Stockholm, 16 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


WONG PROLETAR KOMUNIS MULUT NYANYIKAN LAGU 17AN SAMBIL TANGAN PEGANG EKOR JENDERAL SUTARTO

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

KELIHATAN ITU WONG PROLETAR KOMUNIS MULUT NYANYIKAN LAGU 17AN SAMBIL TANGAN PEGANG EKOR JENDERAL TNI ENDRIARTONO SUTARTO

 

"Mbah 17an Merayakan di mana ? Ikut lomba nggak. Sebaiknya, Mbah Ahmad Sudirman Ikut lomba makan krupuk saja. Biarpun gigi sudah tiada. Kalau krupuk sih diemut juga masih bisa. Gus Dur itu hanya pura-pura Untuk menjaga SBY dari orang-orang sakit jiwa. Lihat saja sebelumnya Gus Dur dan SBY membicarakan Aceh dalam waktu yang tak terencana. Gus Durpun setuju dan gembira, Aceh dapat diselesaikan tanpa senjata. Apalagi kasus PKB dimenangkannya di pengadilan negeri Jakarta. Masalahnya sekarang ada pada para pimpinan Aceh dari swedia. apakah mereka dapat menggunakan kesempatan, Untuk menciptakan sebuah kesejahteraan." (Kang becak, kbecak@yahoo.com , Tue, 16 Aug 2005 06:19:26 -0700 (PDT))

 

Baiklah wong proletar tukang becak di Tokyo, Jepang.

 

Wong proletar yang sudah menggelupur-gelupur di pinggir jalan kota Tokyo ini, masih saja mencoba berkelit-kelit. Beberapa hari yang lalu wong proletar ini sudah mendeklarkan dirinya tidak tertarik politik, begitu juga itu Sobron Aidit yang dikaguminya. Tetapi sore ini, mulai pula berceloteh politik sambil tangan menunjuk-nunjuk muka Gus Dur: "Gus Dur itu hanya pura-pura Untuk menjaga SBY dari orang-orang sakit jiwa. Lihat saja sebelumnya Gus Dur dan SBY membicarakan Aceh dalam waktu yang tak terencana. Gus Durpun setuju dan gembira, Aceh dapat diselesaikan tanpa senjata"

 

Itu ketika Gus Dur diundang Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 5 Agustus 2005 ke tempat kediaman Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor, untuk berbicara masalah Acheh, Papua, dan Fatwa Majelis Ulama. Nah ketika menyinggung masalah Acheh, itu Gus Dur banyak diam dan hanya mendengar, karena Susilo Bambang Yudhoyono yang banyak bercerita tentang  perundingan di Helsinki, hanya tentu saja tidak diceritakan semua detil isi hasil kesepakatan yang telah dicapai pada tanggal 17 Juli 2005 di Helsinki. Dan Gus Dur bersikap netral, tidak mendukung kelompok penentang penandatanganan MoU seperti kelompok Permadi dan Simbolon dari PDI-P-nya mbak Mega, dan juga tidak mendukung kelompok yang mendukung penandatanganan MoU. Hanya Gus Dur mendukung upaya damai di Acheh.

 

Nah, pada tanggal 14 Agustus 2005, satu hari sebelum MoU ditandatangani di Helsinki, itu draft hasil kesepakatan 17 Juli 2005 telah bocor yang disebarkan lewat Tapol, The Indonesia Human Rights Campaign, UK. Dan draft itu sampai juga ke meja Ahmad Sudirman. Ketika besoknya Ahmad Sudirman bandingkan dengan aslinya memang sama, yang tidak dicantumkan hanyalah jumlah pasukan non-organik dan organik TNI. Adapun dibeberapa media massa isi draft itu telah dipublikasikan. Ternyata isi draft tersebut sampai ke telinga Gus Dur. Ternyata isinya tidak seperti yang di terima oleh Gus Dur ketika bertemu di Rumah Yudhoyono di Bogor, 5 Agustus 2005. Oleh sebab itulah mengapa Gus Dur kemarin, 15 Agustus 2005 mencak-mencak, dengan menyebutkan Indonesia akan dipecah belah menjadi tujuh negara, hanya kapan waktunya Gus Dur tidak tahu. Berita itu menurut intelijennya Gus Dur yang dipasang dimana-mana.

 

Jadi, wong proletar komunis tukang becak, kalau tukang becak menyuruh kepada Ahmad Sudirman: "Sekali-kali belajarlah politik juga. Agar diskusi tak sekedar tarik urat saja."

 

Jelas Ahmad Sudirman memang sedang mengubrak-ngabrik politik. Kalau Ahmad Sudirman tidak mengobrak-ngabrik politik, sudah lama kena tipu terus mbah Yudhoyono dan mbah Gus Dur. Karena Ahmad Sudirman mengobrak-ngabrik politik, makanya Ahmad Sudirman tidak bisa ditipu oleh mbah Yudhoyono dan daeng Kalla.

 

Terakhir soal merayakan "17an", itu Ahmad Sudirman tidak ikut-ikutan ekor mbah Yudhoyono pakai lomba-lombaan segala macam seperti monyet yang ajrag-ajragan takut kena semburan air. Dan itu hanya kerjaan wong proletar komunis tukang becak yang pandainya pegang ekor-ekor Jenderal TNI, seperti Jenderal TNI Djoko Santoso dan Jenderal TNI Endriartono Sutarto.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Tue, 16 Aug 2005 06:19:26 -0700 (PDT)

From: Kang becak kbecak@yahoo.com

Subject: 17an

To: sastra-pembebasan@yahoogroups.com, Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: muba zir mbzr00@yahoo.com

 

Bismilah,

 

Sorry kemarin lupa

Biasanyakan

Puisi,

Memang jarang memakai bismillah.

 

Mbah 17an

Merayakan di mana ?

Ikut lomba nggak.

Sebaiknya,

Mbah Ahmad Sudirman

Ikut lomba makan krupuk saja.

Biarpun gigi sudah tiada.

Kalau krupuk sih diemut juga masih bisa.

 

Gus Dur itu hanya pura-pura

Untuk menjaga SBY dari orang-orang sakit jiwa.

Lihat saja sebelumnya

Gus Dur dan SBY membicarakan Aceh dalam waktu yang tak terencana.

Gus Durpun setuju dan gembira, Aceh dapat diselesaikan tanpa senjata.

Apalagi kasus PKB dimenangkannya di pengadilan negeri Jakarta.

Masalahnya sekarang ada pada para pimpinan Aceh dari swedia.

apakah mereka dapat menggunakan kesempatan,

Untuk menciptakan sebuah kesejahteraan.

 

Makanya mbah,

Jangan hanya belajar sejarah saja.

Sekarangkan sudah bukan zaman kerajaan.

Sekali-kali belajarlah politik juga.

Agar diskusi tak sekedar tarik urat saja.

 

Wassalam.

 

Kang becak

 

kbecak@yahoo.com

Tokyo, Jepang

----------