Stockholm, 15 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


AIDI, ITU BANGSA ACHEH SEKARANG HIDUP SEJAJAR DENGAN BANGSA INDONESIA DIATAS  NEGERI & PEMERINTAH ACHEH

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

JELAS KELIHATAN SEKARANG, ITU BANGSA ACHEH HIDUP SEJAJAR DENGAN BANGSA INDONESIA DIATAS  NEGERI & PEMERINTAH ACHEH

 

"Dengan ditandatanganinya draf MoU di Helsinki Finlandia merupakan pertanda berakhirnya konflik di NAD (Nangroe Aceh Darussalam), dan kita semua berharap dan berdoa semoga perdamaian itu abadi untuk selamanya. Hal ini juga pertanda bahwa istilah pemberontah GAM sudah tidak dikenal di NAD, kalaupun ada pengacau bersenjata di Aceh mereka adalah pelaku kriminal yang harus diperangi bersama. Anak hilang telah kembali ke pangkuan Pertiwi, kami saudara-saudara sekandung sangat bahagia menyambutnya. Mari kita lupakan luka lama dan kita songsong kehidupan baru yang penuh damai dan bermartabat. Mari kita bahu membahu membangun Negeri Pusaka Tercinta Indonesia." (Nararya Aiandani , aiandani1107@yahoo.co.id , Mon, 15 Aug 2005 23:04:10 +0700 (ICT))

 

Baiklah saudara Muhammad Aidi di Jakarta, Indonesia.

 

Dengan ditandatanganinya Memorandum of Understanding 15 Agustus 2005 di Helsinki merupakan pintu masuk bagi bangsa Acheh yang telah memperjuangkan penentuan nasib sendiri di Negeri Acheh yang telah diperjuangkan dari sejak 1873 sampai detik sekarang ini.

 

Perjuangan bangsa Acheh adalah perjuangan untuk membebaskan negeri, bangsa dan agama dari penganeksasian Soekarno dengan RI-Jawa-Yogyanya.

 

Perjuangan bangsa Acheh untuk menentukan nasib sendiri di Acheh ini bukan pemberontakan sebagaimana yang dipropagandakan oleh pihak RI sebelum ini, melainkan sebaliknya perjuangan bangsa Acheh adalah perjuangan untuk mencapai dan mendapatkan kembali hak-hak yang telah dirampas oleh pihak RI.

 

Dan MoU Helsinki 15 Agustus 2005 merupakan pintu masuk ke Negeri Acheh yang bebas yang nantinya akan berada dibawah naungan Pemerintah Acheh dengan payung hukum yang mengacu kepada dasar hukum MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

 

Perjuangan bangsa Acheh yang pantang mundur dibawah pimpinan Wali Negara Teungku Hasan Muhammad di Tiro akhirnya berhasil menginjakkan kekuatan de-jure dan de-factonya di wilayah de-facto Acheh yang telah disepakati sebagaimana yang tercatat sejak tanggal 1 Juli 1956.

 

Berdirinya Pemerintah Acheh dibawah naungan undang-undang yang mengacu kepada dasar hukum MoU Helsinki 15 Agustus 2005 inilah yang akan melaju diatas bahtera samudra untuk membawa bangsa Acheh menuju ketingkat kemakmuran, kesejahteraan, keadilan, keamanan, kejujuran dan kedamaian.

 

Dengan disepakatinya penarikan kekuatan pasukan non-organik TNI  dari bumi Acheh merupakan suatu langkah maju bagi bangsa Acheh untuk hidup dengan tenang dan aman di bumi Acheh. Lebih dari setengah abad bumi Acheh mengalami penindasan militer yang dilakukan oleh pihak Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.

 

Bangsa Acheh mulai hari ini mulai bernafas lega, kekuatan TNI harus patuh dan tunduk kepada hukum yang telah disepakati yang tertuang dalam MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

 

Kekayaan dan sumber alam Acheh yang sebelumnya telah dijadikan sebagai sumber pemasukan kas RI, sekarang bangsa Acheh yang menentukan. Bangsa Acheh yang menderita akibat kebijaksanaan politik, ekonomi, kemanan yang dilancarkan RI.

 

Mulai hari ini bangsa Acheh setapak demi setapak merasakan kenikmatan dan keindahan suasana damai jauh dari bunyi dentuman senjata yang diletuskan dari senapan-senapan pasukan TNI yang ditugaskan di Acheh untuk menduduki wilayah tanah negeri Acheh.

