Stockholm, 20 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


INTELIJEN TNI DI ACHEH TIDAK AKAN MAMPU MELUMPUHKAN AMM

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

INTELIJEN TNI YANG DIMINTA MAYJEN SUPIADIN YUSUF ADI SAPUTRA UNTUK MEMBANTU DI ACHEH TIDAK AKAN MAMPU MELUMPUHKAN KEKUATAN NEGARA UNI EROPA YANG TERGABUNG DALAM ACHEH MONITORING MISSION

 

Kalau pihak TNI melalui intelijen TNI-nya yang dikirimkan ke Acheh sebanyak 500 personil atas permintaan Mayjen Supiadin Yusuf Adi Saputra beberapa hari setelah dilantik menjadi Pangdam Iskandar Muda akan melakukan gerakan dibawah tanah untuk membuat kekacauan di Acheh guna menggagalkan MoU, maka itu para intelijen TNI dan Jenderal-Jenderal TNI akan berhadapan dengan Negara-Negara anggota Uni Eropa dan Negara-Negara anggota ASEAN yang tergabung dalam Tim Acheh Monitoring Mission yang dipimpin oleh Pieter Feith, diplomat Belanda, Wakil Utusan Tetap Misi Belanda untuk NATO dan WEU, Penasehat Politik untuk Commandan IFOR di Bosnia-Herzegovina, Direktur the Crisis Management and Operations Directorate and Head of the Balkans Task Force, dan Penasehat Senior Politik untuk Sekretaris Jenderal Dewan Uni Eropa Javier Solana Madariaga.

 

Tidak akan mungkin berhasil itu para intelijen TNI membuat kekacauan di Acheh, apalagi sampai membuat kekacauan dengan mamakai kelompok milisi seperti Front Perlawanan Aceh, Front Perlawanan Separatis GAM, Gerakan Rakyat Anti Separatis GAM (GEURASA), Front Penyelamatan Merah Putih, Benteng Rakyat Anti Separatis GAM (BRANTAS), Pemuda Merah Putih, Barisan Merah Putih Aceh (BAMERPA), Himpunan Barisan Muda Bersatu (HBMB), Front Anti Gerakan Separatis Aceh Merdeka, Front Peralawanan Rakyat Garuda Merah Putih Nagan Raya, Putera Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma), Kops Sipil Pemburu Separatis (SPS), dan Forum Pemuda Indonesia Bersatu Nanggroe Aceh Darussalam (Forpib-NAD).

 

Dimana menurut Perdana Menteri Malik Mahmud itu jumlah anggota milisi yang aktif sekitar 10,000 orang dan memiliki hubungan dengan TNI.

 

Nah, kalau itu para milisi ini dimanfaatkan oleh kelompok intelijen TNI, maka pihak Tim AMM akan melakukan tindakan hukum yang akan dikenakan sangsinya kepada pihak TNI itu sendiri. Sesuai dengan wewenang Tim AMM di Acheh yang memiliki hak-hak istimewa, dan kekebalan AMM dan anggota-anggotanya. Dan Tim monitoring memiliki kebebasan bergerak yang tidak terbatas di Aceh. Sedangkan para pihak (TNI/Polri dan TNA) tidak memiliki veto atas tindakan atau kontrol terhadap kegiatan operasional AMM.

 

Nah dengan kekuasaan dan wewenang yang luas yang dimiliki oleh Tim AMM ini, kalau itu para intelijen TNI yang mau mencoba-coba membuat kekacauan di Acheh, apalagi dengan memanasi para milisi yang ada di Acheh utnuk membuat kekacauan, maka akan merugikan mereka sendiri, khususnya pihak TNI.

 

Karena itu, tidak ada guna dan manfaatnya bagi para intelijen TNI di Acheh untuk membuat gerakan dibawah tanah dan memprovokasi serta menghembus-hembuskan pertentangan diantara bangsa Acheh guna kepentingan TNI.

 

Lebih baik, itu para intelijen TNI yang ada di Acheh menyiapkan diri untuk bersama bangsa Acheh menyelamatkan dan memelihara perdamaian yang berkelanjutan dari pada berusaha untuk menghancurkan MoU. Karena kalau para intelijen TNI berusaha untuk melawan Tim AMM, itu sama dengan menghadapai kekuatan Negara-Negara Uni Eropa yang merupakan Negara donor bagi Pemerintah RI, termasuk yang menghidupi TNI dan para intelijennya.

 

Lebih baik berpikir seribu kali sebelum para intelijen TNI membuat keonaran di Acheh dalam usaha menggagalkan MoU di Acheh. Karena kalau tidak, maka Intelijen TNI akan berhadapan dengan kekuatan Negara-Negara anggota Uni Eropa.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Hilversum, Sabtu 20 Agustus 2005 11:37 WIB

Gema Warta

 

Aktivitas Intel Ancam Proses Perdamaian Aceh

Radio Hilversum, Gema Warta, Sabtu, 20 Agustus 2005.

