Stockholm, 3 September 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


RYAMIZARD RYACUDU JENDERAL-NYA MBAK MEGA SUDAH KEDODORAN DAN MASUK KOTAK MENANGIS MELIHAT ACHEH

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

MANTAN KSAD JENDERAL TNI RYAMIZARD RYACUDU JENDERAL-NYA MBAK MEGA SUDAH KEDODORAN DAN MASUK KOTAK MENANGIS MELIHAT ACHEH

 

"Untuk menjadi sebuah negara merdeka, Aceh dan Papua hanya tinggal deklarasi dan pengakuan internasional saja. Karena itu masalah ini harus kita sikapi dan kita renungkan dengan serius demi kecintaan kita terhadap NKRI. Sebuah wilayah yang ingin menjadi sebuah negara merdeka, harus memenuhi sejumlah persyaratan. Misalnya pemerintahan, wilayah, tentara, bendera, lagu kebangsaan dan pengakuan internasional. Sebagian syarat itu sudah dimiliki oleh Aceh dan Papua. Hanya tinggal deklarasi dan pengakuan internasional saja yang belum. Di Aceh sekarang dalam proses pelaksanaan dari MoU perdamaian. Negara dalam negara hukumnya adalah haram. Sementara di Papua negara asing ikut campur agar Papua menjadi merdeka. Kalau ini dibiarkan berlarut-larut, Papua pasti merdeka. Jika itu betul-betul terjadi, maka cikal bakalnya NKRI pecah semakin nyata. NKRI sebagai sebuah meja. Saat ini empat kaki yang menopangnya sedang goyah. Keempat kaki yang menopang itu adalah politik, budaya, ekonomi dan TNI. Pilar politik nasional pada saat ini, sangat kuat oleh intervensi asing. Demikian pula ekonomi yang sangat tergantung dengan luar negeri dan pilar budaya saat ini tidak jelas. Sementara TNI secara sistematis terus dihancurkan. Saat sekarang ini sedang terjadi perang modern yang secara tidak langsung mengedepankan kekuatan senjata. Perang modern melalui proses infiltrasi intelejen, pendidikan, ekonomi, ideology, politik dan sebagainya yang buntutnya akan melemahkan serta menguasai negara yang menjadi sasaran" (mantan KSAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, kampus UGM, Yogyakarta, Sabtu, 27 Agustus 2005)

 

Mantan KSAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang mulutnya bercuap terus mulai menyadari bahwa TNI memang sudah kehilangan daya kekuatan tenaga dalam politiknya dan giginya sudah ompong, serta sudah tidak berkutik untuk terus melakukan pembelaan pancasila dan burung garuda pancasilanya di Acheh.

 

Memang TNI bisa dilumpuhkan bukan dengan senjata, tetapi dengan mempergunakan kecanggihan taktik dan strategi pemikiran, sehingga itu pasukan dan para Jenderal TNI yang otaknya sudah dipenuhi racun-racun sampah pancasila hasil kutak-katik mbah Soekarno penipu licik akan dengan mudah dibuyarkan dengan kekuatan taktik dan strategi pemikiran. Kekuatan yang tanpa kelihatan oleh mata dan tidak bisa dihancurkan dengan kekuatan senjata SS-1 dan SS-2 made in Pindad Bandung.

 

Dan kekuatan taktik dan strategi pemikiran inilah yang justru ditakuti oleh Mantan KSAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu jenderal-nya mbak Mega yang suka menipu pakai cairan uraian air mata buaya-nya didepan bangsa Acheh di Banda Acheh.

 

Faktor yang menjadikan benteng pertahanan TNI lumpuh adalah karena dasar dan pundamentasi yang dijadikan pijakan berdirirnya NKRI sangat lemah dan keropos. Hal ini disebabkan oleh kebijakan politik ekspansi yang dilakukan oleh kelompok unitaris jawa Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya dalam bentuk penelanan Negara-Negara dan Daerah-Daerah yang ada diluar wilayah de-facto dan de-jure RI-Jawa-Yogya yang ada dalam naungan Negara Federasi Republik Indonesia Serikat, juga pencaplokan Negeri Acheh,  Maluku Selatan dan Papua Barat.

