Stockholm, 8 September 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


YUSUF DAUD MENCOBA BERKELIT DENGAN DISUSUL MAJUKAN JURUS MENEPUK AIR DI DULANG

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

KELIHATAN MBAH YUSUF DAUD MASIH BERUSAHA MENCOBA UNTUK BERKELIT DISUSUL DENGAN MENYODOKKAN JURUS MENEPUK AIR DI DULANG

 

"Kalau dilihat sepintas posting Ahmad Sudirman, dengan modus operandinya yang sangat cermat, memang kelihatan ia mati matian membela GAM tanpa memikirkan salah benar atau halal haram - yang penting bela 100%. Melihat  GAM hardline menghantam ethnic Jawa, Ahmad Sudirman pun tidak segan segan membombardir suku Jawa dalam hampir setiap tulisannya. Tidak heran kalau ada satu dua GAM hardline di Stavanger yang menganggap Ahmad Sudirman sebagai maha gurunya, sebagai referensi dalam perkara Aceh, dan tulisan tulisannya dianggap sebagai satu  Magnum Opus atau Nahyul Balaghah pegangan Syiah Imamah 12. Tetapi Alhamdulillah kebanyakan orang Aceh yang mempunyai access ke Internet dan keperogok dengan posting emailnya, menganggap Ahmad Sudirman itu tidak lebih dari sebuah bulldozer, yang tugasnya  hanya libas dan sikat saja." (Paya Bujok, bujok_paya@yahoo.com , 8 september 2005 00:26:31)

 

Baiklah saudara Yusuf Daud alias Paya Bujok di Fitja, Swedia.

 

Dengan gaya langkah jurus kelit, itu kelihatan mbah Yusuf Daud di centrum Fitja mencoba menunjukkan kepandaiannya hasil bertapa bertahun-tahun di gua centrum Fitja, guna dipakai menangkis angin puyuh yang datang menghembus kencang hasil tiupan Ahmad Sudirman di sekitar centrum Fitja.

 

Tetapi kalau diperhatikan langkah jurus kelit mbah Yusuf Daud dalam bentuk slow motion, terlihat langkah jurus kakinya saling bertabrakan satu dengan lainnya, yang diakibatkan oleh fungsi daya tahan dan daya analisa dalam otaknya terblokir hembusan angin puyuh yang dihembuskan Ahmad Sudirman. Sehingga ketika Ahmad Sudirman masih berdiri tegak disekitar centrum Fitja, itu kelihatan oleh mbah Yusuf Daud tubuh Ahmad Sudirman seperti lari-terbirit. Dan bukan itu saja, karena akibat fungsi otak yang mengatur penglihatan organ matanya terputus, maka mbah Yusuf Daud tidak bisa lagi melihat dan membaca semua yang pernah dilambungkan oleh Ahmad Sudirman di internet secara rapi dan teratur tanpa ada perubahan redaksinya sedikitpun terpampang dengan jelas di http://www.dataphone.se/~ahmad/opini.htm , selain ia hanya sanggup mengingau: "Tetapi Alhamdulillah kebanyakan orang Aceh yang mempunyai access ke Internet dan keperogok dengan posting emailnya, menganggap Ahmad Sudirman itu tidak lebih dari sebuah bulldozer, yang tugasnya  hanya libas dan sikat saja.".

 

Dan jelas, semua email Ahmad Sudirman yang berisikan semua hasil pembicaraan, diskusi, debat, analisa di mimbar bebas ini terpampang dengan jelas dan bisa dibaca oleh siapapun yang memiliki access ke intenet. Jadi, tidak ada istilah posting email yang disembunyikan. Semuanya terbuka, semuanya bisa dibaca, semuanya bisa dianalisa, semuanya bisa dibandingkan. Sehingga tidak ada alasan menyatakan bahwa "Ahmad Sudirman itu tidak lebih dari sebuah bulldozer, yang tugasnya  hanya libas dan sikat saja".

 

Apa yang dijelaskan dan diterangkan Ahmad Sudirman tentang jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat  secara jelas dan gamblang bisa diuji, dianalisa, dibandingkan, dan dibantah.

