Stavanger, 30 September 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SETIA ITU: SIKAP MENTAL DAN KHIANAT ITU: KANKER MENTAL

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.

 

 

SEKILAS MENYOROT SETIA SEBAGAI SUATU SIKAP MENTAL & KHIANAT SEBAGAI BENTUK PENYAKIT KANKER MENTAL

 

Memang sejak lama saya telah memutuskan untuk memilih dan mengambil benang yang panjang menyulami ingatan perjalanan kisah selang-seling saya dengan saudara Yusra Habib Abdul Gani, sejak beliau menggabungkan diri dengan perjuangan kemerdekaan Negara Acheh Sumatra/ASNLF/GAM cq perjuangan bangsa Acheh di Malaysia, hingga hari ini di Danmark dengan sulaman timbul yang bergula manis, walaupun tampa berkembang-kembang.

 

Rupanya kisah selang-seling kami itu, telah terselang melintang dan terseling melenting kedalam lembah sulaman timbul yang memahit. Entah karena itu, entah karena lain atau entah karena apa, hingga mata jarumnya menikam dalam dan pantat kelindannya hilang tenggelam merajut sambil menjerut ketat "kustum" baju beliau dan terkeklarifikasilah Omar Puteh, sebagai orang yang tersalah,  sidesigner dari Stavanger !?

 

Sebenarnya lama saya tidak berhubung dengan beliau, mungkin dikarenakan kesibukan kami sendiri masing-masing. Biasanya sering kami saling menanyakan kabar dan tidak pernah lupa bertanya dan berjawab tentang "hikayat pemuda kahfi" yang masih hidup dan bernafas!

 

Jadi dalam interval masa yang sekian lama itu, dalam kesibukan kami sendiri masing-masing itu, sudah tentu sayapun tidak tahu, apakah saudara Yusra Habib Abdul Gani juga masih hidup dan bernafas, telah menggemuk atau mengurus?

 

Kiranya tulisan saya itulah,  yang senatiasa mengetuk dan menjenguk saudara Yusra Habib Abdul Gani dan begitu jugalah harapan saya akan beliau ! Namun kemudian sebuah nukilan bercerita lain........................!

 

Saudara Yusra Habib Abdul Gani, walaupun saya telah 29 tahun bersama-sama dengan bangsa Acheh lainnya menyertai ASNLF/GAM, "selevel masa" dengan Dr Zaini Abdullah MD, Menteri Kesehatan dan juga selaku Menteri Luar Negeri, Negara Acheh Sumatra, yang pernah saya katakan, yang mungkin jam kerja saya lebih lama dan panjang dari beliau itu, namun sekalipun saya tidak pernah diberitahukan apa-apapun sekali, seluruh jalan/hasilnya perundingan Helsinki dari awal hingga hari penandatanganan MoU dan atau hingga tulisan ini saya angkat, saya tidak pernah berkecil hati dan merajuk diri. Saya tidak pernah berobah, saya tetap taat kepada Pemimpin, sebagaimana sumpah janji. Malahan janji taat setia kita bersama Tengku Malik Mahmud, pernah disegarkan kembali di Johor Bahru dalam pertemuan disana dulu.

 

Saya ingat, saudara Yusra Habib Abdul Gani, paham terhadap saya sejak dulu lagi, sejak Yusra Habib Abdul Gani, pertama sekali menjejakan kaki di Malaysia, kemudian sejak Yusra Habib Abdul Gani mengurusi kantor Pemerintahan Negara Acheh Sumatra/ASNLF/GAM di Kuala Lumpur: Pernahkah saya bertanya banyak, kecuali dengan: Ada kabar apakah Yusra hari ini, peu na haba Yusra uroŽ njoŽ?

 

Begitulah kiranya saya di Stavanger hari ini, macam dulu di Kuala Lumpur: Saya tidak suka banyak bertanya ke Swedia, malahan selalunya saya bertanya ke Yusra Habib Abdul Gani sendiri, langsung ke Danmark. Jangan saudara Yusra Habib Abdul Gani mencurigakan saya, dalam self governement, sebagai mengetahui perjalanan sidang itu seperti Teuku Hadi atau Reyza Munawar.

 

Saya bisa menjadi tukang kempen mengapa Pemimpin telah menempuh jalan perjuangan kemerdekaan alternatip, karena bukanlah sombong, karena sayapun bisa membuat analisa memanjang. Lagipun hal berhubungan dengan itu telah juga dipaparkan dengan jitu oleh Tengku Ahmad Hakim Sudirman. Hanya untai-untaian tertentu yang belum.

