Stavanger, 7 Januari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


YANG MENJADI PERTANYAAN APAKAH MAYJEN SUPIADIN MASIH BISA MAKAN COMRO ATAU ONCOM DI JERO SESAMPAI DI SUNDA ?.

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.

 

 

NYONYA LINDA MARGONO DOLAH PUTEH MASIH SANGGUP MEMBANTU UNTUK MEMBELIKAN TIKET BAGI KELUARGA MAYJEN SUPIADIN ADI SAPUTRA PULANG KE SUNDA.

 

Assalamu'alaikum Wr Wb,

 

Yth. Tengku Ahmad Hakim Sudirman,

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

 

Dengan hormat,

 

Betul sekali apa yang Tengku Ahmad Hakim Sudirman katakan itu. Buat apa lagi itu si Supiadin Adi Saputra itu di Achèh. Bisnis seperti yang pernah dilakukan oleh Endang Suwarya, seperti mencuri kambing, lembu, ayam dan itik orang kampung tidak bisa dilakukannya lagi sekarang ini, karena kalau ketangkap polisi syari'ah bisa berabe. Cambuk tutup mata, seribu kali.

 

Kayu balak dihutanpun agak kepayahan, dikatrolin keluar.

 

Kalau dia dan keluarganya belum cukup duit untuk beli tiket kapal terbang, bilangin jangan susah. Kita akan minta tolong sama si Nyonya Linda Margono Dolah Puteh, dia masih sanggup pinjamkan uangnya, karena masih loaded.

 

Cuma yang jadi masalah apakah dia dan keluarganya, masih bisa lagi makan comro ataupun oncom dengan hanya minum es kotang, setibanya di Sunda nanti?

 

Wassalam.

 

Omar Puteh

 

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------

 

Ahmad Sudirman <ahmad_sudirman@hotmail.com> wrote:

 

Stockholm, 4 Januari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 


MAYJEN SUPIADIN ADI SAPUTRA JANGAN IKUTAN JENDERAL SUTARTO MENCOBA JADIKAN ACHEH KEMBALI PANAS.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

MAYJEN TNI SUPIADIN ADI SAPUTRA ORANG SUNDA SATU INI MAU SAJA IKUTAN JENDERAL SUTARTO MENYULUT API PERMUSUHAN LAGI DI ACHEH DENGAN CARA MENGGEMBOL LAGI NON-ORGANIK TNI KE ACHEH.

 

Kelihatan itu Mayor Jenderal TNI Supiadin Adi Saputra yang menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda yang sudah kedodoran di Acheh, karena para anak buahnya hanya pasukan organik TNI saya, yaitu asal bangsa Acheh dan rakyat Acheh sebanyak 14.700 personal, bukan asal Jawa dan Sunda, sehingga kekuatan kukunya jadi tumpul dan lumpuh di Acheh.

 

Mayjen Supiadin,

 

Lebih baik Mayjen bersiap-siap kumpulkan keluarga dan persiapan militer lainnya, beli tiket kapal terbang dengan tujuan ke Bandung dan seterusnya ke Garut untuk mengatur para anak buah pasukan Siliwangi di sekitar Jawa Barat saja. Di Acheh tidak perlu lagi yang namanya Pangdam, di Acheh tidak perlu lagi pasukan non-organik TNI dan non-organik Polisi.

 

Mayjen Supiadin,

 

Lebih baik ikut kepada mang Endang Suwarya yang menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat saja duduk dibelakang meja di kantor Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta bersama Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Djoko Santoso. Coba tanya itu kepada Letnan Jenderal Endang Suwarya waktu bertugas di Acheh, ketika ia gagal menjadikan Acheh sebagai wilayah yang aman dan  damai.

 

Mayjen Supiadin,

 

Tidak perlu ikutan itu Jenderal TNI Endriartono Sutarto yang menjual nama Ketua Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Acheh dan Nias Kuntoro Mangkusubroto dengan iklannya yang berbunyi "Saya beberapa kali bertemu Pak Kuntoro dan ia menganggap bantuan TNI diperlukan untuk mempercepat proses rekonstruksi" (Jenderal TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jakarta, Kamis 22 Desember 2005).

 

Mayjen Supiadin,

 

Itu iklan gaya Jenderal TNI Endriartono Sutarto sudah dibantah keras oleh Kuntoro Mangkusubroto dengan gaya model jawa-nya "Tidak benar pasukan dikirim ke Aceh Kalau bisa dipakai itu dari Zeni Iskandar Muda, bukan dari luar. Itu baru ide." (Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, Kuntoro Mangkusubroto, Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Rabu, 28 Desember 2005).

