Stockholm, 7 Januari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

PIMPINAN TERTINGGI GAM TIDAK KE RI SEBELUM RI & DPR RI KOMITMEN DENGAN MOU MENGENAI UU PEMERINTAHAN SENDIRI DI ACHEH.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

PIMPINAN TERTINGGI GAM TIDAK MASUK RI SEBELUM PIHAK RI & DPRRI KOMITMEN DENGAN MOU HELSINKI MENGENAI UU TENTANG PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN SENDIRI DI ACHEH DAN BENAR-BENAR DIWUJUDKAN.

 

Kelihatan pihak Pemerintah RI, dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah berangan-angan dan bermimpi bahwa Petinggi GAM yaitu, Wali Negara Teungku Hasan Muhammad di Tiro, Pimpinan GAM Teungku Malik Mahmud dan Dr. Zaini Abdullah akan masuk ke RI dalam waktu dekat.

 

Ternyata menurut pemikiran Ahmad Sudirman, bahwa apa yang dibayangkan dan dimimpikan oleh Jusuf Kalla tentang akan datangnya Petinggi GAM dari Swedia adalah tetap sebagai suatu impian. Mengapa ?

 

Karena pihak RI, dalam hal ini Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Departemen Dalam Negeri dan pihak DPR RI masih belum seratus persen komitmen dengan apa yang telah disepakati dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Acheh Merdeka yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia dalam hal penyediaan dan pembuatan Undang-Undang Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Sendiri di Acheh atau dengan kata lain Undang-Undang Tentang Self-Government di Acheh, sebagaimana yang telah disepakati oleh pihak Pemerintah RI dan GAM di Helsinki itu.

 

Nah, sampai detik ini kelihatan bahwa pihak RI yang diwakili oleh Departemen Dalam Negeri dan dibantu oleh pihak Pemda Acheh serta pihak IAIN Ar-Raniry, Unsyiah dan Universitas Malikul Saleh dalam penyusunan draft RUU Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Sendiri di Acheh, ternyata isinya telah jauh menyimpang dari apa yang telah disepakati dalam MoU Helsinki tersebut, yaitu dari yang disepakati Self-Government kepada otonomi khusus. Dan tentang penyimpangan ini telah dikupas oleh Ahmad Sudirman dalam tulisan sebelum ini http://www.dataphone.se/~ahmad/060106.htm .

 

Jadi, sebelum pihak RI dan juga DPR RI komitmen dengan apa yang telah disepakati dalam MoU Helsinki mengenai Undang-Undang Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Sendiri di Acheh yang mengarah kepada Self-Government sebagaimana yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, GAM dan RI, maka selama itu apa yang dimimpikan oleh Jusuf Kalla dan Susilo Bambang Yudhoyono bahwa Petinggi GAM akan masuk ke RI dalam waktu dekat, maka hal itu masih tetap merupakan sebagai suatu impian belaka.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Media Indonesia

Senin, 02 Januari 2006 00:46 WIB

 

Dua Lagi Tokoh GAM Akan Pulang Dari Luar Negeri

Penulis: Henri Salomo Siagian

 

BOGOR--MIOL: Dua orang petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Malik Mahmud dan Zaini Abdullah yang selama ini berada di Swedia dalam waktu dekat akan pulang kembali ke Indonesia.

 

"Saya belum tahu rencana kedatangannya (Hassan Tiro), mengingat beliau sudah berusia sekitar 80, dan warga negara Swedia. Bahwa dia dihargai, tapi secara fisik saya belum dengar. Kalau Malik dan Zaini ada rencana," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada wartawan, di Istana Bogor, Sabtu (31/12) malam.

 

Malik Mahmud selama ini disebut sebagai Perdana Menteri GAM, sementara Zaini Abdullah adalah Menteri Luar Negeri GAM. Mereka berdua selama ini berdomisili di Swedia.

 

Selain itu, sambung Kalla, pemerintah saat ini belum membicarakan mengenai pemberian penghargaan terhadap mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisari yang menjadi fasilitator terhadap perundingan damai dengan GAM.

 

Akan tetapi, Kalla mengakui akan menemui Attisari dalam kunjungannya ke beberapa negara Eropa pada pertengahan Januari mendatang.

 

"Belum sekarang kita bicarakan. Saya kan nanti mau ketemu untuk berterima kasih kepada Finlandia. Karena itu saya selalu berpikir secara personal. Dia sebagai fasilitator, yang memberi tempat, mengatur rumusan pertemuan. Lainnya kita yang bekerja. Belum terpikir ke situ. Kemarin dia kan dicalonkan mendapat hadiah nobel, karena bukan hanya mengurus Indonesia, tapi juga Kosovo dan lainnya. Dia itu orang hebat," kata Kalla.

 

Dalam kesempatan itu, Kalla menceritakan keinginannya untuk menulis sebuah buku mengenai lesson to learn (belajar untuk mendengar) dalam hal perdamaian.

 

"Untuk menyelesaikan persoalan harus mengerti. Sama saja kalau jual mobil. Kalau tidak mengerti mobil, bagaimana menjualnya. Sama juga dengan wartawan, kalau tidak mengerti persoalan, mau bertanya, pertanyaannya kosong. Saya sampaikan, saya mengerti ini cara bertanya bagaimana," katanya. (Hnr/OL-03)

 

http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=86177

----------