Stockholm, 13 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA, ITU SOEKARNO MEMBELI SENJATA DARI UNI SOVIET UNTUK DIPAKAI MENCAPLOK PAPUA BARAT

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

JELAS KELIHATAN, ITU SOEKARNO MEMBELI SENJATA DARI UNI SOVIET UNTUK DIPAKAI MENCAPLOK PAPUA BARAT

 

"Berkat sikap Khrushchev, Amerika mendukung penyatuan Papua ke Indonesia." (Muba Zir,  mbzr00@yahoo.com , Sat, 13 Aug 2005 09:14:16 -0700 (PDT))

 

"Perubahan sikap Amerika baru muncul setelah Presiden Uni Soviet, Nikita Khrushchev, hadir di Jakarta. Si beruang merah menjanjikan bantuan senjata, pelatihan militer, hingga kapal selam. Juga ada bantuan duit. Khrushchev secara cerdik memanfaatkan isu kebencian Soekarno terhadap Amerika, gara-gara Irian Barat. ''Kami mendukung masuknya Irian Barat sebagai wilayah Republik Indonesia,'' katanya. Bagi Amerika, sikap Khrushchev ini merupakan tamparan. Sebuah haluan politik luar negeri baru kemudian diluncurkan Amerika. Untuk menjaga agar jangan sampai Indonesia semakin ke kiri, Amerika memutuskan mendukung integrasi Guinea Baru. Presiden John F. Kennedy diminta memberi perhatian secara pribadi kepada Soekarno. Maka, sewaktu Soekarno mampir di Amerika, April 1960, Kennedy mengundangnya ke Washington. Ia menjemput BK di bandar udara, hal yang tak pernah ia lakukan. Sebelum makan siang, ia membawa Soekarno ke lapangan rumput Gedung Putih, menunjukkan dua helikopter. Sebuah di antaranya dijanjikan sebagai oleh-oleh untuk Soekarno. BK sangat bersukacita." (Iwan Qodar Himawan, iwan@gatra.com , Lensa, Gatra Nomor 39 Beredar Senin, 8 Agustus 2005)

 

Baiklah Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Hari ini Muba Dijon melampirkan tulisan saudara Iwan Qodar Himawan dari Gatra yang mengupas tentang Nikita Khrushchev, Soekarno, Papua Barat, dan John F. Kennedy.

 

Hanya setelah dibaca apa yang ditulis oleh saudara Iwan masih banyak kelemahannya. Mengapa ?

 

Karena itu cerita yang ditulis Iwan yang dihubungkan dengan Muhammad Yamin yang membagi Indonesia ke dalam lima wilayah. Papua, bersama Tarakan, Morotai, dan Halmahera, ia masukkan sebagai ''daerah peperangan istimewa''. Jawa, Borneo, Selebes, Maluku, masuk kelompok pertama, yakni daerah bekas jajahan Hindia Belanda.

 

Jelas itu cerita sejarah buatan Muhammad Yamin bukan suatu fakta, bukti, dasar hukum yang bisa dijadikan sebagai fakta sahnya pihak RI-Jawa-Yogya memasukkan wilayah Papua Barat kedalam wilayah RI-Jawa.Yogya. Apalagi kalau dilihat dari sudut jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI-Jawa-Yogya dihubungkan dengan Papua sangat jauh sekali itu cerita sejarah buatan Muhammad Yamin itu untuk bisa dijadikan dasar fakta, bukti, hukum dan sejarah untuk mensahkan pemasukan wilayah Papua Barat kedalam wilayah RI-Jawa-Yogya.

 

Itu Cerita Muhammad Yamin benar-benar sangat tidak nyambung dan sangat lemah kekuatan hukumnya.

 

Kemudian, Iwan mengupas "Khrushchev secara cerdik memanfaatkan isu kebencian Soekarno terhadap Amerika, gara-gara Irian Barat. ''Kami mendukung masuknya Irian Barat sebagai wilayah Republik Indonesia,'' katanya. Bagi Amerika, sikap Khrushchev ini merupakan tamparan. Sebuah haluan politik luar negeri baru kemudian diluncurkan Amerika."