 

Nah, faktor inilah yang tidak dipahami dan tidak dimengerti oleh Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu orang Palembang yang hidungnya sudah bisa ditarik oleh mbak Mega.

 

TNI dan para Jenderalnya yang dari sejak Soekarno sudah dijadikan alat untuk menjerat dan menduduki wilayah-wilayah yang ada di luar de-facto dan de-jure RI-Jawa-Yogya memang sudah tidak bisa lagi berpikir jernih dan jujur lagi. Dimana dalam otak-otak para jenderal TNI yang benar adalah kelompok unitaris, dan kelompok federalis harus dihancurkan.

 

Karena itu wajar dan masuk akal mengapa itu jenderal TNI Ryamizard Ryacudu seperti cacing kepanasan ketika berbicara di Universitas Gajah Mada tentang keadaan kelompok unitaris Jawa Soekarno dan NKRI-nya yang merupakan jelmaan dari RI-Jawa-Yogya yang telah menelan 15 Negara/Daerah bagian RIS ditambah dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat, sekarang sudah bergoyang hampir runtuh tiang bangunan RI-Jawa-Yogya-nya yang menjelma NKRI made in Soekarno penipu licik ini.

 

Tiang-tiang bangunan NKRI yang diambil dari tiang-tiang Negara-Negara dan Daerah-Daerah Bagian RIS, Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat, jelas tidak akan bertahan lama. Karena memang semen yang dipakainya adalah sangat lemah terbuat dari campuran pasir hitam butiran-butiran pancasila dan tali kawat bhineka tunggal ika-nya mpu Tantular hindu Majapahitnya.

 

Dan bagaimana bisa kuat itu pasir hitam butiran-butiran pancasila dan tali kawat bhineka tunggal ika-nya mpu Tantular hindu Majapahitnya diacungkan sebagai tali ikatan budaya. Itu orang yang memakai ikatan budaya yang terbuat dari  pasir hitam butiran-butiran pancasila dan tali kawat bhineka tunggal ika-nya mpu Tantular hindu Majapahitnya adalah orang yang otaknya sudah kosong, contohnya Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

 

Kemudian kalau itu Ryamizard Ryacudu menuduh adanya intervensi asing dalam masalah ekonomi dan politik memang benar. Karena itu yang namanya APBN dari sejak Soeharto pegang kekuasaan sudah diatur dan dikontrol oleh negara-negara donor. Lihat saja setiap tahunnya untuk menutupi defisit APBN itu dipakai bantuan berupa hutang luar negeri yang diperoleh dari negara-negera donor, termasuk Swedia didalamnya.

 

Jadi, memang yang namanya RI-Jawa-Yogya dengan hidungnya yang berbentuk ekonomi sudah ditarik oleh negara-negara donor, yang sekarang dipanggil dengan nama Consultative Group for Indonesia (CGI) dan Paris Club.

 

Dan masalah beban hutang luar negeri, pelanggaran HAM baik di Acheh, Maluku Selatan, Papua Barat ataupun didaerah lainnya, korupsi, dan TNI adalah merupakan faktor yang mendasari dikucurkannya bantuan dari negara-negara donor yang tergabung dalam Consultative Group for Indonesia (CGI) dan Paris Club kepada RI.

 

Dan tentu saja, pihak TNI kalau mau hidup terus, mau tidak mau harus tunduk dan patuh kepada negara-negara donor yang tergabung dalam Consultative Group for Indonesia (CGI) dan Paris Club. Karena kalau tidak, maka jangan harap itu anggaran untuk TNI akan bisa dipenuhi. Anggaran untuk TNI dinaikkan, dananya diambil dari sumber dalam negeri, tetapi untuk menutup defisitnya diambil dari dana bantuan luar negeri yang berupa hutang dari negara-negara donor yang tergabung dalam Consultative Group for Indonesia (CGI) dan Paris Club termasuk Swedia didalamnya.

