Stockholm, 1 September 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SAPRUDIN ACUNGKAN BUDI UTOMO DENGAN BENDERA JAVA VOORUIT-NYA UNTUK PEGANG NKRI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SURYA PASAI SAPRUDIN GUNA PERTAHANKAN NKRI MAJUKAN LAMBANG BENDERA JAVA VOORUIT-NYA

 

"Konsep satu negara kesatuan Indonesia dalam batas-batas wilayah apa yang waktu itu masih disebut Hindia Belanda itu diajukan pada satu pertemuan atau upacara resmi untuk pertama kalinya pada perayaan HUT ke-10 Budi Utomo pada tahun 1918, dalam makalah Suwardi Suryaningrat yang belakangan lebih dikenal dengan nama perjuangan Ki Hajar Dewantara (pendiri persekolahan Taman Siswa). Pernyataan in adalah hasil 10 tahun pengalaman pergerakan Budi Utomo, yang mulai dengan pemajuan kebudayaan Jawa, dan lambat laun bertatapan dengan kenyataan yang menunjukkan, bahwa keselamatan sukubangsa Jawa tidak terpisahkan dari keselamatan segenap sukubangsa yang terkumpul dalam wilayah Hindia Belanda. Oleh karena itu, disimpulkannya bahwa perjuangan orang Jawa tidak boleh pisah dari perjuangan sukubangsa lain, melainkan harus melebur bersama yang lain itu dalam satu perjuangan bersama orang Indonesia." (SP Saprudin, im_surya_1998@yahoo.co.id , Thu, 1 Sep 2005 10:00:51 +0700 (ICT))

 

Baiklah saudara Surya Pasai Saprudin di Jakarta, Indonesia.

 

Saprudin masih mencoba mengkutak-katik untuk mempertahankan kelompok unitaris Jawa Soekarno. Dimana ia mencoba menyodorkan gerakan Budi Utomo yang didirikan pada tanggal 2 Mei 1908 di Jakarta. Tokoh utamanya dari gerakan Budi Utomo adalah Wahidin Sudirohusodo, yang dilanjutkan dan dikembangkan oleh Sutomo.

 

Azas dan tujuan dari organisasi Budi Utomo ini adalah salah satunya meningkatkan derajat hidup bangsa Jawa, Madura dan Sunda. Dengan semboyannya yang dinamakan Java Vooruit atau memajukan nusa Jawa. Dan anggota-anggotanya berasal dari bangsa Jawa, Madura dan Sunda.

 

Kalau melihat dari apa yang dikembangkan dalam organisasi Budi Utomo ini jelas kelihatan bahwa Wahidin Sudirohusodo maupun Sutomo menekankan kepada memajukan Jawa, dimana jawa yang dimajukan.

 

Dimana dalam pertumbuhan Budi Utomo selanjutnya dipengaruhi oleh Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara bersama Douwes Deker alias Setiabudi dan Cipto Mangunkusumo. Orang bertiga ini pada tahun 1911 mendirikan Indische Partij atau Partai Hindia yang mendasarkan kepada ideologi nasionalisme. Anggota Partai Hindia ini terbuka untuk siapa saja dengan didasari semangat nasionalisme yang didasari oleh semangat kesadaran nasional.

 

Nah, ternyata apa yang dijadikan konsepsi oleh Saprudin tentang de-jure dan de-facto NKRI yang didasarkan kepada gerakan Budi Utomo dengan Wahidin Sudirohusodo, Sutomo, dan dipengaruhi oleh tiga sekawan Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara, Douwes Deker alias Setiabudi dan Cipto Mangunkusumo, itu semuanya hanya bermuara kepada semangat kesadaran nasionalisme yang pada awalnya untuk memajukan jawa.

 

Jadi, bagaimana bisa gerakan Budi Utomo dijadikan sebagai argumentasi tentang de-jure dan de-facto NKRI, sedangkan yang diperjuangkan mereka adalah Jawa-nya dan dikocek pakai ideologi nasionalisme-nya.

 

Dan memang terbukti, bahwa  dalam de-facto dan de-jure-nya itu yang dinamakan RI dibawah Soekarno dengan kelompok unitaris Jawa-nya setelah mereka mendapat kesempatan untuk tampil digelanggang kehidupan antara negara, ternyata itu Soekarno dengan kelompok unitaris Jawa-nya telah melakukan tindakan ekspansi politik-nya untuk menelan Negara-Negara dan Daerah-Daerah yang ada diluar de-facto dan de-jure RI.

