Stockholm, 23 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


WAHHABIYIN HADI, ITU PASUKAN MUWAHIDIN DENGAN GERAKAN WAHHABIYAHNYA YANG MENDUDUKI HIJAZ

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

WAHHABIYIN HADI, ITU PASUKAN MUWAHIDIN DENGAN GERAKAN WAHHABIYAHNYA YANG MENDUDUKI HIJAZ TERMASUK MEKAH

 

"Semoga tulisan ini dapat memudarkan kebencian ahlul bid'ah Ahmad Sudirman akan manhaj Salafi. Wahabiyah/Wahabi oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani" (Hadi, hadifm@cbn.net.id , Thu, 25 Aug 2005 15:34:14 +0700)

 

"Sang tokoh, Muhammad bin Abdul Wahhab, ketika naik ke permukaan dalam rangka berdakwah untuk beribadah hanya kepada Allah, sangat bertepatan dengan hikmah yang dikehendaki Allah. Pada saat itu, di negeri tersebut terdapat seorang pemimpin di antara sekian pemimpin negeri Najed, beliau adalah Su'ud leluhur keluarga yang saat ini sedang memerintah Saudi. Akhirnya syaikh dan pemimpin tersebut bekerja sama, ilmu dan pedang pun saling membantu. Adapun iklim yang telah menunjang tumbuhnya opini seperti ini dahulu adalah faktor politik, namun masa bagi faktor tsb telah lama berlalu dan berakhir. Sebab, ia hanyalah manufer politik yang sengaja dilancarkan oleh kerajaan Turki tanpa landasan sama sekali, tapi sekedar mengalihkan perhatian." (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)

 

Baiklah wahhabiyin Hadi di Betawi, Jakarta.

 

Membaca tulisan yang dikirimkan wahhabiyin Hadi dari Betawi tentang masalah wahhabiyah atau wahhabi yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani isinya merupakan tangkisan terhadap mereka yang menyebutkan wahhabiyah atau wahhabi kepada para pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

 

Dan menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani itu kata Wahabiyah merupakan pecahan dari kata dasar Wahab yang berarti Allah Tabaraka Wata'ala.

 

Nah sebenarnya bagi kaum wahhabi atau salafi Saudi kalau ada yang menyatakan bahwa para pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dinamakan kaum wahhabiyah sebenarnya bukan istilah negatif, yang kalau menurut para pengikut wahhabiyah ini dimaksudkan mengkultuskan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Padahal kalau mengikuti apa yang ditafsirkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani itu kata Wahabiyah merupakan pecahan dari kata dasar Wahab yang berarti Allah Tabaraka Wata'ala.

 

Jadi sebenarnya bagi kaum wahhabiyin atau salafiyin Saudi tidak ada alasan untuk merasa menjadi pengkultus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kalau ada yang menyebut kepada mereka wahhabiyin.

 

Kemudian lagi, itu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan bahwa pemberian cap dengan sebutan Wahhabiyah adalah karena faktor politik, yang sengaja dilancarkan oleh Khilafah Islamiyah Ustmaniyah Turki.

 

Memang, karena dakhwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab bukan hanya melalui lisan dan tulisan saja, melainkan juga melalui penggunaan senjata pedangnya. Dimana Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama Amir Muhammad bin Saud disamping berdakhwah, juga mengobarkan perang menghadapi pihak pasukan Khilafah Islamiyah Usmaniyah Turki yang bergabung dengan pasukan Mesir yang pada waktu itu menguasai seluruh wilayah Hijaz yakni Mekah, Madinah, dan daerah sekitarnya.

 

Dan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama Amir Muhammad bin Saud berhasil menguasai daerah Najd dengan pedangnya yang berlangsung hampir selama separuh usianya, yakni dari sejak tahun 1158 H - 1206 H / 1745 M - 1792 M, dan hampir 48 tahun duduk dalam pemerintahan kerajaan Saudi dibawah Amir Muhammad bin Saud dengan memangku jabatan Menteri Penerangan.

