Stockholm, 13 September 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PUISI ABUSISIA PENUH BUTIRAN PEMBELAAN NEGERI, PUISI TUKANG BECAK PENUH DENGAN KERIKIL PALSU PROLETAR

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

MENGULITI ISI PUISINYA ABUSISIA DARI HAUGESUND, NORWEGIA & PUISINYA TUKANG BECAK DARI TOKYO, JEPANG

 

Dibelahan bumi bagian utara, disuatu tempat, disekitar Haugesund, tampak seorang dengan mata terpejam, pikiran menembus langit ketujuh, dengan dibalut perasaan yang penuh pengharapan, bersatu dalam bentuk bangun kokoh yang dilambangkan kedalam untaian kata-kata "Merah menyala, putih bulan bintang, garis hitam dan putih Berjiwa merdeka, tunduk pada yg Maha kuasa, getir pahit pasti ada"

 

Jauh dibelahan bumi sebelah timur, disuatu tempat, disekitar Tokyo, tampak seorang dengan mata terpejam, dibalik jeruji pintu sigotaka, pikiran menembus ke alam Tiongkok dimasa Mao Tje Tung, dengan perasaan yang dilapisi semangat proletarisme gaya tukang becak, bersatu membentuk ramuan kata-kata: "Abusisia Berfikir sia-sia, Tidak mengenal amal ma'ruf

Nahi mungkar."

 

Dari dua sosok tubuh manusia yang masing-masingnya unik ini, telah melahirkan dua corak warna puisi yang satu isinya penuh butiran pembelaan negeri, dan satu lagi isinya penuh dengan kerikil palsu proletar.

 

Mari kita masuki dan nikmati alam dunia puisi-nya orang Haugesund yang dirangkaikan pada hari Jumat, 10 Desember 2004 dengan mengambil bentuk bangunan dengan diberi nama "Pelajaran ke satu  abusisia"

 

Anakku duduk dekat sini

Lihatkan siapa bangsamu

Itu yang berjalan tanpa sepatu

Kulit legam, hitam, gagah di atas tanah endatu

 

Anakku duduk dekat sini

Lihatlah apa benderamu

Merah menyala, putih bulan bintang, garis hitam dan putih

Berjiwa merdeka, tunduk pada yg Maha kuasa, getir pahit pasti ada

 

Anakku duduk dekat sini

Lihatlah siapa pemimpinmu

Hidup dalam pengasingan, didadanya penuh jiwa patriot

Darahnya darah leluhur, semangatnya semangat tempur

 

Anakku duduk dekat sini

Siapa yang lagi bergumul

Di dalam kaca monitor, mereka saling mencaci atas bangsanya sendiri

Musuh tertawa, mereka menduga mereka sudah merdeka

 

Anakku duduk dekat sini

Siapa yang akan engkau gantikan

Atur langkahmu, jalan ke surga menunggu di depan

Jadi mujahid di negerimu sendiri, perjuangan endatumu anak negri

Lapaskan dari cengkraman penjajah, merdekakan dengan darah.

 

Anakku duduk dekat sini

Cukup sementara pelajaran ke satu

Aku tutup dengan do'a

Semoga besok matahari tak muncul dari Barat.

Agar kita sempat bertobat.

 

Nah setelah ditutup dengan do’a, kita teruskan memasuki alam dunia puisi-nya orang Tokyo, yang menamakan dirinya Tukang Becak, dengan bangunan puisi bergaya Mao Tje Tung dan jampi-jampi sosialisme-proletariatnya, yang diciptakan pada hari Senin, 12 September 2005 pukul 17:50:54 -0700 (PDT).

 

Andaikan

Indonesia,

Menjadi Israel

Dan,

Gam menjadi pasukan keamanan Palestina,

 

Pastilah Abusisia akan menelpon,

Para yahudi garis keras,

Sekedar menuntut imbalan:

Telah meyahudikan 200 juta penduduk Indonesia,

Termasuk sebagian besar rakyat Aceh di dalamnya.

 

Abusisia

Berfikir sia-sia,

Tidak mengenal amal ma'ruf

Nahi mungkar.

 

Di matanya,

Semua persoalan hanya diselesaikan

Dengan senjata saja.

Padahal bukan tentara.

 

Atau mungkinkan sebenarnya

Abusisia adalah orang yang dibeli,

Untuk menghancurkan agama

Dengan menggunakan dalil agama.

 

Nah sekarang, terlihat dengan jelas, dua sosok tubuh yang berbeda, dengan dua gambaran hasil pemikiran yang berbeda, telah memberikan petunjuk kepada kita, bahwa perjuangan orang yang tertindas, yang negerinya dijajah, yang didengungkan oleh Abusisia, tetapi dianggap sebagai orang yang tidak mengenal amal ma’ruf nahi mungkar oleh Tukang Becak dari Tokyo, Jepang.

 

Disini kelihatan Tukang Becak hanyalah penghasil puisi-puisi semu yang hanya membawa-bawa nama rakyat tertindas dengan diberi label kaum proletar gaya Mao Tje Tung, dan hidup dialam kaum penjajah dari kelompok unitaris Jawa-nya mbah Soekarno.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------