 

Sebenarnya datangnya Nikita Khrushchev ke RI sebagai pelaksanaan hubungan kerjasama antar dua negara. Dimana Soekarno yang berideologi marhaenisme hasil perasan salah satunya paham Marxisme yang menjadi anutan ideologi Lenin menjadi kekuatan bagi pihak Uni Soviet untuk meluaskan kuku kekuasaan hegemoninya ke wilayah Asia Tenggara. Karena itulah pada tanggal 28 Februari 1960 di Istana Bogor dilangsungkan upacara penandatanganan tiga Naskah Persetujuan Bersama antara Pemerintah Uni Soviet yang diwakili oleh Perdana Menteri Nikita Khrushchev dan Pemerintah RI yang diwakili oleh Presiden Soekarno.

 

Ketiga Naskah Persetujuan  Bersama itu adalah 1. Pernyataan bersama antara Pemerintah RI dan Pemerintah Uni Soviet. 2. Perjanjian Kerjasama kebudayaan anatara Pemerintah RI dan Pemerintah Uni Soviet. 3. Perjanjian kerjasama ekonomi anatara Pemerintah RI dan Pemerintah Uni Soviet.

 

Dimana Pemerintah  Uni Soviet memberikan kredit sebesar US$ 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta dolar Amerika) untuk berbagai pembangunan proyek seperti industri besi/baja, kimia, reaktor atom, teksil, dan pertanian.

 

Nah, dalam bidang pertahanan, pihak Uni Soviet telah memberikan kredit jangka panjang. Dimana pihak Uni Soviet telah menjual senjata kepada RI. Pembelian senjata itu ditandatangani pada tanggal 4 Maret 1961 di Jakarta oleh Menteri Keamanan Nasional Jenderal Abdul Haris Nasution. Dimana pembelian senjata dari Uni Soviet itu adalah pembelian senjata terbesar yang pernah dilakukan oleh pihak RI sampai saat itu.

 

Tujuan pembelian senjata Uni Soviet ini adalah untuk mempersiapkan potensi militer RI untuk mencaplok Papua Barat atau Irian barat.

 

Nah disini jelas arah haluan politik luar negeri Soekarno mengarah ke Uni Soviet yang sekaligus dijadikan sebagai alat untuk mengumpulkan senjata guna dipakai mencaplok Papua Barat dari tangan Belanda.

 

Kemudian dengan senjata yang diperoleh dari Uni Soviet, pada tanggal 2 Januari 1962 Soekarno menugaskan kepada  Mayor Jenderal Soeharto sebagai Panglima Komando Mandala Pencaplokan Irian Barat atau Papua Barat. Wakil I Panglima Kolonel Laut Subono, Wakil II Panglima Kolonel Udara Leo Wattimera, dan sebagai Kepala Staf Gabungan Kolonel Achmad Tahir.

 

Tugas dari Komando Mandala ini adalah merencanakan, mempersiapkan dan menyelenggarakan operasi-operasi militer dengan tujuan merebut wilayah Irian Barat masuk kedalam wilayah RI-Jawa-Yogya. Kemudian mengembangkan situasi militer diwilayah Irian Barat sesuai dengan taraf-taraf perjuangan dibidang diplomasi. Dan supaya dalam waktu singkat wilayah Irian Barat bisa dianeksasi kedalam wilayah RI-Jawa-Yogya.

 

Rencana Komando Mandala ini pertama, sampai akhir 1962 dinamakan fase infiltrasi. Dengan memasukkan 10 kompi ke sasaran-sasaran tertentu untuk menciptakan daerah bebas de-facto. Kedua, mulai awal 1963 dinamakan fase eksploitasi, yaitu mengadakan serangan terbuka terhadap induk-induk militer musuh, menduduki semua pos pertahanan musuh. Ketiga, awal 1964 dinamakan fase konsolidasi, yaitu menjadikan RI sebagai penguasa di Papua.

 

Nah, dari sini memang kelihatan Soekarno telah melakukan operasi militer secara terang-terangan untuk menguasai dan menduduki Papua Barat.

 

Hanya setelah Perjanjian New York ditandatangani pada 15 Agustus 1962, gerakan operasi Soeharto dengan Komando Mandalanya dihentikan.

 

Jadi kelihatan sekarang, bahwa sebelum Perjanjian New York ditandatangani 15 Agustus 1962, itu telah terjadi kronologis kejadian:

 

Pertama, Soekarno memutuskan hubungan dilomatik dengan Belanda pada tanggal 17 Agustus 1960.