 

Ternyata disini mbah Yusuf Daud, yang memang ilmu hasil bertapa di gua centrum Fitja-nya masih belum sampai ke puncak nirwana, tetapi ia mau juga mencoba untuk menyerudukkan ilmu-nya itu kearah Ahmad Sudirman tentang Acheh dan RI, maka akhirnya belum apa-apa ia sudah terjungkir dipinggir jalan yang menuju ke centrum Fitja, sambil mulutnya kunyam-kunyem: "Paya Bujok akan menjawab sendiri pertanyaan diatas untuk Paya Bujok. Sebelum Paya Bujok menjawab pertanyaannya sendiri, Paya Bujok ingin menjelaskan kepada Ahmad Sudirman bagaimana Paya Bujok mengartikan damai di Aceh paska MoU Helsinki."

 

Nah terbukti akhirnya, mbah Yusuf Daud, hanya sanggup bertanya dan dijawabnya sendiri. Hal ini disebabkan karena mbah Yusuf Daud telah menyerudukkan jurus menepuk air di dalam dulang yang merupakan hasil bertapa di gua centrum Fitja-nya yang belum sempurna sampai kepuncak.

 

Dan saran Ahmad Sudirman untuk mbah Yusuf Daud yaitu lebih baik kembali lagi ke gua centrum Fitja untuk meneruskan bertapa sampai ke puncak, agar ilmu tentang Acheh dan RI-nya bisa dipakai untuk mendobrak benteng ilmu-nya Ahmad Sudirman. Dan tidak ada lagi alasan "Pertanyaan Paya Bujok itu hanyalah pertanyaan rhetoric saja yang sama sekali tidak membutuhkan jawaban. Pertanyaan tersebut bertujuan untuk menguji dialektica Ahmad Sudirman dalam menipu dan membodohi orang orang awam Aceh yang sedang belajar politik melalui Internet"

 

Karena kalau hanya bisa melambungkan alasan seperti itu, maka itu artinya mbah Yusuf Daud telah menendang mukanya sendiri dengan jurus gua Fitja-nya: "Sekian dulu dari Paya mudah2an sdr Ahmad berpeluang untuk menjawabnya." (Paya Bujok, bujok_paya@yahoo.com , 5 september 2005 20:26:24)

 

Dan inilah salah satu bukti ilmu mbah Yusuf Daud belum sampai kepuncaknya, sehingga ketika menyodokkan jurus "mudah2an sdr Ahmad berpeluang untuk menjawabnya" dianggap sebagai "Pertanyaan Paya Bujok itu hanyalah pertanyaan rhetoric saja yang sama sekali tidak membutuhkan jawaban".

 

Suatu hal yang bertentangan, yang diakibatkan benteng hasil bertapanya mbah Yusuf Daud berantakan dan berceceran dipinggir centrum Fitja terkena putaran angin puyuh yang dihembuskan Ahmad Sudirman.

 

Kemudian, karena mbah Yusuf Daud dalam tulisannya itu hanya merupakan jurus pukul sendiri dan kelit sendiri, maka disini Ahmad Sudirman hanyalah cukup berdiri dan melihatnya saja di pinggir centrum Fitja untuk memperhatikan bagaimana itu kaki dan tangan mbah Yusuf Daud  ketika mempertontonkan jurusnya satu sama lain saling bertabrakan, membuat geli yang melihatnya, persis seperti ondel-ondel Sofyan Djalil memainkan lakon partai politik lokal Acheh dengan judul lakon Partai Abulyatama made in Rusli Bintang.

 

Dengan gaya kelit sendiri-nya mbah Yusuf Daud yang dirangkum dalam bentuk kata-kata: "Secara pribadi, sebagaimana kebanyakan rakyat Aceh, Paya Bujok menyokong dengan sepenuh hati usaha usaha damai di Aceh. Itu adalah dambaan semua orang. Yang dimaksud dengan damai disini adalah damai yang adil dan bersyarat, bukan damai yang sedang dipropagandakan oleh Ahmad Sudirman atau damai yang diteken di Helsinki: turun gunung, serah senjata, angkat tangan dan enam juta rakyat Aceh akan ber”damai”dengan 30.000 TNI-POLRI. organik yang masih bergentayangan di setiap pelosok Aceh. Damai yang seperti ini Paya Bujok menamakannya ”damai carpe diem” , damai orang orang opportunist yang mengambil kesempatan untuk memperkaya diri mereka sendiri dalam masa yang singkat, damai asal asalan yang tidak akan kekal: makan dan minum sekenyang kenyangnya selagi ada; untuk hari esok, esok dipikir  - yang penting sekarang enjoy."

