Stavanger, 31 Desember 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PLUS  I + INDUNESIA TIWUL.

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.

 

 

NKRI DIPERINTAH OLEH REZIM INDONESIA JAWA CHAUVINIS ATAU JAWA SENTRIS ATAU JAWA UNITARIS ATAU JAWA MOJOKERTONIS-SOLOIS OLEH SOEKARNO SI PENIPU LICIK. GREAT JAVA UBER ALLES!?

 

Saudara Tiwul,

 

Disini, kembali saya menyambung lagi respon saya tentang: Indonesia Tiwul-nya anda itu Tiwul.

 

Tetapi kali ini, biarlah ia terpintas lewat saudara Irfan Anshory, Direktur Pendidikan "Ganesha Operation", si penulis Indunesia Tiwul-anda itu sendiri.

 

Saudara Irfan Anshory, mengapakah anda menggunakan institusi pendidikan anda itu dengan: India Anglo atau Indo Anglo?  Ataukah India Anglo atau Indo Anglo anda itu, kemudiannya akan berevolusi atau berasimilasi juga?  Kalau ya, lantas akan menjadi apa agaknya ya?

 

Saudara Irfan Anshory, nampaknya anda agak rasialis atau chauvinis?

 

Kalau "hindunesia atau hindunesha" itu dibaca oleh Raden Samuel Plotomi sebagai "indosnesos" mengikut pelet lidah Yunani-nya, dan kemudian sesampai ke Raden George Samuel Windsor Earl dengan pelet England-nya katanya sudah menjadi "indunesia".  Lantas sampai pula ke Raden James Richardson Logan dengan pelet lidah Scotland-nya yang agak keras berbanding pelet siorang England, maka katanya sebutan "indunesia" itu, sudah pula bertukar menjadi "indonesia"?

 

Raden Adolf Bastian-pun, dengan pelet lidah Jerman-nya memang agak serasi juga dengan "indonesia" itu dan langsung mempublikasikannya: Wilayah "hindunesia atau hindunesha" atau "indosnesos" atau "little india" atau "futher india" atau bahagian dari wilayah great india atau "tanjung keling" atau "kepulauan sunda besar dan sunda kecil" atau "indunesia" adalah sebagai "indonesia" namanya nusantara, sama sebagaimana pernyataan Dr Henry Kissinger, mantan Menlu Amerika Serikat, yang juga pernah mengingatkan bahwa wilayah nusantara yang dimaksudkan itu: "indonesia", adalah sebagai sebutan (nama) geografis bukan sebagai nama kebangsaan atau "indonesia" itu bukan sebagai nama bangsa atau negara!

 

"Sejarah wilayah Hindia Belanda, terbentuk mirip kesamaan sejarahnya seperti terbentuknya wilayah USSR, wilayah Yugoslavia (Serbia Raya), atau Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), lewat rampokan wilayah dengan kekuatan militer, lantas memaksa dan menggiringi negara-negara (kerajaan-kerajaan) yang berdaulat sebelumnya, tunduk dibawah sebuah payung kuasa administrasi tunggal untuk diperintah oleh sebuah rezim.  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diperintah oleh sebuah rezim Indonesia Jawa Chauvinis atau Jawa Sentris atau Jawa Unitaris.

 

Makanya jika kita mau melihat ke akar sejarah ketatanegaraan dari negara-negara atau kerajaan-kerajan berdaulat itu, yang telah disatukan dibawah payung kuasa administrasi tunggal oleh rezim itu, jelaslah bahwa, rezim itu akan terpandang sebagai rezim penjajah sebuah bangsa keatas bangsa-bangsa yang lain: Exploitation de nation par nation!  Maka rezim Indonesia Jawa Chauvinis atau Jawa Sentris atau Jawa Unitaris terregister dalam sejarah nusantara atau indunesia atau indonesia, sebagai Penjajah Indonesia Jawa, pewaris Penjajah Hindia Belanda!?