 

Kedua, membeli senjata dari Uni Soviet pada tanggal 4 Maret 1961.

 

Ketiga, pada tanggal 19 Oktober 1961 di Jayapura bangsa Papua membentuk Kongres Pertama Rakyat Papua dan mendeklarkan Manifesto kemerdekaan Papua Barat yang ditandatangani oleh wakil-wakil kelompok, agama, dan suku adat yang ada di Papua Barat.

 

Keempat, pada tanggal 2 Januari 1962 Soekarno menugaskan kepada  Mayon Jenderal Soeharto sebagai Panglima Komando Mandala Pencaplokan Irian Barat atau Papua Barat

 

Kelima, tanggal 2 April 1962 Presiden John F. Kennedy mengirimkan surat kepada Perdana Menteri Belanda J. E. de Quay. Dimana sebagian isi surat Presiden John F. Kennedy:

 

"The Netherlands position, as we understand it, is that you wish to withdraw from the territory of West New Guinea and that you have no objection to this territory eventually passing to the control of Indonesia. However, The Netherlands Government has committed itself to the Papuan leadership to assure those Papuans of the right to determine their future political status. The Indonesians, on the other hand, have informed us that they desire direct transfer of administration to them but they are willing to arrange for the Papuan people to express their political desires at some future time. Clearly the positions are not so far apart that reasonable men cannot find a solution.

 

Mr. Ellsworth Bunker, who has undertaken the task of moderator in the secret talks between The Netherlands and Indonesia, has prepared a formula which would permit The Netherlands to turn over administrative control of the territory to a UN administrator. The UN, in turn, would relinquish control to the Indonesians within a specified period. These arrangements would include provisions whereby the Papuan people would, within a certain period, be granted the right of self-determination. The UN would be involved in the preparations for the exercise of self-determination.

 

My Government has interested itself greatly in this matter and you can be assured that the United States is prepared to render all appropriate assistance to the United Nations when the Papuan people exercise their right of self-determination. In these circumstances and in light of our responsibilities to the free world, I strongly urge that The Netherlands Government agree to meet on the basis of the formula presented to your representative by Mr. Bunker.

 

We are of course pressing the Indonesian Government as strongly as we can for its agreement to further negotiations on the basis of this same formula."

 

Nah dari surat Presiden John F. Kennedy tersebut menggambarkan bagaimana pihak Pemerintah Amerika telah menyetujui komitmen Belanda terhadap para pemimpin Bangsa Papua untuk memberikan bangsa Papua hak menentukan nasib sendiri dimasa depan. Sedangkan pihak Pemerintah Soekarno menghendaki penyerahan langsung dari Belanda kepada RI, tetapi juga berkeinginan menyelenggarakan penentuan pendapat rakyat bagi rakyat Papua.

 

Dan pihak Presiden John F. Kennedy sekemampuan yang ada menekan pihak Soekarno untuk melakukan perundingan yang didasarkan kepada formula yang sama.

 

Jadi kita melihat sekarang, makin jelas, bahwa pihak Pemerintah Amerika setuju dengan pihak Pemerintah Belanda untuk memberikan kebebasan bangsa Papua menentukan nasib mereka sendiri. Tetapi melalui pengawasan utusan PBB. Sedangkan dari pihak Pemerintah RI, justru ingin terus mencaplok Papua. Dan memang usaha pencaplokan Papua telah dijalankan oleh Soekarno sampai waktu Penandatanganan Perjanjian New York 15 Agustus 1962.

 

Terakhir, kalau Ahmad Sudirman menyebut Acheh sebagai satu bangsa dan Papua juga sebagai satu bangsa itu memang benar. Yang justru ngaco kalau kalian mengatakan bangsa Indonesia. Coba Muba kalian jelaskan apa itu yang dinamakan bangsa. Dan kapan datangnya istilah indonesia. Kemudian kapan munculnya bangsa Indonesia, bagaimana adat istiadat bangsa Indonesia, asal keturunan bangsa Indonesia, budaya bangsa Indonesia. Bagaimana hubungan antara bangsa Indonesia dengan bangsa Acheh, bangsa Papua, Bangsa Sunda, Bangsa Jawa. Dan dimanakah letak perbedaan antara bangsa Indonesia dengan bangsa Sunda, antara bangsa Indonesia dengan bangsa Acheh, dan antara bangsa Indonesia dengan bangsa Papua. Coba jelaskan asal usul bangsa Sunda, bangsa Jawa, bangsa Papua dan bangsa Acheh.

