Stockholm, 11 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SAPRUDIN, ITU DALAM PROSES MEMBANGUN KEHIDUPAN MANUSIA HARUS MENGACU PADA JEJAK RASULULLAH SAW

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



SURYA PASAI SAPRUDIN, KALAU MAU MEMBANGUN KEHIDUPAN MANUSIA HARUS MENGACU PADA JEJAK RASULULLAH SAW

 

"Mr.Ahmad, dalam proses pembangunan kehidupan manusia, haruslah pandai-pandai memahami, menyikapi dan menterjemahkan fakta dan realita kehidupan dalam kerangka Sunatullah sebagai khalifah fil ardi. Sikap mental tanpa dilandasi iman rentan terhadap berbagai gangguan kejiwaan. Kerapkali orang yang macam ini sebagai tipe manusia yang tidak pandai bersyukur, resah dan gelisah dalam hidupnya. Anda beragama Islam ? Al Qur'an dan Al Hadits merupakan bimbingan hidup yang berfungsi sebagai motivator pemacu dinamika mental untuk menuju sekaligus sebagai stabilisator yang membentengi mental daripada : depressi, stress, frustasi atau lupa daratan dalam perjuangan hidup. Pantaslah apa yang disinyalir oleh salah seorang Ulama (Syekh Mohammad Abduh), beliau mengatakan "Keagungan Islam ditutupi oleh kebodohan umatnya sendiri". Begitulah ulasan saya." (SP Saprudin, im_surya_1998@yahoo.co.id , Thu, 11 Aug 2005 09:44:28 +0700 (ICT))

 

Baiklah Surya Pasai Saprudin di Jakarta, Indonesia.

 

Saprudin dalam rangka membangun umat, itu semuanya harus mengacu kepada apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Bagaimana umat pertama yang akan mengisi bangunan Daulah Islamiyah pertama Rasulullah saw telah dibangun melalui proses yang dibuat Rasulullah saw, sehinga mampu menjadi tonggak-tongak umat manusia pertama yang mengisi Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib.

 

Kita dalami, bagaimana jejak-jejak Rasulullah saw ketika pada awal membangun umat pertama yang akan mengisi Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib.

 

Dan isi tulisan ini pernah diuraikan juga di mimbar bebas ini sebelumnya.

 

Datangnya Risalah melalui penyampaian Wahyu kepada Rasulullah saw inilah yang melahirkan ideologi Islam yang dikemudian hari bisa menghancurkan ideologi kaum Quraisy yang penuh dengan kesyirikan.

 

Ketika Rasulullah saw mendapat wahyu pertama yang sekaligus dideklarkan oleh Allah SWT sebagai Nabi dan Rasul bagi umat manusia yang dimulai di Mekkah tempat kelahiran Rasulullah saw. Dimana ayat pertama yang disampaikan melaui malaikat Jibril yang tertuang dalam QS, Al-Alaq, 96: 1-5 "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS, Al-Alaq, 96: 1- 5)

 

Inilah awal risalah dan pondasi pertama yang di wahyukan Allah SWT kepada Rasulullah saw melalui malaikat Jibril.

 

Ternyata dalam jangka waktu yang sangat singkat, selama 13 tahun, landasan dan pondasi pertama yang diwahyukan dalam QS, Al-Alaq, 96: 1-5 telah ditambah dengan pondasi lainnya dalam bentuk ayat-ayat aqidah dan ketauhidan yang merupakan dasar kekuatan iman bagi seorang muslim yang merupakan bagian dari kesatuan umat Islam secara keseluruhan.

Dilanjutkan dengan perintah Allah SWT yang diformulasikan dalam QS, Al-Muddatstsir, 74: 1-5 "Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan dan Tuhanmu agungkanlah dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah (QS, Al-Muddatstsir, 74: 1-5)

 

Dengan turunnya perintah ini kepada Rasulullah saw untuk tampil kepermukaan tanah Mekkah guna menyampaikan risalah yang telah diberikan oleh Allah SWT, kepada umat manusia yang dimulai di Mekkah agar mengagungkan Allah SWT, membersihkan diri dan meninggalkan perbuatan dosa.

