Stockholm, 27 Desember 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


GAM TIDAK BUBAR, SAYAP MILITER GAM MENJADI SIPIL & NON-ORGANIK TNI DITARIK DARI ACHEH SESUAI DENGAN MOU HELSINKI.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SAYAP MILITER GAM MENJADI SIPIL & NON-ORGANIK TNI DITARIK DARI ACHEH SERTA GAM TIDAK BUBAR MEMANG SESUAI DENGAN MOU HELSINKI 15 AGUSTUS 2005.

 

Apabila pada hari ini, Selasa, 27 desember 2005 pihak sayap militer GAM, yaitu Tentara Negara Acheh menyatakan dirinya bukan lagi sebagai sayap militer melainkan menjadi sipil dan merupakan bagian dari sipil GAM memang itu sesuai dengan apa yang telah disepakati dalam Memorandum of Understanding Helsinki 15 Agustus 2005. Sebagaimana yang tertuang dalam MoU Helsinki: "4.2. GAM melakukan demobilisasi atas semua 3000 pasukan militernya. Anggota GAM tidak akan memakai seragam maupun menunjukkan emblem atau simbol militer setelah penandatanganan Nota Kesepahaman ini. 4.3. GAM melakukan decommissioning semua senjata, amunisi dan alat peledak yang dimiliki oleh para anggota dalam kegiatan GAM dengan bantuan Misi Monitoring Aceh (AMM). GAM sepakat untuk menyerahkan 840 buah senjata. 4.4. Penyerahan persenjataan GAM akan dimulai pada tanggal 15 September 2005, yang akan dilaksanakan dalam empat tahap, dan diselesaikan pada tanggal 31 Desember 2005"

 

Nah, dengan telah dilaksanakan penyerahan persenjataan pasukan militer GAM yang dimulai sejak 15 September 2005 sampai 17 Desember 2005 kepada pihak Misi Monitoring Aceh (AMM), maka secara de-facto pasukan militer GAM telah menjadi sipil untuk selanjutnya berjuang digelanggang politik di bumi Acheh.

 

Adapun GAM sebagai organisasi perjuangan bangsa Acheh tetap berdiri selama GAM itu sendiri tidak membubarkan diri. Dan memang tidak tertuang dalam MoU Helsinki bahwa GAM harus membubarkan diri.

 

Sedangkan sayap militer GAM yang berada dibawah institusi TNA, karena telah dilakukan demobilisasi atas semua 3000 pasukan TNA dan decommissioning semua senjata, amunisi dan alat peledak yang dimiliki oleh para anggota TNA yang diserahkan kepada pihak Misi Monitoring Aceh (AMM), maka institusi TNA menjadi institusi sipil. Dan dari sejak hari ini GAM berjuang melalui jalur politik yang bebas tanpa merasa takut dikejar-kejar oleh pihak TNI di Acheh untuk secara bersama-sama dengan seluruh rakyat Acheh membangun kembali Acheh menuju kepada tingkat kemakmuran, keamanan, keadilan, kesejahteraan dan kejayaan Acheh.

 

Perjuangan politik adalah jauh berbeda dengan perjuangan dengan mengangkat senjata. Pihak GAM sekarang dengan bebas dan secara de-facto berada di negeri Acheh dan dengan leluasa bisa melakukan hubungan kedalam dan keluar tanpa harus mendapat hambatan dari pihak manapun juga.

 

Acheh sekarang telah menjadi negeri yang bebas baik bagi rakyat Acheh maupun bagi pihak asing untuk secara bersama-sama membangun kembali Acheh dari kehancuran menuju kepada kemakmuran dibawah perintah dan pimpinan bangsa Acheh sendiri.

 

Inilah salah satu keberhasilan perjuangan bangsa Acheh yang telah ditempuh melalui jalur perjanjian kesepakatan Memorandum of Understanding di Helsinki 15 Agustus 2005.

 

Rakyat di Acheh tidak lagi harus takut kepada pihak TNI atau pihak manapun juga untuk menyampaikan buah pikirannya. Situasi dan keadaan Acheh pasca MoU Helsinki telah berubah 180 derajat dari keadaan sebelum MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

 

Selamat untuk seluruh bangsa Acheh dimanapun berada.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

http://www.jaga-jaga.com/anIjagaDaerah.php?ida=6055

 

GAM Umumkan Pembubaran TNA

 

ACEH, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) siang ini (Selasa, 27/12) mengumumkan secara resmi pembubaran Tentara Negara Aceh (TNA). TNA selama ini merupakan sayap militer GAM yang terlibat pertempuran senjata dengan TNI dan Polri. Pengumuman pembubaran TNA tersebut akan dibacakan Juru Bicara GAM Sofyan Dawood di Markas Besar GAM, Banda Aceh.

 

"Ini peresmian pembubaran TNA, karena sebenarnya sudah sejak pemusnahan senjata pembubarannya, ini official state," ungkap perwakilan GAM untuk Aceh Monitoring Mission (AMM) Irwandi Yusuf usai pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kompleks Kediaman Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Banda Aceh.

 

Setelah pemusnahan senjata tahap akhir tanggal 19 Desember lalu, GAM menyatakan tidak lagi memiliki senjata. Total senjata GAM yang diserahkan hingga tahap-4 atau tahap terakhir sebanyak 1.011 pucuk, dari jumlah tersebut 838 pucuk diterima AMM, dan 72 dipermasalahkan oleh Pemerintah RI. Berdasarkan MoU Helsinki, pihak GAM wajib menyerahkan 840 pucuk senjata standar.

 

Sementara itu, Presiden Susilo mengatakan bahwa hari ini keberadan pasukan non organik TNI dan Polri di Aceh akan diakhiri. "Ada timeline, ada jadwal, ada langkah bersama dari pihak former GAM dan pihak TNI danPolri, yang jelas bahwa hari ini dilakukan penarikan secara fisik dan secara formal dari elemen TNI yang non organik dari Aceh," ujarnya.

 

Penarikan seluruh pasukan non organik ini sesuai dengan Nota Kesepahaman (MoU) RI-GAM bersamaan dengan pemusnahan seluruh senjata GAM yang dilakukan Aceh Monitoring Mission.

 

Presiden mengakui ada masalah dengan kapal pengangkut sehingga ada pasukan Polri yang baru akan ditarik tanggal 2 Januari mendatang. "Saya kira sangat jelas tidak ada dusta dari semuanya, ini kecuali kalau tentara bisa berenang semua, semua bisa pulang hari ini juga," katanya.

 

Pada kesempatan itu, Presiden Susilo membantah bahwa TNI akan mengirimkan 15 personil ke Aceh. Yang benar, kata Kepala Negara, TNI akan mengirimkan Satuan Zeni Konstruksi yang beranggotakan kurang dari 1.000 personil untuk membantu rekonstruksi Aceh. "Jadi bukan pasukan tempur, satu atau dua batalyon, kurang dari 1.000 personil, jadi bukan 15.000 personil," ungkap Presiden Susilo.

 

Kompas, 27/12/2005

----------