Stockholm, 22 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SAPRUDIN PAKAI KACAMATA HITAM UU NO.32/2004 UNTUK MELIHAT AGAMA YANG HANYA MERUPAKAN SIMBOL NEGARA

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SURYA PASAI SAPRUDIN COBA PAKAI KACAMATA HITAM UU NO.32/2004 UNTUK MELIHAT AGAMA YANG HANYA MERUPAKAN SIMBOL NEGARA

 

"Mr. Asudirman, entah apa lagi yang perlu aku sampaikan kepada yang mulia Mr. Asudirman. Rasanya terlalu kecil argumen yang aku sampaikan kepada Mr. Asudirman  dibandingkan dengan kemampuan beranalogi dan beretorika yang dikuasai oleh Mr. Asudirman. Aku manusia, sama dengan Mr. Asudirman. Aku meyakini bahwa tiada Illah yang wajib disembah selain Allah, sama seperti yang mulia Mr. Asudirman. Suatu hal yang wajib hukumnya untuk menyadarkan manusia sesat model Mr. Asudirman. Kesesatan Mr. Asudirman bukan karena ilmu yang dikuasainya, melainkan implementasinya yang mendatangkan bencana bagi ummat manusia. Lidah lebih tajam daripada pedang, oleh karena lidah Mr. Ahmad Sudirman lebih tajam daripada rencong yang aku punyai. Tercemarnya keimanan oleh faham keduniaan (sekulerisme). Manusia semakin mengejar kehidupan dunia, sehingga tujujuan hidupnya hanyalah kenikmatan dunia. Mereka menolak semua yang berbau agama. Bahkan mereka menganggap kehidupan yang hanyalah kehidupan dunia ini. Dalam aI-Qur'an dijelaskan sikap mereka tersebut seperti tercantum dalam surat al-Jatsiyah (45) : 24" (SP Saprudin, im_surya_1998@yahoo.co.id , Mon, 22 Aug 2005 11:26:27 +0700 (ICT))

 

Baiklah saudara Surya Pasai Saprudin di Jakarta, Indonesia.

 

Kalau Saprudin menyatakan: "Kesesatan Mr. Asudirman bukan karena ilmu yang dikuasainya, melainkan implementasinya yang mendatangkan bencana bagi ummat manusia."

 

Nah, apa yang dilambungkan Saprudin tentang Ahmad Sudirman ini, jelas suatu hasil pemikiran dan sikap Saprudin yang hanya melihat permasalahan yang dibeberkan Ahmad Sudirman dari sudut kacamata yang dipakai oleh para kelompok unitaris Jawa Soekarno dan para pengikutnya yang ada di Negara RI ini.

 

Coba saja perhatikan, ketika Ahmad Sudirman menjelaskan secara terperinci, jelas, gamblang, yang didasarkan pada fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang jalur sejarah pertumbuhan dan perkembangan negara RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat, ternyata dari pihak Saprudin sendiri tidak mampu memberikan tanggapan dan bantahan yang  bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah yang didalamnya berisikan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum. Selain ia hanya sanggup melambungkan kata-kata: "Suatu hal yang wajib hukumnya untuk menyadarkan manusia sesat model Mr. Asudirman. Lidah lebih tajam daripada pedang, oleh karena lidah Mr. Ahmad Sudirman lebih tajam daripada rencong yang aku punyai."

 

Penerapan aplikasi dari apa yang dinyatakan Ahmad Sudirman baik itu yang menyangkut Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat, ataupun yang menyangkut penerapan atau aplikasi dari apa yang telah digariskan dan dicontohkan Rasulullah saw dalam hal daulah dan dasar hukum yang dipakai daulah, itu semuanya bukan merupakan hal-hal yang sesat.

 

Bagaimana bisa dikatakan orang sesat kalau orang tersebut muslim yang mukmin yang mencontoh penerapan atau aplikasi hukum negara yang mengacu dan mencontoh kepada apa yang telah dijalankan dan dilaksanakan aserta diterapkan Rasulullah saw dalam Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib.

 

Adalah suatu kemunafikan seandainya ada seorang muslim yang menafikan contoh Rasululah saw ketika membangun Daulah Islamiyah pertama dan menjalankannya sesuai dengan apa yang diturunkan Allah SWT dan sesuai dengan apa yang dijadikan kebijaksanaan Rasulullah saw.

