Stockholm, 28 Desember 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


ACHEH DAMAI, JENDERAL SUTARTO KEHILANGAN KONTROL DAN KEPERCAYAAN DI ACHEH.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

AKIBAT MOU HELSINKI 15 AGUSTUS 2005, MUNCUL PERDAMAIAN DI ACHEH DAN HILANGNYA KONTROL DAN KEPERCAYAAN JENDERAL TNI ENDRIARTONO SUTARTO.

 

Akhirnya kelihatan dengan jelas itu Jenderal TNI Endriartono Sutarto memang tidak sepenuhnya mendukung MoU Helsinki 15 Agustus 2005, mengapa ?

 

Karena dengan dilambungkannya taktik dan strategi gaya "program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 2006" di Acheh pasca MoU Helsinki 15 Agustus 2005 menggambarkan bahwa pihak Jenderal Sutarto dalam hal ini TNI tidak seratus persen mendukung kesepakatan perdamaian di Acheh atau dengan kata lain pihak TNI tidak mendukung penuh MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

 

Sudah jelas dalam MoU Helsinki dinyatakan: "4.5. Pemerintah RI akan menarik semua elemen tentara dan polisi non-organik dari Aceh. 4.6. Relokasi tentara dan polisi non-organik akan dimulai pada tanggal 15 September 2005, dan akan dilaksanakan dalam empat tahap sejalan dengan penyerahan senjata GAM, segera setelah setiap tahap diperiksa oleh AMM, dan selesai pada tanggal 31 Desember 2005. 4.7. Jumlah tentara organik yang tetap berada di Aceh setelah relokasi adalah 14.700 orang. Jumlah kekuatan polisi organik yang tetap berada di Aceh setelah relokasi adalah 9.100 orang."

 

Nah, rupanya dengan ditariknya tentara dan polisi non-organik dari Acheh telah menyebabkan pihak Jenderal Sutarto dalam hal ini TNI kehilangan kontrol di Acheh dan pihak Sutarto tidak percaya kepada semua tentara dan polisi organik yang sekarang berada di Acheh, dimana jumlah tentara organik dalam hal ini tentara yang berasal dari bangsa Acheh dan rakyat Acheh sebanyak 14.700 orang dan jumlah polisi organik dalam hal ini polisi yang berasal dari bangsa Acheh dan rakyat Acheh sebanyak 9.100 orang.

 

Pihak Jenderal Sutarto memang tidak percaya kepada seluruh pasukan tentara dan polisi organik yang ada di Acheh sekarang yang jumlahnya menurut MoU Helsinki adalah 23.800 orang. Karena itu mengapa Jenderal Sutarto berusaha setengah mati dengan cara apapun untuk bisa masuk kembali ke Acheh dengan membawa pasukan non-organik TNI-nya yang memakai topeng pasukan Zeni.

 

Tentu saja, bukan hanya pihak Jenderal Sutarto yang tidak percaya kepada pasukan organik TNI dan Polri di Acheh, melainkan juga Susilo Bambang Yudhoyono juga tidak percaya seratus persen kepada pasukan organik tentara dan polisi yang sekarang berada di Acheh.

 

Coba saja pikirkan, apakah masuk akal kalau itu Jenderal Sutarto akan mengirimkan pasukan Zeni dalam hal ini pasukan non-organik TNI ke Acheh untuk tujuan pembangunan jalan di Acheh, padahal di Acheh masih segudang pasukan organik tentara dan polisi ?.

 

Apakah tentara organik yang jumlahnya 14.100 di Acheh tidak cukup untuk diperbantukan kerja membuat jalan di Acheh bersama para pegawai sipil jalan lainnya ?

 

Inilah suatu dagelan yang tidak lucu yang ditampilkan oleh Jenderal Sutarto untuk kembali mengontrol di Acheh, karena pihak Sutarto tidak percaya kepada pasukannya sendiri yang organik yang sekarang berada di Acheh.

 

Jenderal Sutarto,

 

Itu soal pembuatan jalan baik jalan raya ataupun jalan di desa-desa bukan tugas dan kerja TNI, itu kerjanya tukang buat jalan dan ingsinyur pembuat jalan. Kerja pasukan non-organik dan organik adalah menjaga pertahanan, bukan memanaskan aspal, menaburkan batu-batu  dijalan-jalan dan menjalankan roda setom wales.

 

Jenderal Sutarto,

 

Itu soal program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 2006 adalah program yang salah kaprah, yang menyimpang dari tugas pokok profesional TNI sebagai penjaga dan pelindung pertahanan.

 

Jenderal Sutarto,

 

Itu TNI Manunggal Membangun Desa artinya pihak TNI ingin menguasai rakyat di desa-desa biar dapat dikontrol dan diawasi. Jadi bukan musuh yang diawasi oleh TNI, melainkan rakyat di desa-desa. Dasar memang taktik tipu daya mbah Sutarto dengan program TNI Manunggal Membangun Desa-nya.

 

Jenderal Sutarto,

 

Bangsa Acheh sekarang tidak bisa lagi tipu.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

PANGLIMA TNI: Pasukan Zeni Fokus Pada Pembangunan Jalan

 

Jakarta - Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengatakan, pengerahan pasukan Zeni untuk membantu proses rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh akan difokuskan pada pembuatan jalan permanen di sepanjang pesisir barat Sumatera, yang hancur akibat tsunami satu tahun silam.

 

"Setelah berkoordinasi dengan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh, maka fokus pasukan Zeni nanti pada pembangunan jalan di sepanjang pesisisr barat Sumatera," katanya, Usai pertemuan di Gedung Direkorat Jenderal Pajak itu, Endriartono mengatakan, dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 2006, TNI menyiapkan 15 batalion Zeni untuk melakukan pembangunan di sejumlah daerah yang membutuhkan.

 

"Namun, 15 batalion itu belum termasuk yang akan dikerahkan ke Aceh. Kita masih menunggu hasil kajian dari BRR, berapa kira-kira kekuatan Zeni TNI yang diperlukan untuk rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh," ujarnya.

 

Endriartono mengatakan, selain memfokuskan diri pada pembangunan jalan di sepanjang pesisir barat Sumatera, pasukan zeni TNI tersebut juga akan membantu proses pembangunan di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang selama ini tidak dapat dijangkau oleh para kontraktor. "Daerah mana saja yang akan jadi fokus, selain pesisir barat Sumatera, ini yang masih dilakukan kajian oleh BRR," katanya.

 

Dalam TMMD 2005, TNI berhasil membangun jalan temporer yang menghubungkan Banda Aceh-Meulaboh sepanjang 273 kilometer dan membbangun sejumlah jembatan balley dan jembatan ponton, untuk membuka daerah-daerah yang terisolasi akibat bencana tsunami Desember 2004.

 

Tentang kemungkinan anggapan TNI `menyalahi` nota kesepakatan damai pemerintah dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), bahwa pasukan TNI non-organik tidak ada lagi di Aceh, Panglima TNI mengatakan rencana itu sudah dibicarakan dengan Aceh Monitoring Mission (AMM) dan GAM.

 

"Kehadiran TNI di sana kan untuk misi kemanusiaan, jadi sah-sah saja. Sama seperti kita mendukung pasukan kemanusiaan ke Afghanistan beberapa waktu lalu yang tertimpa gempa bumi. Hal itu sudah kami bicarakan dengan AMM dan GAM, tidak ada masalah," ujarnya.(*)  (Matius Dharminta, Rabu, 28 Desember 2005, 07:49:28 +0100 (CET))

----------