 

Yusra!  Saya katakan: Setia itu: Sikap mental!  Mental attitude!  Buka mental habit!

 

Saya setia keperjuangan ASNLF/GAM atau perjuangan bangsa Acheh dan kepada Pemimpin perjuangan ASNLF/GAM atau pemimpin bangsa Acheh adalah atas sikap mental atas mental attitude! Bukan sebagai mental habit!

 

"Diam saja dan tampa berbuat apa-apa adalah pengkhianat!" Berapa kalikah kata-kata saudara Yusra Habib Abdul Gani sendiri ini, telah saudara Yusra Habib Abdul Gani ucapkan?  Saya tidak mau menanyakan berapa puluh kali.

 

"Hanya satu saja pintu masuk ASNLF/GAM, tidak pintu keluar!" Berapa kalikah kata-kata saudara Yusra Habib Abddul Gani sendiri ini, telah saudara Yusra Habib Abdul Gani ucapkan?  Saya tidak mau menanyakan berapa puluh kali.

 

Bukankah ekspresi kedua ucapapan saudara Yusra Habib Abdul Gani itu, sebagai sikap mental? Kedua ekspresi ucapan saudara Yusra Habib Abdul Gani itu bukanlah bisa disamakan dengan mental habit, bisa mulur macam karet, bisa menglongsor kesana dan kemudian menggelongsor balik kesini atau ada pintu keluar masuk!?  Ini mental habit!

 

Kalaulah saudara Yusra Habib Abdul Gani mau mengatakan Setia dan Khianat seperti  "Humanism dan Existentialis"-nya saudara Yusra Habib Abdul Gani itu, sayapun menjadi tidak paham, karena saudara Yusra Habib Abdul Gani tidak paham apa itu Humanism dan apa itu sebenarnya Existentialism.

 

Saya berani mengatakan bahwa saya "jagoan" Humanism dan saya juga tahu apa itu Existentialism yang dipelopori oleh seorang philosof Danmark: Tuan Sosen Kierkegaard.

 

Humanism itu lain fondasinya dan lain terataknya. Kalau saudara Yusra Habib Abdul Gani mau betul-betul mempelajari dan mengahayati sepenuh hati,seikhlas jiwa, pelajarilah struktur kehidupan jiwa perjuangan Muhammad SAW, Rasulullah dan para sahabat beliau. Didunia ini humanism yang paling halus struktur kejiwaan dengan sentuhannya adalah dari Islam.

 

Bagaimanakah saudara Yusra Habib Abdul Gani bisa menyeret setia itu kedalam acuan existentialism yang jelas-jelas lain bentuk dan lain bangun serta lain falsafahnya?

 

Setia telah menjadi pakaian bangsa Acheh! Setia bagi bangsa Acheh telah menjadi Adat dan telah menjadi Hukum. Janji setia kita itu didepan Allah SWT! Janji setia kita kepada perjuangan ASNLF/GAM dan kepada Pemimpin ASNLF/GAM didepan Allah SWT, sudah menjadi sebagai adat dan sudah menjadi sebagai hukum!

 

Setianya bangsa Acheh sama sebangun dengan setianya bangsa Jepang! Telah menjadi Adat dan telah menjadi Hukum! Janji (setia) mereka kepada Pemimpin dan Tenoheika sebagai adat dan sebagai hukum, yang menjadikan mereka sebagai Boshidok! Silakan baca kembali tulisan WN bahwa dalam beberapa perkara Acheh sama dengan Jepang!

 

Saya telah memulakan mengupaskan masalah setia dan khianat ini, pertama sekali dikediaman Tengku Zaini, dengan ditemani oleh saudara Iqbal Idris, sebaik saja saya mendapatkan makalah berkenaan, dari kiriman Swedia, yang ketika itu semua makalah datang dari sana atau kira-kira 2 tahun lebih sebelum ketibaan saudara Yusra Habib Abdul Gani ke Malaysia. Perlu juga saya beritahukan bahwa saudara Iqbal Idris sedikit lebih senior dari saudara Yusra Habib Abdul Gani.

 

Beliau ini, ketika itu sambilan menunggui kelulusan visa masuk Australia, mampir ke Malaysia. Tetapi sebaik saja mengetahui ASNLF/GAM ada di Malaysia dan sekalipun baru sedikit saja mendapatkan ilmu perjuangan membela bangsa, langsung beliau itu mengatakan kepada saya, tidak perlu lagi jabatan gurunya itu. Dia mau terus akan bersetia bersama ASNLF/GAM dan hingga hari ini. Itulah saudara Iqbal Idris.