 

Memang itu Kelompok Unitaris Jawa dengan semangat nasionalisme Jawa-nya itu dalam perkembangan selanjutnya melalui RI-Jawa-Yogya melakukan tindakan taktik dan strategi politik perluasan wilayah melalui penelanan dan penganeksasian wilayah-wilayah yang masih berada diluar de-facto dan de-jure RI-Jawa-Yogya.

 

Karena itu yang benar tentang terbentuknya RI-Jawa-Yogya yang menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950, itu bukan merupakan suatu kesadaran nasional, melainkan karena adanya ekspansi politik yang dijalankan oleh Soekarno dengan kelompok unitaris jawa-nya dengan memakai kendaraan RI-Jawa-Yogya dalam bangunan Republik Indonesia Serikat yang telah diserahi dan diakui kedaulatannya oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

 

Tanpa mempergunakan sebutir peluru, itu Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya telah melahap Negara-Negara dan Daerah-Daerah Bagian RIS ditambah Acheh dan Maluku Selatan selama periode 27 Desember 1949 sampai 14 Agustus 1950.

 

Pelahapan atau penelanan dan penganeksasian Negara-Negara dan Daerah-Daerah Bagian RIS ditambah Acheh dan Maluku Selatan ini merupakan taktik dan strategi politik Soekarno dengan kelompok unitaris Jawa-nya untuk menghancurkan kelompok federalis guna berdirinya nasionalisme Jawa sebagaimana yang dikembangkan oleh gerakan Budi Utomo dengan Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo.

 

Jadi omong kosong kalau itu Saprudin menyatakan de jure dan de facto NKRI didasarkan kepada gerakan Budi Utomo.

 

Justru yang benar adalah de-jure dan de-facto NKRI adalah terjadi pada tanggal 15 Agustus 1950, setelah RI-Jawa-Yogya menelan 15 Negara dan Daerah Bagian RIS ditambah Acheh dan Maluku Selatan yang menjelma menjadi NKRI.

 

Jadi NKRI secara de-jure dan de-facto muncul pada tanggal 15 Agustus 1950, hasil dari jelmaan RI-Jawa-Yogya yang telah kekenyangan menelan 15 Negara dan Daerah Bagian RIS ditambah Acheh dan Maluku Selatan.

 

Terakhir, itu Saprudin masih juga menyinggung ikrar sumpah pemuda 28 Oktober 1928 yang dipengaruhi oleh kelompok nasionalis seperti Soekarno, Tjipto Mangoenkusumo, Ishaq Tjokrohadisoerjo, Sartono, Budiardjo, Sunarjo, dan Anwar dengan PNI-nya.

 

Itu jelas Soekarno dengan kelompok unitaris Jawa-nya dan memakai kendaraan PNI ingin menerapkan kebijaksanaan politik unitarisme-nya. Artinya semua wilayah yang ada diluar wilayah PNI harus dapat dipengaruhi dan digenggam dalam wadah nasionalisme-nya. Begitu juga setelah RI diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, itu kebijaksanaan politik unitarisme-jawa-nya terus dijalankan. Dan tebukti, dengan dilahap dan disantoknya Negara-Negara dan Daerah-Daerah termasuk juga Acheh dan Maluku Selatan yang berada diluar wilayah de-facto dan de-jure RI atau RI-Jawa-Yogya.

 

Nah, itu konsepsi politik sumpah pemuda 28 Oktober 1928 adalah hasil kerja kelompok unitaris Jawa dibawah Soekarno cs dengan PNI-nya untuk dijadikan sebagai alat politis guna menjerat dan menyantok wilayah-wilayah yang ada diluar wilayah PNI atau wilayah RI setelah RI diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

 

Jadi Saprudin, kalian memang dalam realitanya tidak mempunyai lagi alasan yang kuat untuk terus dipakai mempertahankan kelompok unitaris Jawa Soekarno dengan RI-Jawa-Yogyanya yang menjelma menjadi NKRI.

 

Saprudin, kalian itu hanyalah pengembek saja yang tidak tau arah dan tujuan.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Thu, 1 Sep 2005 10:00:51 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin im_surya_1998@yahoo.co.id

Subject: Balasan: ACEH, MALUKU DAN IRIAN JAYA (PAPUA) 100% TERMASUK NKRI

To: warwick aceh <universityofwarwick@yahoo.co.uk>, muba zir <mbzr00@yahoo.com>, Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK ahmad@dataphone.se

 

Assalamualaikum wr. wb.