 

Jadi saudara Irfan Anshory, itu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukan dibentuk oleh kehendak nasionalisme "indunesia" atau "indonesia", tetapi oleh kehendak sebuah: Rezim Jawa Chauvinis, atau Jawa Sentris ataupun Jawa Unitaris.  Tidak ada nasionalisme Hindia Belanda, tidak ada nasionalisme USSR, tidak ada nasionalis Yugoslavia dan juga tidak ada nasionalisme NKRI!...............................

 

Ketika Hindia Belanda berkuasa keatas wilayah: hindunesia atau hindunesha atau indosnesos atau little india atau futher india atau bahagian great india atau kepulauan tanjung keling atau kepulauan sunda besar dan sunda kecil atau indunesia atau indonesia semua mereka yang ada disana telah mengikrarkan diri sebagai bangsa Hindia Belanda.

 

Begitulah juga terjadi terhadap bangsa-bangsa Melayu Nusantara hari ini, dengan sebuah sejarah tragis lain, setelah Hindia Belanda menyerahkan wilayah kekuasaannya kepada bangsa-bangsa dalam wilayah hindunesia atau hindunesha atau indosnesos atau little india atau futher india atau sebahagian great india atau kepulauan tanjung keling atau kepulauan sunda besar dan kecil atau indunesia atau indonesia yang terhimpun dalam RIS (Republik Indonesia Serikatat), lantas, setelah 231 hari, kuasa wilayah RIS (Republik Indonesia Serikat) itu, dirampok dengan menggunakan trick platform undang-undang RIS:  PP RIS No 21/08/1950 dan disusuli dengan penggunaan kekuatan militer oleh Soekarno si Penipu licik.

 

Dan dalam sekelip mata, wilayah RIS (Republik Indonnesia Serikat) itu bertukar menjadi wilayah kuasa NKRI (Negara Kesatuan Republik Indionesia atau disebut juga sebagai Negara Kolonialis Republik Indonesia) rezimnya penjajah Indonesia Jawa atau Jawa Chauvinis atau Jawa Sentris atau Jawa Unitaris, yang juga mau, agar setiap orang dipaksa musti mengkikrarkan diri sebagai bangsa baru, bangsa NKRI!

 

NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) negara yang tidak sah!  Dr Pramoedya Ananta Toer dalam wawancaranya pada hari ulang tahun ke 80? kembali lagi, mengatakan NKRI itu negara yang tidak sah!  Happy Birth Day Dr Pramoedya!

 

Mari, disini kita membicarakan:

 

(1) Mengenai anak-anak Jawa, dari anggota PKB (Perserikatan Komunis Belanda), walaupun telah mengubah nama partainya menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1924, tetapi anggotanya ,juga masih tetap menyatakan diri mereka sebagai bangsa Hindia Belanda dan berkewarganegaraan Hindia Belanda.  Indonesia yang telah dijadikan predikat partai komunis itu, semata-mata adalah sebagai suatu symbol!

 

(2) Kumpulan anak-anak Jawa komunis inilah juga yang mempelopori Soempah Pemoeda 28 Oktober, 1928.  Indonesia dalam sebutan sumpah mereka itu, dilihat dari dialektika sejarahnya bangsa Jawa juga, hanya sebagai suatu symbol!

 

(3) Begitu juga halnya Soekarno si Penipu licikpun, walaupun dia telah mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) atau juga disebut sebagai PKB (Partai Komunis Bunglon) pada tahun 1927, dan tetap menyatakan dirinya sebagai bangsa Hindia Belanda dan berkewarganegaraan Hindia Belanda.  Jadi Indonesia masih sebagai symbol!