 

Nah, dari jurus kelit sendiri-nya mbah Yusuf Daud terlihat dan terbaca : "Yang dimaksud dengan damai disini adalah damai yang adil dan bersyarat". Tetapi ketika Ahmad Sudirman menonton jurus kelit sendiri-nya mbah Yusuf Daud sampai akhir, ternyata tidak ditemukan isi jurus langkah:  "damai yang adil dan bersyarat" itu yang bagaimana bentuk dan bunyinya. Melainkan yang terlihat dan terbaca hanyalah: "Dengan keadaanya sekarang dan tanpa back up yang kuat, akan sanggupkah rakyat Aceh merebut kembali hak2nya ditangan TNI-POLRI yang tetap mendominasi politik Aceh ke depan? Seperti dimaklumi, sampai kapanpun TNI tidak akan percaya sama rakyat Aceh yang mereka tidak akan bangkit lagi melawan penjajahan Indonesia suatu ketika. Apakah rakyat Aceh sekarang sudah percaya bahwa TNI itu sebagai pangayom ”hak” dan ”demokrasi untuk rakyat."

 

Nah disini kelihatan itu mbah Yusuf Daud tetap menganggap bahwa itu TNI dan Polri masih memiliki peranan politik yang besar di Acheh. Dan disinilah ilmu hasil bertapanya mbah Yusuf Daud tentang TNI /Polri dalam politik yang masih belum sampai ke puncak.

 

Dan itu mbah Yusuf Daud tidak mengetahui bahwa sebenarnya kekuatan TNI/Polri secara politik telah lumpuh dan ompong. Pandangan tentang dominasi politik Acheh kedepan ditangan TNI/Polri adalah suatu pandangan yang  lemah. Karena tidak ada dasar hukum dan undang-undangnya yang memberikan dasar hukum bagi dominasi politik ditangan TNI/Polri.

 

Kalau yang dimaksudkan dengan masih adanya Kodam yang dipimpin oleh Pangdam di setiap Propinsi, itu bukan simbol kekuasan dan kekuatan politik TNI untuk mendominasi politik di wilayah propinsi-nya, melainkan itu sebagai bentuk lembaga pertahanan dan keamanan yang tunduk kepada kebijakan politik yang telah diambil oleh lembaga eksekutif dan legislatif.

 

Suatu contoh yang jelas dan gamblang dengan ditandatangani MoU Helsinki. Apakah Pangdam Iskandar Muda Mayjen Supiadin Yusuf Adi Saputra melakukan penentangan secara politik kepada MoU ? Apakah Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto membangkang secara politik terhadap MoU ? Apakah KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso membantah secara politik terhadap MoU ?

 

Jelas, itu jenderal-jenderal TNI tunduk dan patuh kepada kebijakan politik yang telah diambil oleh Pemerintah RI dalam hal MoU. Apakah pihak jenderal-jenderal TNI itu bersepakat untuk melakukan kudeta karena tidak setuju dengan MoU ? Jelas, tidak pernah terjadi. Dan ini membuktikan bahwa TNI/Polri secara politis dan hukum harus tunduk dan patuh kepada lembaga Eksekutif dan lembaga legislatif.

 

Kemudian menyinggung pasukan organik TNI yang menurut MoU adalah 14.700 orang dan pasukan organik Polri adalah 9.100 orang, itu kekuatan pasukan organik TNI dan Polri di Acheh tidak memiliki kekuatan politik apalagi mendominasi politik di Acheh.

