Stockholm, 5 September 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SAPRUDIN COBA TERUS PERTAHANKAN KELOMPOK UNITARIS JAWA SOEKARNO KEROPOS

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

MASIH JUGA ITU SURYA PASAI SAPRUDIN MENCOBA TERUS PERTAHANKAN KELOMPOK UNITARIS JAWA SOEKARNO KEROPOS

 

"Si Mr.Ahmad ini bicara seolah-olah dirinya orang paling suci, orang paling benar, menguasai seluk beluk sejarah. Namun sebetulnya yang tergenggam ditangan Mr. Asudirman adalah bara api yang menyala-nyala yang siap disambitkan kepada keutuhan NKRI. Mr. Asu, bicara plebisit kemauan rakyat, baik di Aceh maupun di Irian Jaya (Papua) sudah terakomodir dalam kerangka NKRI. Adapun gejolak genderang perang yang dikumandangkan oleh GAM di Aceh dan OPM di Irian Jaya, itu merupkana bagian terkecil dari manusia-manusia kecoa yang yang sudah dirasuki dan telah terkontaminasi oleh faham-faham yang tidak jelas juntrungannya. Kalau kamu bicara masalah plebisit di muka bumi ini, kenapa kamu tidak angkat permasalahan Moro, Tibet, Suku Indian di Amerika, Kurdi dan Suku Aborigin. Kalau kamu konsisten untuk menegakkan kemerdekaan atau plebisit guna menentukan kemauan rakyat dimasing-masing wilayah tersebut. Sanggup kamu Mr. Asu ??? Gak usah bicara kentut, sebab semua yang ada di muka bumi ini adalah kentut semua."(SP Saprudin, im_surya_1998@yahoo.co.id , Mon, 5 Sep 2005 09:28:15 +0700 (ICT))

 

Baiklah saudara Surya Pasai Saprudin di Jakarta, Indonesia.

 

Saprudin, kalau Ahmad Sudirman membicarakan masalah kebijakan kelompok unitaris Jawa Soekarno dengan politik ekspansi RI-Jawa-Yogya-nya, itu bukan berarti Ahmad Sudirman menggenggam bara api yang menyala-nyala yang siap disambitkan kepada NKRI, melainkan itu merupakan cermin yang bisa dijadikan alat untuk memandang bagaimana sebenarnya wajah dan tubuh RI.Jawa-Yogya yang telah menelan 15 Negara/Daerah Bagian RIS ditambah Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat itu.

 

Kalau itu kelompok unitaris Jawa Soekarno mau melihat muka dan tubuh RI.-Jawa-Yogya yang sudah penuh dengan corengan dan kudisan akibat menelan dan mencaplok Acheh, Maluku Selatan dan Papua, maka cari jalan dan cara untuk menghilangkan corengan muka dan kudisan tubuh RI-Jawa-Yogya itu.

 

Bukan terus saja itu muka corengan dan tubuh kudisan RI-Jawa-Yogya dipupur dengan bedak gincu merah dan putih, yang dicampur dengan pasir-pasir hitam pancasila yang digilas dengan gilasan kaki-kaki burung garuda yang diikat dengan tali buhul bhineka tunggal ika hasil pintalan serat-serat sutasoma-nya mpu Tantular dari bawah kolong hindu majapahit.

 

Saprudin, jangan terus saja ikutan orang-orang kelompok unitaris jawa Soekarno seperti itu dari grup ondel-ondel Jawa-nya Abdurrahman Wahid dengan para keroconya seperti mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, mantan Wapres Try Sutrisno, anggota DPR/MPR dari Fraksi Partai Golkar Marwah Daud Ibrahim, Taufik Kiemas dari PDI-P, Hariman Siregar, Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar dari PKB, Ray Rangkuti, M Jumhur Hidayat dari LSM.

 

Itu grup ondel-ondel Jawa gaya Abdurrahman Wahid cs dengan pentungan sapu lidi Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu, yang berusaha membendung arus terjangan angin puyuh MoU yang kelihatan oleh mata mereka seperti gumpalan angin raksasa federalis yang ingin menelan dan melibas kelompok unitaris jawa Soekarno.

 

Dan itu Abdurrahman Wahid cs bagaikan singa ompong yang meraung-raung untuk menakut-nakuti daeng Kalla dan mbah Susilo Bambang Yudhoyono sambil mengacung-acungkan pentungan sapu lidi Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu-nya.

 

Kemudian, itu soal plebisit bagi bangsa Papua Barat merupakan salah satu cara yang terbaik bagi pemecahan Papua Barat. Bukan hanya memakai model pepera-nya mbah jenderal Soeharto budek jawa satu itu. Itu pepera gaya mbah jenderal Soeharto jawa budek adalah pepera akal bulus jawa dari kelompok unitaris jawa Soekarno. Makanya itu digugat itu pepera gaya mbah jenderal Soeharto jawa budek satu itu.