 

Malahan Soekarno si Penipu licik pada Agustus 1930 dalam pledoi pembelaannya "Indonesia menggugat" di Landraad, Bandung, sebagaimana dikomentari oleh Prof Dr Mubyarto, Guru Besar FE-UGM, Jokyakarta bahwa, Soekarno si Penipu licik itu, sesungguhnya (dia sebagai warga negara Belanda dan sebagai bangsa Belanda) tidak pernah menentang pemerintahan Hindia Belanda, sebagai pemerintahan yang sah dan mengakuinya pula bahwa,  Hindia Belanda itu, bukan sebagai bangsa asing, sebagai kolonialis-imperialis.

 

Silakan baca kembali sendiri, tulisan Soekarno si Penipu licik  "Indonesia Menggugat"!  Disinipun terbaca bahwa dalam jiwa Soekarno si Penmipu licik, ketika dia telah berumur 29 tahun, ditahun 1930,  Indonesia-nya itu, masih hanya sebagai symbol!

 

Note (1): Sikap Soekarno si Penipu licik, selaku seorang warga negara Belanda, tidak mau menentang Belanda sebagai bangsa asing, sebagai kolonialis, sebagai imperialis. Dalam menyusuri catatatan epos sejarah perjungan bangsa Jawa bahwa, bangsa Jawa, tidak pernah menentang kolonialis-imperialis Belanda, hanya karena Belanda itu sebagai kolonialis-imperialis. Tetapi karena akibat dilibatkan oleh ulah-tingkah raja-raja Jawa, bangsawan-bangsawan Jawa dan para tuan-tuan tanah atau lintah-lintah darat Jawa!

 

Atau mungkin karena mereka: Raja-raja Jawa, bangsawan-bangsawan Jawa, tuan-tuan tanah atau lintah-lintah darat Jawa ketika itu belum sempat mengenal isyarat symbol indunesia atau indonesia?

 

Sekalipun dia senantiasa meneriaki doktrin komunismenya, menentang keras: Kolonialisme dan imperialisme!  Sedangkan dia tahu bahwa, feudalisme dan kapitalisme adalah akar tunggal kolonialisme dan imperialisme dan sangat tegas disuarakan dalam doktrin komunisme!

 

Tetapi mengapakah pula,  Soekarno si Penipu licik itu tidak pernah menyuarakan tantangan terhadap feudalisme atau feudalisme Jawa?  Bukankah feudalisme Jawa ketika itu juga punca kejahatan kemanusian keatas manusia-manusia Jawa yang lain?

 

Bukankah feudalisme Jawa tentunya tidak boleh wujud lagi, effektip sejak Soekarno si Penipu licik telah menerima watikah "indonesia", walaupun ketika itu masih sebagai symbol, karena semua feudalisme di luar pulau Jawa semuanya telah dihabisi oleh anak-anak Jawa Pembunuh bayaran KNIL Belanda atau si Belanda Hitam ketika mereka ditugaskan diseluruh wilayah Hindia Belanda dulu.

 

Feudalisme dan kapitalisme adalah akar tunggal kolonialisme dan imperialisme dan sangat tegas tantangannya disuarakan dalam doktrin komunisme! Apakah tidak demikian dalam doktrin Soekarnoisme!? Atau karena komunismenya sudah menjadi komunis bunglon dalam "nasional"-nya  symbolik indonesia itu?

 

Feudalisme Jawa terkenal kejam, melangkahi feudalisme Eropah ketika itu.  Feudalisme Jokyakarta dan Surakarta yang dibangun dan diarsitekkan oleh Jacob Mossel pada tahun 1755, jelas sebagai anjangan panggung kolonialisme dan imperialisme seterusnya di Pulau Jawa, tidak pernah ditentang oleh Soekarno si Penipu licik!  Kejahatan Amangkurat I misalnya sampai sekarang masih lagi dalam riset historis, yang tidak selesai-selesainya.  Feudalisme Jawa tercatat kejam dan telah tercatat sepanjang sejarah bangsa Jawa!

 

Apalagi sehingga 15 Agustus, 1945, dia masih lagi sebagai Kolaborator Resmi Kerajaan Jepang, dan tidak ada sepotongpun dari ucapannya menentang fasis Jepang sama seperti tidak pernahnya dia menetang feudalisme Jawa yang kejam itu.

