Stockholm, 13 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


WONG PROLETAR KOMUNIS TUKANG BECAK CINTA PERDAMAIAN TETAPI TANGAN PEGANG EKOR JENDERAL SUTARTO

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



WONG PROLETAR KOMUNIS TUKANG BECAK CINTA PERDAMAIAN TETAPI TANGAN PEGANG EKOR JENDERAL TNI ENDRIARTONO SUTARTO MEMBUNUH BANGSA ACHEH YANG TELAH SADAR UNTUK MENENTUKAN NASIB SENDIRI

 

"Huehehehehe, Mbah Sudirman, Mengaku korban dari Mbah Suharto Tapi kelakuan bagai pinang dibelah dua. Kangbecak hanya cinta perdamaian Perdamaian adalah rakhmat Tuhan yang harus diciptakan. Kemudian kangbecak sodorkan dua nama perumpamaan. DN Aidit dan Sobron Aidit sang sastrawan. Nama pertama telah mati sebagai korban. Nama kedua, disimpannya dendam digantikan dengan puisi keindahan. Tiba-tiba Tanpa angin dan badai, Mbah Sudirman menempelkan label komunis di kening kangbecak. Padahal sudah dikatakan,

Kangbecak bukanlah buruh atau petani yang pantas dikelompokkan. Tapi mbah Sudirman sudah terlanjur gelap mata, Ditambahinya kata-kata proletar dalam nama. Persis mbah Suharto kala bertahta." (Kang becak, kbecak@yahoo.com , Fri, 12 Aug 2005 20:14:30 -0700 (PDT))

 

Baiklah wong proletar komunis tukang becak di Tokyo, Jepang.

 

Wong proletar komunis tukang becak yang terus badannya menggelupur-gelupur, dibalik pintu sigotakanya, dipinggir jalan kota Tokyo. Dengan mulut komat-kamit mencoba mendenguskan suara yang isinya jampe puisi berisikan cairan kata-kata yang menjadikan Achmad Aidit sebagai pahlawan, Sobron Aidit sebagai penyimpan dendam diganti dengan jampe puisi yang ditiupkan ke muka-muka Jenderal Orba, termasuk mbah Soeharto pembunuh ratusan ribu bangsa Acheh dan jutaan manusia-manusia tidak bersalah.

 

Wong proletar komunis memakai lambang dan label tukang becak, suatu lambang kaum proletar, walaupun wong proletar komunis di Tokyo tidak mau dimasukkan dirinya kedalam kelompok kaum proletar yang terdiri dari kaum buruh dan kaum petani. Begitu juga Achmad Aidit bukan dari golongan petani dan buruh, juga sama dengan Sobron aidit bukan golongan petani dan buruh, sehingga tidak mau dikaliam sebagai kaum proletar. Tetapi, mulut dan tangannya sibuk mengacung-acungkan kaum proletar meniru Lenin dan Mao Tje Tung.

 

Inilah suatu penipuan dengan menggunakan kaum proletar. Begitu juga Soekarno, Megawati, Hardi, Achmad Aidit, Sobron Aidit memakai lambang dan label proletar untuk dijadikan alat manipulasi paham sosialisme-proletariat model Marxisme Mao Tje Tung atau model Marxisme Lenin.

 

Wong proletar komunis tukang becak di Tokyo, akal bulus kalian, mana bisa dijadikan alat untuk menipu Ahmad Sudirman. Walaupun kalian lambungkan nasionalisme jiwa bangsa Indonesia model Mohammad Hatta, atau mengkorek-korek sosialisme dari butiran Islam, atau berceloteh cinta perdamaian, tetapi, itu semuanya hanya dimulut saja.

 

Apakah kalian proletar komunis tukang becak tidak pernah membaca apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer seorang saksi korban Jenderal-Jenderal TNI dibawah Soeharto yang melakukan pembunuhan jutaan umat manusia, tanpa melalui proses peradilan, pada 1965, ia ditahan dan dibuang ke Pulau Buru, ketika ditanya pendapatnya tentang Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI telah minta maaf kepada korban peristiwa 30 September dan 1 Oktober 1965. Dimana Pramoedya Ananta Toer menyatakan bahwa "masalah itu harus diselesaikan secara hukum. Gus Dur sendiri sowan kepada Soeharto. Itu mengecewakan. Rekonsiliasi bagaimana yang diinginkan? Kok, sepertinya gampang amat. Orang yang dipukul merasakan terus rasa sakitnya, sementara orang yang memukul sudah lupa. Omong kosong saja rekonsiliasi." (Wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer, Forum Keadilan, 26 Maret 2000)

 

Nah, itu Pramoedya Ananta Toer menyatakan sikapnya tentang rekonsiliasi. Bagaimana bisa mengadakan rekonsiliasi, sedangkan itu Soeharto pelaku utama pembunuhan jutaan orang tidak bersalah masih ongkang-ongkang bebas bahkan mau dikasih amnesti segala macam. Justru kata Pramoedya selesaikan secara hukum. Kalau hanya sekedar minta maaf semua orang bisa melakukannya.

 

Jadi, kalau itu Sobron Aidit "disimpannya dendam digantikan dengan puisi keindahan" sebagaimana yang kalian katakan proletar komunis tukang becak, itu adalah suatu penipuan kepada dirinya sendiri.