 

Kesungguhan dan kejujuran pihak RI akan menjadi jaminan berlangsungnya perdamaian di Negeri Acheh. Pengalaman-pengalaman yang lalu merupakan pelajaran berharga bagi bangsa Acheh, dimana perjanjian demi perjanjian kandas ditengah jalan.

 

Hanya tentu saja, perjanjian Helsinki kali ini berbeda dengan perjanjian sebelumnya. Perjanjian Helsinki sekarang ini telah mengetuk Negara-Negara anggota Uni Eropa dan Negara-Negara anggota ASEAN untuk memantau pelaksanaan Kesepakatan MoU dilapangan.

 

Dengan kehadiran Misi Pemantau Acheh di Acheh ini merupakan satu jaminan bahwa Kesepekatan Damai Acheh ini akan berlangsung dengan baik.

 

Bangsa Acheh, Pemerintah Acheh, dan lembaga Legislatif Acheh akan bersama-sama saling bahu membahu membangun Acheh dari kehancuran tsunami maupun akibat dari kebijaksanaan RI yang dijalankan di Acheh.

 

Bangsa Acheh akan bangkit dari penindasan menuju ke arah kemajuan, kedamaian, keamanan dan kemakmuran. Sekarang bangsa Acheh akan menentukan roda lajunya Pemerintah Acheh dibawah pimpinan bangsa Acheh. Melalui jalur politik dengan hak kebebasan berpolitik merupakan salah satu alat bagi bangsa Acheh untuk mengendalikan Negeri Acheh kearah jurusan yang dikehendaki oleh bangsa Acheh, bukan keinginan RI.

 

Pemerintah Acheh dan Legislatif Acheh bersama-sama dengan dasar hukum yang mengacu kepada MoU Helsinki 15 Agustus 2005 merupakan lembaga pemerintahan yang memiliki kedaulatan penuh kedalam. Kekuatan hukum Legislatif Acheh merupakan kekuatan benteng yang bisa dijadikan alat membendung keinginnn RI untuk melakukan tindakan kebijaksanaan politik dan hukum yang sewenang-wenang.

 

Dengan dasar hukum yang menjadi pijakan Pemerintah Acheh dan Legislatif Acheh yang memiliki otoritas untuk memutuskan dan mengizinkan kebijaksanaan yang menyangkut Acheh bisa dilaksanakan RI, adalah merupakan benteng yang bisa dijadikan sebagai alat pertahanan dari segala kebijaksanaan RI tentang Acheh.

 

Dengan ditandatanganinya MoU Helsinki 15 Agustus 2005 ini bukan merupakan anak hilang telah kembali ke pangkuan Pertiwi, melainkan keberhasilan bangsa Acheh dalam perjuangan menentukan nasib sendiri di bumi Acheh. Tanah negeri Acheh yang telah dianeksasi Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya sejak 14 Agustus 1950, sekarang telah berhasil dikuasai oleh bangsa Acheh dengan Pemerintah Acheh dan Legilatif Acheh-nya yang dasar hukumnya mengacu kepada MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

 

Bangsa Acheh dan bangsa Indonesia sekarang dalma keadaan setaraf dan setingkat. Bangsa Acheh tidak lagi sebagai bangsa yang diperbudak dan yang ditekan oleh kelompok militer RI. Sekarang bangsa Acheh telah memasuki pintu yang menuju kearah kesetaraan dan kemajuan di bumi negeri Acheh.

 

Bangsa Acheh tidak lagi menjadi bangsa yang diperbudak dan yang hanya diatur oleh bangsa Indonesia. Tetapi sekarang bangsa Acheh telah menjadi bangsa yang bisa menentukan jalan hidupnya sendiri dengan melalui bahtera Pemerintah Acheh dan Legislatif Acheh yang dikemudikan oleh bangsa Acheh, bukan oleh orang-orang yang datang dari Jawa.

 

Inilah suatu keberhasilan bagi bangsa Acheh dengan ditandatanganinya MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

 

Selamat bagi Bangsa Acheh dan Negeri Acheh dibawah Pemerintah Acheh dan Lagislatif Acheh bersama Wali Negara Acheh Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya.

 

Terakhir menyangkut Ahmad Sudirman yang dikatakan saudara Aidi sebagai pengkhianat terhadap bangsanya, adalah salah total.

 

Ahmad Sudirman bukan pengkhianat, justru sebaliknya mbah Soeharto lah yang  mengkhianati Ahmad Sudirman dengan seenak sendiri mencabut hak-hak yang dimiliki Ahmad Sudirman, hanya karena kebijaksanaan politik mbah Soeharto ditentang dan dikritik Ahmad Sudirman.