 

Justru, dalam aplikasi Islam yang menyeluruh ini harus diacukan kepada apa yang dicontohkan Rasulullah saw, bukan mengacu kepada apa yang telah dijalankan kelompok unitaris Jawa Soekarno dari RI-Jawa-Yogya dengan konstitusi negaranya hasil buatan lembaga ciptaan Jenderal Angkatan Darat Jepang Hagachi Seisiroo.

 

Kemudian, karena pihak RI menjadikan agama hanya sebagai simbol atau lambang saja, maka dalam kehidupan pemerintahan dan kenegaraan tidak ada pengaruhnya. Hal ini disebabkan adanya aturan, hukum, undang-undang yang telah digariskan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw yang tidak dibenarkan untuk dimasukkan kedalam wilayah hukum dan undang-undang yang diakui sah dalam kehidupan pemerintahan dan kenegaraan di negara RI ini. Sehingga memang wajar saja, kalau di RI timbul kehidupan manusia yang boros dan menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan, praktek hukum yang seharusnya ditegakkan untuk keadilan, diselewengkan dan disalahgunakan, memakan harta orang lain termasuk didalamnya korupsi, sogok menyogok untuk mendapat keuntungan pribadi, melakukan pembunuhan seperti di Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat serta di beberapa tempat di RI, bersemaraknya kebebasan dalam penjualan minuman keras, judi, kumpul kebo, pelacuran, dan perbuatan keji lainnya.

 

Nah kewajaran itu bisa dimengerti karena memang dasar hukum yang dijadikan acuan dalam negara RI bukan acuan yang telah diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw, melainkan apa yang telah dikutak-katik mbah Soekarno dalam pancasila-nya yang penjabaran dasar hukum kebawahnya, seperti Tap MPR, UU, Peraturan Pemerintah Pengganti UU, PP, Keppres, Inpres.

 

Kemudian, itu agama merupakan kewenangan Pemerintah RI, sebagaimana yang dituangkan dalam dasar hukum UU No.32 Tahun 2004 BAB III, Pasal 10, (3). Dimana kewenangan Pemerintah RI atas agama ini bertujuan agar supaya agama bisa dikontrol dan diawasi supaya tidak dijadikan sebagai dasar atau asas dalam kehidupan masyarakat, pemerintahan, dan negara. Contohnya, Islam tidak dibenarkan dijadikan sebagai asas organisasi, partai politik, dan negara.

 

Nah inilah merupakan konsekuensi logis dari agama yang telah menjadi wewenang pemerintah. Pemerintahlah yang menetapkan bagaimana itu agama seharusnya dijalankan, bukan sebaliknya, yaitu itu aturan yang ada dalam agama dijadikan sebagai acuan untuk kehidupan dalam masyarakat, pemerintahan, dan negara. Karena itu agama di RI hanyalah sebagai simbol dan lambang saja, yaitu lambang kebebasan beragama.

 

Nah sekarang, karena gama hanyalah dipegang pemerintah dan tidak dibenarkan untuk dimasukkan kedalam aturan, hukum, undang-undang yang berlaku di RI, maka apa yang tercantum dalam ajaran agama, seperti beriman kepada Allah, dan sekaligus dilarang kufur, apalagi musyrik, ternyata justru disebarluaskan.

 

Lihat saja itu gambar patung burung garuda, begitu besarnya di gedung DPR/MPR, pancasila sebagai produk campuran gado-gado ideologi yang ada di dunia, dijadikan dasar negara.

 

Juga kedamaian dan taqwa supaya dianjurkan, dan jangan melakukan permusuhan dan kejahatan, ternyata dilanggar dengan dijajahnya Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat oleh mbah Soekarno dengan kelompok unitaris Jawa RI-Jawa-Yogyanya.

 

Tidak ketinggalan masalah lingkungan hidup yang harus dijaga, ternyata dihancurkan dengan ditebangnya hutan-hutan untuk dijual melalui cukong-cukong kayu di luar negeri, akhirnya kebakaran melanda dan asapnya sampai kenegara-negara tetangga.

 

Begitu juga hukum yang seharusnya ditegakkan, justru dinjak-injak, pura-pura buta saja, kalau didepannya disodorkan buntelan rupiah atau dolar AS.

 

Hidup sederhana, tidak lagi dijadikan sebagai gaya hidup, melainkan hidup boros dan poya-poya sudah merupakan gaya hidup. Shopping ke Singapura sudah merupakan hal yang dianggap biasa saja, walaupun orang-orang yang hidup di pinggir Cilicung masih puluhan ribu, ataupun orang-orang yang memungut puntung rokok dan buntelan koran masih segudang di Jakarta.

