Stockholm, 14 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


HIZBUT TAHRIR INDONESIA TIDAK MENGERTI ACHEH & PAPUA DIJAJAH RI ADAPUN UNI EROPA & ASEAN TIDAK INTERVENSI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

KELIHATAN ITU HIZBUT TAHRIR INDONESIA TIDAK MENGERTI ACHEH & PAPUA DIJAJAH RI ADAPUN UNI EROPA & ASEAN TIDAK INTERVENSI

 

"Poster: "Hizbut Tahrir Indonesia: TNI! usir AS Uni Eropa dari Aceh & Papua". Hizbut Tahrir Indonesia juga menyerukan penolakan terhadap intervensi asing dalam penyelesaian masalah Aceh dan Papua. Campur tangan ini ditandai dengan kehadiran tim pengawas dari Uni Eropa di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam belum lama ini. Kesepakatan damai pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia yang akan ditandatangani pada Senin besok tak menggadaikan kepentingan rakyat Indonesia. Hizbut Tahrir mencurigai keberadaan 200 anggota tim pemantau tersebut sebagai perwakilan militer berbaju sipil. Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia Farid Wadiji menegaskan, masalah separatisme adalah masalah dalam negeri." (BOG/Fajar Ilham, Liputan6.com, Jakarta, 14/8/2005 15:01)

 

Hari ini, Minggu, 14 Agustus 2005 Hizbut Tahrir Indonesia mengadakan aksi berunjuk rasa secara damai di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Dimana salah satu tujuan unjuk rasa Hizbut Tahrir Indonesia adalah menolak intervensi asing, masalah Acheh dan Papua adalah masalah dalam negeri.

 

Dalam masalah Acheh dan Papua, itu Hizbut Tahrir Indonesia memang tidak mengerti dan tidak memahami akar utama konflik Acheh dan Papua. Ketidak mengertian dan ketidak pahaman HTI tentang akar utama konflik Acheh dan Papua inilah yang menyebabkan tujuan dari aktifitas dalam bentuk unjuk rasa hari ini adalah jauh dari sasaran. Mengapa ?

 

Karena, masalah utama konflik Acheh dan Papua dalah masalah aneksasi wilayah Acheh dan Papua kedalam wilayah RI. Dalam masalah aneksasi Acheh dan Papua kedalam RI ini Ahmad Sudirman telah banyak membahasnya di mimbar bebas ini.

 

Wilayah Acheh dan Papua Barat adalah wilayah yang ditelan dan dianeksasi oleh RI melalui tangan Soekarno dari kelompok unitaris Jawa. Acheh dianeksasi kedalam wilayah RI oleh Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui PP RIS No.21 Tahun 1950. Adapun Papua dianeksasi kedalam wilayah RI oleh Soekarno sejak bulan Januari 1962 melalui tangan Mayjen Soeharto yang diangkat Soekarno untuk memimpin Komando Mandala dengan tujuan mencaplokan Papua Barat.

 

Nah, kalau pihak HTI tidak mengerti dan tidak paham tentang akar utama konflik di Acheh dan di Papua Barat ini, maka terlebih dahulu harus membaca, menggali, mendalami, menganalisa, menyimpulkan. Bukan hanya menyantok saja apa yang dipropagandakan oleh pihak penerus Soekarno dan TNI. Sehingga dengan seenak sendiri meneriakkan melalui posternya: "TNI! usir AS Uni Eropa dari Aceh & Papua"

 

Apapula Jenderal-Jenderal TNI Jawa ini diminta dan diperintahkan untuk mengusir Amerika dan Negara-Negara anggota Uni Eropa dari Acheh dan Papua. Itu tidak kena sasaran. Mengapa ?

 

Karena, Acheh Monitoriong Mission yang datang ke Acheh itu didasarkan pada dasar hukum Memorandum of Understanding Helsinki yang akan ditandatangani 15 Agustus 2005. Tujuan AMM di Acheh adalah memantau pelaksanaan dasar hukum MoU Helsinki 15 Agustus 2005. Bukan untuk intervensi Acheh. Justru yang menduduki dan menjajah Acheh adalah RI, bukan Negara-Negara anggota Uni Eropa.