 

Soekarno si Penipu licik,  sangat dikenal sebagai Ketua Milisi Laksmana Maida dan bersama sekelompok anak-anak Jawa lainnya telah bersiteguh menolak merdeka pada tanggal tersebut, sehingga beberapa anak-anak muda Sumatra: Dr Chairul Saleh, Adam Malik dan Pak Buyung Nasution menyeretnya ditengah malam ke Jakarta Utara dan dengan todongan pistol Dr Chairul Salleh ke tengkorak kepala Soekarno si Penipu licik itu, maka baru segera terdraftkan proklamasinya, symbol indonesia itu!

 

Saudara Irfan Anshory,

 

Ketika peristiwa itu, Soekarno si Penipu licik dan sekumpulan anak-anak Jawa lainnya hampir-hampir saja melupakan symbol indonesia mereka, dan mereka ingin sekali kembali mengensot-ngensot ke alun-alun istana Jokyakarta, symbolnya "maharaja Jawa patnernya maharaja Hirohito"!   Inilah mungkin dia mengenyampingkan penentangannya terhdap feudalisme Jawa, ketika saat-saat sedang menerima indonesia sebagai symbol nasionalisme?

 

Silakan cari kembali tulisan ini yang pernah diterbitkan sejak saat-saat Soekarno si Penipu licik itu ditodong dengan pistol oleh Dr Chairul Salleh ditengkorak kepalanya,  yang pernah dimuat dalam mass media sebaik dia tumbang atau anda bisa tanyakan langsung kepada keluarga mereka, seperti yang telah kami lakukan langsung sebelumnya, agar dengannya saudara Irfan Anshory dapat membaca bagaimana struktur kejiwaan nya Soekarno si Penipu licik dengan kepitan nasionalisme indunesia atau indonesia-nya.

 

(4) Begitu juga misalnya mengambil contoh lain: Suharto Kleptokracy, pada tahun 1941 masih sebagai Pembunuh bayaran KNIL Belanda dan sejak 1942 menjadi serdadu Jepang dan bersama Soedarsono diduga kuat terlibat menyembelih Tan Malaka, kemudian dia menjadi Presiden Penjajah Indonesia Jawa!

 

Nah, Irfan Anshory, dimanakah struktur nasionalisme Indonesia, yang dikatakan menyebar itu, dan ternyata juga tidak sampai kedalam diri Soeharto Kleptokracy, sebagai kandidat Presiden Penjajah Indonesia Jawa kedua?  Nampaknya symbolisme indonesia itupun belum ada dalam jiwa bangsa Jawa!  Kecuali dalam buku-buku notes para kolaborator kolonialisimperialis Hindia Berlanda dan Fasis Jepang.

 

(5) Bukan itu saja, mengambil contoh lain:  Berapa ratus ribu anak-anak Jawa Pembunuh bayaran KNIL Belanda, masih bertaburan dan berserakan diluar Pulau Jawa menyembelih bangsa-bangsa Melayu Nusantara hingga detik-detik kedatangan bala tentara Jepang pad 8 Maret, 1942. Saudara Irfan Anshory dimanakah nasionalisme indunesia atau indonesia itu?

 

(6) Contohnya yang saudara Irfan Anshory paparkan sendiri bagaimana tiga orang anggota Volksraad DPR Hindia Belanda): Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjoyjo dan Sutardjo pada tahun 1939 masih juga sebagai kaki tangan penjajah Hindia Belanda, menjelang kedatangan bala tentara Jepang.  Bagaimanakah nilai kwalitas nasionalisme Indunesia atau Indonesia mereka?