 

Aceh Monitiring Mission atau AMM bertugas mengawasi proses pelucutan senjata anggoat GAM dan penarikan mundur pasukan TNI dari Aceh. Kehadiran AMM diharapkan bisa membantu menenangkan situasi Aceh. Apakah tidak ada bahaya lain yang mengancam proses perdamaian terakhir ini? Bagaimana dengan ancaman milisia-milisia di Aceh Tengah dan Timur yang sangat banyak? Menurut Otto Syamsuddin Ishak direktur LSM Imparsial di Jakarta, ancaman terbesar justru datang dari pihak intel di Aceh. Ikuti keterangan Otto kepada Radio Nederland:

 

Otto Syamsuddin Ishak [OSI]: Saya lebih senang mengatakan Aceh Tengah merupakan kawasan yang sangat masif untuk milisi. Bahkan ini harus diwanti-wanti atau diperhitungkan oleh AMM ketika mau masuk ke Aceh Tengah. Karena ada rumour (isu, gosip) di masyarakat yang saya dengar akhir-akhir ini, milisi-milisi di Aceh Tengah akan mengusir anggota-anggota AMM yang akan berlokasi di Aceh Tengah.

 

Radio Nederland [RN]: Bagaimana dengan Aceh Timur? Aceh Timur ini sejauh kita ketahui setelah DM (darurat militer) berakhir atau menjelang DM berakhir tahun 2003 itu, ada milisi-milisi atau satuan-satuan laskar yang baru. Berbeda dengan Aceh Tengah.

 

OSI: Ya berbeda sekali. Karena ada satu kecenderungan juga bahwa kelompok transmigran itu merasa diperalat oleh pihak TNI dan diadu domba dengan masyarakat lokal. Dan di sisi lain juga kita ketahui juga Aceh Timur itu terdiri dari multi etnis. Jadi ada Tamiang, suku Melayu dan ada suku Aceh.

 

Oleh karena itu sangat sulit untuk dihimpun menjadi satu kekuatan utama. Kita ketahui sampai sekarang, milisi di Aceh Timur itu tidak sekuat di Aceh Utara. Apalagi di Aceh Tengah. Milisi cenderung berkoalisi atau berkolaborasi dengan organisasi preman yang berpusat di Medan

 

RN: Selain itu yang juga baru, artinya baru pasca DM itu adalah di Bireun yah?

 

OSI: Ya itu yang sekarang kalau kita lihat dari milisi yang berbasis etnik Aceh itu khususnya, memang yang paling besar adalah yang dipimpin oleh Sofyan Ali. Sebenarnya dia merupakan salah satu anggota partai politik pada masa DOM. Kemudian menjadi salah seorang anggota majelis di dalam lingkungan GAM, kemudian membangun suatu kekuatan milisi.

 

Dan yang anehnya lagi baru-baru ini Sofyan Ali melakukan doa bersama untuk menyambut perjanjian Helsinki, melakukan ritual doa bersama dengan bupati Mustafa Gelanggang.

 

RN: Artinya?

 

OSI: Artinya apakah Sofyan Ali ini tidak akan face to face (bertatapan muka) dengan pihak GAM. Jadi dia cenderung bersikap melunak begitu.

 

RN: Mereka yang ikut, diikutsertakan atau menggabung ke dalam milisi atau Front Laskar segala ini, latar belakang sosialnya seperti apa?

 

OSI: Kalau kita lihat dari pimpinanya itu latar belakangnya politikus, preman sekaligus kontraktor. Jadi ketergantungannya kepada birokrasi itu sangat tinggi.

 

RN: Jadi ini kalau pihak Indonesia dan pihak GAM sudah secara serius bertekad damai, namun yang satu membantah adanya milisi yaitu pihak TNI dan pihak Indonesia sedang pihak lain mengkhawatirkan bahayanya. Seberapa besar bahayanya untuk mengacaukan perdamaian yang tengah dirintis ini?

 

OSI: Kalau kita lihat perkembangan dua hari terakhir, itu sebenarnya perkembangan potensial, krusial itu bukan dari illegal party seperti milisi atau front-front itu. Justru sekarang yang potensial mengacaukan itu adalah operasi intelijen. Salah satu kenapa saya katakan potensial, kita lihat penaikan bendera di Aceh Utara. Yang di mana bendera GAM di atas, bendera Merah-Putih di bawah, itu dilakukan oleh orang tidak dikenal. Itu kan memancing situasi seolah-olah GAM melakukan suatu provokasi.

 

Peristiwa kedua adalah pelepasan tahanan di penjara Jantau. Di mana pihak intelijen melakukan intervensi ke dalam penjara dengan melakukan penodongan terhadap tahanan-tahanan yang mendapat remisi bebas untuk difoto di bendera GAM. Yang kemudian mendapat perlawanan dari para tahanan lainnya.

 

RN: Kalau kita ingat sesaat sebelum tsunami, pihak TNI dari Jakarta tengah menggalang jaringan intelijen ke mana-mana bukan?

 

OSI: Ada penambahan kekuatan sekitar 500 anggota intelijen untuk dikirim ke Aceh. Jadi sekarang sebenarnya tahapan-tahapan operasi untuk menggagalkan Helsinki adalah memasuki tahapan-tahapan menciptakan kekacauan. Bukan face to face dengan AMM.

 

Jadi sekarang saya menduga dalam beberapa hari ini, atau sekitar sampai AMM menjadi satu institusi yang bekerja dan berkantor di suatu wilayah, akan terjadi kekacauan-kekacauan yang terkesan merupakan pelanggaran dari Helsinki. Yang kedua terkesan ini merupakan peristiwa-peristiwa kriminal biasa.

 

Demikian Otto Syamsuddin Ishak direktur LSM Imparsial.

----------