 

Kemudian setelah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal pada tahun 1206 H / 1792 M, perjuangan untuk menyebarkan gerakan wahhabiyah dengan dakwah salafiyyah-nya ini diteruskan oleh anak, cucu dan murid-muridnya, seperti dari anaknya, Syeikh Imam Abdullah bin Muhammad, Syeikh Husin bin Muhammad, Syeikh Ibrahim bin Muhammad, Syeikh Ali bin Muhammad. Sedangkan dari cucunya, Syeikh Abdurrahman bin Hasan, Syeikh Ali bin Husin, Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad dan lain-lain. Adapun dari murid-nya, Syeikh Hamad bin Nasir bin Mu'ammar.

 

Begitu juga sepeninggal Amir Muhammad bin Saud, dinasti Saud diteruskan oleh oleh putra dan cucunya. Ketika Saud bin Abdul Aziz cucunya Muhammad bin Saud memegang kekuasaan, diseranglah daerah Tha'if, dan dengan mudah daerah Tha'if jatuh ketangan Saud bin Abdul Aziz, dikarenakan sebelumnya Saud bin Abdul Aziz telah mengirimkan Amir Uthman bin Abdurrahman al-Mudhayifi untuk menyerang terlebih dahulu Tha'if. Sekarang daerah Tha'if jatuh kedalam kekuasaan Saud bin Abdul Aziz bersama kaum wahabiyin dan pengikut gerakan wahabiyah dengan dakhwah salafiyyahnya.

 

Nah, politik ekspansi dari Saud bin Abdul Aziz terus berjalan dengan dibantu oleh kekuatan pasukan wahabiyin mulai bergerak menuju Hijaz dan mengepung Mekah. Pada tahun 1218 H / 1803 M Mekah jatuh ketangan Saud bin Abdul Aziz bersama pasukan wahabiyinnya. Dan penguasa Mekah waktu itu Syarif Husin tidak mau menyerah kepada Saud bin Abdul Aziz, melainkan melarikan diri ke Jeddah. Di Mekah-pun itu pasukan gerakan wahabiyyah ini sibuk dengan penghancuran patung-patung yang berbentuk kubah di pekuburan yang dianggap keramat, sehingga semuanya rata menjadi tanah, termasuk kubah yang didirikan di atas maqan Istri Rasulullah saw, Khadijah ra. Tetapi kekuatan pasukan Saud bin Abdul Aziz dapat dipukul mundur oleh pasukan Khilafah Islamiyah Utsmani yang didatangkan dari Mesir.

 

Jadi kalau melihat dari sudut sejarah dan kenegaraan, maka memang bisa dipahami bahwa lahirnya gerakan wahhabiyah dengan dakwah salafiyyah-nya adalah karena lahir dari saat pelaksanaan politik ekspansi Amir Muhammad bin Saud yang dibantu Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dari Emirat Al-Dariyah tahun 1735.

 

Amir Muhammad bin Saud menguasai Dariyah, sedangkan Mekkah yang berada diwilayah Hijaz berada dibawah kepemimpinan Bani Hashim yang menurunkan keluarga Rasulullah saw. Bani Hashim ini berkuasa sejak 1201. Tetapi tahun 1258 wilayah Hijaz dikuasi oleh Kesultanan Mameluk dari Mesir. Dan sejak tahun  1517 Hijaz dibawah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani. Kemudian dari tahun 1819-1840 Hijaz berada dibawah kekuasaan Mesir. Lalu tanggal 10 Juni 1916 Hijaz bebas dari Khilafah Islamiyah Utsmani, dan pada tanggal 19 Oktober 1916 Hussein Bin Ali Al-Hashim menyatakan wilayah Hijaz kembali berada dibawah kekuasaan bani Hashim. Kemudian pada tanggal 10 Agustus 1920 Khilafah Islamiyah Utsmani mengakui Hijaz berdasarkan Perjanjian atau Treaty Sevre dan diperkuat lagi oleh Perjanjian atau Treaty Lausanne 24 Juli 1923.

