Struer, 2 September 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


KLARIFIKASI KEPADA OMAR PUTEH

Yusra Habib Abdul Gani

Struer - DENMARK.

 

 

KLARIFIKASI ATAS TULISAN SDR OMAR PUTEH "M.DAUD @ DAUD PANEUK ORANG YANG PERTAMA ENGKAR SUMPAH-JANJI"

 

Saya ingin menyampaikan klarifikasi atas tulisan Sdr. Omar Putéh berjudul "M.Daud @  Daud Paneuk..........". Apa yang dipaparkan Sdr Omar Putéh sebenarnya tidak relevan dengan kondisi yang tengah begulir di Acheh. Kini, bangsa Acheh sedang berjalan di atas duri yang tajam dan menapaki bukit curam dan terjal. Akan selamat atau terjungkal.? Issu yang dipaparkan hanya memancing rasa permusuhan sesama orang Acheh, apalagi tokoh yang disodorkan sudah tiada. Malangnya nama Yusra Habib telah diseret dalam hikayat itu. Perjalanan hidup yang Yusra geluti dalam GAM biarlah menjadi kenyataan sebagai saksi yang tegak berdiri. Satu saat nanti Sejarah akan mengadilinya. Sebab Sejarah adalah Mahkamah yang paling adil dan jujur mengadili tingkah laku manusia.

 

Omar Putéh bukan saja kali ini, melainkan beberapa kali dalam millis Ahmad Sudirman telah "menjahitkan pakaian" buat saya dengan beraneka ragam ukuran. Tetapi percayalah, Yusra Habib  tidak akan nampak mentreng dengan memakai "jahitan" made in Stavanger. Yusra Habib tidak akan menjadi orang besar dengan memakai "jahitan" Sdr. Omar Putéh itu. Orang ramai menilai Yusra Habib , nampak seperti Badut jika memakai pakaian "jahitan" Omar Putéh. Saya tak mau seperti dan menjadi Badut

 

Bicara soal Pengkhianat dan Orang Setia sangat sensitif, apalagi, filsafah Humanism dan Existentialism memandang Pengkhianat dan Orang Setia sebangun dalam setiga sama kaki. Keduanya dekat dan bersinggungan. Mereka bisa memakai kain sarung yang sama. bergerak menurut kemauan sipelakon. Misalnya, kemaren kita bersumpah (bai'ah) atas nama Allah bahwa Acheh adalah tanah pusaka milik bangsa Acheh yang wajib dipertahankan dengan harta, darah, air mata dan nyawa. Indonesia adalah penjajah yang telah merampas tanah pusaka itu. Tetapi hari ini, atas nama Allah pula, "kita" berjanji di depan mata masyarakat Internasional bahwa Acheh adalah bagian dari NKRI. Yang bersepakat antara GAM-RI untuk mewujudkan demokrasi yang adil dan jujur akan dilaksanakan di Acheh dalam wadah NKRI.  Kemaren kita bersumpah (bai'ah) bahwa Acheh memiliki Konstitusi dan dengan Konstitusi Negara Acheh, dijalankan roda pemerintahan PNA di dalam dan di luar negeri. Tetapi, hari ini "kita" berjanji bahwa Konstitusi Indonesia berlaku di Acheh. Yang berarti, dari sudut Ilmu Pemerintahan,  ACHEH secara yuridis tunduk kepada Konstitusi Indonesia. Kemaren kita memperlihatkan kepada bangsa Acheh dan kepada dunia Internasional, bahwa batas wilayah negara Acheh sebagaiamana tertera pada PETA yang dibuat oleh Inggeris tahun 1883 dan 1890. Wilayah territorial negara Acheh inilah yang Belanda ancam supaya diserahkan, dalam Ultimatum Belanda kepada Sultan Acheh, 26 Maret 1873. Atas dasar itu, kita bisa menuntut pengakuan Dunia Internasional. Tetapi hari ini "kita" telah menyerah dan mengakui bahwa batas wilayah Acheh adalah yang disebut dalam UU No. 24 tahun 1956. Penjajah Indonesia telah mematok wilayah kedaulatan Acheh (baca: pasal i ayat 4 MoU Acheh-RI). Lantas siapa "kita" Sdr Omar Putéh? Pembela Acheh atau Pengkhianat Negara Acheh?

 

Saya katakan ini, sebab Omar Putéh adalah salah seorang juru penerang -pembina aqidah- perjuangan Ideologi Acheh Merdeka, kini kabarnya Omar Putéh telah berubah profesi menjadi pembina aqidah self government di Stavanger.

 

Saya yakin, mulai tgl 15 Agustus 2005, sejarah Acheh sudah memulai mengumpulkan bahan-bahan atas perubahan prilaku Omar Putéh yang rela tidak rela akan diadili oleh Sejarah Acheh. Omar Putéh mungkin bisa membantu team penyidik Sejarah Acheh mengumpulkan data: berapa orang anggota TNA dan rakyat Acheh yang sudah memilih mati syahid, karena yakin dari materi cermah Omar Putéh di Kuala Lumpur? Dan berapa orang yang sebelumnya di"cap" pengkhianat oleh Omar Putéh, kini menjadi sahabat kental Sdr. Omar Putéh?

 

Teruskan permainkan sdr. sebagai tukang sirkus politik, yang seketika bisa mengeluarkan burung merpati dari kantong, dan seketika lain mengeluarkan dodol Garut dari tangan Omar Putéh.  Semua orang terpukau dengan lakon pemain sirkus politik Acheh, termasuk Omar Putéh tentunya. Biarlah Yusra  Habib merasakan bagaimana nikmatnya rasa kesendiran, asalkan tidak termasuk dalam kelas pengkhianat massal.

 

Yusra Habib Abdul Gani

 

ari_linge@yahoo.dk

Struer, Vestsjalland, Denmark

----------