 

Itu pasukan TNI dan Polri akan melakukan pembunuhan terhadap bangsa Acheh di Acheh kalau diperintahkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla yang diteruskan kepada Jenderal TNI Endriartono Sutarto, Jenderal TNI Djoko Santoso dan Mayjen Supiadin Yusuf Adi Saputra.

 

Selama Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla tidak mengambil kebijakan politik tentang Acheh yang melanggar MoU, maka selama itu pihak TNI/Polri tidak berkuasa untuk merobah kebijakan politik pemerintah.

 

Jadi adalah omong kosong kalau mbah Yusuf Daud menyatakan bahwa "TNI-POLRI yang tetap mendominasi politik Aceh ke depan". Itu suatu propaganda kosong tanpa adanya dasar hukum yang menunjang-nya. Dan itu suatu propaganda mbah Yusuf Daud yang membesar-besarkan tubuh TNI/Polri dan para jenderal-nya, sehingga hidung Jenderal TNI Endriartono Sutarto naik keatas, begitu juga hidung Jenderal TNI Djoko Santoso membelok ketas.

 

Dalam waktu sekarang tidak ada seorangpun Jenderal TNI yang masih dalam tugasnya yang mampu melakukan tindakan politik melakukan kudeta dan melakukan kebijakan pembunuhan di Acheh.

 

Selanjutnya, dalam hal kepercayaan bangsa Acheh kepada pihak TNI/Polri sebagai pangayom hak dan demokrasi untuk rakyat Aceh, masih dipertanyakan dan masih belum terlihat secara nyata. Hal ini disebabkan karena apa yang telah dilakukan oleh TNI/Polri di Acheh selama puluhan tahun telah menjadikan bangsa Acheh trauma. Dan tentu saja trauma bangsa Acheh tidak dengan mudah bisa dihilangkan.

 

Dan melalui jalur MoU inilah akan dibuktikan apakah pihak Pemerintah RI dan DPR RI tetap komitmen dengan MoU Helsinki atau tidak. Selama pihak Pemerintah RI dan DPR RI komitmen dengan MoU, dan juga pihak GAM tetap komitmen dengan MoU, maka selama itu perdamaian dan keamanan di Acheh bisa ditegakkan.

 

Kemudian kalau MoU tetap dipegang dan dijalankan oleh kedua belah pihak, Pemerintah RI dan GAM, maka bukan mustahil, dalam waktu kedepan bangsa Acheh akan berhasil dalam usaha penentuan nasibnya sendiri di Acheh.

 

Dan sekarang, setelah menonton jurus pukul sendiri dan kelit sendiri yang dipertunjukkan oleh mbah Yusuf Daud di centrum Fitja, ternyata mbah Yusuf Daud tidak mengerti arti negara dan arti negeri. Padahal itu negara dan negeri adalah sama artinya. Negeri Belanda, Negara RI, Negeri Sakura (istilah untuk Negara Jepang).

 

Kemudian, mbah Yusuf Daud masih belum memahami acuan hukum yang dipakai berdirinya Pemerintahan Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia atau GAM dan acuan hukum yang dipakai berdirinya Pemerintahan Acheh di Acheh. Dan itu terbukti ketika Ahmad Sudirman menyatakan: "Kalau mengacu kepada GAM, Kepala Pemerintah Acheh dipanggil PM, dan Wakil Kepala Pemerintah Acheh dipanggil Menlu. Dan kalau mengacu kepada MoU Helsinki istilah PM dalam GAM diganti dengan istilah Kepala Pemerintah Acheh, dan istilah Menlu GAM diganti dengan istilah Wakil Kepala Pemerintah Acheh."