 

Apa yang telah saya tuliskan sebelumnya dari pernyataan Dr Mohammad Hatta (Dr Meutia Hatta), Dr Pramoedya Anata Toer dapatlah pula saya simpulkan bahwa apa yang disebut nasionalisme Indonesia itu adalah hanya slogan, tetapi penulis-penulis sejarah Jawa Chauvinis, Jawa Sentris atau Jawa Unitaris, kemudian memolesnya dengan bedak dingin Njonja Meneer!  Jelas-jelas penipuan sejarah yang tidak pernah berhenti!

 

(7) Nah, coba saudara Irfan Anshory memberikan nilai kwalitas nasionalisme indonesia terhadap kedua anak-anak Jawa Soekarno si Penipu licik, si Kolaborator Jepang dan Suharto Kleptokracy si KNIL Belanda si serdadu Jepang, tetapi kemudian mereka bisa menjadi Presiden Republik Indunesia atau Indonesia, Presiden Penjajah Indoneia Jawa!  Samakah nilai nasionalisme indunesia atau indonesia mereka.  Tetapi dalam kenyataan perjalanan sejarah kedua mereka ini adalah punya kecenderungan dengan nasionalisme Jawa, Jawa Chauvinis, Jawa Sentris, Jawa Unitaris, Jawa Mojokertonis-Solois!

 

Hinduism is India!  India is Hinduism!   Javanism is Indonesia!  Indonesia is Javanism! Dibawah bayangan panji:  The Blue Print of The Political Structure of Javanese Colonialism!

 

Itulah sebabnya pada tanggal 27 Desember, 1949 di meja Konferensi Meja Bundar, di Den Haag, Belanda atau bertepatan 282 tahun setelah matinya Raden Trunojoyo pada 27 Desember, 1667, yang dikatakan sebagai keturunan anak raja Majapahit terakhir pada tanggal 27 Desember,1667, maka Negara (Kerajaan) Belanda memutuskan untuk membentuk RIS (Republik Indonesia Serikat), negara bagi negara-negara atau kerajaan-kerajaan yang pernah berdaulat ketika Hindia Belanda di jadikan bangsa dan dijadikan negara, untuk menghindari wilayah-wilayah nusantara itu diperintah dibawah dominisasi Jawa Chauvisnis atau Jawa Sentris atau Jawa Unitaris!

 

Sebuah perikatan dari negara-negara (kerajaan-kerajaan) yang pernah berdaulat yang pernah dijajah atau diduduki oleh Belanda untuk memayungkannya dalam sebuah federasi, dimana kesemua negara-negara atau kerajaan-kerajaan itu sama hak dan sama kewajibannya.

 

Tetapi RI-Jawa Jokya, sebagai sebuah negara bahagian dibawah kepimpinan Soekarno si Penipu licik, malah telah meleburkan negara RIS (Republik Indonesia Serikat) yang baru berusia 231 hari saja dan kemudian membentuk NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia atau sebutkan sebagai: Negara Kolonialis Republik Indonesia), lewat rampokan wilayah lewat trick platform undang-undang RIS: PP RIS No 21/08/1950 dan disusuli dengan kekuatan militer, lantas memaksa dan menggiring negara-negara (kerajaan-kerajaan) yang berdaulat sebelumnya, tunduk dibawah sebuah payung kuasa administrasi tunggal untuk diperintah oleh sebuah rezim.  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diperintah oleh sebuah rezim Indonesia Jawa Chauvinis atau Jawa Sentris atau Jawa Unitaris atau Jawa Mojokertonis-Solois, oleh Soekarno si Penipu licik.  Great Java uber alles!?

 

Dan untuk mengetahui lebih lanjut dan terperinci, mengenai struktur kenegaran NKRI yang tidak sah itu, maka disini saya sebagai penyerta milis bebas kelolaan Tengku Ahmad Hakim Sudirman dan dengan ini menganjurkan:

 

Kepada saudara Irfan Anshory, lewat media ini, lewat milis bebas Tengku Ahmad Hakim Sudirman ini, agar dapat kiranya bersenantiasa menjenguk ke Website: http://www.dataphone.se/~ahmad dengan alamat email di ahmad@dataphone.se  atau ahmad_sudirman@hotmail.com , dimana, disana anda akan dapat membaca kupasan-kupasan beliau, buku demi buku dan ruas demi ruas apa itu RIS, apa itu RI-Jawa-Jokya dan apa itu NKRI!  Karena saya ingat Tengku Ahmad Hakim Sudirman telah mengkhususkan diri tentang ketatanegaraan NKRI keseluruhannya.