 

Bagaimana kalian propagandakan perjuangan kaum proletar dari penindasan kaum borjuis, kalau kenyataan setelah jutaan umat manusia proletar yang tidak berdosa dibunuh TNI, kemudian kalian anggap sepi dan menerima saja rekonsiliasi. Dimana tanggungjawab kalian terhadap nasib dan hidup kaum proletar yang kalian klaim untuk diperjuangkan.

 

Nah, dari cara dan gaya proletar komunis tukang becak di Tokyo ini menunjukkan bahwa sebenarnya kalian itu hanya memakai lambang proletar saja, tetapi kelakuan kalian terus saja ikut dibelakang ekor Jenderal-Jenderal TNI yang membunuh rakyat, di Acheh, Maluku Selatan, Papua Barat dan jutaan orang-orang yang tidak berdosa dan tidak bersalah.

 

Kalau memang kalian memperjuangkan perdamaian, maka seharusnya kalian itu melakukan kutukan atas pembunuhan TNI terhadap bangsa Acheh, Maluku dan Papua. Tetapi, kenyataannya kalian itu hanya di mulut saja bicara perdamaian.

 

Coba saja perhatikan ketika Ahmad Sudirman membeberkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang dianeksasinya wilayah Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat kedalam RI oleh Soekarno, maka kalian langsung membabi buta menghantam Ahmad Sudirman. Bukan memberikan tanggapan dengan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum.

 

Jadi bagaimana bisa dikatakan kalian itu cinta perdamaian, proletar komunis tukang becak Tokyo.

 

Itu istilah cinta perdamaian hanyalah sekedar polesan dibibir saja. Karena kenyataannya kalian dalam masalah pembunuhan di Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat adalah posisi kalian berada dibelakang Jenderal-Jenderal TNI seperti Jenderal TNI Endriartono Sutarto, Jenderal TNI Djoko Santoso, Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dan Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi Saputra. Politik kalian hanyalah ikut mengekor kepada politik mbah Soekarno, Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono. Politik kelompok unitaris Jawa Soekarno yang menjalankan politik ekspansi pencaplokan wilayah diluar wilayah de-facto dan de-jure RI-Jawa-Yogya.

 

Terakhir, kalau kalian proletar komunis menyatakan: "Mengapa kaum agamawan selalu menyimpan dendam di dalam tangan. Sedangkan komunis, mereka lupakan dendam dan mengganti dengan salam perdamaian."

 

Kalian salah kaprah, yang dituntut adalah keadilan yang berdiri diatas hukum. Bukan hanya sekedar minta maaf dimulut dan jabatan tangan untuk rekonsiliasi. Kalau kalian hanya berargumentasi dengan lupakan dendam dan mengganti dengan salam perdamaian tanpa melalui jalur hukum yang adil, itu namanya kalian itu benar-benar orang budek yang hanya mempergunakan kaum proletar saja. Kalian korbankan jutaan rakyat yang tidak berdosa dibunuh Jenderal-Jenderal dibawah perintah Jenderal Soeharto.

 

Inilah kemunafikan dan kebohongan yang besar yang dilambungkan oleh proletar komunis tukang becak yang sok cinta perdamaian, tetapi kelakuan hanya mengekor pada ekor Jenderal-Jenderal TNI yang melakukan pembunuhan di Acheh, Maluku Selatan, Papua dan jutaan rakyat yang tidak berdosa yang dituduh komunis.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Fri, 12 Aug 2005 20:14:30 -0700 (PDT)

From: Kang becak kbecak@yahoo.com

Subject: Mbah Ahmad "Suharto" Sudirman.

 

Bismillah,

 

Huehehehehe,

Mbah Sudirman,

Mengaku korban dari Mbah Suharto

Tapi kelakuan bagai pinang dibelah dua.

 

Kangbecak hanya cinta perdamaian

Perdamaian adalah rakhmat Tuhan yang harus diciptakan.

Kemudian kangbecak sodorkan dua nama perumpamaan.

DN Aidit dan Sobron Aidit sang sastrawan.

Nama pertama telah mati sebagai korban.

Nama kedua, disimpannya dendam digantikan dengan puisi keindahan.

 

Tiba-tiba

Tanpa angin dan badai,

Mbah Sudirman menempelkan label komunis di kening kangbecak.

Padahal sudah dikatakan,

Kangbecak bukanlah buruh atau petani yang pantas dikelompokkan.

Tapi mbah Sudirman sudah terlanjur gelap mata,

Ditambahinya kata-kata proletar dalam nama.

Persis mbah Suharto kala bertahta.

 

Dalam hati timbulah pertanyaan yang belum terjawabkan,

Mengapa kaum agamawan selalu menyimpan dendam di dalam tangan.

Sedangkan komunis, mereka lupakan dendam dan mengganti dengan salam perdamaian.

Dengarlah ceritera mereka.

Berbaur dan menjadi pelita bagi sesama.

Sedangkan Mbah Sudirman selalu menebarkan kebencian atas nama Tuhan.

 

Nah Omar, masihkah engkau mengikuti dajal Ahmad Sudirman.

Menghambakan diri pada dendam

Dengan harapan kekuasaan ?

 

Wassalam.

 

Kang becak

 

kbecak@yahoo.com

Tokyo, Jepang

---------