Stockholm, 24 Desember 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


GAYA TIPU TNI MODEL JENDERAL JAWA ENDRIARTONO SUTARTO PASCA MOU HELSINKI COBA DIPERTONTONKAN DI ACHEH.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

JENDERAL TNI JAWA ENDRIARTONO SUTARTO BERSAMA KUNTORO MANGKUSUBROTO COBA MAINKAN KEMBALI KETOPRAK JAWA DI ACHEH PASCA MEMORANDUM OF UNDERSTANDING HELSINKI 15 AGUSTUS 2005.

 

"Saya beberapa kali bertemu Pak Kuntoro dan ia menganggap bantuan TNI diperlukan untuk mempercepat proses rekonstruksi" (Jenderal TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jakarta, Kamis 22 Desember 2005).

 

Kelihatan itu jenderal TNI Endriartono Sutarto mau mempertontonkan tipu TNI-jawa-nya bersama Ketua Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias Kuntoro Mangkusubroto. Mereka berdua mencoba menunjukkan kepada bangsa Acheh bahwa untuk merehabilitasi dan merekonstruksi Acheh masih diperlukan kekuatan non-organik TNI-Jawa-nya Jenderal Endriartono Sutarto.

 

Mereka berdua berpikir bahwa tanpa pasukan non organik TNI-jawa itu negeri Acheh tidak akan bisa kembali direhabilitasi dan direkonstruksi. Mereka berdua berpikir tanpa bantuan kekuatan non organik TNI-jawa itu proses rehabilitasi dan rekonstruksi Acheh tidak bisa dipercepat. Mereka berdua berpikir bahwa bangsa Acheh bisa dibodohi dan ditipu dengan gaya tipu model Jenderal TNI Endriartono Sutarto dan gaya-jawa Kuntoro Mangkusubroto.

 

Jenderal Sutarto,

 

Di Acheh tidak perlu lagi dijejali dengan segudang pasukan non-organik TNI, apapun alasannya, apakah itu memakai alasan karena rehabilitasi dan rekonstruksi Acheh atau alasan lainnya. Yang sangat diperlukan di Acheh adalah dana, kerjasama, para akhli, managemen, bersih dari praktek korupsi dan dukungan seluruh bangsa Acheh. Kenyataannya sampai detik sekarang ini itu yang namanya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias yang dipimpin oleh Kuntoro Mangkusubroto masih tetap lumpuh. Itu yang namanya Kuntoro masih tetap berjalan ditempat dengan alasan bahwa membangun kembali Acheh tidak bisa dengan cepat. Inilah gaya model Jawa, alon-alon asal kelakon. Taktik dan strategi pembangunan gaya jawa yang membuat pembangunan kembali Acheh terbengkalai.

 

Jenderal Sutarto,

 

Lebih baik Jenderal urus itu seluruh anak buah pasukan non-organik TNI secara profesional dalam kemiliteran, urusan sipil dan pembangunan ekonomi di Acheh bukan urusan TNI, tetapi urusan sipil dan seluruh bangsa Acheh. Jangan dijadikan alasan itu rehabilitasi dan rekonstruksi Acheh dan Nias untuk kembali TNI berjejal-jejal masuk lagi ke Acheh. Itu adalah gaya penipuan model ketoprak Jawa, Jenderal TNI Sutarto.

 

Jenderal Sutarto,

 

Dari pada menyibukkan diri untuk ikutan di Acheh, lebih baik Jenderal urus itu urusan diluar Acheh yang menyangkut keamanan dan pertahanan eksternal di RI. Tidak perlu Jenderal bersama-sama dengan itu Kuntoro Mangkusubroto dari BRR untuk ikut menari ketoprak Jawa gaya TNI di Acheh. Gaya tari pasukan non-organik TNI-jawa sudah tidak laku lagi di Acheh. Apakah Jenderal Sutarto sudah lupa itu ?.

 

Jenderal Sutarto,

 

Serahkan pembangunan di Acheh kepada bangsa Acheh, biarkan bangsa Acheh yang akan membangun kembali negeri mereka, mereka memiliki kemampuan dan kecakapan kalau mereka diberikan kesempatan, bukan hanya diatur dan ditekan oleh orang-orang dari Jawa yang merasa sok pandai dan sok mampu.

 

Jenderal Sutarto,

 

Tidak ada guna lagi setelah MoU ditandatangani 15 Agustus 2005 di Helsinki, itu pasukan non-organik TNI-jawa kembali dikerahkan ke Acheh, dengan alasan murahan ikut bersama Kuntoro membangun kembali Acheh.

