Haugesund, 8 September 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MOU VERSUS PERPECAHAN GAM

Abusisia

Haugesund - NORWEGIA.

 

 

BANYAK YANG MENCOBA BERDALIH BAHWA GAM TELAH MELUPAKAN TUJUAN PERJUANGANNYA UNTUK MENCAPAI KEMERDEKAAN. ITU MERUPAKAN PENGERTIAN YANG TIDAK BENAR

 

Menyimak diskusi dalam PPDI yang semakin hari semakin semarak yang lebih banyak didominasi masalah Acheh, sedikit banyak telah membuka banyak mata untuk belajar bagaimana berpolitik dan lebih jauh bagaimana sebenarnya kenyataan sejarah tentang Acheh yang sebenarya.

 

Dilihat dari umur dan pengalaman diskusi ini, mencatatkan banyak nama nama dikalangan TNI. Salah satunya adalah  penguasa Daerah Militer yang menduduki Acheh yang kini sudah tergusur, karena tak sanggup mempertahankan kedudukannya untuk menjajah Acheh dengan modal sejarah buatan Soekarno dan embusan jampi jampi dogma yang menyakini akan kesatuan Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Kemudian muncul para wahabi-wahabi dan kaum salafi yang mencoba mempertahankan penjajahan di Acheh dengan landasan agama. Namun ternyata tergulung juga walaupun sekuat angin Katrina. Karena memang Indonesia bukan negara Islam, maka hukum Islam yang dicoba terapkan tidak patut untuk dijalankan. Karena Al'qur'an dan Hadist diletakkan di bawah UUD45 dan priduk perundangan lainnya buatan manusia.

 

Setelah bayi MOU lahir, maka forum diskusi ini lebih banyak muncul bangsa Acheh atau orang orang yg keAcheh-an. Yang semua rata rata adalah turut menyambut jabang bayi MOU. Ada yang melihatnya dari sisi kepala, ada yang melihanya dari sisi kaki dan ada yang melihatnya dari sisi tangan. Dan secara otomatis akan menimbulkan pengertian masing masing yang tidak mungkin untuk dipersamakan persepsinya. Yang pasti dengan banyaknya tanggapan tanggapan baik mendukung dan menolak jabang bayi MOU tetap saja tumbuh  dan membesar di bumi Acheh.

 

Banyak juga penonton yang berdiri di pinggir ring menyaksikan dengan senyum senyum, karena mereka beranggap MOU adalah sudah final sebagai jawaban bahwa GAM telah kembali kepangkuan ibu pertiwi indonesia. Dan yang lebih konyol lagi ada sebagian yang senyum senyum sambil tepuk tangan yang takut terdengar, bahwa GAM (baca:Bangsa Acheh) sudah terpecah belah. Terbukti dengan munculnya kelompok yang menamakan dirinya kelompok Revolusi dstůdari kalangan bangsa Acheh sendiri yang salah satu pendirinya disebut-sebut sebagai Tengku Yusra, yang sudah dipakaian baju badut oleh Om Puteh. Sementara dari kalangan awak awai yg juga sudah membentuk sebelum lahirnya MOU, yang menyebut kelompoknya MP-GAM. Dan juga pula telah diberi gelaran sebagai penghianat oleh OM Puteh.

 

Di luar itu semua apapun sebutan dan gelaran yang diberikan kepada mereka, serta kegiatan apapun yang mereka lakukan walaupun nampak bersebrangan dengan GAM (baca:ASNLF), namun pada prinsip dasarnya mereka tetap sadar bahwa segala upayanya itu merupakan bentuk perjuangan untuk membebaskan Acheh dari penjajahan bangsa lain. Dan lebih jauh lagi hal ini menunjukkan bahwa bangsa Acheh merupakan bangsa yang dinamis tidak "ENGGEH" saja pada apa yang disodorkan. Sehingga semakin hari nampak bahwa bangsa Acheh adalah bangsa yang memang memilki sifat sifat pahlawan yang cinta kepada tanah warisan endatunya.

