Pidie, 22 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SAAT-SAAT TERAKHIR NON-ORGANIK TNI DITARIK MUNDUR MASIH LAKUKAN OPERASI OFENSIF DI WILAYAH PIDIE

Suadi Sulaiman Laweueng

Pidie - ACHEH.

 

 

8 HARI PASCA MOU, TNI MASIH LAKUKAN OPERASI OFENSIF DI PEGUNUNG DIWILAYAH PIDIE

 

Sejak 18 Agustus 2005 sampai laporan ini diturunkan, ribuan  TNI Yon 413/ Kostrad, Yon 515/ Kostrad, Yon 144, dan Yon 327  melakukan operasi offensive ke pegunungan Drien Tujoh, dan sekitarnya (Ulim), Lhok Sandeng, Seunong, Blang Awe, Beuracan, Alue Demam, dan Alue Pisang Wak (Meureudu).

 

Masing-masing kesatuan TNI telah dibagikan territorial operasinya, TNI YON 144 posko Batalyon Blang Bili, Kemukiman Cubo, Kecamatan Bandar Baru melakukan operasi offensive ke pegunungan Tampui, Panton Beurasan dan Panton Raya (Trienggadeng), Cubo baroh, Lhok Duek, kayee Jatoe, Sarah Panyang, Pante Breuh, Abah Lueng, Jiem-Jiem (Bandar Baru) dan Paya Raoh, Cot Tunong, Alue Angen, Amud, dan Krueng Mampree (teupin Raya, Geulumpang Minyeuk). Operasi ini dilakukan serentak di wilayah Pidie dan radius 1-5 kilometer dari perkampungan kea rag pegunungan.

 

TNI YON 515 dan Marinir melakukan operasi ofensif di kawasan pegunungan Blang Keudah dan Truseb (Tiro), Krueng Seukeuk, Cot Seutui, Keumala Dalam dan Pulo Pante (Keumala), Bungga, Blang Malo, Alue Seupot, Ulee Gunong dan Alue Meuh (Tangse), Blang Lam Kaca dan sekitarnya (Mila), dan Gunong Seulawah, Biheue, Kale dan sekitarnya, Guha Tujoh, Blang Rob (Muara Tiga) dan sampai ke pegunungan Batee. Semuanya TNI yang masih berada di pegunungan Pidie sekarang mencapai 9 Batalyon. Operasi ini tetap saja diarahkan untuk mencari/ mengejar markas/ anggota TNA/ GAM di wilayah Pidie.

 

Operasi ofensif TNI juga selama semakin diketatkan di seluruh perkampungan penduduk dengan alasan memisahkan GAM-TNA dengan masyarakat serta mensosialisasikan hasil penandatangan MoU Helsinki 15 Agustus 2005 yang lalu.

 

Eksesnya, hasil tanaman masyarakat seperti kokao yang sebelumnya ditelantarkan kini juga demikian, karena masyarakat masih takut akan TNI jika kepergok di pergunungan dan areal perkebunan mereka.

 

Operasi ini juga bisa melegalisasikan kegiatan/ kejahatan milisi di lapangan untuk melakukan berbagai bentuk provokasi baru terhadap rakyat dan kelangsungan hasil MoU yang ada.

 

Brimob Culik Anggota GAM Pidie

 

Pasca penandatanganan Memorandum of Undestanding (MoU) di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005 yang lalu, kekerasan pihak militer Indonesia di wilayah Pidie masih aktif baik dalam bentuk teror, penculikan maupun dalam bentuk lain. Pihak Brigadir Mobil (BRIMOB) yang merupakan salah satu satuan dari Kepolisian Indonesia yang dimandatkan sebagai pasukan tempur di Aceh masih melakukan kekerasan yang dimaksud di atas. Di sini telah nampak bahwa pihak militer Indonesia, khususnya BRIMOB belum mengikuti aturan-aturan yang ada dalam kesepakatan tersebut.

 

Adapun kekerasan dalam operasi militer yang dilakukan oleh BRIMOB dalam rangka mencari/ mengejar markas/ anggota TNA/ GAM adalah penculikan terhadap salah seorang anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Sagoe Didoh Daerah III Wilayah Pidie, korban adalah Mayuni, 27 th, warga Kampung UIee Tutue-Mutiara Timur, Pidie. Korban diculik di rumahnya pada tanggal 19 Agustus 2005, pukul 23. 00, korban tanpa bersenjata saat diculik.

 

Saat penculikan tersebut rumah korban dikepung oleh pihak BRIMOB pos Polres Pidie gabungan dengan Satuan Gabungan Intelijen (SGI) pos Kota Mini-Mutiara Timur, Pidie dengan kekuatan 1 truk reo (12 personil) dan 1 panser tank, hingga sekarang korban belum diketahui nasibnya. Hingga laporan ini diturunkan operasi militer yang dilakukan oleh BRIMOB dan SGI di kawasan tersebut masih berlangsung.

 

Eksesnya, kegiatan keagamaan anak-anak setempat juga kegiatan masyarakat terhenti total.

 

Suadi Sulaiman Laweueng

Jurubicara TNA Wilayah Pidie

 

suhadi_laweung@yahoo.com

Wilayah Berdaulat Pidie, Acheh

----------