Stockholm, 25 September 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


LUTH, ITU AMM MENJALANKAN MANDAT MEMANTAU PELAKSANAAN KOMITMEN GAM-RI DALAM MOU HELSINKI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

NEGARA-NEGARA ANGGOTA UNI EROPA & ASEAN YANG TERGABUNG DALAM AMM HANYA MENJALANKAN MANDAT MEMANTAU PELAKSANAAN KOMITMEN GAM-RI DALAM MOU HELSINKI

 

"Uraian anda sangat menarik, dan untuk sebagian besar isi uraian anda saya tidak akan berkomentar, tetapi suatu paragraf sangat mengganggu saya, yaitu : "Mereka masih memiliki kecurigaan yang besar kepada negara-negara anggota Uni Eropa yang telah membantu, menyokong, menjalankan pelaksanaan MoU di Acheh. Padahal itu negara-negara anggota Uni Eropa hanya ingin melihat di Acheh timbul perdamaian, keamanan dan kemakmuran. Bukan pembunuhan. Negara-negara anggota Uni Eropa tidak memerlukan Acheh. Acheh adalah untuk bangsa Acheh. Di Acheh harus timbul perdamaian, keamanan dan kemakmuran." Saya merasa bahwa pernyataan saudara Ahmad di atas sangat tidak benar, karena secara logika dan fakta sejarah tidak pernah terjadi kejadian seperti itu. Bayangkan, satu negara menolong negara lain semata-mata untuk melihat negara lain tersebut damai, aman dan makmur tanpa sedikit pun (langsung atau tidak) menguntungkan negaranya sendiri atau merugikan musuhnya. Mungkinkah hal itu terjadi ? Dalam khayalan saya yang paling indah pun tidak pernah terbayang." (Luth Key, shinmeiryuu@yahoo.com , Sat, 24 Sep 2005 11:43:52 -0700 (PDT))

 

Baiklah saudara Luth Key di ITB, Bandung, Indonesia.

 

Memang kalau saudara Luth tidak melihat kepada proses berlangsungnya perundingan antara pihak GAM dengan pihak Pemerintah RI di Helsinki, Finlandia, yang berlangsung  dalam lima putaran itu, dimulai sejak hari Kamis, 27 Januari 2005 dan berakhir pada hari Minggu, 17 Juli 2005, maka akan sampai kepada kesimpulan: "secara logika dan fakta sejarah tidak pernah terjadi kejadian seperti itu. Bayangkan, satu negara menolong negara lain semata-mata untuk melihat negara lain tersebut damai, aman dan makmur tanpa sedikit pun (langsung atau tidak) menguntungkan negaranya sendiri atau merugikan musuhnya. Mungkinkah hal itu terjadi ? Dalam khayalan saya yang paling indah pun tidak pernah terbayang."

 

Tetapi kalau saudara Luth mengikuti dan masuk kedalam jalur proses berjalannya perundingan GAM-RI ini, maka akan mudah dicerna, mengapa Acheh Monitoring Mission yang dikirim oleh Uni Eropa dan terdiri dari Negara-negara anggota Uni Eropa dan ASEAN itu dibentuk.

 

Logikanya sangat sederhana, yaitu Memorandum of Understanding yang dilahirkan dari kesepakatan GAM-RI di Helsinki ini dalam penerapan dan pelaksanaan dilapangan di Acheh harus ada yang mengawasi atau memantau atau memonitor.

 

Dimana tim monitor atau pemantau MoU ini harus dari pihak ketiga, yaitu bukan dari pihak yang bertiakai atau bersengketa.

 

Nah dalam hal ini pihak mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, pendiri the Crisis Management Initiative (CMI) yang menjadi tuan rumah perundingan GAM–RI, dalam usaha mengawasi pelaksanaan MoU dilapangan, telah meminta pihak Uni Eropa untuk menjadi tim monitor. Dan pihak Uni Eropa, Sekjen Dewan Uni Eropa (EU High Representative for Common Foreign and Security Policy), Javier Solana telah menyetujuinya. Begitu juga meminta pihak ASEAN untuk secara bersama-sama dengan pihak Uni Eropa menjadi satu tim dalam usaha dan tugas memantau pelaksanaan MoU dilapangan.

 

Dalam hal ini terlihat jelas, bahwa secara logika, karena pihak RI dan GAM bersengketa, maka pihak ketiga, dalam hal ini Uni Eropa dan ASEAN diminta untuk menjadi pengawas atau pemantau pelaksanaan MoU dilapangan di Acheh.

 

Nah tentu saja, segala persyaratan dan aturan yang menjadi dasar hukum dibentuknya AMM telah dituangkan dalam Memorandum of Understanding Helsinki yang diparaf tanggal 17 Juli 2005 dan ditandatangani di Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005.

