Stavanger, 12 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


KOMUNISTO PHOBIO ATAU KOMUNISME BUNGLON DENGAN BECAK TOKYONYA?

Omar Puteh

Stavanger – NORWEGIA



APAKAH KOMUNISTO PHOBIO ATAU KOMUNISME BUNGLON DENGAN BECAK TOKYONYA?

 

Mengapakah Tukang Becak Tokyo, yang menyebutkan dirinya komunis itu, menyerang Ustadz Tengku Ahmad Hakim Sudirman? Becak jenis apakah yang ada di Tokyo sana, sehingga hanya tukang becak Tokyo saja nampaknya bertindak gerangsang sedemikian rupa? Tidak samakah dengan yang ada di Jakarta? Atau dari becak-becak dari tempat lain?

 

Sedangkan sebenarnya musuh komunis atau komunis Internasional adalah: Feudalisme, Kapitalisme, Kolonialisme dan Imperialisme! Sebaliknya, Ustadz Tengku Ahmad Hakim Sudirman itu seorang Islamis-idealis, yang humanis yang bukan Feudalis, yang bukan Kapitalis dan beliau itu sangat membenci terhadap struktur Kolonialsime atau Imperialisme terutama Kolonialisme-Imperialisme Indonesia Jawa Chauvinistis!

 

Sebagaimana kamu, Tukang Becak Tokyo maklum bahwa,  bagi komunis Indonesia Jawa, musuhnya adalah jelas dan nyata:

 

(a). ABRI, TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Indonesia, si Belanda Hitam, khususnya Jenderal-Jenderal Angkatan Darat dari jajaran 1965 dan keturunan-keturunannya, yang telah menyembelih 3 juta ummat Komunis yang tidak bersalah: Buruh-buruh pabrik yang tidak cukup makan dan buruh-buruh tani yang miskin.

 

Ayo, Tukang becak Tokyo, kamu tanyakan saja kepada saudara Permadi SH ex PNI-ASU, yang sekarang berpupuran dengan PDI-P!

 

Si Permadi SH dari PDI-P, anggota Komisi I DPR inilah yang pernah mendengar secara langsung dari mulut Kolonel Sarwo Edhi, pasca sebelum dia mampus bahwa, Angkatan Darat telah menyembelih 3.000.000 jiwa lebih ummat komunis yang tidak bersalah!

 

Dengan kamu, Tukang becak Tokyo berbuat demikian, dengan menanyakan perihal Angkatan Darat menyembelih 3.000.000 jiwa lebih ummat komunis, mungkin akan bisa menyedari dirinya,  agar dia bisa punya naluriah rasa kemanusiaan, jangan seenak udelnya menyuruh ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, menembaki bangsa Acheh Sumatra, yang sedang berjuang memerdekakan tanah airnya dari Penjajah Indonesia Jawa.

 

(b). Banser-Banser N U, rakan-rakan Gusdur, Abdurrahmad Wahid (jangan sebutkan Islam) yang diperalat oleh Jenderal-Jenderal TNI-Angkatan Darat, yang tangan-tangan mereka masih berlumuran darah, ikut menyembelih 3.000.000 jiwa lebih ummat komunis yang tidak bersalah.

 

Lantas mengapakah Tukang becak Tokyo menyeret Sobron Aidit adik dari Dipo Negoro Aidit (jangan sebutkan Dipa Nusantara Aidit, karena dia bukan Somalia lagi), pemimpin Komunis Indonesia Jawa, yang pernah lehernya digorok oleh Kolonel Sarwo Edhi, bapak mertua Susilo Bambang Yudhoyono dan meneteng kepalanya ke Istana Negara untuk diserahkan kepada Suharto Kleptokracy si babi Jawa budek itu?

 

Lagipun Sobron Aidit itu, sekarang ini, begitu asyik nyantapi kepala ikan yang bisa membantunya menghidup-hidupkan puisi dengan selingan nyawa prosa? Yang katanya, dari katanya saudara Sobron Aidit, hidangan eklusip dan paling enak adalah porsi kepala-kepala ikan “piranha”!  Jenderal-Jenderal Angkatan Darat itulah piranha-piranha Gestok!?! Mengapakah yang Belanda, yang di Perancis dan dimana-dimana pangkalan lain, masih belum berhasil mengumpulkan kepala-kepala piranha Jenderal-Jenderal Angkatan Darat kedalam "mangkok" International Criminal Court for Justice di mana-mana International Tribunal-PBB untuk dijadikan porsi keadilan?   Masih juga takut, walaupun sudah 40 tahun? Tukang becak Tokyo, temui si Sobron Aidit lagi, katakan kepadanya bahwa 3.000.000 jiwa lebih ummat Komunis yang tidak bersalah itu terlalu banyak dan tidak pernah dalam sejarah tamandun manusia pernah tercatat penyembelihan pada kadar jumlah sedemikan banyak, apalagi mereka adalah orang-orang yang tidak bersalah Korban Peristiwa 1965 dan Pulau Buru!  Korban Gestok!  Korban Pancasila!