 

Kembali kepada Emirat Dariyah, sejak 17 Desember 1817 sampai 1822 berada dibawah kekuasaan Mesir. Pada tahun 1819 menjadi bagian wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani. Dan dari tahun 1838-1843 kembali berada dalam pendudukan Mesir. Tahun 1887 dikuasai oleh Jabal Shammar, dan dari sejak 1891 sampai 15 Januari 1902 langsung dibawah pemerintahan Jabal Shammar. Tetapi pada tanggal 15 Januari 1902 Amir Najd Abdul Azis bin Saud menguasai Riyadh, dan pada bulan Mei 1913 Al Hansa dianeksasi Najd. Bulan Mei 1913 diadakan Treaty antara Khilafah Islamiyah Ustmani dengan Emirat Najd yang isinya mengakui kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani. Tanggal 22 Agustus 1921 berdiri Kesultanan Najd. Dan tanggal 2 November 1921 Jabal Shammar dimasukkan kedalam wilayah Kesultanan Najd.

 

Nah selanjutnya, pada tanggal 19 Desember 1925 Kesultanan Najd menduduki wilayah Hijaz, dan pada tanggal 8 Januari 1926 secara de-facto Hijaz dianeksasi Kesultanan Najd.

 

Pada tanggal 29 Januari 1927 Kesultanan Najd diproklamirkan menjadi Kerajaan Najd. Dan pada tanggal 20 November 1930 wilayah Asir dimasukkan kedalam wilayah Hijaz.

 

Terakhir, pada tanggal 22 September 1932 Hijaz dan Najd digabungkan dan menjadi Kerajaan Saudi Arabia dengan gerakan wahhabiyah-nya.

 

Jadi memang berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan hukum, bahwa gerakan wahhabiyah dengan pasukan wahhabiyin inilah yang dari awalnya sejak di Dariyah, kemudian masuk ke Najd, lalu menduduki Hijaz yang didalamnya mencakup Mekkah yang berada dibawah kekuasaan Hussein Bin Ali Al-Hashim.

 

Dan dengan alasan inilah mengapa itu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan bahwa pemberian cap dengan sebutan Wahhabiyah adalah karena faktor politik, yang dilancarkan oleh Khilafah Islamiyah Ustmaniyah Turki.

 

Dan sebenarnya bukan hanya dari pihak Khilafah Islamiyah Utsmani saja melainkan juga dari pihak keturunan

Saad bin Zaid dari Bani Hashim yang menguasai Mekkah secara turun temurun.

 

Karena memang wilayah Hijaz yang berada dibawah kekuasaan Bani Hasim inilah yang wilayahnya diduduki oleh keturunan Amir Muhammad bin Saud dari Dariyah dan keturunan dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang sekrang menjadi Kerajaan Saudi Arabia.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

From: "H4D!" hadifm@cbn.net.id

To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>, <bambang_hw@rekayasa.co.id>, <airlambang@radio68h.com>, "Habe Arifin" <habearifin@yahoo.com>, <kabayan555@yahoo.com>, <azis@ksei.co.id>, <Agus.Renggana@kpc.co.id>, <agungdh@emirates.net.ae>, abdul.muin@conocophillips.com

Cc: ahmad_mattulesy@yahoo.com

Subject: WAHABIYAH / WAHABI

Date: Thu, 25 Aug 2005 15:34:14 +0700

 

Assalamua'laikum wr.wb

 

Semoga Tulisan ini dapat memudarkan kebencian ahlul bid'ah ahmad sudirman akan manhaj Salafi

 

Hadi

 

hadifm@cbn.net.id

Batavia, Indonesia

 

WAHABIYAH/WAHABI

Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

 

Pertanyaan

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Kami sering mendengar tentang wahabiyah/wahabi dan kami mendengar pula bahwa para pengikut wahabiyah membenci shalawat atas Nabi Shollalallaahu 'alaihi wasallam dan tidak mau menziarahi makan Rosulullaah. Lalu sebagian syeikh mengatakan sesungguhnya Nabi Shollallaahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan keadaan mereka ini saat beliau bersabda, "najed adalah tanduk Syeitan." Bagaimanakah jawaban anda mengenai hal ini ?