 

Beritahukan dan umumkan kepada seluruh cabang-cabang institusi anda dimana saja, agar senatiasa berhubungan dengan milis bebas tersebut diatas. Nah, dipersilakan dengan segala hormatnya!

 

(8) R. A. Kartini, walaupun anak Jawa ini seorang penganut Katholik, namun dia tetap konsekwen hingga terakhir kehari matinya ditahun 1904, sebagai anak Jawa! Hanya Armijn Pane, siapa yang telah memberikan judul: "Habis gelap terbitlah terang", atas kumpulan tulisan-tulisan R. A. Kartini, kepada induk semangnya di Belanda yang terbinding itu, sebagaimana yang dikehendaki oleh para nasionlis-nasionalis Jawa Chauvinis, Jawa Sentris atau Jawa Unitaris, tetapi sebagai Wanita Indonesia Jawa, bukan sebagai Wanita Jawa. Dan belum nampakpun fajar symbol indunesia atau indonesia.

 

(9) Dr Soetomo ( Dr Budi Utomo ) dan Dr Wahidin Soedirohoesodo dengan Budi Utomo hanya pernah menyebutkan 20 Mei, 1908 sebagai kebangkitan bangsa Jawa, tetapi mereka tidak pernah menyebutkan sebagai kebangkitan bangsa "indonesia".  Malahan pemuda-pemuda komunis Jawa pada tahun 1918 dengan lantang menyebutkan 20 Mei, 1908 itu, hanya sebagai kebangkitan (bangsa) Jawa Priyayi!? atau yang kemudian dikenal sebagai Jawa Chauvinis berevolusi menjadi Indonesia Jawa!?

 

Saudara Irfan Anshory, dibawah inipun saya perlu mempertanyakan dan membentangkan serba sedikit tentang paparan anda dan berkait dengannya:

 

(a) Apakah Java yang diindonesiakan menjadi Jawa adalah juga sama dengan Jawi? Atau mengapakah Sulavesi (sula-besi) menjadi Sulawesi-nya Daeng Yusuf Kalla didalam peta? Hayam Vuruk (ayam-buruk) menjadi Hayam Wuruk, rajanya Majapahit dalam sejarah Jawa? Pulau Vetar menjadi Pulau Wetar didalam peta Kepulauan Sunda Kecil? Kepulauan Bavian menjadi Kepulauan Bawean, didalam peta?  Tetapi mengapakah masyarakat Kepulauan Bawean sendiri tetap mengataka bahwa, mereka datang dari kepulauan Babian.

 

Note: Sebutan v pada Bavian, sama seperti menyebut sebutan cubitan pada huruf "v" dari kata vitamin.

 

Bagaimanakah pula dengan Java-nya James Gosling pada PC atau H/P?

 

(b) Tetapi dalam bahasa Achèh meu-Jawi itu, bukan berarti menjadi Jawa, tetapi dimaksudkan sebagai gerak mengidal, atau sebagai gerak si Kidal. Dan dengan kata lain disebutkan sebagai geraknya tangan kiri.   Begitu juga dimaksudkan dengan tulisan Jawo atau tulisan Jawi pula sebagai tulisan Melayu beraksara Arab, yang guratan tulisannya ditarik dari arah sebelah kanan kearah sebelah kiri.