 

Mayjen Supiadin,

 

Jadi Mayjen, tidak perlu sekarang main TNI-TNI-an di Acheh, karena di Acheh sekarang sudah bebas dari non-organik TNI dan non-organik polisi.

 

Mayjen Supiadin,

 

Kalau Mayjen mau membuat jalan di Acheh bicarakan dengan seluruh bangsa Acheh dan rakyat Acheh, mereka yakin akan mampu itu membuat jalan-jalan baik jalan raya atau jalan desa di Acheh. Rakyat Acheh itu bukan rakyat yang bodoh, Mayjen Supiadin.

 

Mintakan kepada para kontraktor jembatan dan jalan dari bangsa Acheh, bukan dari pasukan non-organik TNI zeni tempur atau apa namanya dengan memakai label zeni konstruktor segala macam.

 

Mayjen Supiadin,

 

Itu pihak non-organik TNI sudah diketahui secara umum di Acheh bahwa mereka itu tidak mampu mengurus dan membuat jalan, jembatan, rumah dan pekerjaan sipil lainnya di Acheh pasca tsunami. Itu non-organik TNI hanyalah sekedar bicara dimulut saja, persis seperti jenderal TNI Endriartono Sutarto, atau seperti mang Supiadin Adi Saputra sendiri sekarang di Banda Acheh yang sudah ompong gigi non-organik TNI-nya di Acheh.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

SIRA

The Acheh Referendum Information Center

Jln. T. Panglima Polem No. 13 A Komplek Bp 4 Lama Kp. Laksana, Banda Acheh Telp/Fax:

+62-651-24043,Hp. 085217385335, E-mail : sira_jaringan2000@yahoo.com

 

Siaran Pers.

Nomor           : 22/Pers/12/2005

 

SIRA TOLAK KEHADIRAN TNI KEMBALI KE ACHEH

 

Sehubungan dengan rencana Pangdan Iskandar Muda Mayjend TNI Supiadin AS (Serambi Indonesia,3 januari 2006) menghadirkan kembali pasukan Zeni Tempur TNI di Acheh untuk membantu mempercepat proses rekonstruksi dan rehabilitasi Acheh. Jelas ini merupakan pelanggaran terhadap Memorandum of Understanding (MoU) yang telah ditandatangani 15 Agustus 2004 yang lalu di Helsinki, Finlandia. Perlu dipahami bahwa pengerahan pasukan TNI organik saja yang mencapai satu pelton tanpa konfirmasi dan persetujuan AMM sudah merupakan pelanggaran terhadap nota kesepahaman antara GAM dan RI.

 

Penyataan yang dikemukakan oleh Mayjend TNI Supiadin AS tersebut dapat dikatagorikan sebagai upaya dan kemauan personal untuk keluar dari kontek perjanjian damai yang ditandatangani pemerintah. Pengerahan pasukan secara besar-besaran melebihi angka yang telah ditetapkan dalam MoU setelah semua niat baik yang ditunjukkan oleh GAM dalam masa decommissioning, merupakan indikator dariupaya pelanggaran tersebut. Sementara jumlah  pasukan yang ada di Acheh (organik) melebihi dari cukup untuk melaksanakan tugas rekonstruksi.

 

Pangdam Isnkandar Muda terlalu memaksakan kehendak serta menjadikan BRR sebagai justifikasi untuk menghadirkan kembali TNI ke Acheh, padahal Kepala BRR (Kuntoro mangkusubroto) telah mengklarifikasi terhadap prnyataannya, yang bahwa dia tidak pernah meminta kepada Panglima TNI untuk penambahan pasukan TNI dalam rekontruksi dan rehabilitasi Acheh.

 

SIRA kembali coba mengingatkan kepada para pihak yang terkait, dalam hal pengerahan pasukan kembali ke Acheh untuk saat ini jelas-jelas tidak diperlukan. Dan sangat membahayakan bagi kelangsungan perdamaian di Acheh saat ini. Sebab tanpa menghadirkan TNI, BRR seharusnya juga bisa merekrut masyarakat Acheh untuk dipekerjakan dalam berbagai bidang dalam pembangunan kembali Acheh. Selain memberdayakan masyarakat Acheh juga dapat membantu masyarakat yang selama ini secara ekonomi sudah sangat memprihatinkan.