 

Dimasa periode awal inilah yang sangat sulit dan susah bagi Rasulullah saw untuk meyakinkan kepercayaan masyarakat disekitarnya yang sudah terbelenggu dengan kepercayaan yang menyimpang dari apa yang telah dirisalahkan oleh Allah SWT kepada Rasulul-Nya Muhammad saw.

 

Dari sekian banyak masyarakat Quraisy yang ada di Mekkah, hanya beberapa orang sajalah yang tertarik kepada Islam yang telah dimulai disebarkan secara perlahan oleh Muhammad saw dengan dimulai dari keluarganya yaitu Istri beliau Siti Khadijah, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib putra Abu Thalib, dan saudara sepupu Rasulullah saw, Zaid bin Haritsah ra budak yang telah dibebaskan oleh Rasulullah saw, Ummu Aiman hamba perempuan yang pertama.

 

Ternyata selama dua tahun Rasulullah saw mulai melaksanakan dakhwah Islamnya ini, beberapa orang Mekkah yang masuk Islam. Dimana disamping dari 5 orang yang telah masuk Islam, sekarang ditambah dengan yang lainnya, seperti Ammar bin Yasir, Khabbab bin Al-Arat, Utsman bin Affan, Abdurrahmanin bin Auf, Sa'd bin Abi Waqqas, Thalha, Arqam, Sa'id bin Zaid, Abdullah bin Mas'ud, Utsman bin Mazh'un, Ubaidah, Shuhaib Al-Rumi.

 

Barulah pada tahun ke 3 Kenabian (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 262) setelah turun perintah dalam QS, Al-Hijr, 15: 94 "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS, Al-Hijr, 15: 94). Dan QS, Asy-Syu'ara, 26: 214 "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat" (QS, Asy-Syu'ara, 26: 214)

 

Nah, inilah ayat deklarasi dari Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah saw setelah dua tahun dalam masa periode dakhwah perlahan dan secara tertutup, diantara keluarga dan kawan dekat saja.

 

Tetapi setelah turunnya deklarasi QS, Al-Hijr, 15: 94 yang memerintahkan menyampaikan risalah secara terang-terangan dan supaya berpaling dari orang-orang musyrik, maka mulailah Rasulullah saw tampil dengan penuh semangat tanpa merasa takut lagi berhadapan dengan orang-orang musyrik Mekkah.

 

Setelah deklarasi QS, Al-Hijr, 15: 94 inilah timbul penentangan dan sikap permusuhan dari pihak penguasa Quraisy Mekkah atas misi Rasulullah saw dalam menyebarkan risalahnya. Dimana cacian, hinaan, kutukan, yang dilontarkan oleh penduduk Mekkah, tetapi Rasulullah saw tetap dengan tegas dan gamblang menyampaikan risalaahnya.

 

Coba perhatikan apa yang dikatakan Abu Lahab paman Rasulullah saw yang berteriak: "Celaka engkau hai Muhammad. Hanya untuk inikah engkau panggil kami?". (Ibnu Sa'd, Ath.Thabaqat al-Qubra, Jil. I, hal. 200) Dimana kejadian ini terjadi di bukit Shafa yang terkenal di Mekkah. Tempat memanggil orang. Sehinga ketika Rasulullah saw naik ke bukit Shafa ini untuk menjalankan dakhwahnya yang terang-terangan ini, banyaklah orang yang datang termasuk paman Rasulullah saw, Abu Lahab, yang mana Abu Lahab ini berteriak yang isinya mengutuk Rasulullah saw.