 

Jenderal Sutarto,

 

Lebih baik jenderal sebelum masuk kekotak ruangan pensiun, walaupun usia jenderal sudah masuk pensiun, persiapkan untuk memikirkan dan menyiapkan kembali apa saja yang telah dikerjakan oleh pihak TNI di Acheh yang menyangkut hal-hal pelanggaran hak-hak asasi manusia di Acheh, siapa tahu nanti Jenderal akan dipanggil untuk mempertanggungjawabkan kelakukan pasukan TNI  selama berada di Acheh yang telah menimbulkan dan melakukan tindakan pelanggaran hak-hak asasi manusia di Acheh.

 

Bersiaplah untuk itu Jenderal Sutarto, daripada sibuk menggunjingkan pengerahan kembali pasukan non-organik TNI ke Acheh ikut Kuntoro Mangkusubroto yang lembek dan tidak memiliki kemampuan itu.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/23/utama/2315534.htm

 

Jumat, 23 Desember 2005

TNI Sanggupi Bantu BRR Bangun Kembali Aceh dan Nias.

 

Jakarta, Kompas - Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Endriartono Sutarto menyatakan bersedia membantu Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias. Bantuan tersebut terutama berkaitan dengan pembangunan kembali sejumlah tempat bekas bencana tsunami yang masih sulit diakses karena terbatasnya sarana dan prasarana.

 

Pernyataan itu disampaikan Endriartono, Kamis (22/12), seusai memberikan pengarahan dalam rapat paripurna program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-26 tahun 2005 di Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jakarta. Kesediaan itu ditetapkan setelah Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias beberapa kali meminta TNI ikut terlibat.

 

”Saya beberapa kali bertemu Pak Kuntoro (Kepala BRR Aceh dan Nias Kuntoro Mangkusubroto) dan ia menganggap bantuan TNI diperlukan untuk mempercepat proses rekonstruksi,” ujar Endriartono.

 

Pihak TNI, tuturnya, tengah menyiapkan tindak lanjut bantuan kepada BRR. Salah satunya adalah dilakukan melalui program TMMD tahun depan dengan dukungan dana dari BRR. ”Semoga saja bantuan kami itu bisa mendatangkan manfaat,” kata Endriartono lagi.

 

Dalam kesempatan yang sama Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Djoko Santoso menyatakan, saat ini 15 batalyon zeni tempur dan batalyon zeni konstruksi siap diterjunkan dan tinggal menunggu perintah dari Panglima TNI.

 

Pasukan cukup.

 

Di Banda Aceh Panglima Kodam Iskandar Muda Mayor Jenderal Supiadin AS menyatakan, meski seluruh pasukan TNI non-organik ditarik, pasukan organik cukup untuk menjaga keamanan di Nanggroe Aceh Darussalam. Sesuai dengan nota kesepahaman damai antara Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), pasukan TNI organik yang tersisa di Aceh hanya 14.700 personel.

 

”Sekarang sudah tidak ada lagi GAM. Senjata mereka juga sudah dimusnahkan. Tinggal kita semua, termasuk masyarakat, membantu menjaga keamanan lingkungan sehingga keamanan bisa tercipta secara menyeluruh,” kata Supiadin setelah peringatan HUT Kodam Iskandar Muda di Banda Aceh, Rabu siang.

 

Dikritik LSM.

 

Permintaan BRR dan kesanggupan Panglima TNI membantu rehabilitasi Aceh dan Nias itu dikritik sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM), seperti Perkumpulan Demos dan koalisi LSM Aceh Working Groups (AWG).

 

Menurut peneliti Perkumpulan Demos, Agung Widjaya, permintaan bantuan kepada Panglima TNI menunjukkan kegagalan sekaligus ketidakjelasan program kerja BRR. Menurut dia, masuknya kembali pasukan TNI ke Aceh dapat berdampak buruk dan merusak kepercayaan yang telah terbentuk di Aceh.

 

”Kesalahan BRR adalah hanya menjadikan ukuran-ukuran seperti berapa banyak rumah atau sekolah yang berhasil dibangun sebagai tolok ukur. Mereka lupa, tolok ukur keberhasilan sebenarnya terkait dengan pembangunan kepercayaan,” ujar Agung.

 

Koordinator AWG Rusdi Marpaung mengingatkan, pelibatan anggota TNI membantu BRR itu masuk dalam kategori operasi militer selain perang. Langkah seperti itu harus terlebih dahulu melalui perintah presiden dan dilaporkan ke DPR.

 

Deputi Human Rights Working Groups (HRWG) Choirul Anam menekankan agar jangan sampai bantuan TNI itu membangkitkan kembali sisi trauma masyarakat pasca-upaya damai lewat kesepahaman damai. (DWA)

----------