 

Dan kedua di RumŰh Peureulak, dimana saya sebagai penceramah tetap, sebagaimana permintaan As-syahid Toke Burhan dan saudara Razali Hamid Kubang AbeŽ dan ketiga didua kediaman masyarakat PidiŽ di batu 6 Gombak dan yang keempatnya di Kem Kalhamaren, di Stavanger telah juga saya jelaskan mengenai Setia dan Khianat.

 

Jika kita sedang berdiri berhadapan pada sebuah papan tulis (misalnya). Dan papan tulis kita belah dengan sebuah garis pembagi, kemudian kita katakan bahagian sebelah sisi kanan papan itu sebagai: Setia dan sebelah sisi kiri dari papan tulis itu sebagai: Khianat, maka disana hanya terlihat jelas bahwa Setia dan Khianat itu, sebagai bersebelahan, dan bukan sebangun sama kaki, berdekatan dan bersinggungan. Dan tidak ada garis-garis maya yang memisahkan keduanya: Setia dengan Khianat itu. Garis itu adalah garis pemisah yang jelas dan tegas!

 

Karena dalam segala bentuk perjuangan tidak boleh ada istilah berdiri diatas pagar, bermain dalam bayangan garis-garis maya?

 

Jika kita setia, maka kita musti berdiri tegak dengan sikap mental kita sendiri! Demikian pula jika mereka yang khianat, mereka akan meninggalkan kesetiaan mereka dengan melompati garis pemisah yang jelas dan tegas itu, atau melompat keluar lewat tingkap.

 

Setia dan Khianat itu bukan seperti contoh dari saudara Yusra Habib Abdul Gani: Sebangun dan dalam segi tiga sama kaki, yang dekat dan bersinggungan . Tidak! Malahan contoh saudara Yusra Habib Abdul Gani yang ini, sebagai bertentangan sekali dengan dua ucapan beliau diatas, yang selalu beliau ucapkan

 

Makanya mengatakan hal Setia dan Khianat itu bukan masalah sensitip tetapi masalah difinitip mutlak dalam sesebuah perjuangan. Apalagi sehubungan dengan perjuangan kemerdekaan merebut kembali tanah air kita, yang sedang dijajah oleh Penjajah Indonesia Jawa Chauvisnis atau Jawa Sentris atau Jawa Unitaris!!!

 

Kita mau melihat orang yang masuk kedalam wadah perjuangan ASNLF/GAM, seperti yang sering diucapkan oleh saudara Yusra Habib Abdul Gani:Hanya satu saja pintu masuk ASNLF/GAM,kemudian keluar, lompat lewat tingkap!

 

Jadi saudara Yusra Habib Abdul Gani sebagaimana kita bertiga sebagai anggota Komite Pelindung Pelarian Acheh di Malaysia, yang dilantik langsung oleh WN: As-syahid Tengku Ishak Daud, Tengku Yusra Habib Abdul Gani dan saudara Razali Abdullah telah ikut menjadi saksi bersama Advokat Negara Acheh Sumatra: Tengku Yusuf Rahmat dan Kadhi Negara: Tengku Salim, yang telah membaiat ribuan anak bangsa Acheh di Malaysia, tentunya kita tidak bisa merobah bahwa janji setia kita kepada perjuangan suci bangsa Acheh dan kepada Pemimpin benar-benar didepan Allah SWT.

 

Makanya seyogya diingatkan, agar janganlah saudara Yusra Habib Abdul Gani sampai demikian sekali hingga mengeluarkan ayat yang Omar Puteh telah ikut dalam pengkhianat massal?

 

Saya telah mengatakan kehadapan Wali Negara, Negara Acheh Sumatra: Tengku Tjhik di Tiro Hasan Muhammad bahwa, beliau tidak bisa lagi mengubah kepala Omar Puteh dan Razali Abdullah sebagai bangsa Acheh itu, untuk menjadi Indonesia Jawa Chauvinis, si Belanda Hitam walaupun dengan perintahnya!  Bagaimana pula saudara Yusra Habib Abdul Gani?

 

Bagaimana pula dengan ungkapan bahwa: Khianat itu kanker mental?

 

(Bersambung: PLUS I + SETIA ITU: SIKAP MENTAL DAN KHIANAT ITU: KANKER MENTAL)

 

Wassalam.

 

Omar Puteh

 

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------