 

Bagi saya tidaklah akan menjadi menarik untuk mengatakan orang Jawa sebagai orang Jawi atau Jawo, lantas diteruskan dengan mengatakan sebagai orang kiri. Walaupun sejarah Jawa, sejak setelah Mpu Sendok mengundurkan diri dan pergi menyendiri, bertapa mensucikan jiwa, tertulis disana bahwa, para Raja-Raja dan Bangsawan Jawa (Feudalis-si Penjajah ) dan para Tuan Tanah-Tuan Tanah Jawa (Kapitalis-si Penjajah) telah meperlakukan rakyat-rakyat Jawa yang miskin tidak punya tanah (kaum proletaris-yang kiri dan yang terjajah)  dan yang punya sebidang kecil tanah (kaum marhenis?-yang kiri dan yang terjajah) telah disifatkan sebagai: exploitation de l'home par l'home, si bangsa Jawa Feudalis-Kapitalis yang menjajah bangsa Jawa-nya sendiri!

 

(c) Tetapi ya, bagi K.H. Munowar Muso, bertekad maukan rakyat Jawa yang dijajah, yang miskin yang umumnya hampir-hampir tidak mempunyai sekeping harta- tanahpun, biarlah Jawanya menjadi Jawi, menjadi Jawa kiri, seperti yang anda, saudara Irfan Anshory maksudkan?

 

Note (2): Tetapi mengapakah Pangdam V-Jaya, Mayjen Agustandi Sasongko Purnomo, begitu ketakutan dari kebangkitan kembali kekuatan semangat 30.000.000 jiwa, anak-anak "Korban Peristiwa 1965 Dan Pulau Buru"?

 

- Bukankah Gusdur Abduraraman Wahid, Ketua Kumpulan Kambing Congek Indonesia Jawa, itu disokong oleh semangat kekuatan 30.000.000 jiwa, anak-anak "Korban Peristiwa 1965 Dan Pulau Buru"?  Walaupun dia menjalankan tugasnya sambilan tidur?  Walaupun memerintahkan pembunuhan Tengku Banta Qiah dan 200 jiwa, muridnya yang sedang mengaji al-Quran di pesantaren Betong sambilan tidur?  Dan pembunuhan ratusan lagi disimpang KKA dan tempat lain sambilan tidur?

 

- Bukankah Megawati Soekarno Putri, algojo wanita Jawa, yang bodoh dan bengok itu, yang kedua tangannya berlumuran darah basah, lebih 20.000 jiwa bangsa Achèh dalam Darurat Militer dan Dalam Darurat Sipil, ketika tidak diberi sokongan oleh semangat 30.000.000 jiwa, anak-anak "Korban Peristiwa 1965 Dan Pulau Buru", lantas tumbang dan kemudian menjadi anggota Kambing Congek Indonesia Jawa, pimpinan Gusdur Abdurrahman Wahid.

 

- Bukankah Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono, berhasil menang dalam pemilihan langsung itu dan terlantik menjadi Presiden Penjajah Indonesia Jawa, karena mendapat sokongan padu langsung dari semangat 30.000.000 jiwa, aanak-anak "Korban Peristiwa 1965 Dan Pulau Buru"?

 

ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa telah menyembelih lebih 3.000.000 jiwa, anak-anak Jawa buruh Fabrik yang tidak cukup makan dan anak-anak Jawa buruh Tani, yang miskin yang kesemua mereka tidak bersalah, yang disifatkan sebagai Indonesian Java Holocaust.

 

Saudara Ibrahim Isa Betawi atau Bilmijer jangan kurang-kurang jumlah bilangan Indonesian Java Holocaust itu, karena itu sahih dari Raden Permadi SH, anggota PNI, yang diterimanya dari Letjen Sarwo Eddi, bapak mertuanya Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono,

 

(d) Mengapakah saudara Irfan Anshory, sebagai seorang Direktur Pendidikan "Ganesha Opration",  menjadi terlalu bersemangat sekali untuk mengutip sipedagang kaki lima di pasar Seng, Mekah yang mengatakan bahwa, Sumatra, Sulawesi dan Sunda semuanya Jawa?