Warwick dongo, tolol dan idiot dan goblok !!! Kalau gak becus adu argumentasi gak usah nyanyi, sebab nyanyianmu sangat tidak beraturan nadanya. Musik dan nyanyian tidak harmonis, tidak sinkron dan menambah telingaku jadi budhek, berisik tahu !!!

 

Kamu ngaku orang Aceh, tapi goblok gak ngerti sejarah Aceh, ngaku tinggal di U.K. tapi otakmu kayak udang tua yang ngumpet di balik batu. Pakai otak yang jangan pakai dengkul kalau ngomong !!!

 

Apapun komentar kamu dengan asumsi-asumi negatif terhadap NKRI, bagi saya NRKI adalah final. Adapun ada gejolak di Aceh, Maluku dan Papua itu merupakan hal yang wajar dari sikap spontanitas rasa tidak puas masyarakat.

 

Saya jelaskan dan ulangi kemabli masalah de jure dan de facto NKRI.

 

Konsep satu negara kesatuan Indonesia dalam batas-batas wilayah apa yang waktu itu masih disebut Hindia Belanda itu diajukan pada satu pertemuan atau upacara resmi untuk pertama kalinya pada perayaan HUT ke-10 Budi Utomo pada tahun 1918, dalam makalah Suwardi Suryaningrat yang belakangan lebih dikenal dengan nama perjuangan Ki Hajar Dewantara (pendiri persekolahan Taman Siswa). Pernyataan in adalah hasil 10 tahun pengalaman pergerakan Budi Utomo, yang mulai dengan pemajuan kebudayaan Jawa, dan lambat laun bertatapan dengan kenyataan yang menunjukkan, bahwa keselamatan sukubangsa Jawa tidak terpisahkan dari keselamatan segenap sukubangsa yang terkumpul dalam wilayah Hindia Belanda. Oleh karena itu, disimpulkannya bahwa perjuangan orang Jawa tidak boleh pisah dari perjuangan sukubangsa lain, melainkan harus melebur bersama yang lain itu dalam satu perjuangan bersama orang Indonesia.

 

Het is de liefde voor ons aller vereenigd vaderland, dat nu nog Nederlandsch-Indie heet. Het Indisch nationalisme is het wachtwoord in onze broederschap. Schouder aan schouder staan de Sumatranen, de Minahassers, de Amboineezen, de Javanen en alle andere overheerschte groepen van Indonesie, bereid en gereed tot den strijd voor ons gemeenschappelijk welzijn, voor ons allen ideaal

 

(Adalah rasa cinta akan tanahair bersatu kita semua, yang sementara masih bernama Hindia Belanda. Nasionalisme Hindiawi adalah semboyannya dalam persaudaraan kita. Bahu-membahu berdirilah orang Sumatra, orang Minahasa, orang Ambon, orang Jawa dan semua golongan-golongan Indonesia lainnya yang terjajah itu siap sedialah untuk memperjuangkan keselamatan kita bersama, demi idam-idam kita semua.)

 

Tujuan perjuangan itu dinyatakannya haruslah satu negara Indonesia kesatuan (Indonesische Staatseenheid; hlm 47) yang tidak berdasarkan ras atau sukubangsa tertentu, bahkan juga bukan asal pribumi, melainkan juga menurutsertakan orang peranakan asing di Indonesia yang suka menjadi warganegerinya. Pada hlm. 48 kita baca:

 

... Indischen staat, waartoe zullen behooren allen, die het Indische geboorteland als hun vaderland erkennen en al de vreemdelingen, die zich als Indonesiers zullen laten naturaliseeren."

 

(... negara Hindiawi, dimana akan termasuk semua orang yang mengaku tanah kelahiran Hindiawi ini sebagai tanahairnya, dan semua orang asing yang rela untuk dinaturalisasi sebagai orang Indonesia)

 

Artinya, pengertian "orang Indonesia" ini jelas bukan warga sukubangsa, atau ras, atau lain lagi, melainkan warga negara Indonesia yang multi-etnik.