 

Jawaban

Pada hakikatnya pertanyaan ini, sangat disayangkan, sangat mengakar dan mempengaruhi kaum muslimin. Adapun iklim yang telah menunjang tumbuhnya opini seperti ini dahulu adalah faktor politik, namun masa bagi faktor tsb telah lama berlalu dan berakhir. Sebab, ia hanyalah manufer politik yang sengaja dilancarkan oleh kerajaan Turki tanpa landasan sama sekali, tapi sekedar mengalihkan perhatian.

 

Politik tersebut diciptakan oleh kerajaan Turki pada saat munculnya seorang ahli ilmu dan tokoh pembaharu yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab, yang berasal dari bagian negeri Najed. Tokoh tersebut mengajak orang-orang disekitarnya kepada keikhlasan, beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Di antara fenomena kesyirikan itu, sangat disayangkan, masih saja ditemukan di sebagian negeri Islam, berbeda dengan negeri tempat munculnya sang pembaharu Muhammad bin Abdul Wahhab. Negeri tersebut hingga saat ini, Alhamdulillah, tidak ditemukan padanya salah satu jenis syirik. Sementara fenomena syirik demikian marak di sebagian besar negeri Islam yang lain, Sebagai contoh, figur Khomaini dan saat meninggalnya serta pengumuman penunjukan makan beliau sebagai Ka'bah (tempat menunaikan haji) bagi penduduk Iran, ini merupakan bukti nyata dan berita tentang hal ini masih hangat bagi kalian.

 

Sang tokoh, Muhammad bin Abdul Wahhab, ketika naik ke permukaan dalam rangka berdakwah untuk beribadah hanya kepada Allah, sangat bertepatan dengan hikmah yang dikehendaki Allah. Pada saat itu, di negeri tersebut terdapat seorang pemimpin di antara sekian pemimpin negeri Najed, beliau adalah Su'ud leluhur keluarga yang saat ini sedang memerintah Saudi. Akhirnya syaikh dan pemimpin tersebut bekerja sama, ilmu dan pedang pun saling membantu. Mereka mulai menyebarkan dakwah tauhid di negeri Najed, mengajak manusia sekali waktu dengan lisan dan di waktu yang lain dengan pedang. Siap yang menyambut ajakan, maka itulah yang diharapkan. Sedang bila tidak demikian, maka tidak ada jalan lain kecuali menggunakan kekuatan.

 

Dakwah tersebut berhasil menyebar hingga sampai ke negeri-negeri yang lain. Sementara perlu diketahui bahwa saat itu negeri Najed serta wilayah sekitarnya seperti Irak, Yordan, dan wilayah-wilayah lain berada di bawah kekuasaan Turki sebagai khilafah turun-temurun. Kemudian tokoh ini dengan ilmunya serta pemimpin tersebut dengan kepemimpinannya mulai populer. Dari sini, penguasa Turki merasa khawatir jika muncul di dunia Islam satu kekuatan yang mampun menyaingi kekuasaan Turki. Maka, mereka berkehendak membabat habis dakwah ini sebelum sempat beranjak dari negeri kelahirannya. Hal itu mereka tempuh dengan cara menggencarkan propaganda bohong mengenai dakwah tersebut, sebagaimana terungkap dalam pertanyaan di atas ataupun pernyataan serupa yang sering kita dengar. (dan hal yang sama dilakukan  oleh orang-orang jahil tentang Islam yang Haq, pen)