 

Jadi Jenderal Ryamizard Ryacudu tidak perlulah banyak bercuap lagi, lebih baik tenang saja dalam rangka menghadapi hari pensiun duduk dikebun di kota Palembang, jangan terus saja bergabung dengan orang-orang jawa model mbak Mega. Biarkan bangsa Acheh, bangsa Maluku Selatan dan bangsa Papua Barat untuk menentukan nasib mereka sendiri. Dan itu NKRI yang jelmaan RI-Jawa-Yogya sudah menghadapi hari akhir-nya sebagai hasil kerja kelompok unitaris jawa Soekarno. Dan yang akan muncul kelompok federalis dengan bentuk negara federasinya yang dulu dihancurkan mbah Soekarno, dan sekarang akan bangkit kembali.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Usaha Diplomasi

Ryamizard : Aceh Dan Papua Berpontensi Lepas Dari NKRI

By Penulis: agus utantoro (MIOL)

Aug 31, 2005, 13:15

 

YOGYAKARTA--MIOL: Aceh dan Papua memiliki potensi untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik Indones (NKRI). Pasalnya, saat ini beberapa persyaratan untuk menjadi sebuah negara telah dimiliki oleh kedua daerah tersebut.

 

Hal itu disampaikan mantan KSAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu di Yogyakarta, Sabtu (27/08). "Untuk menjadi sebuah negara merdeka, Aceh dan Papua hanya tinggal deklarasi dan pengakuan internasional saja. Karena itu masalah ini harus kita sikapi dan kita renungkan dengan serius demi kecintaan kita terhadap NKRI," katanya.

 

Di depan peserta sarasehan terbatas 60 tahun Indonesia Merdeka di kampus UGM itu, Ryamizard mengemukakan sebuah wilayah yang ingin menjadi sebuah negara merdeka, harus memenuhi sejumlah persyaratan. Misalnya pemerintahan, wilayah, tentara, bendera, lagu kebangsaan dan pengakuan internasional.

 

"Sebagian syarat itu sudah dimiliki oleh Aceh dan Papua. Hanya tinggal deklarasi dan pengakuan internasional saja yang belum," tambahnya.

 

Menurut dia, di Aceh sekarang dalam proses pelaksanaan dari MoU perdamaian. Dijelaskan, perdamaian memang harus tercipta tetapi harus dalam bingkai NKRI. "Negara dalam negara hukumnya adalah haram. Sementara di Papua negara asing ikut campur agar Papua menjadi merdeka. Kalau ini dibiarkan berlarut-larut, Papua pasti merdeka," katanya.

 

Menurut dia, jika kelak Papua dan Aceh merdeka atau lepas dari NKRI, bisa dipastikan daerah-daerah lainnya juga akan menuntut untuk merdeka. "Jika itu betul-betul terjadi, maka cikal bakalnya NKRI pecah semakin nyata," tegasnya.

 

Menurut dia, hal itu akan menyebabkan terjadinya perang saudara, pembersihan etnis dan pembunuhan massal serta pelanggaran HAM berat lainnya seperti yang terjadi di Rwanda, Somalia dan sebagainya.

 

Lebih jauh, ia mengibaratkan NKRI sebagai sebuah meja. Saat ini empat kaki yang menopangnya sedang goyah. Keempat kaki yang menopang itu adalah politik, budaya, ekonomi dan TNI. Pilar politik nasional pada saat ini, lanjutnya sangat kuat oleh intervensi asing. Demikian pula ekonomi yang sangat tergantung dengan luar negeri dan pilar budaya saat ini tidak jelas. "Sementara TNI secara sistematis terus dihancurkan," ujarnya.

 

Ryamizard juga mengingatkan, pada saat sekarang ini sedang terjadi perang modern yang secara tidak langsung mengedepankan kekuatan senjata. Perang modern, lanjutnya, melalui proses infiltrasi intelejen, pendidikan, ekonomi, ideology, politik dan sebagainya yang buntutnya akan melemahkan serta menguasai negara yang menjadi sasaran.

 

Hal itu, ujarnya bisa disaksikan di berbagai negara dan bukti terbaru adalah kondisi di Irak yang kondisi kehidupannya hancur total, dijadikan negara boneka dan selalu terjadi perang saudara.(AU/OL-06)

 

http://www.melanesianews.org/spm/publish/article_1074.shtml

Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

----------