 

Sekarang, taktik strategi Rasulullah saw dalam berdakhwah ini adalah secara terbuka, tegar, tanpa mundur, kalau diserang orang, balik menangkis dengan senjata dakhwahnya. Akhirnya setelah banyak yang memeluk Islam karena metode dakhwah yang terang-terangan dan berani ini, ternyata memberikan akibat yang menegangkan yang menimbulkan permusuhan dari kalangan kaum Quraisy yang sangat berpengaruh di Mekkah.

 

Kaum Quraisy yang berasal dari nenek moyangnya yang bernama Fihr bin Malik ini terbagi kedalam beberapa bani diantaranya bani Hasyim yang menurunkan keturunan Rasulullah saw. Bani Umayyah, bani Naufal, bani Asad, Bani Ta'im, bani Makhdzum, bani Adi.

 

Karena dengan tampilnya Rasulullah saw dari keluarga bani Hasyim dengan risalahnya, maka menimbulkan ketidak senangan dari bani Umayyah yang didukung oleh Walid bin Mughirah pemimpin kaum Quraisy dari bani Makhdzum, Abu Jahal sepupu Walid bin Mughirah.

 

Ditambah dengan meninggalnya Abul Muththalib dari bani Hasyim yang memegang kekuasaan bangsa Quraisy yang menimbulkan perebutan kekuasaan untuk menduduki jabatan tertinggi pemimpin pemerintahan Quraisy. Hampir semua tokoh-tokoh utama Quraisy ini menentang kepada Rasulullah saw. (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 316)

 

Berbagai usaha yang dilakukan oleh para tokoh utama kaum Quraisy ini untuk meredam dan membujuk Rasulullah saw agar supaya tidak meneruskan dakhwah tauhid dan aqidah Islam-nya.

 

Seperti yang dilakukan oleh beberapa wakil penguasa Quraisy mendatangi Abu Thalib paman Rasulullah saw agar supaya menyetop dakhwah Rasulullah saw, karena kalau tidak akan menimpa kecelakaan atas diri Rasulullah saw. Tetapi usaha melalui Abu Thalib ini gagal. Karena Rasulullah saw langsung menjawab atas apa yang disampaikan oleh para pemuka penguasa Quraisy melalui Abu Thalib: "Wahai pamanku yang tercinta. Saya tidak akan berhenti dan meninggalkan misiku walaupun mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku. Allah tentu akan menunjukkan keberhasilan atau aku mati syahid karenanya." (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 266; Ibu Jarir ath-Thabari, Tarikhul-Rusul wal-Muluk, Jil. II, hal. 324) Dimana Abu Thalib ini tersentuh hatinya sambil mengatakan: "Keponakanku teruskan dan katakan apa yang engkau sukai. Kini tak seorangpun yang dapat mengganggumu sedikitpun".

 

Nah, misi pertama untuk menjatuhkan Rasulullah saw melalui Abu Thalib Gagal. Kemudian disusul dengan misi kedua, melalui pengiriman utusan penguasa Quraisy seorang diplomat Arab yang ulung, Utbah bin Rabi'ah untuk menemui dan menjajagi Rasulullah saw. Sesampai Utbah bin Rabi'ah kehadapan Rasulullah saw, langsung Utbah bin Rabi'ah melambungkan taktik licik dan penipuannya dengan menyatakan: "Hai Muhammad. Janganlah memecah belah begitu, biarkan bangsa Quraisy mengikuti jalan hidup mereka sendiri, sebagai gantinya terimalah apa yang engkau ingini. Bila uang yang engkau inginkan, maka ambillah sebanyak yang engkau butuhkan; bila istri cantik, pilihlah gadis Arab yang tercantik; bila kekuasaan, orang Quraisy dapat mengangkat engkau sebagai raja. Ambillah apa yang engkau inginkan, tetapi demi tuhan, hentikanlah misimu". (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 293-294; Syibli Nu'mani, Siratun Nabi, Jil. I, hal. 222)

 

Kemudian dijawab oleh Rasulullah saw dengan mengutip QS, Fushshilat, 41: 6 " Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya" (QS, Fushshilat, 41: 6)

 

