Stockholm, 23 Januari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

KESEPAKATAN PERDAMAIAN GAM-RI ADALAH BUKAN IKATAN PERSEKUTUAN ANTARA GAM-RI.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

JAWABAN AHMAD SUDIRMAN UNTUK SAUDARA BUKHARI RADEN ATAS TANGGAPANNYA YANG TIDAK DIDASARI OLEH FAKTA, BUKTI DAN DASAR HUKUM YANG KUAT.

 

"Saya tak bermaksud menyudut siapapun, namun real yang kadang mencuat itu adalah resiko berpolitik. Karena apa ? dalam keadan seperti ini boleh jadi kita saling berbeda pendapat. Apalagi dalam soal politik. Saudara Ahmad Sudirman, Kenapa saya tujukan tulisan saya itu untuk Saudara, tentu saudara lebih tau, karena saudara Razali Paya (Omar Puteh) selalu berbonceng e-mail pada anda untuk mengumbal fitnah. Disini timbul tanda tanya saya, pantaskah saudara Ahmad Sudirman Mengaudit, memfoward tulisan keji itu yang terus terang dalam tulisan tersebut mengandung racun fitnah yang semakin hari semakin menjadi-jadi?." (Bukhari Raden, bukharipasi66@yahoo.no , Sun, 22 Jan 2006 23:45:37 +0100 (CET))

 

Terimakasih saudara Bukhari Raden di Stavanger, Norwegia.

 

Sebelum Ahmad Sudirman memberikan tanggapan kepada saudara Bukhari, terlebih dahulu dinyatakan disini bahwa mimbar bebas ini dari sejak diterbitkannya di internet 7 tahun yang lalu adalah mimbar bebas yang bebas bagi siapapun yang ingin menampilkan, menyampaikan, menerangkan sesuatu pendapat yang menyangkut masalah pertumbuhan dan perkembangan negara RI, negara-negara yang tergabung dalam RIS, perjuangan di Acheh, Papua, Maluku dan ditempat lain yang ada hubungannya dengan tindakan pendudukan, aneksasi dan penjajahan yang dilakukan oleh pihak Soekarno cs dan diteruskan oleh para penerusnya dari NKRI sampai detik ini.

 

Nah, bagi siapapun, asal manapun, dipersilahkan untuk menampilkan menyampaikan, menerangkan sesuatu permasalahan yang ada kaitannya dengan apa yang telah dijadikan topik dalam mibar bebas ini.

 

Sekarang, karena saudara Bukhari mempertanyakan pendapat dan pikiran yang dilambungkan oleh saudara Omar Puteh di mimbar bebas ini, yang oleh saudara Bukhari diangggap sebagai fitnah, maka berdasarkan aturan yang berlaku di mimbar bebas ini adalah dari pihak yang dimaksud oleh saudara Omar Puteh dalam tulisannya itu harus tampil memberikan jawaban dan tanggapan untuk menetralkan dan meluruskan isi dari apa yang ditulis oleh saudara Omar Puteh  itu. Jadi, bukan hanya memberikan tanggapan dengan hanya melontarkan itu adalah fitnah, melainkan harus ditanggapi dengan argumentasi yang memiliki kekuatan fakta dan bukti untuk dapat menetralisir anggapan dan pandangan yang dilambungkan tersebut.

 

Contohnya, puluhan orang di mimbar bebas ini yang melambungkan pendapat dan pandangan mereka yang negativ, berisikan tuduhan, mencaci, memaki dan mengupat yang diarahkan kepada pribadi dan keluarga Ahmad Sudirman. Tetapi, setelah ditanggapi kembali oleh Ahmad Sudirman dengan mengacu kepada fakta, bukti dan dasar hukum, ternyata hampir semua sikap dan pandangan negativ mereka yang diarahkan kepada pribadi dan keluarga Ahmad Sudirman menjadi pudar. Ahmad Sudirman tidak perlu menuliskan nama-nama orang tersebut di mimbar bebas ini, karena tidak ada gunanya, hanya yang jelas orang-orang tersebut sampai detik sekarang ini masih mempunyai hutang yang berisikan fakta dan bukti yang tidak disertakan ketika mereka mencoba menegativkan dan memfitnah pribadi dan keluarga Ahmad Sudirman.

 

Saudara Bukhari,

 

Kalau saudara Omar Puteh melambungkan pendapat dan pandangannya di mimbar bebas ini, maka saudara Bukhari dipersilahkan untuk menanggapi dan meluruskannya berdasarkan fakta, bukti dan dasar hukum, agar supaya permasalahan yang dianggap fitnah, cacian, makian dan umpatan oleh saudara Bukhari menjadi pudar dan bersih.

 

Nah, coba tampilkan argumentasi yang didasarkan pada fakta dan bukti dari mereka yang merasa difitnah oleh saudara Omar Puteh, agar supaya persoalannya menjadi jelas dan terang. Karena kalau didiamkan saja, maka nantinya itu dianggap benar.