 

Jadi Saprudin, kalau kalian membicarakan tentang penerapan Islam, itu tidak akan berhasil kalau yang namanya pemerintah dengan kewenangan agama-nya hanyalah merupakan alat untuk menjadikan agama sebagai simbol saja. Teriak-teriak agama, tetapi kaki bergelimang dalam sistem thaghut pancasila. Kan ngaco jadinya, persis seperti Saprudin sekarang ini.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Mon, 22 Aug 2005 11:26:27 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin im_surya_1998@yahoo.co.id

Subject: Balasan: AHMAD SUDIRMAN THE BIG MOUTH

To: SP Saprudin <im_surya_1998@yahoo.co.id>, muba zir <mbzr00@yahoo.com>, Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, AcehMitro <mitro@kpei.co.id>, AcehMr_dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>, Acehmuba <mbzr00@yahoo.com>, acehomputeh <om_puteh@hotmail.com>, AcehSap <im_surya_1998@yahoo.co.id>, AcehSiliwangi <siliwangi27@hotmail.com>, Acehsutanlatief <sutanlatief@yahoo.com>, AcehTati <narastati@yahoo.com>, Acehtgk_maat <tgk_maat@yahoo.co.uk>, Acehwarwick <universityofwarwick@yahoo.co.uk>, kabayan555@yahoo.com, kbecak@yahoo.com, sisinga maharaja <sisingamaharaja@yahoo.co.uk>, sira_jaringan2000@yahoo.com, sobrona@hotmail.com, sofyanali_fpsgam@yahoo.com

 

Assalamualaikum wr. wb.

 

Mr. Asudirman, entah apa lagi yang perlu aku sampaikan kepada yang mulia Mr. Asudirman. Rasanya terlalu kecil argumen yang aku sampaikan kepada Mr. Asudirman  dibandingkan dengan kemampuan beranalogi dan beretorika yang dikuasai oleh Mr. Asudirman.

 

Aku manusia, sama dengan Mr. Asudirman. Aku meyakini bahwa tiada Illah yang wajib disembah selain Allah, sama seperti yang mulia Mr. Asudirman.

 

Suatu hal yang wajib hukumnya untuk menyadarkan manusia sesat model Mr. Asudirman. Kesesatan Mr. Asudirman bukan karena ilmu yang dikuasainya, melainkan implementasinya yang mendatangkan bencana bagi ummat manusia.

 

Lidah lebih tajam daripada pedang, oleh karena lidah Mr. Ahmad Sudirman lebih tajam daripada rencong yang aku punyai.

 

Baiklah Mr. Asudirman, saya akan sedikit bicara.

 

Tercemarnya keimanan oleh faham keduniaan (sekulerisme). Manusia semakin mengejar kehidupan dunia, sehingga tujujuan hidupnya hanyalah kenikmatan dunia. Mereka menolak semua yang berbau agama. Bahkan mereka menganggap kehidupan yang hanyalah kehidupan dunia ini. Dalam aI-Qur'an dijelaskan sikap mereka tersebut seperti tercantum dalam surat al-Jatsiyah (45) : 24.  Artinya: "Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia ini saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa". Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja." (al-Jatsiyah (45) : 24).

 

Dalam aI-Qur'an ada segolongan manusia yang hanya mengharapkan kebahagiaan di dunia saja:  "...Maka diantara manusia ada orang yang mendo'a "Ya Tuhan, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat." (al-Baqarah (2) : 200)

 

Banyak kehidupan yang bisa melupakan manusia dengan Tuhan, termasuk lupa ibadah. Bukanlah kehidupan ini laksana permainan dan senda gurau yang bisa melupakan manusia untuk ingat dengan Tuhannya. Artinya: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidaklah kamu memahaminya?" (al-An'am (6) : 32).

 

Dalam ayat lain juga disebutkan:  Artinya: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (al-Ankabut (29) : 64) Dan banyak ayat lain yang senada seperti tercantum dalam surat Muhammad (47) ayat 36, surat al-Hadid (57) ayat 20.

 

Kebiasaan hidup boros dan glamour, tanpa mengindahkan ketentuan agama, mana yang haram dan halal, mana aurat yang harus ditutup. Semuanya hanyalah menuruti hawa nafsunya. Dan menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan, seperti yang dijelaskan dalam surat al-Jatsiyah (45) ayat 23.

 

Artinya: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (aI-Jtsiyah (45) : 23).

 

Banyaknya kerusakan di muka bumi karena borosnya kehidupan dan keserakahan mereka.