 

Kalau kalian mengelak dari pertanyaan Ahmad Sudirman ini, itu membuktikan kalian memang makin budek saja.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Sat, 13 Aug 2005 09:27:21 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: MUBA, ITU KELOMPOK UNITARIS JAWA YANG TERUS MAU MENJERAT PAPUA BARAT DAN ACHEH

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, AcehMr_dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>, Acehmuba <mbzr00@yahoo.com>, acehomputeh <om_puteh@hotmail.com>, AcehSap <im_surya_1998@yahoo.co.id>, AcehSiliwangi siliwangi27@hotmail.com

 

Dasar tukang fitnah...!! Pembaca bisa menangkap dengan jelas apa yang saya katakan dan apa yang "dikutipkan" oleh Ahmad Sudirman... Tegasnya si ASU ini telah memelintir kata-kataku "beberapa gelintir" menjadi "bangsa Papua dan bangsa Aceh".

 

Si ASU juga menggunakan istilah "bangsa" untuk Papua dan Aceh, bukan "suku bangsa" atau "masyarakat", sebagai sebuah upaya mengadudombakan masyarakat propinsi NAD dan propinsi Papua dengan masyarakat Indonesia lainnya dan juga dengan Pemerintahan Pusat di Jakarta.

 

Dirgahayu RI...!!

 

Muba ZR

 

Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se> wrote: "Misalnya, itu Muba tetap saja menyatakan bangsa Papua dan bangsa Acheh sebagai separatis. Nah, itu Muba dengan menyebut istilah separatis saja sudah salah kaprah. Dan memang Muba Dijon tidak bisa  membuktikan secara fakta, bukti, sejarah dan hukum bahwa perjuangan bangsa Papua dan Acheh disebut separatis. Paling hanya ikut-ikutan ekor kelompok unitaris Jawa pengekor Soekarno dan para penerusnya saja." (Ahmad Sudirman, 12 Agustus 2005)

 

Muba zir <mbzr00@yahoo.com> wrote: "Masalah "separatisme" di Propinsi Papua akan segara diselesaikan secara bermartabat dalam bingkai NKRI seperti SBY-JK telah menyelesaikan masalah "separatisme" di Propinsi NAD secara bermartabat dalam bingkai NKRI. Sengaja kata "separatisme" pake tanda petik, karena hanya beberapa gelintir saja yang melakukannya. Jadi sebenarnya itu tidak signifikan. However, pemerintah mendengar apapun suara rakyatnya dan berusaha untuk menyadarkan "kaum separatis" itu." (Muba Zir, mbzr00@yahoo.com , Fri, 12 Aug 2005 02:18:36 -0700 (PDT))

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com

Dijon, Bourgogne, Perancis

----------

 

Date: Sat, 13 Aug 2005 09:14:16 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Berkat sikap Khrushchev, Amerika mendukung penyatuan Papua ke Indonesia.

To: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, AcehMr_dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>, Acehmuba <mbzr00@yahoo.com>, acehomputeh <om_puteh@hotmail.com>, AcehSap im_surya_1998@yahoo.co.id

 

Berkat sikap Khrushchev, Amerika mendukung penyatuan Papua ke Indonesia.

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com

Dijon, Bourgogne, Perancis

 

Iwan Qodar Himawan

Khrushchev

 

SEKITAR tiga bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, Muhammad Yamin berbicara dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Pertemuan itu berlangsung di Gedung Tyuuoo Sangi-In, sekarang Gedung Departemen Luar Negeri, Pejambon, Jakarta. Sebagai sejarawan, juga peminat kebudayaan, Yamin lancar mengutip kitab sejarah.

 

Termasuk tatkala bicara ihwal batas wilayah sebuah negara yang kelak dinamai Indonesia. Yamin membagi Indonesia ke dalam lima wilayah. Papua, bersama Tarakan, Morotai, dan Halmahera, ia masukkan sebagai ''daerah peperangan istimewa''. Jawa, Borneo, Selebes, Maluku, masuk kelompok pertama, yakni daerah bekas jajahan Hindia Belanda.

