Stockholm, 14 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


LUTH, ITU KRISIS SUDETEN DI CZECHOSLOVAKIA TIDAK SAMA DENGAN KONFLIK ACHEH DI SUMATRA

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

LUTH JANGAN SAMAKAN KRISIS SUDETEN DI CZECKOSLOVAKIA DENGAN KONFLIK ACHEH

 

"Kemelut di Aceh yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, baik secara militer atau diplomasi, di mana pihak-pihak tertentu di Acheh terus mengajukan tuntutan yang semakin lama semakin besar, mengingatkan saya atas peristiwa yang hampir sama di benua Eropa beberapa puluh tahun yang lalu. Sekitar tahun 1938-1939, di propinsi/distrik Sudeten di Chekozlovakia, sekelompok warga mengajukan keinginan untuk melepaskan diri dari Cheko. Mereka menginginkan untuk diberi kesempatan mendirikan partai politik sendiri, yang sesaat kemudian diikuti dengan tuntutan suatu otonomi khusus begitu tuntutan untuk pendirian partai politik tampak akan disetujui. Setelah timbul tanda-tanda bahwa otonomi khusus akan diberikan, mereka segera menuntut untuk berpisah secara penuh dari Cheko. Perlu diingat bahwa mereka yang menuntut ini hanya sebagian kecil (minoritas) dari warga Sudeten, seperti halnya di Acheh." (Luth Key, shinmeiryuu@yahoo.com , Sat, 13 Aug 2005 14:41:37 -0700 (PDT))

 

Baiklah saudara Luth Key di Bandung, Indonesia.

 

Sebenarnya kalau digali dan dipelajari lebih dalam tentang krisis Sudeten di Czechoslovakia, maka akan terbongkar bahwa pada bulan Februari tahun 1938 ketika Hitler menuntut self-determination atau penentuan nasib sendiri bagi seluruh bangsa German di Austria dan di Czechoslovakia.

 

Kemudian Partai Nazi Sudeten menuntut bergabung dengan German, dan mulai melakukan aksi politik penuntutan nasib sendiri di Sudeten. Lalu pihak Pemerintah Czecho mengirimkan pasukan militer ke Sudeten.

 

Sebelumnya diawali pada bulan Juni 1938 Parti Nazi Sudeten berhasil dalam pemilihan umum nasional di Czecho. Setelah Partai Nazi Sudeten berhasil dalam pemilu Czecho, kemudian pimpinan Partai Nazi melakukan perundingan dengan Presiden Czecho Benes tentang keinginan rakyat Sudeten untuk bergabung dengan German, tetapi perundingan berhenti pada bulan September 1938. Kemudian Pemerintah Czecho menerapkan Darurat Militer di wilayah Sudeten.

 

Setelah diterapkan Darurat Militer di Sudeten, Pemerintah Czecho mengirimkan pasukan militer Czecho ke Sudeten, sehingga membuka jalan bagi Partai Nazi Sudeten untuk menyatakan dan menunjukkan fakta dan bukti militer Czecho didatangkan ke Sudeten merupakan suatu usaha menentang keinginan rakyat Sudeten untuk menentukan nasib sendiri.

 

Nah pengiriman pasukan militer Pemerintah Czecho ke Sudeten ini diberitahukan kepada pihak Pemerintah German. Dengan adanya fakta dan bukti militer Czecho mengirimkan pasukan ke Sudeten, menjadikan pihak Hitler mengancam Pemerintah Czecho. Pada bulan Mei 1938 Pemerintah Czecho menggelar kekuatan angkatan perangnya seandainya pihak German melakukan serangan.

 

Melihat situasi yang demikian panas di Sudeten, Chamberlain dari Inggris turun campur tangan. Dan pada tanggal 15 September 1938 Chamberlain bertemu Hitler di Berchtesgaden. Hitler mengancam akan melancarkan perang kepada Pemerintah Czecho, tetapi itu perang merupakan jalan pemecahan terakhir menurut strategi Hitler. Kemudian Chamberlain bertemu dengan Pemerintah Perancis, dan bersama-sama membujuk Pemerintah Czecho untuk menyetujui penyerahan wilayah Sudeten kepada Hitler.