 

Dan sebenarnya yang harus dituntut berdasarkan pertimbangan hukum dan keadilan adalah itu mbah Soeharto yang dengan kekuasaannya telah melakukan tindakan sewenang-wenang atas rakyatnya. Soeharto yang harus dituntut di muka hukum. Bukan Ahmad Sudirman. Ahmad Sudirman tidak mengkhianati bangsa Sunda, tidak mengkhianati bangsa Acheh, tidak mengkhianati bangsa Bugis, tidak mengkhianati bangsa Melayu, tidak mengkhianati bangsa Cina, tidak mengkhianati bangsa Jawa, tidak mengkhianati bangsa Indonesia.

 

Adalah kekeliruan yang luar biasa kalau saudara Aidi menyatakan Ahmad Sudirman mengkhianati bangsa Indonesia. Dan ungkapan itu merupakan kesalahan yang fatal.

 

Dan tentu saja kalau sekarang Ahmad Sudirman mengantongi kewarganegaraan Swedia bukan karena kehendak Ahmad Sudirman, melainkan karena masalah situasi dan keadaan akibat kebijaksanaan politik yang dijalankan oleh mbah Soeharto. Taktrik dan strategi politik mbah Soeharto yang salah kaprah yang dikenakan kepada Ahmad Sudirman.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Mon, 15 Aug 2005 23:04:10 +0700 (ICT)

From: nararya aiandani aiandani1107@yahoo.co.id

Subject: Balasan: PERJANJIAN DAMAI SEBAGAI TANDA BERAKHIRNYA GERAKAN ACEH MERDEKA

To: ahmad mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, abu_abdilhadi@yahoo.com, acehku_1@yahoo.com, afoe@tegal.indo.net.id, airlambang@radio68h.co, albiruny@gmail.com, allilindo@yahoo.com, annewsdp@uninet.net.id, antara@rad.net.id, apiaustralia@greenleft.org.au, ardiali@yahoo.com, ariff19@yahoo.com, aulialailil@yahoo.com, azi09@hotmail.com, azis@ksei.com.id, azuar73@yahoo.com, mailer daemon <mailer-daemon@yahoo.com>, matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com

 

Jakarta, 15 Agustus 2005

 

Bissmillahirrahmanirrahiim.

Assalamau ’Alaikum Wr. Wb.

 

Pembaca yang budiman di seluruh jagad dimanapun berada, suatu peristiwa yang sangat bersejarah dan sudah berpuluh-puluh tahun diidam-idamkan oleh seluruh masyarakat Aceh dan seluruh warga Indonesia telah terjadi pada hari ini tanggal 15 Agustus 2005 yang ditandai dengan ditandatanganinya draf MoU oleh perwakilan pemerintah RI dan GAM di Helsinki Finlandia.

 

Seluruh rakyat Aceh dan seluruh rakyat Indonesia menyambut perdamaian ini dengan penuh haru dan kebahagiaan. Ribuan rakyat Aceh memanjatkan doa syukur atas tercapainya kesepakatan perjanjian damai di Bumi Aceh yang kita cintai ini termasuk saudara-saudara lain yang berada di berlahan Nusantara.

 

Dengan ditandatanganinya draf MoU di Helsinki Finlandia merupakan pertanda berakhirnya konflik di NAD (Nangroe Aceh Darussalam), dan kita semua berharap dan berdoa semoga perdamaian itu abadi untuk selamanya. Hal ini juga pertanda bahwa istilah pemberontah GAM sudah tidak dikenal di NAD, kalaupun ada pengacau bersenjata di Aceh mereka adalah pelaku kriminal yang harus diperangi bersama. Anak hilang telah kembali ke pangkuan Pertiwi, kami saudara-saudara sekandung sangat bahagia menyambutnya. Mari kita lupakan luka lama dan kita songsong kehidupan baru yang penuh damai dan bermartabat. Mari kita bahu membahu membangun Negeri Pusaka Tercinta Indonesia.

 

Tuhan memang mentakdikan Bumi Pertiwi dengan penuh keragaman dan perbedaan, namun keragaman dan perbedaan tersebut juga merupakan anugerah yang tak ternilai bila dirajut dalam suatu wadah kesatuan dan persatuan.