 

Kalian dari Hizbut Tahrir Indonesia salah dalam memahami Kesepakatan Helsinki itu. Dan itu soal Acheh bukan merupakan soal dalam negeri seperti yang kalian pahami, tetapi masalah internasional. Dari sejak pertama kali dilakukan dialog antara pihak ASNLF/GAM dengan RI, baik ketika di Geneva, Tokyo, Jepang dan sekarang di Helsinki, Finlandia. Itu telah membuktikan bahwa masalah Acheh sudah merupakan masalah internasional. Bukan masalah dalam negeri RI.

 

Kalian Farid Wadiji dan Irwan Saifullah harus menggali dan mendalami secara mendalam tentang Acheh dan Papua ini, sebelum kalian melambungkan dan menyatakan sikap tentang Acheh dan Papua Barat ini.

 

Nah, dengan apa yang kalian tunjukkan hari ini membuktikan bahwa kalian itu hanyalah sebagai pion-pion Megawati, Permadi, Effendi Simbolon dari PDI-P, Abdurrahman Wahid dari PKB, dan Jenderal-Jenderal TNI yang seiide dengan Megawati dan Abdurrahman Wahid saja, seperti Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

 

Jadi, saran Ahmad Sudirman kepada saudara Farid Wadiji dan Irwan Saifullah, cobalah kalian dalami dan pelajari itu akar utama konflik Acheh dan Papua, jangan hanya menelan mitos Acheh dan Papua yang dihembuskan oleh Soekarno dan para penerusnya saja. Kalau kalian hanya menelan sampah mitos Acheh dan Papua buatan kelompok unitaris Jawa Soekarno, maka kalian akan tersungkur kejurang kehancuran. Kalian hanya ditipu saja oleh kelompok unitaris Jawa Soekarno dan para penerusnya dalam tubuh PDI-P-nya Megawati dan PKB-nya Abdurrahman Wahid.

 

Apakah kalian Farid Wadiji dan Irwan Saifullah mau ditarik hidung kalian oleh orang-orang PDI-P penganut paham marhaenisme sosialisme pancasila-nya Soekarno ?

 

Coba pergunakan akal dan pikiran. Jangan hanya mengembek saja kepada apa yang dimitoskan tentang Acheh dan Papua oleh mbah Soekarno.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Ribuan Massa Hizbut Tahrir Menggelar Aksi Damai

 

14/8/2005 15:01 Seribu lebih anggota Hizbut Tahrir Indonesia berunjuk rasa secara damai di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Selain memperingati HUT ke-60 RI, aksi ini juga menolak intervensi asing.

 

Liputan6.com, Jakarta : Sekitar 1.500 orang dari Hizbut Tahrir Indonesia melakukan aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Ahad (14/8). Massa mulai berdatangan di sekitar Tugu Selamat Datang sejak pukul 09.30 WIB. Aksi damai ini dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-60 Republik Indonesia. Selain diikuti orang dewasa, tampak pula anak-anak yang dibawa orang tua mereka untuk meramaikan acara ini.

 

Dalam aksi ini, Hizbut Tahrir Indonesia juga menyerukan penolakan terhadap intervensi asing dalam penyelesaian masalah Aceh dan Papua. Menurut mereka campur tangan ini ditandai dengan kehadiran tim pengawas dari Uni Eropa di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam belum lama ini. Hizbut Tahrir berharap, agar pemerintah menjalankan peran secara sungguh-sungguh sebagai pelindung rakyat dan bukan sebaliknya mengorbankan kepentingan rakyat.

 

Selain itu, mereka juga meminta agar kesepakatan damai pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia yang akan ditandatangani pada Senin besok tak menggadaikan kepentingan rakyat Indonesia. Dengan kata lain, pemerintah diharapkan tidak tunduk kepada kepentingan asing. Hizbut Tahrir mencurigai keberadaan 200 anggota tim pemantau tersebut sebagai perwakilan militer berbaju sipil.

 

Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia Farid Wadiji menegaskan, masalah separatisme adalah masalah dalam negeri. Untuk itu mereka menyerukan pemerintah untuk tidak menjadi kaki tangan kepentingan asing.(BOG/Fajar Ilham)

 

http://www.liputan6.com/fullnews/107227.html

----------