 

Artinya: "Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah mengingatkan mereka karena akibat perbuatan sebahagian mereka, agar (yang berbuat kerusakan) kembali ke jalan yang benar (melestarikan dan memelihara lingkungan)." (ar-Rum (30) : 41).

 

Di ayat lain dijelaskan larangan yang keras untuk tidak berlaku boros dan melampaui batas, sebagai isyarat akan banyaknya manusia yang melampaui batas.

 

Artinya: "...dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (aI-An'm (6) : 141).

 

Banyaknya praktek-praktek ketidakadilan dalam memanfaatkan sumber alam yang diciptakan Tuhan. Manusia hanya mementingkan dirinya, golongannya, ataupun bangsanya sendiri secara sempit. Dalam aI-Qur'an banyak kritikan terhadap kecendrungan manusia yang berbuat zalim, tidak adil karena mementingkan dirinya sendiri. Perbuatan tersebut diancam siksaan Tuhan sebagai dosa yang harus ditanggung pelakunya.

 

Artinya: "Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang diberikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu adalah baik bagi mereka. Sesungguhnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka, harta yang mereka bakhilkan itu kelak akan dikalungkan dileher mereka di akhirat. Dan kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Ali Imran (3) : 180).

 

Mengadu domba sesama manusia, sesama golongan dan bangsa untuk kepentingan dirinya, golongan maupun bangsanya sendiri.

 

Artinya: "Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui." (al-Baqarah (2) : 188).

 

Manusia bisa bertindak kejam, memeras, memakan sesama manusia bahkan lebih kejam dibandingkan dengan binatang. Semuanya dilakukan karena mereka tidak lagi mengindahkan nilai-nilai moral, nilai-nilai agama. Fisiknya secara biologis, namun jiwa, sikap dan kelakuannya tidak lebih dari binatang.

 

Artinya: "dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan." (aI-Isra (17) : 33).

 

Kuatnya pengaruh budaya asing yang bertentangan dengan nilai-nilai, norma-norma dan tata aturan Islam. Seperti cara berpakaian yang tidak memperhatikan aurat, makanan haram, minuman yang memabukkan, gaya hidup yang sekuler, dsb.

 

Artinya: "Barangsiapa meniru-niru (tatacara, prilaku, sikap maupun budaya) suatu kaum (golongan, bangsa yang kafir), maka sesungguhnya mereka sudah termasuk golongan tersebut." (aI-Hadits)

 

Dalam aI-Qur'an dijelaskan tentang berbagai perbuatan yang dikatagorikan terlarang (perbuatan syetan) yang sekarang justru semakin merajalela sebagai dampak globalisasi.

 

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan itu)..." (aI-Maidah (5) : 90-91). Dalam hadits dijelaskan tentang orang meminum minuman keras dalam kaitan dengan imannya: (lp 35)  Artinya: "Barangsiapa minum khamar maka cahaya iman akan keluar dari dadanya." (aI-Hadits). Artinya: "Allah melaknat khamar beserta peminumnya, pemberi minumnya, penjualnya, pembelinya, pembuatnya (pemerasnya), yang menyuruh membuatnya, pembawanya, orang yang menerimanya, dan yang memakan harganya" (al-Hadits)

 

Semakin Ionggarnya ikatan nilai-nilai perkawinan, bebasnya pergaulan antara lain jenis sampai hidup bersama tanpa ikatan perkawinan (kumpol kebo), kawin campuran tanpa mengindahkan agama. Banyaknya anak lahir tanpa ketahuan siapa ayahnya dsb.

 

Artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk." (al-Isra (17) : 32).

 

Dan masih banyak lagi tantangan dan pengaruh negatif akibatnya adanya era globalisasi yang melanda kehidupan kita, baik yang berkenaan dengan keimanan, ibadah, moral, ekonomi, maupun budaya. Semuanya mengharuskan kita waspada dan tetap berpegang pada ajaran Islam atau istiqamah.

 

Kewajiban manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi memiliki kewajiban yang harus atau dilaksanakan dan ditaati agar kekhalifahannya tetap langgeng, sesuai dengan kehendak yang memberi jabatan khalifah. Kewajiban tersebut ada yang berkaitan dengan Allah, dengan sesama manusia dan terhadap alam sekelilingnya.

 

1. Manusia wajib beriman kepada Allah, dan sekaligus dilarang kufur, apalagi musyrik. Manusia yang kufur apalagi musyrik pada dasarnya merupakan sikap pembangkangan dan prilaku tidak etis. Karena orang yang diberi peran dan kekuasaan seharusnya yakin dengan yang memberi mandat tersebut, serta mengikuti apa yang diperintahkannya. Dalam aI-Qur'an banyak membahas kewajiban beriman bagi manusia sebagai khalifah Allah.  Artinya: "Hai Manusia, sembahlah Tuhanmu Yang menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hambaran bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit , lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu (musyrik) bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (al-Baqarah (2) : 21-22).

