggelora semangat jiwa muda bangsa Papua ini untuk mencapai pembebasan wilayah tanah Papua yang dianeksasi, diduduki oleh pihak RI-Jawa-Yogya.

 

Generasi Muda Papua yang didukung penuh oleh generasi Tua Papua, seperti Sekretaris Dewan Adat Papua Leonard Imbiri yang telah menyadari bahwa bangsa Papua dalam usaha menyalurkan aspirasinya telah dibatasi oleh pihak Pemerintah Pusat dan Lokal. Tetapi walaupun masih terus ditekan oleh Pemerintah Pusat dan Lokal, perjuangan bangsa Papua untuk menentukan nasib sendiri terus menggelora. Seperti yang dilakukan oleh Imbiri pada tanggal 9 Agustus 2005 ketika memperingati Hari Pribumi Se Dunia yang diperingati setiap tanggal 9 Agustus, menyatakan: "Tujuan kami berkumpul disini adalah selain memperingati Hari Pribumi Sedunia, kami ingin membangun solidaritas bersama, menyatukan visi untuk memperjuangkan hak-hak yang selama ini belum diakui"

 

Nah, hak untuk menyatakan penentuan nasib sendiri dan menyatukan visi bersama bangsa Papua ternyata dalam prakteknya terus ditekan dan ditutupi oleh pihak RI-Jawa-Yogya, yang nota bene penganeksasi tanah wilayah Papua.

 

Selama hak-hak bangsa Papua untuk menentukan nasib sendiri ini ditekan dan ditutupi dengan berbagai cara, maka selama itu bangsa Papua yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri akan terus berjuang guna mendapatkan kembali kebebasan dan tanah Papua yang dianeksasi oleh RI-Jawa-Yogya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Tue, 9 Aug 2005 23:48:56 -0700 (PDT)

From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com

Subject: ASUDIRMAN  RAMBAH PAPUA, CARI KOTHEKA BUNG??

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, aiandani1107@yahoo.co.id, azuar73@yahoo.com, aditamuda@yahoo.dk, airlambang@radio68h.com, azi09@hotmail.com, abu_abdilhadi@yahoo.com, acehku_1@yahoo.com, airlambang@yahoo.com, antara@rad.net.id, apiaustralia@greenleft.org.au, ardiali@yahoo.com, allindo@yahoo.com, albiruny@gmail.com, aulialailil@yahoo.com, afoe@tegal.indo.net.id

 

Setelah sadar ketidak efektipan opini gombal atas Aceh.  Asudirman coba-coba pelesir ke Papua.. mau cari kotheka bung..? Tapi ingat jangan lagi tanam benih permusuhan dan menebar profokasi dengan analisis yang bodoh lagi...

 

Matius Dharminta

 

mr_dharminta@yahoo.com

Jakarta, Indonesia

----------

 

Date: Tue, 9 Aug 2005 21:42:53 -0700 (PDT)

From: helmut kmur helmut_kmur2002@yahoo.com

Subject: Kegiatan Dewan Adat  Papua

To: ahmad@dataphone.se

 

Kegiatan Dewan Adat  Papua

 

Helmut Kmur

 

helmut_kmur2002@yahoo.com

Jayapura, Papua

----------

 

Dialog Politik

DAP Inginkan Ada Pengakuan, Dari Peringatan Hari Pribumi Sedunia di Pendopo Alm.Theys

By Cepos

Aug 10, 2005, 00:03

 

SENTANI-Peringatan Hari Pribumi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 9/8, kemarin dipusatkan di Pendopo Kediaman Alm Theys H Uluay. Acara yang sempat diindikasikan berkaitan isu pengembalian Otsus tanggal 15/8 nanti ternyata salah besar.

 

Acara peringatan Hari Pribumi sedunia yang rencananya akan dilangsungkan di Lapangan Trikora Abepura, kemarin terpaksa dirubah secara mendadak dikarenakan lapangan tersebut dikatakan oleh Kepala Distrik Abepura akan dilakukan latihan Paskibra menjelang HUT RI.

 

Kemudian acara dialihkan ke Pendopo kediaman Alm.Theys H Eluay di Jl Bis tir Pos Sentani. Peringatan hari Pribumi sedunia dimulai pukul 10.00 wit diisi ibadah bersama yang dihadiri Ketua LMA Mandpa Korkorus Yaboi Senbut sekaligus sebagai penanggung jawab acara, Sekertaris DAP Frans Imbiri, Ketua Pemerintah Adat Sentani, juga Tokoh dan masyarakat Adat se-Jayapura.

 

Dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan Polres Jayapura menurunkan sekitar 400 personel gabungan.

 

Dalam ceramahnya Sekretaris Dewan Adat Papua (DAP) Leonard Imbiri mengatakan, bahwa selama ini masyarakat kita (Papua) dalam menyalurkan aspirasinya telah dibatasi oleh pemerintah, baik lokal maupun pusat. Bahkan menurut catatan, negara luar pun turut andil di dalamnya. "Sehingga tujuan kami berkumpul disini adalah selain memperingati Hari Pribumi Sedunia, kami ingin membangun solidaritas bersama, menyatukan visi untuk memperjuangkan hak-hak yang selama ini belum diakui," jelasnya.

 

"Bahkan dalam satu dekade dari tahun 1999 hingga 2004 Undang-undang mengenai pelanggaran HAM di atas Tanah Papua masih belum diratifikasi. Kami selaku Dewan Adat Papua akan terus memeperjuangkan hak-hak kami yang selama ini ditindas.

 

Kami juga meminta harus ada pengakuan dari NKRI, Belanda, AS, dan juga dari PBB bahwa dalam kurun waktu 40 tahun di atas Tanah Papua ini telah terjadi teror, intimidasi, dan juga pembantaian. Disini kami ingin mempertanyakan pertanggung jawaban hal tersebut kepada Pemerintah pusat dan juga Negara luar yang ikut terlibat," tegasnya.

 

Disamping itu lanjutnya, pihaknya juga akan terus memperjuangkan dan meneriakkan hak atas tanah, hak berpolitik, dan hak untuk hidup yang selama ini selah-olah ditiadakan. "Saya mewakili DAP juga meminta kepada Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk secara aktif memberi ruang yang cukup dan tidak membatasi upaya-upaya dari rakyat dalam menyalurkan aspirasi dan hak-haknya yang diwujudkan tidak secara konferensi akan tetapi perilaku dari aparat TNI dan Polri,"katanya.

 

Di akhir acara Sekertaris DAP menghimbau kepada masyarakat Papua untuk terus memperjuangkan apa yang menjadi aspirasi dan keinginan masyarakat secara damai. Selain itu, berpesan kepada masyarakat Papua agar berhati-hati terhadap orang yang ingin memecah belah dan menghancurkan apa yang menjadi tujuan masyarakat selama ini. Acara ini kemudian ditutup dengan penaburan bunga serta doa bersama pukul 13.41wit di makam Almarhum Theys H.Eluay.(cr-138)

 

http://www.melanesianews.org/spm/publish/article_954.shtml

Copyright 2003-2005 by WatchPAPUA

----------