 

Sebagaimana yang dikatakan diatas, acuan hukum berdirinya Pemerintahan Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia atau GAM tidak sama dengan acuan hukum berdirinya Pemerintahan Acheh di Acheh. Kalau acuan hukum berdirinya Pemerintahan Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia atau GAM adalah Reproklamasi Acheh 4 Desember 1976, Legal Status Acheh. Sedangkan acuan hukum berdirinya Pemerintahan Acheh di Acheh adalah MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

 

Karena itu kalau melihat dari acuan hukumnya, maka tidak bisa dibandingkan antara Pemerintahan Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia atau GAM dengan Pemerintahan Acheh di Acheh. Tetapi kalau hanya melihat soal status atau kedudukan PM dan Menlu dalam GAM dan soal status atau kedudukan Kepala Pemerintah Acheh dan Wakil Kepala Pemerintah Acheh adalah sama. Begitu juga kalau hanya melihat soal status atau kedudukan Wali Negara dalam GAM dan soal status atau kedudukan Wali Negara dalam pemerintahan Acheh di negeri Acheh adalah sama. Tetapi kalau melihat dari sudut fungsi dan tugasnya yang didasarkan kepada masing-masing acuan hukumnya, jelas ada perbedaan.

 

Jadi mbah Yusuf Daud, sebaiknya kembali lagi masuk gua Fitja untuk meneruskan bertapa sampai ilmu tentang Acheh dan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat mencapai titik puncak, bukan berhenti baru sampai dilerengnya saja.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

From: Paya Bujok bujok_paya@yahoo.com

Date: 8 september 2005 00:26:31

To: PPDi@yahoogroups.com, PPDI@yahoogroups.com, oposisi-list@yahoogroups.com, mimbarbebas@egroups.com, politikmahasiswa@yahoogroups.com, fundamentalis@eGroups.com, Lantak@yahoogroups.com, kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com, achehnews@yahoogroups.com, asnlfnorwegia@yahoo.com

CC: bujok_paya@yahoo.com, norsborg_sweden@yahoo.se

Subject: «PPDi» Paya Bujok menjawab Paya Bujok, Ahmad Sudirman lari terbirit-birit

 

Stockholm, 8 September 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

Paya Bujok menjawab Paya Bujok, Ahmad Sudirman lari terbirit-birit

 

Pada hari naas itu, tgl 6 september 2005, Ahmad Sudirman jatuh terkapar di pinggir jalan Eropa E18 antara Jakobsberg dan Kallhäll ketika Paya Bujok melontarkan beberapa pertanyaan tentang  de facto dan de jure GAM pra dan paska perjanjian MoU Helsinki. Orang orang di sekeliling berusaha memberi pertolongan pertama dengan cara ABC yang ternyata tidak tertolong dan, melihat  keadaan yang parah itu, Paya Bujok menggunakan shok therapy dengan satu tendangan kuat. Ahmad Sudirman pun bangun terperanjat dan lari terbirit birit dengan komat komitnya sbb:

 

”Kemudian kalau dihubungkan dengan istilah PM dan Menteri Luar Negeri dalam GAM, maka Kepala Pemerintah Acheh merupakan PM kalau memakai istilah dalam GAM, dan Wakil Kepala Pemerintah Acheh merupakan Menlu kalau memakai istilah dalam GAM.

 

Jadi, itu soal istilah untuk jabatan saja. Kalau mengacu kepada GAM, Kepala Pemerintah Acheh dipanggil PM, dan Wakil Kepala Pemerintah Acheh dipanggil Menlu. Dan kalau mengacu kepada MoU Helsinki istilah PM dalam GAM diganti dengan istilah Kepala Pemerintah Acheh, dan istilah Menlu GAM diganti dengan istilah Wakil Kepala Pemerintah Acheh.Terakhir masalah TNA menurut MoU Helsinki. Dimana selama GAM tidak bubar, maka TNA pun tidak bubar, dan yang dilucuti hanya senjata, amunisi dan alat peledak.

 

Pasukan TNA memiliki hak tanpa diskriminasi untuk menjadi tentara organik Acheh dan Polisi organik Acheh.Dan pasukan TNA yang sebelumnya menurut peraturan GAM harus memakai seragam militer, tetapi setelah berlakunya MoU Helsinki, memakai baju sipil.”