 

Kutardja, 4 January 2006

Badan Eksekutif

Sentral Informasi Referendum Acheh (SIRA)

----------

 

Rubrik: Serambi  Edisi: Selasa, 03 Januari 2006

Pangdam: Tak Ada Larangan TNI Masuk Aceh

 

BANDA ACEH - Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Supiadin AS menegaskan, tak ada larangan atau halangan bagi TNI dikerahkan ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Jika memang dibutuhkan, baik untuk kegiatan sesuai fungsi militer atau fungsi non militer. Penegasan itu dilontarkan Pangdam Supiadin, kemarin, ketika ditanya, seputar kelanjutan rencana kedatangan personil TNI ke Aceh, memenuhi permintaan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD/Nias.Pangdam meminta semua kalangan berpikir jernih dan tidak dilandasi rasa curiga. “Kita tidak perlu terlalu curiga terhadap kehadiran TNI ke Aceh. Asal tujuannya untuk membantu percepatan pelaksanaan rehabilitasi dan rekontruksi NAD yang dinilai banyak orang saat ini terkesan lamban, kenapa tidak,” tegasnya kepada pers, Senin kemarin.

 

Ditambahkan, sampai saat ini TNI masih menjunjung tinggi isi nota Kesepahaman Damai RI - GAM. Buktinya, setelah pihak GAM melaksanakan kewajibannya dalam hal decommissioning, TNI juga telah menarik seluruh pasukan non organiknya yang selama konflik di BKO kan di daerah NAD. “Itu artinya, TNI komit dengan apa yang diamanahkan dalam MoU RI - GAM tersebut,” ujar Jenderal bintang dua itu.

 

Saat ini, katanya, Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekontruksi NAD dan Nias, membutuhkan tenaga TNI untuk membantu percepatan pembangunan inpra dan supra struktur di NAD, misalnya pembangunan jalan Banda Aceh - Meulaboh via Geumpang-Tutut dan lainnya. Itu pun, tegas Supiadin, pasukan TNI dari kesatuan Zeni yang datang ke Aceh, setelah lebih dulu dikoordinasikan dengan pihak AMM, dan BRR yang membutuhkan tenaga TNI Zeni.

 

Dengan kata lain, pasukan yang akan dimasukkan ke Aceh nanti disesuaikan dengan obyek yang mau dikerjakan. Peralatan TNI yang masuk nanti juga bukan peralatan perang, melainkan peralatan alat berat seperti buldoser, escavator, beko dan lainnya.

 

Pasca konlik ini, kata Pangdam, tidak ada lagi operasi militer, yang ada adalah operasi percepatan pembangunan kesejahteraan masyarakat Aceh pascabencana dan konflik. Masyarakat menuntut pelaksanaan rehabilitasi dan rekontruksi NAD ini bisa berjalan cepat, dan tepat sasaran. TNI memiliki sumber daya manusia untuk membantu percepatan pelaksanaan kegiatan tersebut. “Kenapa kita tidak melakukannya.

 

Dan, pasukan yang dikirim itu bukan pasukan untuk perang, tapi pasukan untuk memgun jalan, jembatan, pelabuhan dan lainnya. Kalaupun nanti dibutuhkan, jumlahnya, sebut Supiadin, tidak lebih atau hanya sekitar 1 batalyon saja.

 

Dalam pelaksanaan rehab dan rekon NAD ini, katanya, TNI juga perlu membangun dan menata kembali infra dan supra struktur ketahanannya yang telah rusak. Misalnya pembangunan pelabuhan laut dan udara.

 

Pelabuhan laut yang dibangun nanti hendaknya tidak hanya bisa dirapati oleh kapal-kapal penumpang dan barang komersil, tapi juga bisa dirapati kapal-kapal TNI. Ini sangat penting,

apabila terjadi bencana yang serupa, kapal-kaal TNI yang ada bisa dimaksimalkan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke daerah yang dilanda bencana.

 

Begitu juga dengan pelabuhan udara. Pelabuhan udara yang akan dibangun di berbagai daerah nanti, hendaknya bisa didarati pesawat jenis Hercules. Alasannya, kapasitas pesawat Hercules

itu empat kali lipat dari pesawat Casa.

 

Apalagi saat ini, ungkapnya, pemerintah Amerika telah menghapuskan kebijakan embargo suku cadang peralatan perang TNI, seperti suku cadang pesawat Hercules. Dengan demikian,

pengoprasian pesawat Hercules untuk kegiatan rehab dan rekon serta pendistibusian bantuan kemanusiaan ke Aceh bisa dimaksimalkan lagi.(her)

 

http://www.serambinews.com/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=14907&rubrik=1&kategori=2&topik=4

----------