 

Di ayat lain Tuhan juga mencela mereka yang kafir padahal sikap kafir sama sekali tidak berdasar dan tidak masuk akal. Artinya: "Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkanNya kembali, kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan?" (al-Baqarah (2) : 28).

 

2. Senantiasa taat dan beribadah kepadaNya, tapi juga akrab dengan sesamanya. Seperti dijelaskan dalam aI-Qur'an:

 

Artinya: "Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas." (Ali-Imran (3) : 112)

 

3. Saling memberikan pertolongan untuk maksud kebaikan, kedamaian dan takwa, serta mencegah persekongkolan dalam permusuhan dan kejahatan.

 

Artinya: "Dan bertolong-tolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya." (al-Maidah (5) : 2)

 

4. Menjaga kelestarian lingkungan, dilarang merusak ekosistem yang sudah teratur (keseimbangan) seperti yang dijelaskan dalam al-Qur'an.

 

Artinya: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan takut (tidak akan diterima). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmatNya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung. Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati. Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran." (al-A'raf (7) : 56-57)  Di ayat lain juga ditegaskan agar manusia jangan sampai membuat kerusakan di muka bumi, padahal sebelumNya Tuhan telah menciptakan alam dalam keteraturan. (lp 15)Artinya: "...dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman." (al-A'raf (7) : 85)

 

Manusia disuruh mencari kebutuhan dunia dengan memanfaatkan alam, tetapi juga jangan lupa dengan urusan akhirat. Artinya dalam mengelola sumber alam harus sesuai dengan taat aturan Tuhan sebagai pencipta.  Hanya untuk kesenangan dunia yang cenderung menuruti hawa nafsunya. Dalam aI-Qur'an dijelaskan:  Artinya: "Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (al-Qashash (28) : 77)

 

Dalam ayat lain Allah SWT menggambarkan kerusakan di muka bumi (di daratan dan lautan) karena ulah manusia yang hanya mengejar kesenangan dan nafsu tanpa kendali. Artinya: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka karena sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (ar-Rum (30) : 41)

 

5. Menebarkan kasih sayang dan kebaikan diantara sesama manusia dan lingkungan yang ada, khususnya kepada anak yatim, kaum dhu'afa, karib kerabat serta siapa saja yang memerlukan pertolongan tanpa membedakan latar belakang ras, golongan maupun agama. Al-Qur'an menjelaskan keharusan tersebut dalam salah satu ayatnya.

 

Artinya: "...dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya ..." (al-Baqarah (2) : 177)

 

Dalam sebuah hadits Nabi menyatakan bahwa Tuhan menyuruh manusia untuk saling menyayangi, menghubungkan tali persaudaraan dan dijanjikan Tuhan akan menyayanginya. Artinya: "Sayangilah manusia-manusia yang ada di muka bumi, pasti akan menyayangimu (Tuhan) yang ada di langit." (Hadits)

 

6. Berlaku adil dalam menetapkan hukum ataupun amanat antara manusia, tanpa membedakan warna kulit, hubungan keluarga, dsb. Seperti dijelaskan dalam aI-Qu'ran.

 

Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil." (an-Nisa (4) : 58)  Dalam hadits disebutkan bahwa orang yang tidak memiliki sifat amanat tidak terrnasuk orang yang beriman. Dengan demikian dalam era globalisasi sikap amanat mesti menjadi budaya masyarakat. Artinya: "Dari Ibnu Umar RA berkata Rasulullah SAW. Tidak beriman bagi orang yang tidak memiliki sikap amanat, dan tidak beragama bagi orang yang menetapi janji." (HR. Ahmad)

 

7. Hidup sederhana atau secukupnya dan menjauhi sikap hidup boros dan berlebihan. Sebab dengan hidup boros dan berlebihan bisa menguras kekayaan alam tanpa kendali yang bisa menyebabkan kerusakkan lingkungan.

 

Artinya: "Hai anak Adam (manusia), pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang (hidup) berlebih-lebihan."

 

Dan masih banyak lagi ayat al-Qur'an yang menjelaskan bagaimana manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi bersikap berprilaku yang terpuji, seperti yang diamanatkan oleh Allah SWT yang memberi status khalifah.

 

Wassalamualaikum wr. wb.

 

Surya Pasai Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------