Setelah selesai Utbah bin Rabi'ah mendengar dibacakannya QS, Fushshilat, 41: 6 oleh Rasullah saw, langsung saja Utbah bin Rabi'ah tanpa memberikan komentar lainnya mundur dan meminta diri, dan melaporkan hasil diplomasinya kepada pihak penguasa Quraisy. Dengan mengatakan: "Demi Allah, kata-kata Muhammad bukanlah puisi. Biarkanlah ia pada jalannya, bila ia berhasil tentu akan membawa kehormatan bagi anda semua, sebaliknya jika gagal tentu ia akan menghentikan misinya dengan sendirinya". Tetapi pihak penguasa Quraisy tidak mau mendegar usul dari Utbah bin Rabi'ah.

 

Ternyata misi kedua yang dilakukan oleh Utbah bin Rabi'ah gagal total menghadapi benteng QS, Fushshilat, 41: 6.

 

Setelah misi yang dikirimkan oleh pihak penguasa Quraisy ini gagal, maka timbullah tindakan-tindakan yang berupa penyiksaan, usaha pembunuhan, penganiayaan, penghinaan terhadap Rasulullah saw dan orang-orang yang baru masuk Islam.

 

Dimana para pimpinan penguasa Quraisy pada turun tangan untuk melakukan tindakan yang menjurus kepada penghinaan, penyiksaan, penganiayaan. Seperti Abu Jahal yang pada suatu hari meletakkan kotoran-kotoran unta dileher Rasulullah saw ketika beliau sedang melakukan sujud dalam shalat. Sedangkan Uqbah bin Muhhit mencoba melilitkan tali kain keleher Rasulullah saw dengan maksud untuk mencekiknya. Abu Lahab, Walin Bin Mughirah, Umayyah bin Khalaf dan Ash bin Wa'il adalah mereka yang sangat keras menentang kepada misi risalah Rasulullah saw. (Muhammad Yusuf Kandzlawi, Hayatus Shahabah, Jil. I, hal. 241-286)

 

Bukan hanya Rasulullah saw yang mendapat perlakuan kasar, penghinaan, rencana pembunuhan, melainkan juga kepada orang-orang muslim yang baru memeluk Islam. Juga terhadap para hamba sahaya yang telah menyatakan diri masuk Islam. Misalnya perlakuan yang kejam yang ditimpakan kepada Bilal, budak dari Abyssinia milik seorang kafir Mekkah yang dipaksa tidur telentang diatas pasir yang membara ditengah terik matahari, dan dadanya ditindihi batu besar sehinga ia tidak dapat menggerakkan anggota badannya. Ketika Bilal ditanya untuk melepaskan keyakinannya pada Islam, tetapi dijawab Bilal dengan mengatakan: "Ahad, Ahad". Kemudian Abu Bakar membeli budak ini dan memerdekakannya. Begitu juga yang ditimpakan kepada orang-orang Islam, seperti Sumayyah, Khabbah, Ammar bin Yasir, Shuhaib, Abu Faqih. (Ibnu Sa'd, Ath.Thabaqat al-Qubra, Jil. I, hal. 203 & Jil. III; Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 317-321)

 

Setelah penguasa dan tokoh-tokoh Quraisy melakukan penyiksaan, penghinaan, percobaan pembunuhan terhadap orang-orang yang baru masuk Islam, dilanjutkan dengan pemboikotan terhadap bani Hasyim dan seluruh keluarganya. Dimana seluruh pimpinan Quraisy Mekkah membuat suatu kesepakatan bersama untuk melakukan pemboikotan terhadap keluarga bani Hasyim. Tidak seorangpun dibenarkan untuk melakukan hubungan dengan bani Hasyim. Termasuk menjual bahan-bahan makanan. (Ibnu Sa'd, Ath.Thabaqat al-Qubra, Jil. I, hal. 208-209; Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 350). Dimana pemboikotan ini berlangsung selama 3 tahun. (Ibnu Sa'd, Ath.Thabaqat al-Qubra, Jil. I, hal. 209)

 

Dsaat-saat umat Islam yang baru tumbuh ini sedang mengalami penyiksaan, penindasan, ancaman, usaha pembunuhan, muncullah orang-orang Yatsrib yang datang ke Mekkah pada tahun ke 10 Kenabian (tahun Masehi) untuk memeluk Islam dan melakukan kerjasama dan kesepakatan dengan diawali melakukan ikrar bersama Rasulullah saw.

