Stavanger, 14 Desember 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PLUS I + ABUSISIA: MILISI TNI MEMANG DIORGANISIR DAN DIPERSENJATAI.

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.

 

 

35.000 HINGGA 65.000 PERSONIL MILISI-MILISINYA TNI MERUPAKAN TAKTIK DAN STRATEGI KOTOR TENTARA TERORIS NASIONAL PENJAJAH INDONESIA JAWA.

 

Abusisia, untuk mendapatkan jawaban: Berapa ribu unit lagikah (1) Granat manggis, (2) Senjata laras panjang dan pendek, (3) Dan berapa ribu tonase lagikah amunisi berbagai jenis yang masih disembunyikan oleh 35.000 hingga 65.000 personil milisi-nya TNI dan ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa siluman, yang sekarang sedang menyusup kedalam perkebunan-perkebunan: Kelapa Sawit, Karet, Pinus, sebagai buruh perkebunan "setengah tiang" dan yang sedang menyewa rumah penduduk seluruh Achèh atau yang sedang kawin kontrak dengan pasangan dari bangsa Achèh etnis Jawa atau bangsa Indonesia Jawa etnis Achèh dan dari sekalian unit-unit Mayor Jenderal(Purn) Syamsir Siregar akan menjadi sangat penting, terutama sekali untuk memberikan:

 

(1) Sekalian gambaran jawaban yang jelas atas pertanyaan Abusisia: Siapa yang bertanggung jawab mengorganisir dan mempersenjatai Milisi-Milisinya TNI? yang disifatkan sebagai bentuk kritikan tajam lagi mengiris itu.

 

(2) Sekalian gambaran "iktikad baik" bergaris melintang dari pihak Penjajah Indonesia Jawa itu sendiri, yang kini sedang mengeksposkan upaya pelaksanakan kekonsekwensian kerjanya terhadap realisasi keatas perjanjian damai antara Negara Achèh Sumatra dan Penjajah Indonesia Jawa cq Negara Kolonialis Republik Indonesia Jawa(NKRI), yang telah termetrai itu.

 

Maka sudah sepatutnya kedua: Mayjen Saprudin Yusuf AS cq ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa dan Mayjen(Purn)Syamsir Siregar cq Badan Intelijen Negara (BIN)cq Mubazir Unit mengambil tanggung jawab:

(1) Menyerahkan daftar nama-nama dari keseluruhan Milisi-Milisinya TNI, yang telah terdaftar dari seluruh Kabupaten-Kabupaten, didalam wilayah Pemerintahan Achèh, yang diperkirakan berjumlah sekitar 35.000 hingga 65.000 personil.

 

(2) Menyerahkan daftar nama-nama ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa siluman, yang sekarang dalam persembunyian dan penyamaran mereka diseluruh wilayah Pemerintahan Achèh:

 

(a) Sebagai buruh perkebunan "setengah tiang" diperkebunan-perkebunan: Kelapa sawit, Karet dan Pinus.

(b) Penyewa rumah-rumah penduduk atau rumah sewaan.

(c) Petugas di projek-projek utama (termasuk yang ditugaskan mencuri kayu dihutan-hutan Achèh-illegal logging) dan di projek BRR-Tsunami.

(d) Membaurkan diri-diri mereka dengan Pujakusuma dibawah komander Jono Gayo, Milisi TNI yang pernah dilatih, diorganisir dan dipersenjatai oleh TNI/Raider-Ryamizard Ryacudu yang dikenal brutal dan biadab itu.

 

(3) Menyerahkan nama-nama dari Mubazir Unit, Badan Intelijen Negara (BIN) yang disusupkan dalam kalangan Dosen, Mahasiswa, Pegawai Kantoran dan Dagang, Buruh harlan, badan-badan NGO ataupun LSM.

 

Penyerahan daftar nama-nama itu penting bagi Pemerintah Achèh, AMM dan malahan bagi Penjajajah Indonesia Jawa sendiri:

(1) Untuk memonitoring, kesemua mereka yang terdaftar disana itu, apakah masih tetap berada di Achèh atau telah berada diluar Achèh. Tugas monitoring ini musti menjadi tugas tanggung jawab utama ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa dan BIN, walaupun ianya juga akan dilaksanakan oleh keseluruhan 5.000.000 bangsa Achèh, sebagai bahagian dari civic mission bangsa Achèh itu sendiri (national service), demi terciptanya kedamaian wilayah Pemerintahan Achèh, karena Milisi-Milisinya TNI yang pernah atau masih diorganisir (secara senyap)dan pernah dipersenjatai adalah sangat berbahaya terhadap semangat MOU Helsinki.

 

(2). Untuk pemonitoringan terhadap BIN, juga akan menjadi tugas tanggung jawab utama ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa dan BIN sendiri, walaupun ianya juga akan dilaksanakan oleh keseluruhan 5.000.000 bangsa Achèh, sebagai bahagian dari civic mission bangsa Achèh itu sendiri (national service), demi terciptanya kedamaian wilayah Pemerintah Achèh.