 

MOU adalah bentuk PERSEFAHAMAN bukan KERJASAMA dan bukan PERDAMAIAN. Oleh karena itu sangat banyak yang mencoba berdalih bahwa GAM telah melupakan tujuan perjuangannya untuk mencapai kemerdekaan. Itu merupakan pengertian yang tidak benar. Karena GAM tetap konsen dengan tujuan utamanya adalah memerdekakan bangsa Acheh dari setiap penjajahan. Karena itu GAM tidak sekali kali menyerahkan bangsa Acheh berikut tanahnya kepada bangsa penjajah. Oleh karena itu bahwa  MOU yang ditandatangi di Helsinki adalah bentuk perjuangan dengan mengedapankan politik dan upaya upaya damai tanpa naungan senjata, untuk memberikan seluas luasnya kesempatan rakyat Acheh secara keseluruhan untuk berjuang merebut dan memerdekakan tanah air tanah endatunya dari penjajahan.

 

Tinggal lagi semua tergantung kepada pelaku pelaku perjuangan itu sendiri, setidaknya dengan satu katanya bangsa Acheh untuk MERDEKA dengan damai, maka kemerdekaan akan dicapai walau tidak dalam waktu yang singkat.

 

Yang perlu dicermati dan diperhati adalah MOU sebagai bentuk persefahaman ini jangan sampai diakali untuk dijadikan bentuk kerjasama. Hal ini sekali lagi tergantung dari kejelian dan refleks dari para pelaku pelaku perjuangan itu sendiri, sehingga batasan batasan tersebut harus bisa dimunculkan dipermukaan, agar masyarakat bisa mengambil posisi sebagai kontrol. Maka perlu adanya sosialisasi yang jelas dan terang tanpa harus ada yg ditutupi atau ditambahkan untuk kepentingan penjajah.

 

Maka oleh sebab itu sangatlah bijak bila kelompok kelompok dari yang menamakan dirinya wakil bangsa Acheh, baik baru terbentuk atau yang sudah lama terbentuk dengan menyandang bermacam macam nama, baik yang menyokong atau yang berseberangan dengan GAM, dapat mengatur langkah dan strategi untuk membuat basis baru perjuangan bangsa lewat jalur politik yang difahaminya lebih mudah dan efisien, agar cita cita kemerdekaan Acheh menurut versi dan idieologinya dapat berhasil. Tindakan nyata dari kelompok-kelompok kemerdekaan Acheh ini, merupakan bentuk perjuangan yang tidak akan pernah dilupakan dalam sejarah  bangsa Acheh, dan akan dikenang sampai kapanpun selama bangsa Acheh tetap cinta terhadap kemerdekaan bangsanya.

 

Dengan mencari dan mencoba terobosan baru ini untuk lebih memberi tekanan kepada dunia Internasional agar secepatnya mendukung kemerdekaan Acheh, terlebih yang sangat-sangat dibutuhkan saat ini adalah mata internasional untuk selalu memonitor jalannya MOU di Aceh.

 

Upaya ini juga merupakan cara untuk mengindari keterulangan sejarah Acheh tentang penipuan yang pernah dilakukan Indonesia melalui trikk trikk politik sulapnya untuk mempertahankan Acheh dengan memakai kendaraan MOU.

 

Dengan mempelajari sesama isi dan kandungan MOU, serta mencari jalan agar dapat membuka jalan demi masuknya dukungan dukungan dari kelompok dan badan badan dunia agar dapat menekan Indonesia untuk melaksanakan dengan sungguh sungguh isi persefahamn Helsinki itu tanpa dapat memakai celah celah yang terbuka untuk membolak balik dan menyulap MOU tersebut. Sosialisai hendaknya tidak saja di dalan neegri tapi secara umum (baca:Internasioan) MOU Helsinki sebaiknya disosialisasikan, agar bila terjadi hal hal yang berseberangan dan tidak sesui maka dengan mudah dunia Internasioanl dapat mengambil langkah langkah konkret. Dan tentunya hal inni sangat membutuhkan kerja yang tidak ringan, terutama bagi mereka yang berjuang di luar GAM. NAmun sekurang kurangnay buatlah secara nyata dengan bentuk usaha politikk di Internasional agar nam kelompok kelompok di luar GAM dapat mengatakan mereka juga berjuang dengan harta, semangat dan jiwa, bukan dengan hanya kata kata dan makian saja.

 

BERFIKIR ITU BAIK, BERBUAT ITU YANG UTAMA

 

Wassalam

 

Abusisia

 

abusisia@yahoo.com

Haugesund , Rogaland, Norwegia

----------