 

Dengan adanya kesepakatan bersama antara Rasulullah saw dengan orang-orang Yatsrib, terutama dengan suku Aus dan suku Khazraj makin terbukalah jalan untuk melakukan hijrah keluar dari Mekkah pergi menuju Yatsrib. Sebagaimana yang telah ditunjukkan ketika enam orang Yatsrib datang ke Mekah dan memeluk Islam di Aqabah pada tahun ke 10 Kenabian (tahun Masehi). Dan dilanjutkan dengan datangnya 12 orang Yatsrib pada tahun ke 11 Kenabian (tahun Masehi) dan melakukan ikrar Aqabah pertama. Kemudian dilanjutkan dengan datangnya 73 orang Yatsrib dari suku Khazraj dan Aus yang juga melakukan ikrar Aqabah kedua pada tahun ke 12 Kenabian (tahun Masehi).

 

Detik-detik awal berlangsungnya hijrah Rasulullah saw meninggalkan Mekkah menuju Yatsrib.

 

Setelah segala usaha yang dilakukan oleh pihak pengusa dan tokoh-tokoh Quraisy gagal untuk membunuh Rasulullah saw, maka pada tahun ke 13 Kenabian (tahun Masehi) pihak penguasa Quraisy berkumpul di Majlis Pertemuan (Darul Nadwah) membicarakan siasat dan strategi bagaimana untuk membunuh Rasulullah saw. Dimana semua tokoh-tokoh Quraisy harus ikut bersama-sama melakukan usaha pembunuhan terhadap Rasulullah saw.

 

Beberapa tokoh Quraisy seperti Utbah, Abu Sufyan, Jubair bin Muth'im, Nadhar bin Harits bin Kaldah, Abu Bakhtari, Ibnu Hisyam, Zama'ah bin Aswad bin Muththalib, Hakim bin Hizam, Abu Jahal, Nubaih, Umayyah bin Khalaf mereka mengepung rumah Rasulullah saw pada malam hari dan menunggu Rasulullah saw keluar dari rumah.

 

Karena Rasulullah saw telah mengetahui adanya bahaya melalui wahyu Allah SWT, maka malam itu tidak tidur ditempat tidurnya, melainkan meminta kepada Ali bin Abi Thalib untuk tidur di kamarnya. (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 482). Pada malam itu juga Rasulullah saw dengan kekuatan imannya yang tinggi pergi keluar rumah tanpa diketahui oleh para pengepungnya yang sudah sedemikian bernafsu untuk membunuh Rasulullah saw. (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 482). Karena mereka tidak tahan menunggu sampai lama, maka pada pajar hari menyerbulah para pengintai kaum Quraisy ini menyerbu kedalam rumah Rasulullah saw, tetapi ternyata yang mereka temukan adalah sosok tubuh Ali bin Abu Thalib.

 

Setelah para tokoh Quraisy gagal membunuh Rasulullah saw, maka diumumkanlah kepada masyarakat, yaitu bagi siapa saja yang bisa menangkap atau membunuh Rasulullah saw akan diberi hadiah 100 ekor unta. Disamping itu penguasa Quraisy mengerahkan pasukan beregu untuk mencari jejak Rasulullah saw.

 

Sedangkan Rasulullah saw pada siangnya bertemu Abu Bakar dan menceritakan keinginan Allah SWT (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 485). Abu Bakar menyiapkan dua ekor unta. Untuk menghindari pengejaran pasukan beregu Quraisy Rasulullah saw bersama Abu Bakar bersembunyi dalam gua di Gunung Tsaur selama tiga hari tiga malam. (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 485).