 

Di atas telah aku katakan, bahwa faktor utamanya adalah konflik politik, akan tetapi konflik politik tersebut telah berakhir dan bukan tujuan kami hendak membahas sejarah. Adapun faktor lain yang turut andil bagi tersebarnya opini tidak benar terhadap dakwah ini adalah ketidaktahuan sebagian orang terhadap hakikat dakwah ini. Hal ini mengingatkan ku akan suatu cerita yang pernah aku baca di sebuah majalah, yaitu bahwa dua orang laki-laki sedang bertukar pikiran mengenai jalan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab yang mereka cap dengan sebutan Wahabiyah. Kalau saja manusia mau memikirkan apa yang akan mereka katakan, niscaya pemberian cap ini saja sudah cukup membuktikan kesalahan mereka dalam menyikapi dakwah ini. Sebab kata Wahabiyah bila ditelusuri merupakan pecahan dari kata dasar Wahab. Lalu siapakah Al-Wahab itu ? tidak lain adalah Allah Tabaraka Wata'ala.

 

Kalau begitu, pemberian cap bagi dakwah ini dengan sebutan Wahabiyah justru menjadikannya mulia dan bukan malah meruntuhkannya. Akan tetapi sebutan itu

sama seperti apa yang mereka katakan tentang kami di Suriah, "Di telinga mereka, hal itu adalah sesuatu yang menakutkan sekali". Begitu juga perkataan "Wahabiyah tidak memiliki keyakinan terhadap Rosul, atau mereka tidak beriman kepada Allah Ta'ala.

 

Pembahasan ini telah mengingatkanku akan dua orang yang bertukar pikiran tsb. Seorang yang bodoh mengklaim bahwa golongan Wahabiyah hanya beriman kepada Allah, adapun Muhammad Rosulullaah tidak menjadi bagian keyakinan mereka. Tidak ada yang mereka ucapkan kecuali "Laa Ilaha Illallaah (Tidak ada sembahan yang hak kecuali Allah).

 

Sehubungan dengan ini, di Negeri Syam ada cerita yang mesti aku sampaikan. Mereka biasa mengatakan "Mobil duta besar Saudi lewat dan ternyata diiringi oleh bendera melambai-lambai bertuliskan Laa Ilaha Illallaah wa Muhammad Rosulullaah. Wahai kaum muslimin, bertakwalah kalian kepada Allah. Bagaimana kalian mengatakan terhadap orang-orang itu bahwa mereka tidak beriman kecuali hanya kepada Allah, sementara bendera mereka merupakan satu-satunya bendera di dunia yang bertuliskan simbol Tauhid, dimana Rosulullaah telah bersabda tentang hal itu, "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rosulullaah. Apabila mereka mengatakan hal itu, sungguh telah terlindung dariku harta dan darah mereka. Adapun Hisab (perhitungan amalan) mereka terserah kepada Allah". Mengapa kalian melancarkan tuduhan dusta kepada mereka ? Lihatlah, bendera mereka ini menjulang tinggi untuk mengungkapkan keimanan yang ada dihati mereka.

 

Ini dari satu sisi, sementara dari sisi lain yang lebih besar dan lebih penting, "Mungkin saja dikatakan bahwa bendera tsb hanyalah kepalsuan, yakni sekedar propaganda yang memiliki maksud tersendiri..dan seterusnya", Akan tetapi, tidaklah mereka perhatikan bagaimana hingga saat ini manusia melaksanakan haji setiap waktu dengan nyaman dan aman. Keadaan seperti ini tidak pernah dinikmati (setelah masa Rosulullah dan beberapa Khalifah terdahulu = tambahan saya sendiri) pada masa kekuasaan Turki yang telah melancarkan tuduhan dusta untuk merusak citra dakwah ini. Kalian semua mengetahui bahwa seringkali terjadi pada bapak-bapak kita, terlebih kakek-kakek kita, bila hendak berangkat menunaikan haji harus menyertakan pasukan bersenjata demi untuk mengamankan jamaah haji tsb dari para penyamun dan perampok.