 

Demikian indahnya Bumi Pertiwi, tanah pusaka yang abadi nan jaya. Kita memang berbeda-beda namun tetap satu jua. Kita beraneka ragam namun saling rangkul menyongsong masa depan yang cerah. Saya bangga dilahirkan sebagai orang Bugis, tetapi saya jauh lebih bangga sebagai orang Indonesia. Meskipun saya orang Bugis tapi saya bangga punya candi Borobudur, punya Gunung Lauzer, puncak Jaya Wijaya dengan salju abadinya, pulau Bali, pulau Kalimantan, Sumatera, Jawa, Maluku, Irian dan lain sebagainya. Saya orang Bugis tapi saya sangat bangga punya tari Indang dari Aceh, tari Jaipongan dari Jabar, tari Piring dan seni budaya lain yang sungguh lebih indah dan bermartabat dibandingkan dengan Break Dance dari Amerika, tari Samba dari Brasil, Caca, Walls dan sebagainya. Saya orang Bugis tapi saya sangat bangga punya saudara kandung suku Aceh, Batak, Minang, Jawa, Sunda, Betawi, Bali, Ambon, Asmat, Dayak dan sebagainya beribu-ribu suku yang ada di Persada Indonesia namun satu dalam suatu kaidah yaitu falsafah Pancasila yang ber Bhineka Tunggal Ika. Andaikan Sulawesi Merdeka terpisah dari NKRI tentunya saya tidak bisa membanggakan semua itu.

 

Sebagaimana Putra Bangsa lainnya, Putra Aceh juga telah turut berjasa dalam pergerakan Kemerdekaan bangsa Indonesia seperti lahirnya Serikat Islam di Tapak Tuan Aceh Selatan pada tahun 1916 yang pengaruhnya meluas hingga seluruh daratan Sumatera dan menjalin ikatan kuat dengan Serikat Islam yang ada di seluruh Nusantara. Pada tahun 1928 Teuku M. Hanafiah putra Aceh sebagai ketua Jong Sumatra Bond, berperan besar dalam kelahiran Sumpah Pemuda yang mana pemuda-pemuda seluruh Nusantara bertekat dan komitmen dalam satu kesatuan dengan bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Berbangsa satu Bangsa Indonesia dan Berbahasa satu Bahasa Indionesia.

 

Beberapa waktu yang lalu seorang tokoh pers Nasional putera Aceh yang bernama Surya Paloh dinobatkan menjadi warga kehormatan adat Bugis Makasar yang bergelar Daeng Mattawang, diambil dari gelar pahlawan nasional Sultan Hasanuddin Imalombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Hal tersebut menunjukkan betapa erat ikatan persaudaraan antar anak bangsa. Betapa besar cintanya warga Bugis Makasar terhadap saudara sekandungnya yang bersuku bangsa Aceh. Betapa besar pula cintanya seorang Surya Paloh yang bersuku bangsa Aceh terhadap budaya dan adat Bugis Makasar yang merupakan bagian dari budaya Nasional.

 

Mungkin memang kita punya bapak yang berbeda, ada yang bapaknya TNI, Polri, Pengusaha, Politikus, Ilmuwan, Bapak dari Suku Bugis, Aceh, Batak, Sunda, Jawa, Ambon, Papua , Dayak, Bali dan lain-lain tetapi kita berasal dari Ibu yang sama yaitu Ibu Pertiwi. Kita tidak mengenal saudara tiri dan anak tiri. Kita juga tidak mengenal saudara angkat dan anak angkat. Kalaupun ada mungkin kita hanya mengenal anak durhaka ataupun saudara durhaka, namunpun demikian saudara-saudaraku yang berbeda paham dengan kami, untukmu kami TIDAK MENGENAL KATA-KATA TIDAK ADA MAAF BAGIMU.

 

Berikut ini saya akan mengangkat sebuah kisah dari negeri Cina yang terjadi pada abad I S.M.

Lao Tsu yang mengetahui gurunya Chang Cong sakit keras dengan harapan hidup sangat tipis beliau lalu mendekatinya.

 

”Guru, apakah guru mempunyai kata-kata bijak terakhir untukku ?” tanya Lao Tsu kepadanya.

”Sekalipun kamu tidak bertanya aku pasti akan mengatakan sesuatu kepadamu.” jawab Chang Cong.

”Apakah itu ?”

”Kamu harus turun dari keretamu bila kamu melewati kota kelahiranmu.”

”Iya Guru, ini berarti orang tidak boleh melupakan asal-usulnya.”

”Bila kamu melihat pohon yang tinggi, kamu harus maju dan mengaguminya”

”Iya Guru, berarti saya harus menghormati orang yang lebih tua.”

”Sekarang, lihat dan katakan apakah kamu dapat melihat lidahku ? ” kata Chang Cong sambil membuka mulutnya.