 

Pada hari keempat Rasulullah saw dan Abu Bakar keluar dari gua dan membayar seorang kafir Mekkah yang dapat dipercaya, Abdullah bin Uraiqith untuk menjadi penunjuk jalan ke Yatsrib. (Muhammad Zurkani, Syarhul Mawahib al-Laduniyah, Jil. I, hal. 409). Mereka hanya berjalan pada malam hari tidak melalui jalan umum. Pada siang harinya mereka beristirahat.

 

Dalam perjalanannya ke Yatsrib pernah Rasulullah saw dan Abu Bakar terlihat oleh Suraqah bin Malik seorang pemuda kekar dari Mekkah. Karena tergiur hadiah 100 ekor unta, maka langsung Surakah bin Malik mengejar Rasulullah saw dengan kudanya, tetapi ketika ia hampir mendekati Rasulullah saw kaki kudanya tersandung batu, namun ia meloncat kembali ke punggung kuda untuk meneruskan pengejaran, tetapi kembali terantuk batu. Walaupun begitu ia tidak putus asa bahkan memasang anak busur dan anak panah hendak membidik Rasulullah saw lalu kaki kudanya tersandung batu lagi yang ketiga kalinya. Setelah itu Surakah bin Malik mengurungkan niatnya untuk membunuh Rasulullah saw. Dan mendekati Rasulullah saw sambil meminta maaf. Lalu Rasulullah saw sambil tersenyum memaafkan. Dan Abu Bakar menulis surat perintah pengampunan diatas sepotong kulit. (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 488-490)

 

Pada saat itu, Rasulullah saw memberikan ramalan: "Satu saat nanti kamu akan memakai gelang ornamen Kaisar Persia terbuat dari emas" (Muhammad Zurkani, Syarhul Mawahib al-Laduniyah, Jil. I, hal. 419). Ternyata benar apa yang ramalkan Rasulullah saw, yaitu 24 tahun kemudian ketika kekaisaran Persia jatuh ketangan kaum muslimin pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Surakah bin Malik diutus Khalifah ke Persia lalu diberi hadiah gelang ornamen. (Muhammad Zurkani, Syarhul Mawahib al-Laduniyah, Jil. I, hal. 419).

 

Sebelum sampai ke Yatsrib Rasulullah saw singgah di Quba kira-kira 3 mil jaraknya dari Yatsrib, dan membangun masjid pertama yang diberi nama masjid Quba. Di Quba Rasulullah saw tinggal selama empat hari. Dan pada hari Jumat 12 Rabi'ul Awwal 1 H bertepatan dengan 24 September 622 M Rasulullah meninggalkan Quba menuju Yatsrib.

 

Sesampai di Yatsrib Rasulullah saw menjalankan taktik dan strateginya yaitu pertama membangun masjid Nabawi. Diteruskan mengadakan Pakta Perjanjian antara kaum muslimin dan Yahudi yang dikenal dengan Undang Undang Madinah yang menjadi konstitusi Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama di Yatsrib.

 

Rasulullah membangun baitul mal atau pembendaharaan umum. Dimana dicanangkan masyarakat menyumbangkan hartanya untuk dana umum guna dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat, pertolongan, dan lain-lain.

 

Turunnya perintah Allah SWT untuk mempertahankan diri dari serangan pihak musuh dengan mengangkat senjata melalui jalan perang.

 

Setelah melakukan Pakta Perjanjian antara kaum muslimin dan Yahudi, maka tidak lama setelah itu turunlah QS, Al-Baqarah, 2: 190 "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS, Al Baqarah, 2: 190) yang membolehkan kaum Muslimin mengangkat senjata dan mempertahankan diri.(Ibnul Qayyim, Zadul Ma'ad, Jil. I, hal. 314)

 

Inilah perintah pertama Allah SWT untuk mengangkat senjata mempertahankan Daulah Islamiyah, Islam, dan kaum muslimin di Yatsrib atau Madinah.