 

Baiklah saudara Ahmad Sudirman di Jakobsberg, Swedia

 

Sebuah tulisan biasanya mecermainkan watak atau karakter sipenulis itu sendiri, dan menulis tentu saja mempunyai motif2 tertentu seperti memberi informasi, menghasut, menipu, mendidik, membodohi memaparkan fakta, memutarbalikkan fakta dan sebagainya

 

Setelah keperogok dengan beberapa tulisan Ahmad Sudirman plus dua yang terakhir ini berkenaan dengan MoU Helsinki, yang ditujukan langsung kepada Paya Bujok alias Yusuf Daud alias ”keureungkong Pasi Lhok” (memakai istilah Umar Puteh), maka tidak dapat diragukan lagi bahwa Ahmad Sudirman itu adalah sesosok yang malalui tulisan tulisannya berusaha memasukkan kakinya kedalam sepatu GAM (memakai istilah Hassan Wirayuda) untuk menggagalkan perjuangan kemerdekaan Aceh dari dalam. Metode yang sama juga digunakan oleh M Nur Djuli dari Malaysia.

 

Sejarah membuktikan bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa Aceh tidak pernah dikalahkan oleh kekuatan dari luar (asing) tetapi selalu dihancurkan oleh orang luar yang berhasil masuk kedalam (innercircle). Contohnya terlalu banyak, antara lain: Pang Tibang (Mentri Pertahanan), Said Abdurrahman (Menlu), Malik Mahmud (PM), Bakhtiar Abdullah (Spokesman), M. Nur Djuli (Thintank), Damin Kingbury (Penasihat perunding GAM di Helsinki), Ahmad Sudirman (propagandist) dan lain lainlagi.

 

Kalau dilihat sepintas posting Ahmad Sudirman, dengan modus operandinya yang sangat cermat,memang kelihatan ia mati matian membela GAM tanpa memikirkan salah benar atau halal haram - yang penting bela 100%. Melihat  GAM hardline menghantam ethnic Jawa, Ahmad Sudirman pun tidak segan segan membombardir suku Jawa dalam hampir setiap tulisannya. Tidak heran kalau ada satu dua GAM hardline di Stavanger yang menganggap Ahmad Sudirman sebagai maha gurunya, sebagai referensi dalam perkara Aceh, dan tulisan tulisannya dianggap sebagai satu  Magnum Opus atau Nahyul Balaghah pegangan Syiah Imamah 12. Tetapi Alhamdulillah kebanyakan orang Aceh yang mempunyai access ke Internet dan keperogok dengan posting emailnya, menganggap Ahmad Sudirman itu tidak lebih dari sebuah bulldozer, yang tugasnya  hanya libas dan sikat saja.

 

Ketika Paya Bujok melontarkan pertanyaan tentang de facto dan de jure GAM paska MoU, memang tidak mengharapakan sama sekali bahwa Ahmad Sudirman memiliki kemampuan untuk menjawabnya, sebab mantek ilmu politiknya (meminjam kata kata saudara Yusra Habib) masih sangat elementaire. Pertanyaan Paya Bujok itu hanyalah pertanyaan rhetoric saja yang sama sekali tidak membutuhkan jawaban. Pertanyaan tersebut bertujuan untuk menguji dialektica Ahmad Sudirman dalam menipu dan membodohi orang orang awam Aceh yang sedang belajar politik melalui Internet. Oleh sebab itu, Paya Bujok akan menjawab sendiri pertanyaan diatas untuk Paya Bujok.

 

Sebelum Paya Bujok menjawab pertanyaannya sendiri, Paya Bujok ingin menjelaskan kepada Ahmad Sudirman bagaimana Paya Bujok mengartikan damai di Aceh paska MoU Helsinki.

 

Secara pribadi, sebagaimana kebanyakan rakyat Aceh, Paya Bujok menyokong dengan sepenuh hati usaha usaha damai di Aceh. Itu adalah dambaan semua orang. Yang dimaksud dengan damai disini adalah damai yang adil dan bersyarat, bukan damai yang sedang dipropagandakan oleh Ahmad Sudirman atau damai yang diteken di Helsinki: turun gunung, serah senjata, angkat tangan dan enam juta rakyat Aceh akan ber”damai”dengan 30.000 TNI-POLRI. organik yang masih bergentayangan di setiap pelosok Aceh. Damai yang seperti ini Paya Bujok menamakannya ”damai carpe diem” , damai orang orang opportunist yang mengambil kesempatan untuk memperkaya diri mereka sendiri dalam masa yang singkat, damai asal asalan yang tidak akan kekal: makan dan minum sekenyang kenyangnya selagi ada; untuk hari esok, esok dipikir  - yang penting sekarang enjoy.