 

Coba anda buka peta lama sekitaran tahun-tahun 1950-an.   Disana anda akan melihat wilayah "nusantara" ini dibagi dua: (1) Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi disebut sebagai: Sunda Besar, (2) Selainnya disebut (Kepulauan) Sunda Kecil (sekarang disebut sebagai Kepulauan Nusatenggara). Papua Barat (Irian Barat) Sunda apa?  Jadi disana akan terlihat bahwa, "nusantara"  bukan kepulauan Jawa tetapi sebagai kepulauan Sunda.

 

Dan peta lama itupun, dibuat oleh orang-orang Jawa Chauvinis, oleh Jawa Sentris atau Jawa Unitaris!  Mengapakah dibuat demikian?  Silakan anda menyelidikinya!  Tetapi jangan lupa untuk memberitahukan kepada pedagang-pedagan kaki lima di Pasar Seng, Mekah, tentang Sunda Besar dan  Sunda Kecil, yang Jawa termasuk didalamnya!   Sunda bukan Jawa dan bukan Indonesia atau Indonesia Jawa!  Sama seperti Achèh bukan Indonesia atau Indonesia Jawa!

 

(e) Sebagai tambahan saya beritahukan bahwa dunia Islam lebih mengenal Achèh sebagai 5 Besar Islam: Turkya, Marokko, Iran (Ishfahan), India (Lahore-sekarang Pakistan) dan Achèh (Bandar Achèh, Darussalam) dari pada pedagang Arab-Arab kaki lima di Pasar Seng, Mekah. 

 

Dalam khutbahnya Prof Ali Hasyimi di Mesjid Lam Prik, Banda Achèh, Darussalam, beliau telah mengkhutbahkan bahwa, Islam yang pernah bermudik di Jazirah Arab telah mengalir dan bermuara ke Achèh, ke Banda Achèh Darussalam.  Dan itulah sebabnya pula oleh Ibnu Khaldum bapak sosiology Islam itu, telah menyifatkan Achèh sebagai Andalusia Timur!

 

Jadi Arab-Arab di Pasar Seng, Mekah itu, yang pengetahuannya mengenai Jawa atau Jawi ataupun Jawo, sama seperti Arab-Arab Badui, yang pernah mogok mobilnya, lantas menyumpali tangki minyaknya penuh-penuh dengan gandum kedalam tangkinya, agar bisa broooommm kembali.

 

Tidakkah Arab-Arab di Pasar Seng, Mekah itu, tahu bahwa, bangsa Jawa telah pernah dijajah selama 353 (tiga ratus lima puluh tiga) tahun dari 5 Juni, 1596 hingga 27 Desember, 1949. Atau sejak  353 tahun yang lalu ditahun 1949, bangsa Jawa sememangnya selalu menumpang kapal KPM, kapalnya Wong Londo berlayar ke Jedah?

 

(f) Sebagaimana dapat kita membaca berulang tentang komitmen solid dari Prof Dr Asvi Warman Adam dari LIPI, yang hendak "meluruskan sejarah" , maka saya suntinglah secuplikkan tulisan beliau dari koran Rakyat Merdeka , 13 April, 2005,  diantaranya:

 

.............. masa yang panjang yang selalu dikatakan bahwa penjajahan Belanda di Indonesia berlangsung selama 350 tahun itu. Jelas tidak. Sewaktu masa penjajahan Belanda, banyak kerajaan-kerajaan di Nusantara ini yang masih berdaulat. Belanda tidak sampai menjajah atau menguasai kerajaan-kerajaan itu.

 

Mudah-mudahan sayapun nantinya ada yang memberitahukan sebutan Asvi-nya dari Prof Dr Asvi Warman Adam, sebagai cenderung  kearah sebutan Asbi atau Asfi?

 

(Bersambung: PLUS  II  +  INDUNESIA  TIWUL!)

 

Wassalam.

 

Omar Puteh

 

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------