 

Jadi setelah menelusuri jejak Rasulullah saw, ditemukan empat faktor yang menjadi dasar dorongan Rasulullah saw melakukan hijrah.

 

Pertama, adanya pertentangan ideologi, yakni antara ideologi Islam yang didalamnya tertanam aqidah, tauhid dengan ideologi non-Islam kaum Quraisy yang penuh dengan syirik dan kebatilan.

 

Kedua, adanya penentangan dan sikap permusuhan dari pihak penguasa Quraisy Mekkah atas misi Rasulullah saw dalam menyebarkan risalahnya.

 

Ketiga, adanya tindakan-tindakan yang berupa penyiksaan, usaha pembunuhan, penganiayaan, penghinaan terhadap Rasulullah saw dan orang-orang yang baru masuk Islam dari pihak penguasa Quraisy.

 

Keempat, adanya kesepakatan bersama antara Rasulullah saw dengan orang-orang Yatsrib, terutama dengan suku Aus dan suku Khazraj. Sebagaimana yang telah ditunjukkan ketika enam orang Yatsrib datang ke Mekah dan memeluk Islam di Aqabah pada tahun ke 10 Kenabian (tahun Masehi). Dan dilanjutkan dengan datangnya 12 orang Yatsrib pada tahun ke 11 Kenabian (tahun Masehi) dan melakukan ikrar Aqabah pertama. Kemudian dilanjutkan dengan datangnya 73 orang Yatsrib dari suku Khazraj dan Aus yang juga melakukan ikrar Aqabah kedua pada tahun ke 12 Kenabian (tahun Masehi).

 

Jadi Saprudin, inilah awal jejak-jejak Rasulullah saw yang harus dijadikan contoh dalam rangka menyebarkan risalah dan pembangunan umat.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Thu, 11 Aug 2005 09:44:28 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin im_surya_1998@yahoo.co.id

Subject: Sikap Mental Drs. Ahmad Sudirman

To: SP Saprudin <im_surya_1998@yahoo.co.id>, ahmad@dataphone.se

Cc: ahmad_mattulesy@yahoo.com, dedenabdul@bandung.com, detak@hotmail.com, diana@jpf.or.id, djenar_saja@yahoo.com, dtroufleau@wanadoo.fr, duniamusafir@yahoo.com, dharmawan_ronodipuro@ireland.com, dr_lukmanulhakim@yahoo.com, djuli@pc.jaring.my, dewisifa@yahoo.com, dhienpayabujok@yahoo.com, dwi.iswahyudi@trakindo.co.id, dityaaceh_2003@yahoo.com, doradelina@yahoo.com, dani_acheh@yahoo.com, editor@merdeka.co.id

 

Assalamualaikum wr. wb.

 

MR. Ahmad, dalam proses pembangunan kehidupan manusia, haruslah pandai-pandai memahami, menyikapi dan menterjemahkan fakta dan realita kehidupan dalam kerangka Sunatullah sebagai khalifah fil ardi.

 

Sikap mental tanpa dilandasi iman rentan terhadap berbagai gangguan kejiwaan. Kerapkali orang yang macam ini sebagai tipe manusia yang tidak pandai bersyukur, resah dan gelisah dalam hidupnya.

 

Anda beragama Islam ? Al Qur'an dan Al Hadits merupakan bimbingan hidup yang berfungsi sebagai motivator pemacu dinamika mental untuk menuju sekaligus sebagai stabilisator yang membentengi mental daripada : depressi, stress, frustasi atau lupa daratan dalam perjuangan hidup.

 

Pantaslah apa yang disinyalir oleh salah seorang Ulama (Syekh Mohammad Abduh), beliau mengatakan "Keagungan Islam ditutupi oleh kebodohan umatnya sendiri". Begitulah ulasan saya.

 

Wassalamualaikum wr. wb.

 

Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------