Sydney, 31 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PENGUASA & POLITISI INDONESIA MENGKERAMATKAN ANGKA 17, USAHA INI AKAN SAMPAI PADA KEMATIAN PELAKUNYA

Nurdin Abdul Rahman

Sydney - AUSTRALIA.

 

 

PENGUASA & POLITISI INDONESIA MENGKERAMATKAN ANGKA 17, MENYESATKAN ORANG-ORANG TENTANG INDONESIA, DAN USAHA INI AKAN SAMPAI PADA KEMATIAN PELAKUNYA

 

Tgk Ahmad, saya baru saja mendapatkan satu kemuskilan dari Al Qur’an. Jumlah penyebutan kata-kata "orang-orang yang menyesatkan" dalam Al Qur’an 17 kali, dan "orang-orang mati" juga 17 kali.

 

Penguasa dan politisi Indonesia mengkeramatkan angka 17; untuk menyesatkan orang-orang tentang Indonesia, dan usaha ini pasti akan sampai kepada kematian pelakunya. Sukarno meninggal dengan cara yang sangat hina sebelum dia sempat menikmati hasil NKRI karyanya. Suharto sedang menunggu saat kematiannya setelah dipaksa turun dari tahta secara memalukan. BJ Habibie juga harus turun setelah secara tidak sengaja melepaskan Tim Tim. Abdurrahman Wahid harus turun dipaksa sebelum habis masa jabatannya. Megawati yang penuh dengan janji palsu pakai airmata lagi, juga dikalahkan secara memalukan dalam pemilu.

 

Apa yang akan terjadi dengan Susilo Bambang Yudhoyono dan Yusuf Kalla akan kita lihat nanti kenyataannya. Namun Pak Susilo Bambang Yudhoyono dan Pak Yusuf Kalla ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan.

 

Yang namanya NKRI itu telah banyak sekali mengisap darah bukan saja orang Acheh, tapi juga orang-orang di semua wilayah lain di Nusantara kita ini. Apakah angka 17 itu akan hinggap pada pimpinan Indonesia sekarang ini, akan kita lihat.

 

Salah satu cara untuk memperbaiki keadaan adalah dengan merobah keadaan demokrasi dan politik di Indonesia. Kalau NKRI ini dipertahankan, akan banyak lagi darah yang tertumpah dan nyawa yang akan hilang, dan akan semakin dekat pula NKRI itu kepada kematian; ya angka 17 itu.

 

Cara memperbaki keadaan yang jitu adalah dengan mengembalikan hak semua bangsa di nusantara ini kepada sistem Republik Indonesia Serikat, sebagaimana yang disepakati dan disetujui dalam Konferensi Meja Bundar, sekalipun sebenarnya Acheh tidak tercakup dan tidak terikat secara hukum dan politik kedalam keputusan Konferensi Meja Bundar tersebut. Entahlah kalau dengan keseriusan Pemerintah SBY dan Yusuf Kalla dalam menepati dan menghormati MoU dengan GAM akan memungkinkan Indonesia keluar dari jalur yang akan mengantarkannya kepada kehancuran.

 

TNI agaknya tidak menyadari kekeliruannya; sudah selama 60 tahun memaksakan NKRI itu dengan pembunuhan, intimidasi berdarah dan penyiksaan, apa hasilnya untuk NKRI? Bukankah keadaannya sudah semakin terpuruk?

 

Sekarang kedaulatan Indonesia sebagai sebuah bangsa sudah mulai hilang pupus bersama hapusnya kekuasaan pemerintah keatas sumber-sumber negara yang sekarang ini telah dijual kepada pihak asing; secara ekonomi kedaulatan Indonesia itu telah tidak ada lagi. Sayang ....!

 

Wallaahu a'lam

 

Nurdin Abdul Rahman

 

ndin_armadaputra2002@yahoo.com

Sydney, New South Wales, Australia

----------