 

Pewujudan Kesatuan Indonesia dalam Perkembangan Real

 

Konsep negara kesatuan Indonesia yang berdasarkan kerukunan bersama bahu-membahu satu sama lain daripada segenap aneka sukubangsa di wilayah Hindia Belanda dalam periode dasawarsa berikutnya mendapat sambutan dan persetujuan yang makin meluas di pelbagai golongan di antara sukubangsa-sukubangsa dan peranakan-peranakan di negeri itu. Maka, pada Kongres Pemuda yang Kedua pada tahun 1927, wakil-wakil organisasi-organisasi pemuda dari seluruh Indonesia (termasuk wakil-wakil Jong Ambon) menghasilkan resolusi bersuara aklamasi yang dikenal dalam sejarah Indonesia dengan nama "Sumpah Pemuda". Artinya, anak-anak negeri muda dari seluruh "Nederlandsch-Indie" yang waktu itu sudah berorganisasi, tak pandang asal sukubangsa atau peranakan, sudah dengan gairah entusias menerima gagasan Suwandi Suryaningrat/Ki Hajar Dewantara tentang Indonesia kesatuan, sekurang-kurangnya sebagai tujuan idiel. Dan ini bukan dengan paksaan polisi atau propaganda negara, melainkan justru sebaliknya, administrasi kolonial waktu itu bisa kita mengerti sangat tidak senang dengan sikap pemuda ini.

 

Dalam dasawarsa berikut lagi, gagasan idiel satu kebangsaan nasional se-Indonesia ini makin mengongkrit dalam tekad kesediaan anak negeri seluruh wilayah Hindia Belanda untuk membelanya, kalau perlu bahkan dengan senjata. Tekad bulat ini mengalami perumusan resmi pada tahun 1939, pada Kongres Rakyat Indonesia di Betawi (Jakarta), yang berkumpul berkenaan dengan ancaman bahaya Perang Dunia II, dimana ada kemungkinan negerinya bisa diserang oleh Jepang. Kongres itu, dimana turut serta wakil-wakil praktis semua partai dan organisasi masyarakat, yang dari sayap "koperasi" maupun dari sayap "non-koperasi", yang pribumi maupun yang peranakan asing, yang Islam maupun yang Kristen, dari segenap pelosok negeri yang penduduknya waktu itu sudah berorganisasi masyarakat atau berpartai politik, merupakan majelis atau perwakilan rakyat seluruh wilayah "Nederlandsch-Indie" yang paling lengkap dan paling representatif dari segala-galanya yang pernah berkumpul dalam seluruh sejarah kolonial negeri ini. Kongres Rakyat Indonesia 1939 ini melahirkan satu resolusi yang diterima secara bulat, yaitu menawarkan kepada pemerintah Nederland bahwa partai-partai dan organisasi-organisasi ini menyanggupkan untuk memobilisasi seluruh pendududuk negeri untuk bangkit membela wilayah Hindia Belanda kalau diserang oleh Jepang. Sebagai gantinya, resolusi Kongres itu hanya mengajukan satu syarat, yaitu pengakuan hak bagi rakyat Indonesia untuk mendirikan satu Parlemen yang dipilih secara demokratis, dibawah naungan Ratu Nederlan. Sayang sekali, tawaran ikhlas rakyat Indonesia ini waktu itu ditolak oleh pemerintah Nederlan. Maka waktu Hindia Belanda kemudian benar-benar diserang Jepang, walaupun dibela mati-matian oleh pasukan-pasukan pribumi dalam KNIL, tapi apa daya, dalam waktu dua minggu saja selesai, dan seluruh wilayah itu diserahkan oleh Gubernur Jendral kepada Jepang tanpa syarat. Bayangkanlah, bagaimana bisa lainnya sejarah Perang Dunia II, sekiranya rakyat Indonesia yang waktu itu dari Sabang sampai Merauke lebih dari 60 juta tidak ditolak tawarannya untuk turut perang pada pihak Sekutu!

 

Silahkan kamu melihat sendiri, konsep kesatuan Indonesia dalam batas-batas wilayah bekas Hindia Belanda ini bukan sesuatu yang dipaksakan dengan bayonet atau ancaman penjara yang istilah orang Aceh model kamu mengatakan orang ”Jawa Budhek” bukan satu ide Bung Karno waktu akan memproklamasikan kemerdekaan, melainkan timbul dan merajalela dalam penduduk seluruh nusantara yang sudah turut dalam penghidupan politik dan sosial modern secara spontan dan sukarela, dan mencerminkan benar aspirasi penduduk, dan menjelang Perang Dunia II sudah sedemikian maju taraf konsolidasinya, sehingga bisa berbicara dengan satu suara dalam menghadapi satu krisis internasional. Dalam hal itu, orang Jawa sendiri bukan yang paling depan dalam memperjuangkan kesatuan Indonesia ini. Pada masa mula, di kalangan organisasi pemuda Jong Java, dan juga dalam organisasi-organisasi orang Jawa lainnya, masih lama sekali dipersoalkan apakah harus menomorsatukan kepribadian Jawanya dulu, ataukah meleburkan diri dalam satu Indonesia kesatuan.

 

Wassalamualaikum wr. Wb.

 

Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------