 

Kemudian, secara resmi, pihak Pemerintah RI, dalam hal ini Menteri Luar Negeri RI, Noer Hassan Wirajuda telah meminta kepada negara-negara anggota Uni Eropa dan ASEAN untuk menjadi tim Acheh Monitoring Mission. Begitu juga dari pihak GAM telah meminta kepada pihak Uni Eropa.

 

Jadi, sekarang sangat mudah sekali untuk dipahami, bahwa keterlibatan Negara-Negara anggota Uni Eropa dan ASEAN adalah atas permintaan pihak mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, Pemerintah RI dan GAM, untuk menjadi tim pemantau pelaksanaan MoU Helsinki di Acheh.

 

Tidak ada udang dibalik batu, yang ada adalah pihak AMM menyetujui dengan penuh semua isi yang tertuang dalam MoU Helsinki, 15 Agustus 2005.

 

Jadi, kalau Ahmad Sudirman dalam tulisan yang berjudul: "Jenderal-jenderal pensiunan ompong TNI seharusnya mendukung bukan menentang perdamaian di Acheh", menulis: "Mereka masih memiliki kecurigaan yang besar kepada negara-negara anggota Uni Eropa yang telah membantu, menyokong, menjalankan pelaksanaan MoU di Acheh. Padahal itu negara-negara anggota Uni Eropa hanya ingin melihat di Acheh timbul perdamaian, keamanan dan kemakmuran. Bukan pembunuhan. Negara-negara anggota Uni Eropa tidak memerlukan Acheh. Acheh adalah untuk bangsa Acheh. Di Acheh harus timbul perdamaian, keamanan dan kemakmuran.". Memang fakta, bukti, dan dasar hukumnya telah tertuang dalam MoU Helsinki 15 Agustus 2005. Sebagaimana tertulis dalam MoU Helsinki: "5.1. Misi Monitoring Aceh (AMM) akan dibentuk oleh Uni Eropa dan negara-negara ASEAN yang ikut serta dengan mandat memantau pelaksanaan komitmen para pihak dalam Nota Kesepahaman ini."

 

Nah, berdasarkan dasar hukum MoU dengan "mandat memantau pelaksanaan komitmen para pihak dalam Nota Kesepahaman ini", itu Negara-negara anggota Uni Eropa dan ASEAN menjalankan tugasnya memonitor pelaksanaan MoU dilapangan di Acheh.

 

Dan dengan dijalankannya misi monitoring di Acheh oleh AMM ini dalam rangka penyelesaian konflik Acheh secara damai, menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua. Bukan yang lainnya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Sat, 24 Sep 2005 11:43:52 -0700 (PDT)

From: Luth Key shinmeiryuu@yahoo.com

Subject: Re: JENDERAL-JENDERAL PENSIUNAN OMPONG TNI SEHARUSNYA MENDUKUNG BUKAN MENENTANG PERDAMAIAN DI ACHEH

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

 

Uraian anda sangat menarik, dan untuk sebagian besar isi uraian anda saya tidak akan berkomentar, tetapi suatu paragraf sangat mengganggu saya, yaitu :

 

"Mereka masih memiliki kecurigaan yang besar kepada negara-negara anggota Uni Eropa yang telah membantu, menyokong, menjalankan pelaksanaan MoU di Acheh. Padahal itu negara-negara anggota Uni Eropa hanya ingin melihat di Acheh timbul perdamaian, keamanan dan kemakmuran. Bukan pembunuhan. Negara-negara anggota Uni Eropa tidak memerlukan Acheh. Acheh adalah untuk bangsa Acheh. Di Acheh harus timbul perdamaian, keamanan dan kemakmuran."

 

Saya merasa bahwa pernyataan saudara Ahmad di atas sangat tidak benar, karena secara logika dan fakta sejarah tidak pernah terjadi kejadian seperti itu. Bayangkan, satu negara menolong negara lain semata-mata untuk melihat negara lain tersebut damai, aman dan makmur tanpa sedikit pun (langsung atau tidak) menguntungkan negaranya sendiri atau merugikan musuhnya. Mungkinkah hal itu terjadi ? Dalam khayalan saya yang paling indah pun tidak pernah terbayang.

 

Dalam logika saya, setiap negara yang menolong negara lain selalu punya pamrih, apakah itu sekedar meningkatkan perekonomian, ber-iklan, menyebarkan pengaruh (agama, ideologi, politik, dll), menjamin keamanan dalam negeri, dan yang lainnya. Kemungkinan lain (masih dalam logika saya) adalah untuk menjatuhkan musuhnya, misalnya memperkuat musuh dari musuhnya, anti-iklan (mencitrakan image buruk), memecah-belah, dan banyak lainnya.

 

Seandainya ada contoh di masa lalu, atau sistematika logika yang baru, tolong Bung Ahmad, terangkanlah....

 

Luth Key

 

shinmeiryuu@yahoo.com

ITB, Bandung, Indonesia

----------