”Iya Guru, saya melihatnya.”

”Apakah kamu melihat gigiku ?”

”Tidak, tidak ada yang tersisa”

”Kamu tahu kenapa ?”

Setelah berpikir sejenak Lao Tsu lalu menjawab. “ Lidah ada karena lunak, gigi rontok karena keras.”

 

Kemudian Lao Tsu menyimpulkan bahwa Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang selunak dengan air, namun tidak ada yang mengunggulinya dalam mengalahkan yang keras. Yang lunak mengalahkan yang keras dan yang lembut mengalahkan yang kuat. Setiap orang tahu itu, tapi sedikit yang bisa mempraktekkannya. Seperti inilah yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kita yang memilih perundingan untuk mencapai kesepakatan perdamaian guna menghentikan konflik di Nangroe Aceh Darussalam tanpa kekerasan.

 

Mungkin itu cukup menjadi pesan-pesan buat saudara-saudaraku di seluruh dunia. Semakmur apapun kita hidup di negeri orang jangan lupa negeri tercinta ini. Bisa jadi hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, namun masih lebih baik hidup di negeri sendiri apalagi kalau meninggalkan negeri kita sebagai pengkhianat.

 

”Kebangganmu hanya ada di Negerimu.” Meskipun kita hanya seorang rakyat tapi kita punya andil dalam pembangunan negeri kita, karena kita bukan perusak. Meski kita hidup makmur di negeri orang, tetapi kita tidak lebih dari sekedar penjilat-penjilat dubur orang pribumi agar dapat kemurahan untuk menumpang hidup.

 

Tentu saja hal tersebut sangat berbeda dan tidak berlaku terhadap orang-orang Tionghoa yang berasibilasi dengan bangsa Indonesia, karena mereka datang dan menjadi warga Negara Indonesia tidak sebagai pengkhianat bangsanya. Mereka semata-mata karena terdorong oleh jiwa petualang dan penjelajahannya sebagaimana orang-orang Bugis Makasar yang berlayar dengan perahu Vinisi hingga ke Madagaskar. Mereka datang tidak sebagai penjajah atau pengemis terhadap bangsa Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang bermartabat dan terhormat. Mereka mencintai Indonesia sebagai Negaranya sebagaimana mereka mencintai Negeri Cina sebagai Tanah Leluhurnya. Mereka menghormati pemerintah Indonesia seabgai pemimpinnya sebagaimana mereka menghormati orang-orang bijak di Negeri Asalnya. Mereka menjunjung tinggi budaya Indonesia yang majemuk sebagaimana mereka menjunjung Budaya Aslinya.

 

Saya punya sedikit ilustrasi untuk kita simak bersama.

 

Suatu ketika di Negeri Swedia sana, Ahmad Sudirman yang lari ke Swedia karena mengkhianat kepada bangsanya diajak oleh seorang kawan yang berkebangsaan pribumi ke suatu acara khusus orang-orang Swedia. Sesampainya di tempat tersebut seseorang yang kritis berbisik sambil bertanya kepada kawan saudara Ahmad :

 

”Siapa gerangan yang engkau ajak serta ? Warna kulit dan raut mukanya beda sekali dengan bangsa kita.”

Kawan Ahmad menjawab ”Dia adalah Ahmad Sudirman yang berasal dari Indoensia tetapi sekarang sudah menjadi warga negara Swedia. ”

”Kenapa bisa demikian ? Apakah di negerinya tidak cukup tempat untuk bahagia ?”

”Bukan demikian, tetapi Dia mengkhianat terhadap bangsanya dan memilih hidup di negeri kita.”

 

Sambil menggidik dan bernada sinis orang tersebut berkata “ Hiik….. bangsanya sendiri tega Dia khianati, bagaimana dengan bangsa kita ? Negerinya sendiri Dia tidak cintai, apa mungkin Dia bisa mencintai negeri kita ? Atau apa mungkin Dia punya sedikit rasa cinta ?”

 

Kira-kira ilustrasi tersebut diatas bisa menjadi bahan renungan untuk kita semuanya

 

Akhirnya saya ucapkan DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA YANG KE 60, Semoga Indonesia Tetap Jaya Untuk Selamanya.

 

Wassalam.

 

Muhammad Aidi putera Bugis domisili di Jakarta

Pemerhati Kondisi Sosial Bangsa

Yang mengabdikan seluruh jiwa dan raganya demi keutuhan dan kedaulatan NKRI

 

aiandani1107@yahoo.com

Jakarta, Indonesia

----------