 

Hanya ketika Chamberlain bertemu lagi dengan Hitler pada tanggal 22 September 1938 di Bad Godesberg, Chamberlain menyatakan kepada Hitler jangan ada lagi tuntutan lain. Tetapi, tuntutan Chamberlain tidak dipenuhi, karena Hitler menyatakan bahwa wilayah Czecho lainnya harus diserahkan kepada Hungaria dan Polandia, dan wilayah Sudeten akan diduduki oleh German sebelum tanggal 1 Oktober 1938. Kemudian Hitler meyakinkan Chamberlain bahwa setelah semua itu dipenuhi, ia tidak ada ambisi lagi untuk menguasai Eropa. Dimana keinginan Hitler ditolak Chamberlain, dan perang hampir tidak terelakkan.

 

Dan pada tanggal 29 September 1938, di Munich, German, Pemerintah Inggris dan Perancis memberikan tanah wilayah Sudeten kepada German, tanpa pihak Pemerintah Czechoslovakia diajak dalam pembicaraan penyerahan Sudeten itu.

 

Pihak Pemerintah Czecho bebas untuk berperang kalau mereka menginginkan, tetapi tentu saja tidak ada negara lain yang menyokong dan membantunya. Dan pada bulan Oktober 1938 Hitler memasuki Sudeten tanpa mendapat perlawanan dari pasukan militer Czecho.

 

Nah sekarang, kalau dipelajari apa yang menjadi latar belakang krisis Sudeten di Czechoslovakia, jelas tidak sama dengan latar belakang konflik Acheh.

 

Keinginan untuk menentukan nasib sendiri bangsa Acheh tidak ada hubungannya dengan negara lain. Apalagi seperti yang dikatakan saudara Luth bahwa "Di masa kini pun ada seorang pemimpin negara besar dan kuat yang memiliki tendensi serupa, untuk memenuhi kebutuhan minyak negaranya ia memilih untuk menjajah secara "halus" negara lain, dan sangat bersedia untuk berperang demi mewujudkan segala keinginannya."

 

Kalau yang dimaksudkan dengan Amerika, jelas itu salah kaprah. Mengapa ? Karena penentuan nasib sendiri bangsa Acheh tidak ada hubungannya dengan minyak dan gas di Acheh, dan tidak ada hubungannya dengan Negara lain termasuk Amerika. Lagi pula negeri Acheh dianeksasi kedalam wilayah RI oleh Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950, dan terus diduduki sampai detik sekarang ini.

 

Kemudian kalau sekarang ada dukungan dari Negara-Negara anggota Uni Eropa dan Negara-Negara anggota ASEAN, itu semua didasarkan kepada dasar hukum MoU Helsinki 15 Agustus 2005. Dimana Negara-Negara anggota Uni Eropa dan Negara-Negara anggota ASEAN bersedia menjadi tim Acheh Monitoring Mission guna mengawasi dan memantau dilaksanakannya MoU di lapangan.

 

Dan bangsa Acheh yang nantinya akan membangun Pemerintah Sendiri Acheh, dengan diawasi oleh Acheh Monitoring Mission.

 

Jadi saudara Luth, jelas jauh berbeda latar belakang krisis Sudeten di Czecho dengan latar belakang krisis Acheh di Sumatra.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Sat, 13 Aug 2005 14:41:37 -0700 (PDT)

From: Luth Key shinmeiryuu@yahoo.com

Subject: Aceh merdeka, keinginan rakyat aceh atau pihak lain?

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

 

Kemelut di Aceh yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, baik secara militer atau diplomasi, di mana pihak-pihak tertentu di Acheh terus mengajukan tuntutan yang semakin lama semakin besar, mengingatkan saya atas peristiwa yang hampir sama di benua Eropa beberapa puluh tahun yang lalu.