 

Kalau Paya Bujok menyimpulkan bahwa damai menurut MoU Helsinki adalah damai untuk menyerahkan  semua persenjataan GAM dan damai untuk mengembalikan GAM kepangkuan Ibu Pertiwi, mungkin Ahmad Sudirman langsung berargumen: ”GAM tidak bubar, TNA tidak bubar, hanya senjata dan amunisi saja yang akan diserahkan. MoU diteken untuk rakyat, semua urusan akan diserahkan kepada rakyat, rakyatlah yang akan menentukan segala galanya dengan cara demokratis. GAM telah mengorbankan seluruh prinsip dan harga matinya demi rakyat”. Begitulah kira kira bunyi dialektika Ahmad Sudirman.

 

Setelah bertahun tahun dihantam konflik bersenjata dan tambah lagi dengan pukulan tsunami yang maha dahsyat, rakyat Aceh berada dalam posisi yang paling lemah dan tidak menguntungkan: trauma, pasrah dengan keadaan, apathy, kehilangan keluarga, harta benda dan rumah tempat tinggal. Kesemua ini telah membuat hidup dan kehidupan rakyat Aceh bergantung kepada belas kasihan orang lain, dan tidak akan sanggup menolak apapun diktat yang diterapkan keatasnya oleh  pihak penguasa. ”Hak” dan ”demokrasi” yang akan diberikan MoU kepada rakyat Aceh tidak akan disosdorkan dalam silver plate seperti sebuah kado, tetapi harus diperjuangkan dengan ulet, gigih dan penuh dengan resiko resikonya.  Dengan keadaanya sekarang dan tanpa back up yang kuat, akan sanggupkah rakyat Aceh merebut kembali hak2nya ditangan TNI-POLRI yang tetap mendominasi politik Aceh ke depan? Seperti dimaklumi, sampai kapanpun TNI tidak akan percaya sama rakyat Aceh yang mereka tidak akan bangkit lagi melawan penjajahan Indonesia suatu ketika. Apakah rakyat Aceh sekarang sudah percaya bahwa TNI itu sebagai pangayom ”hak” dan ”demokrasi untuk rakyat Aceh?

 

Ahmad Sudirman berceramah tentang partai lokal, demokrasi, pilkada dan sampai sampai kepada referendum. Paya Bujok tidak mau mengatakan bahwa itu satu mimpi, tapi yang pasti Ahmad Sudirman sedang mengalami fata morgana. Ahmad Sudirman mungkin mengagak agak bahwa ia dapat merasa itu akan terjadi –ya boleh jadi – tapi dia tidak sanggup melihat satu realitas yang objektif, bagaimana proses dan apa mekanismenya.  Ahmad Sudirman mengira kalau isi MoU yang kira kira delapan halaman itu ditempel disetiap rumah rakyat Aceh dan selebihnya direbus untuk diminum airnya, Aceh akan menjadi Brunei yang kedua atau El Dorado Asia Tenggara?

 

Menyinggung status Wali Negara Tengku Hasan di Tiro, PM Malik Mahmud dan Menlu Zaini Abdullah setelah MoU ditandatangani yang telah disodorkan Ahmad Sudirman dalam paragraf diatas, tidak perlu kommen dari Paya Bujok. Sebab, Ahmad Sudirman tidak tahu membedakan antara seorang PM dan Menlu dalam sebuah Negara dengan seorang kepala administrasi dan wakilnya dalam senuah propinsi di sebuah negara.

 

Demikian juga halnya dengan Wali Negara Aceh Tengku Hasan di Tiro. Ahmad Sudirman, penipu ulung ini, tidak bisa membedakan antara Wali Negara dengan wali nanggroe, antara negara dengan negeri dan antara propinsi dengan negara.

 

Percuma menghabiskan waktu untuk Ahmad Sudirman

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Paya Bujok

 

bujok_paya@yahoo.com

Fitja, Swedia

----------