 

Para Dosen, Mahasiswa, Pegawai Kantoran dan Dagang, Buruh harlan, NGO/LSM yang disusupi akan ditekel sendiri oleh para massa: Dosen, Mahasiswa, Pegawai Perkantoran dan Dagang, Buruh harlan, NGO/LSM sendiri yang bercivic mission, demi terciptanya kedamaian wilayah Pemerintah Achèh.

 

Dan sementara ini masih juga mebingungkan bangsa Achèh, mengapa pihak Negara Achèh Sumatra Achèh, menyetujui kehadiran 24.000 lebih personil ABRI-TNI/POLRI,Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa di Achèh, sebagai tentara dan polisi "organiknya".

 

Karena 24.000 lebih personil "organik" ABRI-TNI/POLRI,Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa di wilayah Pemerintahan Achèh setelah 31 Desember,2005 telah dihitung-hitung pusing balik, sebagai jumlah paling sensasionil dan punya bawaan prasangka buruk terhadap Penjajah Indonesia Jawa itu sendiri oleh bangsa Achèh, pihak AMM cq Tuan Pieter C. Peth dan masyarakat Internasional keseluruhannya, karena wilayah Pemerintahan Achèh itu yang dikecutkan itu, hanya seluas keluasan wilayah negara Belanda.

 

Buat apa hingga 24.000 lebih personil ABRI-TNI/POLRI, Tentara Nasional Penjajah Indonesia Jawa di wilayah Pemerintahan Achèh yang sekecil itu? tanya mereka, yang ikut menganalisa.

 

Abusisia,

 

Bangsa Achèh sendiri telah juga menyarankan kepada pihak ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa cq Mayor Jenderal Sapruddin Yusuf AS agar segera menjalankan tugasnya dengan baik sebagaimana yang dikehendaki semangat MOU Helsinki, sepeti kita perkatakan diatas itu.

 

Begitupun juga, bangsa akan terus-menerus menghimbau kepada seluruh Milisi-Milisinya TNI, yang pernah diorganisir dan dipersenjatai itu dan masih tetap berada didalam wilayah Pemerintahan Achèh, supaya segera mengikut langkah berani dan terpuji dari salah seorang rakan Milisi-nya TNI, ex-anggota Laskar Merah Putih: Muhammad Nurdin, yang telah menyerahkan seunit geranat manggis kepada Panglima SagoŽ: Tengku Zakaria dari Wilayah Peureulak, Darul Nurul'Akla dan agar segera pula berusaha untuk menyerahkan kesemua: Unit geranat manggis lainnya, senjata laras panjang dan pendeknya serta seluruh timbunan simpanan amunisinya, lewat pihak TNA, Tentara Negara Achèh Sumatra cq GAM agar atau langsung kepada pihak AMM sebelum 31 Desember, 2005.

 

Bangsa Achèh tahu dan sepenuhnya menyadari hampir keseluruhan dari 35.000 hingga 65.000 personil Militia-Milisinya TNI itu adalah sebagai taktik dan strategi kotor Penjajah Indonesia Jawa cq ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, terhadap bangsa Achèh, seperti yang telah dilakukan keatas Muhammad Nurdin dengan dibentuknya barisan Laskar Merah Putih.

 

Bangsa Achèh sangat menyadari jenis pertanyaan ironis Abusisia itu, siapa yang telah pernah mengeluarkan sebuah deklarasi, cetusan dan ekspressi gejolak jiwanya terhadap perjuangan bangsa Achèh yang sedang berjuang untuk menentukan nasibnya sendiri, yang kemudian disusuli dengan sajak perjuangan: Reproklamasi 4 Desember, 1976 dengan menyarankan agar terus hidup dan berjuang dengan tidak pernah kenal diam.

Tampaknya, Abusisia tidak mau terjadi berulang lagi, semacam peristiwa hitamyang pernah dilakukan oleh Milisi Pujakusuma-nya TNI-Raider Ryamizard Ryacudu yang dikenal brutal dan biadab itu, di Achèh Tengah.

 

Dimana, para milisi-milisi Pujakusuma-nya TNI-Raider Ryamizard Ryacudu, yang dikenal brutal dan biadab itu, dibawah komander yang menamakan dirinya: Jono Gayo, yang diseragami dengan kaos oblong TNI-Raider pernah hampir setiap hari, disiang-siang bolong memenggal leher pekebun-pekebun kopi anak Achèh dan Gayo yang sedang dalam perjalanan, baik yang sedang berjalan kaki atau yang sedang mengayuh speda ataupun bersepeda motor dengan tujuan pergi berladang dan berkebun, dan kemudian melemparkan begitu saja jenazah-jenazah korban yang sudah tidak berkepala (beheaded) kedalam semak belukar.

 

Kejadian itu lebih dahsyat dari apa yang pernah kita lihat peristiwa menjelang tumbangnya algojo Jawa, Suharto Kleptokracy diantara bulan April-Mei, 1998, bagaimana anak-anak Jawa Timur memenggal leher atau menyeret anak-anak Jawa Timur lainnya yang dituduh sebagai kumpulan pengamal "ilmu hitam" dengan speda motor disepanjang jalan Tar sampai mati.

 

(Bersambung: Plus II + Abusisia: Milisi TNI Memang Diorganisir Dan Dipersenjatai).

 

Wassalam.

 

Omar Puteh

 

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------