 

''Menurut sejarah, Papua dan sekelilingnya sejak purbakala diduduki bangsa Papua. Dulu pulau itu menjadi daerah perpindahan bangsa Indonesia. Dalam sejarah seribu tahun ke belakang, Papua telah bersatu dengan tanah Maluku, dan bersatu padu dengan Indonesia. Merauke, Fakfak, dan Digul adalah bunyi yang terkenal....''

 

Seperti kita tahu, sewaktu merdeka, Indonesia hanya kebagian wilayah bekas jajahan Jepang. Belanda emoh meninggalkan ''West Guinea''. Menyatukan Irian Barat ke Indonesia butuh perjuangan berat dan stamina panjang. Ini tak lepas dari situasi waktu itu: Irian Barat bagian dari tarik-menarik kepentingan politik antara Uni Soviet dan Amerika Serikat.

 

Permintaan Bung Karno kepada Amerika agar mendukung usahanya membawa Irian Barat ke Indonesia tak menuai hasil. Kepada Duta Besar Amerika di Jakarta, Merle Cochran, Soekarno membuat perumpamaan menyeramkan. Katanya, kekuasaan Belanda di Guinea Baru membuat dirinya seperti ''mendapat todongan pistol ke arah kepala''.

 

Kepada pengganti Cochran, Hugh S. Cumming, Soekarno memberi perumpamaan mirip. ''Indonesia, juga manusia pada umumnya, tak bisa hanya makan dengan roti.'' Waktu itu, Amerika memang baru saja memberi bantuan ke Indonesia sebesar US$ 15 juta.

 

Memo percakapan Departemen Luar Negeri Amerika, yang menyimpan salinan pembicaraan Menteri John Foster Dulles mencatat, Dulles sangat menentang masuknya Irian Jaya sebagai bagian wilayah Indonesia. Masuknya Guinea Barat ke wilayah Indonesia dinilai tidak memberikan manfaat bagi kepentingan Amerika. Maklum, Pemerintah Belanda dan Australia mendesak agar Irian Barat tetap lepas dari Indonesia.

 

Tatkala Indonesia mengajukan resolusi ke Majelis Umum PBB, agar Irian Barat selekasnya dibebaskan dari kolonialisme, Amerika memilih absen. ''Menteri mengatakan, ia sangat keras bila Indonesia mendapat kekuasaan atas Guinea Baru. Kami sama sekali tidak keberatan bila resolusi Indonesia di Sidang Umum PBB gagal,'' demikian memo percakapan Menteri Dulles pada 24 Agustus 1955.

 

Perubahan sikap Amerika baru muncul setelah Presiden Uni Soviet, Nikita Khrushchev, hadir di Jakarta. Si beruang merah menjanjikan bantuan senjata, pelatihan militer, hingga kapal selam. Juga ada bantuan duit. Khrushchev secara cerdik memanfaatkan isu kebencian Soekarno terhadap Amerika, gara-gara Irian Barat. ''Kami mendukung masuknya Irian Barat sebagai wilayah Republik Indonesia,'' katanya.

 

Bagi Amerika, sikap Khrushchev ini merupakan tamparan. Sebuah haluan politik luar negeri baru kemudian diluncurkan Amerika. Untuk menjaga agar jangan sampai Indonesia semakin ke kiri, Amerika memutuskan mendukung integrasi Guinea Baru. Presiden John F. Kennedy diminta memberi perhatian secara pribadi kepada Soekarno.

 

Maka, sewaktu Soekarno mampir di Amerika, April 1960, Kennedy mengundangnya ke Washington. Ia menjemput BK di bandar udara, hal yang tak pernah ia lakukan. Sebelum makan siang, ia membawa Soekarno ke lapangan rumput Gedung Putih, menunjukkan dua helikopter. Sebuah di antaranya dijanjikan sebagai oleh-oleh untuk Soekarno. BK sangat bersukacita.

 

Berkat sikap Khrushchev, Amerika mendukung penyatuan Papua ke Indonesia. Maka, kalau sekarang sebagian anggota Kongres Amerika menyoal penyatuan Papua 40 tahun lalu, tak usah kaget. Sikap politik sebuah negara, atau politisinya, akan sangat bergantung pada apa kepentingan jangka pendek yang akan ia peroleh.

 

iwan@gatra.com

[Lensa, Gatra Nomor 39 Beredar Senin, 8 Agustus 2005]

----------