 

Maha suci Allah, kondisi ini telah berakhir. Namun dengan sebab apa? Tentu saja dengan sebab politik yang diterapkan oleh jamaah yang mereka namakan golongan wahabiyah hingga saat ini.

 

Seandainya bendera yang melambaikan keimanan shahih dan tauhid yang benar disertai keimanan bahwa Muhammad adalah Rosulullah itu hanyalah pernyataan palsu dan kedustaan belaka, namun tidakkah kalian perhatikan bagaimana mereka demikian tekunnya di dalam Masjid untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Mereka mengumandangkan adzan sebagaimana adzan yang dikumandangkan di seluruh negeri Islam lainnya. Demi Allah, kecuali tambahan yang biasa diucapkan pada bagian awal dan akhir adzan seperti yang terdapat di berbagai negeri Islam lain. Sesungguhnya tambahan ini tidaklah ditemukan di sana (Saudi). Hal itu mereka lakukan dalam rangka menerapkan Sunnah, bukan sebagai fenomena pengingkaran terhadap Rosul Islam serta Rosul bagi manusia secara keseluruhan. Akan tetapi semata-mata hanyalah untuk mengikuti generasi salaf. Semua kebaikan adalah dengan mengikuti golongan salaf, sementara segala keburukan terdapat pada bid'ah dan kaum khalaf.

 

Hingga saat ini, manusia menunaikan ibadah haji dan mendengarkan adzan dengan kalimat persaksian akan keesaan Allah serta persaksian terhadap Nabi-Nya sebagai pengemban Risalah. Kemudian mereka sholat seperti sholat yang kita lakukan, dan bersholawat terhadap Rosul setiap kali namanya disebut. Barangkali mereka lebih banyak bersholawat dibandingkan orang-orang yang menuduh bahwa mereka tidak mencintai dan tidak mau bersholawat atas Rosul.

 

Wahai jamaah sekalian, takutlah kalian kepada Allah. Kedustaan yang digemborkan ini telah dibantah oleh kenyataan kondisi mereka. Sebab tidak mungkin bagi mereka memperturuti keinginan orang-orang yang berada di negeri mereka. Akan tetapi yang mereka tampilkan tidak lain lahir dari lubuk hati, keimanan terhadap kalimat "Laa ilaha Illallaah wa anna Muhammad Rosulullaah" serta semangat untuk mengikuti manhaj Rosulullaah shollallaahu 'alaihi wasallam tanpa menambah, tidak tidak aku katakan tidak mengurangi. Sebab kekurangan adalah tabiat manusia, tidak ada manusia yang mampu untuk menghindar darinya. Akan tetapi dari segi Akidah tidak dilebihkan dan tidak dikurangi dari yang semestinya. Sedangkan dari segi ibadah tidak dilebihkan namun bisa saja kurang dari yang semestinya. Misalnya sebagian mereka tidak melakukan sholat di waktu malam di saat manusia tertidur, dan ini adalah kekurangan. Namun kekurangan ini tidak mempengaruhi akidah serta tidak mengurangi nilai keislaman yang dimiliki. Kalimat Wahabiyah masih saja dijadikan bahan untuk melakukan tuduhan suatu kelompok masyarakat mengenai perkara-perkara yang mereka berlepas dari darinya sebagaimana dikatakan "terbebasnya serigala dari darah putra Ya'qub."

 

Wallaahu a'lam bisshowab

 

[Sumber : Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani wa Muqaranatuha bi fatawa Al-'Ulama. Penyusun : Ukasyah Abdul Manan Athaiby, cetakan kedua 1995. Penerbit : Maktabah Ats-Tsurats Al-Islami, Cairo]

----------