 

Selanjutnya bagi bangsa Acheh, bisa nanti terjadi plebisit di Acheh, setelah pemerintahan Acheh berdiri dan berjalan dengan didukung penuh oleh seluruh bangsa Acheh. Dan tentu saja itu tali buhul bhineka tunggal ika-nya mpu Tantular dari hindu majapahit tidak akan mampu lagi dipakai sebagai alat penjerat kaki dan tangan bangsa Acheh, karena sudah terbuka akibat hembusan kuat angin kencang tiupan keinginan seluruh bangsa Acheh untuk menentukan nasib sendiri melalui cara yang paling aman, damai, jujur dan adil, yaitu plebisit di Acheh.

 

Seterusnya, itu soal plebisit di Moro, Tibet, Indian di Amerika, Kurdi, Aborigin, itu mereka juga sedang berusaha kearah itu. Dan tentu saja hasilnya tergantung dari perjuangan mereka untuk menuju kearah penentuan nasib sendiri. Tanpa Ahmad Sudirman terlibat dengan mereka, toh mereka masih terus melakukan perjuangan untuk pembebasan negeri mereka dengan cara dan metode mereka.

 

Terakhir, itu soal kedudukan lembaga internasional PBB di New York bukan persoalan. Mengapa ? Karena lembaga PBB memiliki kekebalan politik dan hukum, tidak dibenarkan secara hukum dan politis itu negara adidaya Amerika menyerbu dengan militernya ke wilayah disekitar gedung PBB dan menghancurkannya. Jadi, walaupun itu PBB berada diwilayah kedaulatan Amerika, tetapi itu Amerika tidak punya hak untuk menghancurkan wilayah kedudukan PBB tersebut. Itu wilayah sekitar PBB merupakan wilayah internasional yang bebas bagi siapapun yang sudah terikat hukum dengan PBB. Tetapi kalau itu anggota-anggota PBB yang sudah ditarik hidungnya oleh negara-negara adidaya, memang masuk akal. Karena toh kenyataannya negara-negara dunia ke 3 tidak terlepas dari ikatan dan kontrol ekonomi, perdagangan, dan  politik negara-negara kaya. Apalagi itu negara-negara dunia ke 3 bercerai berai, bagaimana bisa mereka itu bangkit. Paling hidungnya terus diikat dengan lilitan hutang, seperti itu negara pancasila RI.

 

Jadi kalau mau menggugat, itu bukan kepada PBB, tetapi kepada itu negara-negara yang mendominasi DK PBB dengan hak vetonya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Mon, 5 Sep 2005 09:28:15 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin im_surya_1998@yahoo.co.id

Subject: Balasan: Asu Peu Kloe Kah !!!

To: muba zir <mbzr00@yahoo.com>, Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar alchaidar@yahoo.com

 

Ass. Wr. Wb.

 

Ha..ha..ha..ha..ha...(maaf saya tertawa). Si Mr. Ahmad ini bicara seolah-olah dirinya orang paling suci, orang paling benar, menguasai seluk beluk sejarah. Namun sebetulnya yang tergenggam ditangan Mr. Asudirman adalah bara api yang menyala-nyala yang siap disambitkan kepada keutuhan NKRI.

 

Mr. Asu, bicara plebisit kemauan rakyat, baik di Aceh maupun di Irian Jaya (Papua) sudah terakomodir dalam kerangka NKRI. Adapun gejolak genderang perang yang dikumandangkan oleh GAM di Aceh dan OPM di Irian Jaya, itu merupkana bagian terkecil dari manusia-manusia kecoa yang yang sudah dirasuki dan telah terkontaminasi oleh faham-faham yang tidak jelas juntrungannya.

 

Kalau kamu bicara masalah plebisit di muka bumi ini, kenapa kamu tidak angkat permasalahan Moro, Tibet, Suku Indian di Amerika, Kurdi dan Suku Aborigin. Kalau kamu konsisten untuk menegakkan kemerdekaan atau plebisit guna menentukan kemauan rakyat dimasing-masing wilayah tersebut. Sanggup kamu Mr. Asu ??? Gak usah bicara kentut, sebab semua yang ada di muka bumi ini adalah kentut semua.

 

Coba kamu gugat PBB

 

PBB sebagai organisasi dunia seharusnya kedudukan PBB itu berada di negara yang netral jauh dari pengaruh negara-negara adidaya, tapi kenyataannya PBB berada di negara adidaya. PBB sebagai organisasi dunia yang lahir ketika ummat manusia sudah lelah dari neraka peperangan yaitu PD II. Kalau kamu baca butir-butir piagam PBB yang menjelaskan konstelasi politik dan kekuatan, namun kenyataannya PBB itu tidak jauh beda dengan kambing dongo. Yang realitanya tidak mencerminkan kebangkitan negara-negara dunia ke III.

 

Kalau kamu hebat dan mempunyai kemampuan wawasan tentang menyuarakan plebisit tentang kemauan sesungguhnya rakyat suatu wilayah (negara), coba kamu gugat dulu PBB. Kalau kamu sanggup menggugat PBB, baru kamu bisa bicara.

 

Gak usah kentut terus !!!

 

Wassalam

 

Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------