 

Saya semacam yakin dan semacam percaya yang Ustadz Tengku Ahmad Hakim Sudirman, telah sempat menyilaki “baju luar” komunisnya Tukang becak Tokyo, sebagai komusnisto phobio, sebagai komunisme bunglon!

 

Bagusnya kamu, Tukang becak Tokyo menjiplaki saja cara dan karakternya Soekarno si Penipu licik dengan Komunis Plintat Plintut-nya, dengan komunis environtalisnya(?), dengan komunis bunglonnya!  PNI-ASU atau PNI Permadi SH, dulunya adalah PKI bunglon!

 

Maka dengan cara itu, kamupun bisa menjadi si Tukang becak Tokyo bunglon pula.

 

Plin-Plan atau Plintat-Plintut telah berhasil diterjemahkan oleh saudara Ibrahim Isa Betawi atau Ibrahim Isa Biljmer adalah sebagai oppunitisme!

 

Soekarno si Penipu licik adalah seorang yang Plin-Plan, seorang yang Plintat-Plintut, seorang yang Oppotunis, si Kolaborator Jepang, si Petualang jalang!

 

Soekarno si Penipu licik, si Komunis Bunglon itu, tidak pernah memusuhi Feudalis Jawa Jokyakarta dan Jawa Surakarta.   Mengapa?  Karena kawasan alun-alun Pendopo Istana Jokyakarta itu pernah menjadi wilayah negara RI-Jawa Jokya?

 

Sedangkan dalam sejarah komunisme telah disebutkan bahwa feudalisme adalah nenek dari Kapitalisme, Kolonialisme dan Imperialsisme!  Walaupun mulutnya Soekarno si Penipu licik asyik plas-plus, mengomat-ngamit mengatakan anti feudalisme! Anti Kapitalisme! Anti Kolonialisme! Dan anti Imperialisme!

 

Kamu lihat! Sebaik saja Fasis Jepang datang pada 9 Maret, 1942 dan setelah semua anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda atau si Belanda Hitam lari bersembunyi menyelamatkan diri kedalam kampung-kampung, kedalam perkebunan-perkebunan atau ladang-ladang, lantas Soekarno si Penipu licikpun cepat-cepat menukarkan baju komunisnya dengan baju fasis Jepang-nya, sebagai kolaborator fasis Jepang!

 

Tetapi menjelang 17 Agustus, 1945 , sebaik Fasis Jepang mulai dilucuti senjatanya oleh Anggota Misi Monitoring dari Negara Sekutu untuk dimusnahkan dalam satu bulan, Soekarno si Penipu licik itupun menukarkan baju Kolaborator Fasis Jepangnya, dengan baju Proklamotor???

 

Proklamator bunglon!  Founding Father bunglon! Semua oranga tahu Soekarno si Penipu licik diheret oleh Dr Chairul Salleh Cs ke utara Krawang tanggal 16 Agustus, 1945 jam 04.30 pagi karena menolak untuk merdeka.

 

Lantas kamu lihat lagi! Setelah RI-Jawa Jokya (negara anggota federasi bunglon) diterima menjadi negara anggota federasi Republik Indonesia Serikat, Soekarno si Penipu licik atau si Belanda Besar (nama julukan yang lain dari rakan Belanda-nya), hanya dalam tempo 231 hari, pada 15 Agustus, 1950 ( 55 tahun sebelum Negara Acheh Sumatra dipaksa dengan todongan moncong senjata dari 70.000 personil ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, menanda tangani "MOU") sebaik saja dia menggenggam senjata diapun dengan etno-nasionalisme Jawa Chauvinis-nya, menukarkan baju RIS menjadi NKRI, negara si Jawa Besar, si Great Jawa!  Lantas dia pun menjadi Kolonialis, Kolonialis Jawa Chauvinis tulen!

 

Sebenarnya senjata dalam genggaman Jawa Chauvinislah yang menyebabkan malapetaka di Nusantara.  Hari inipun  70.000 pucuk senjata-senjata yang digenggaman ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam yang menjadikan malapetaka di Acheh, bukan yang dalam genggaman TNA, Tentara Negara Acheh!  Yang dalam genggaman TNA, Tentara Negara Acheh adalah untuk melindungi bangsa Acheh dan generasinya!

 

Walaupun RI-Jawa Jokya itu disebutkan sebagai negara seperatis, dia dan kelompok "NKRI-Sotasono" tidak perduli sama sekali.

 

Malahan kalau ada negara anggota federasi RIS lainnya mengikut langkah jejak Soekarno si Penipu licik itu, jejak RI-Jawa Jokya, maka negara anggota federasi itu akan dicapnya sebagai anti republik, anti Jawa Cahuvinis.

 

Jadi kamu, Tukang becak Tokyo , maunya gimana? Apakah juga akan memilih sebagai Tukang becak Tokyo bunglon juga?

 

Karl Marx dan Engels sebagai nabi-nabinya komunisme, tidak pernah menyebut-nyebutkan si Tukang becak itu sebagai membership dari komunisme, dalam kitabnya.

 

(Bersambung: Plus I + Komunisto Phobio atau Komunisto Bunglon dengan becak Tokyo-nya?)

 

Omar Puteh

 

om_puteh@yahoo.com

Norway.

----------