 

Sekitar tahun 1938-1939, di propinsi/distrik Sudeten di Chekozlovakia, sekelompok warga mengajukan keinginan untuk melepaskan diri dari Cheko. Mereka menginginkan untuk diberi kesempatan mendirikan partai politik sendiri, yang sesaat kemudian diikuti dengan tuntutan suatu otonomi khusus begitu tuntutan untuk pendirian partai politik tampak akan disetujui. Setelah timbul tanda-tanda bahwa otonomi khusus akan diberikan, mereka segera menuntut untuk berpisah secara penuh dari Cheko. Perlu diingat bahwa mereka yang menuntut ini hanya sebagian kecil (minoritas) dari warga Sudeten, seperti halnya di Acheh.

 

Sejarah kemudian menunjukkan bahwa para penuntut di Sudeten tersebut bertindak atas perintah dari suatu negara lain yang menginginkan kekecauan di Cheko untuk menemukan tempat berpijak sebagai persiapan invasi. Perintah itu berasal dari Jerman Raya, yang waktu itu dipimpin oleh Hitler dengan partainya NAZI. Hitler menginginkan Cheko menjadi jajahan Jerman, dan untuk itu ia perlu merusak stabilitas Cheko terlebih dahulu dan meng-independen-kan Sudeten sebagai pintu gerbang menuju Cheko, sama seperti Acheh menjadi pintu gerbang Indonesia, dengan menempuh jalur diplomatik dengan perundingan yang dilangsungkan di luar negeri (Cheko) di bawah pengamatan dunia internasional.

 

Kemelut di Sudeten akhirnya menghadiahkan Cheko, termasuk Sudeten, kepada Hitler tanpa perlu menembakkan sebutir pun peluru. Sudeten akhirnya tidak pernah memperoleh kemerdekaannya, sebaliknya bersama Cheko, sudeten menjadi daerah jajahan Jerman yang diperas habis-habisan untuk membiayai militer Jerman dalam perang besar yang kemudian pecah, perang yang kemudian kita kenal sebagai Perang Dunia II.

 

Kebodohan sebagian kecil warga Sudeten tersebut akhirnya menimbulkan perang besar yang menyita puluhan juta nyawa, menyebabkan puluhan juta wanita dan anak- anak menjadi janda dan yatim, mengakibatkan kerugian materiil milyaran dollar, dan hancurnya banyak karya peradaban umat manusia.

 

Rangkaian kemelut di Acheh sangat mengingatkan saya pada kemelut di Sudeten, sehingga menimbulkan pertanyaan bagi saya, benarkah kemelut ini timbul semata-mata karena keinginan rakyat Acheh, atau ada campur tangan dari pihak ketiga? Dulu ada Hitler yang mempunyai ambisi besar menguasai dunia, yang mengandalkan penjajahan wilayah lain sebagai pemecahan bagi masalah ekonomi dalam negerinya, dan memberikan perang sebagai jawaban atas bantahan yang diajukan pihak lain. Di masa kini pun ada seorang pemimpin negara besar dan kuat yang memiliki tendensi serupa, untuk memenuhi kebutuhan minyak negaranya ia memilih untuk menjajah secara "halus" negara lain, dan sangat bersedia untuk berperang demi mewujudkan segala keinginannya.

 

Pantaskah bila kita merasa curiga dengan kemelut di Acheh? Atau kah kita harus menunggu terlebih dahulu peristiwa Sudeten/Cheko terulang di negeri kita sebelum kita sadar? Warga Sudeten sadar setelah dijajah. Setelah akhirnya Jerman terkalahkan dalam Perang Dunia II, akhirnya warga Sudeten menyadari kesalahannya dan tidak lagi menuntut pemisahan dari Cheko, entah bagai mana dengan Acheh, akankah sadar sebelum atau sesudah terlambat?

 

Luth Key

 

shinmeiryuu@yahoo.com

Bandung, Indonesia

----------