Stavanger, 7 November 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PLUS I + SETIA ITU: SIKAP MENTAL DAN KHIANAT ITU: KANKER MENTAL

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.

 

 

NASIH MENYOROT SETIA SEBAGAI SUATU SIKAP MENTAL & KHIANAT SEBAGAI BENTUK PENYAKIT KANKER MENTAL

 

Seingat saya dalam sosiology masyarakat itu telah terbagi dua. Tetapi setelah saudara Yusra Habib Abdul Gani, mengatakan bahwa, di Achèh Pengkhianat itu, ada yang telah "berkampung sendiri dan berketurunan".Maka ini berarti ianya bukan saja dua, tetapi tiga! Maka sepatutnya sudah menjadi subject study baru keatas (kumpulan) masyarakat itu. Dimanakah kampung itu saudara Yusra Habib Abdul Gani?Atau bagaimanakah kita baca disebalik "berkampung sendiri dan berketurunan" itu?

 

Demikianlah "dia" (khianat) itu, dikatakan sebagai kanker mental, sebagai bentuk penyakit kanker mental, baik bagi diri orang perseorang atau masyarakat. Kalau "dia" itu masuk kedalam tubuh masyarakat perjuangan, maka tubuh masyarakat itu, musti dimamahnya. "Dia" itu dalam hakikatnya bukan hanya untuk menghancurkan bentuk kehidupan pikiran dan jiwa orang perseorangan, malahan terikut sama juga akan bentuk kehidupan pikiran dan jiwa dari sesuatu masyarakat perjuangan yang disusupinya.

 

Orang yang telah berkhianat, sangat susah mengembalikan kesehatan pikiran dan jiwanya, kecuali mau bertaubat dan senantiasa berdo'akehadirat Allah SWT, dengan mohon keampunanNya.

 

Dan justru itu, saya sememang percaya orang-orang itu atau kumpulan-kumpulan itu, ataupun masyarakat-masayrakat itu, akan membina hubungan orang perseorangan atau kumpulan perkumpulan yang memasyarakatkannya, sebagaimana saudara Yusra Habib Abdul Gani katakan bahwa, mereka telah berkampung dan berketurunan di Achèh, malahan diluar Achèh, dimerata dunia!

 

Nah dari sini, dari kutipan ketiga keterangan saudara Yusra Habib Abdul Gani itu, menjelaskan juga bahwa, bangun struktur "jiwa" Setia dan Khianat adalah sangat lain, tidak sebangun dalam segi tiga sama kaki dan tidak dekat dan tidak bersinggungan."Dia" (masyarakat khianat" itu, terlempar atau melemparkan diri keluar terpisah dari kedua masyarakat sosiologis (tradisionil) yang sedia ada.

 

Begitu besar bala-kehancuran dari angkara khianat itu:Merusakkan pikiran dan jiwa keatas si Pengkhianat itu sendiri, orang perseorangan atau masyarakat(perjuangan) yang disusupi/disinggunginya sehingga sanggup menebuk aqidah dari sumpah janji!

 

Mengambil contoh lain:Setia atau khianat itu bukanlah pula seperti dari sifat alami dari bunglon. Seketika hijau dan sekita warna yang lain, mungkin menguning atau kelabu dsbnya. Karena sifat-sifat alaminya itu kadangkala bersetia dengan hijau, kadangkala bersetia dengan kuning dan kadangkala bersetia dengan kelabu atau bersetia dengan warna yang lain, yang juga datangnya dari tubuh yang satu, dari dalam tubuh sibunglon itu sendiri.

 

Jadi warna-warna itupun, memang tidak pernah memperkatakan bahwa (tubuh) bunglon itu telah mengkhianati terhadap setiap masing-masing warnanya, malahan semua warna itu pasrah saja, no problem, hana peureumeuŽn spai!

 

Kalaulah "falsafah warna" pada bunglon diambil sebagai satu falsafah, maka falsafah setia dan khianat akan menjadi sebangun dalam segi tiga sama kaki dan dekat bersinggungan mungkin bisa diterima oleh siapapun?

 

Tetapi jika didekatkan gandengannya dengan ungkapan/motto dibawah ini:

(1) "Diam saja dan tampa berbuat apa-apa adalah pengkhianat!"

(2) "Hanya satu saja pintu masuk bagi ASNLF/GAM, tidak ada pintu keluar!"

(3)"Pengkhianat itu, ada yang "berkampung sendiri dan berketurunan",

maka tiga ungkapan atau motto diatas akan menjadi sumbang dan akan menjadi tak termakan, sama seperti menggandingkan "humanisme dan existentialism Søse Kirgaard", yang saudara Yusra Habib Abdul Gani contohkan itu.

 

Karena khianat secara praktikal digambarkan seperti seseorang yang telah melemparkan "jauh-jauh" pakaian setia yang telah melekat atau menempel dijiwa-tubuhnyanya

 

Lagi pula kita telah lama menyadari bahwa banyak mereka-mereka yang suka menghindari liku-liku perjuangan dengan mencari jalan pintas dengan memilih firman dan hadis yang sesuai dengan selera dan kepentingan mereka untuk berkelit dan menyelip-nyelip, setelah mereka melemparkan pakaian kesetian mereka itu.

 

Saudara Iqbal Idris mempunyai koleksi paling banyak firman dan hadis, termasuk fatwa-fatwa, terhadap orang-perseorangan atau kumpulan perkumpulan yang suka berkelit dan menyelip-nyelip.

 

Jadi sikap mental dari suatu bentuk kesetiaan seseorang tidak juga sedemikian mudahnya semisal, seperti seseorang menukar ganti spare-part (onderdil), atau semisal seperti semudahnya Bukhari Raden yang Achèh, menukar dirinya menjadi Raden Bukhari yang Jawa!

 

Untuk tulisan ini, biarlah saya katakan bahwa, disini saya telah membuat uraian sedikit berkenaan klasikasi point (IV), prihal Setia atau Khianat.

 

Hindarilah untuk berkhianat kepada rakan, masyarakat, bangsa dan negara!

 

(Bersambung: PLUS II + SETIA ITU: SIKAP MENTAL DAN KHIANAT ITU: KANKER MENTAL)

 

Wassalam.

 

Omar Puteh

 

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------