 

Contohnya saja, berpuluh orang melalui mimbar bebas ini menghamtam, mencaci, menghina dan menfitnah Wali Negara Teungku Hasan Muahmmad di Tiro. Tetapi setelah ditanggapi dan dijelaskan baik oleh Ahmad Sudirman ataupun oleh pihak Acheh lainnya, ternyata persoalannya menjadi kelar dan bersih.

 

Kemudian, kalau ada kata-kata yang dipakai dalam menampilkan tulisan tersebut berisikan arti kata-kata yang masih bisa diterima dan dianggap relevan dan memang ada dipakai dalam perbendaharaan kata sehari-hari dan ada di kamus-kamus, maka itu masih bisa ditolerir dan dibenarkan. Lain halnya, kalau kata-kata itu diasosiasikan dengan binatang-binatang yang diharamkan oleh Islam, maka oleh Ahmad Sudirman kata-kata itu dibuang dari isi tulisan tersebut.

 

Saudara Bukhari,

 

Kalau memang saudara memiliki fakta dan bukti atas apa yang dilontarkan oleh saudara Omar Puteh itu berisikan fitnah karena tidak ditunjang oleh fakta dan bukti, maka dipersilahkan saudara Bukhari dan orang-orang yang disebutkan dalam tulisan saudara Omar Puteh untuk membatahnya dengan memajukan argumentasi yang berisikan fakta dan buktinya. Dimana nantinya dengan cara yang demikian akan menjadi jelas persoalannya, tidak akan ada lagi sebutan fitnah dan dugaan saja.

 

Contohnya seperti yang dilakukan oleh Ahmad Sudirman, dimana setiap orang yang memajukan fitnah kehadapan pribadi dan keluarga Ahmad Sudirman, kemudian tanpa menunggu waktu, langsung Ahmad Sudirman menyapu-bersih-nya. Kan akhirnya, orang-orang tersebut mati sendiri.

 

Saudara Bukhari,

 

Sebenarnya mudah saja untuk memudarkan dan menetralkan isi pikiran saudara Omar Puteh itu, kalau memang diantara orang-orang yang disebutkan dalam tulisannya itu, mampu memberikan tanggapan dan argumentasi yang logis, yang berisikan fakta, bukti dan dasar hukum yang kuat. Adapun cara dan gaya menulis saudara Omar Puteh itu dengan memakai berbagai variasi dan bunga-bunga kata, itu tidak perlu digaris bawahi. Melainkan yang paling utama dan terpenting adalah memberikan tanggapan dan respon berdasarkan fakta dan bukti atas pemikiran dan pandangan saudara Omar Puteh yang dilontarkan dalam tulisannya tersebut. Jangan hanya pandai menggerutu dibelakang saja.

 

Saudara Bukhari,

 

Adapun menyangkut perjuangan bangsa Acheh, apakah itu yang menyangkut perjuangan sosio-politik ataupun perjuangan kemerdekaan bagi bangsa Acheh, itu Ahmad Sudirman mendukung dan mendorong dengan didasari oleh ilmu pengetahuan baik yang menyangkut sejarah pertumbuhan dan perkembangan Acheh maupun sejarah pertumbuhan dan perkemabngan RI. Nah dengan modal ilmu pengetahuan, fakta, buikti dan dasar hukum inilah Ahmad Sudirman membantu dan menyokong penuh perjuangan bangsa Acheh. Jadi, Ahmad Sudirman mendukung dan menyokong penuh perjuangan bangsa Acheh bukan hanya dengan main duga dan asal tulis saja atau hanya ikut-ikutan orang saja. Dan Ahmad Sudirman tidak punya pikiran lain dalam membantu perjuangan bangsa Acheh ini, melainkan karena keikhlasan dan mengharap keridhaan Allah SWT. Ahmad Sudirman merasa bersyukur dan berbahagia apabila bangsa Acheh meraih kembali tanah dan negerinya yang dianeksai pihak Soekarno cs dan para penerusnya.

 

Saudara Bukhari,

 

Itu soal pemanggilan teungku kepada Ahmad Sudirman, sebenarnya bagi Ahmad Sudirman sendiri tidak punya pengaruh apapun, sama saja dengan orang yang memanggil kepada Ahmad Sudirman dengan panggilan saudara, bung, mad, ustaz, bapak dan sebutan lainnya lagi. Jadi, sebutan teungku yang diberikan kepada Ahmad Sudirman oleh saudara Omar Puteh, itu hak saudara Omar Puteh, sebagaimana saudara Bukhari memanggil Ahmad Sudirman dengan sebutan saudara. Bagi Ahmad Sudirman panggilan teungku dengan saudara sama saja tidak mempunyai pengaruh apapun kepada pribadi dan status Ahmad Sudirman. Ahmad Sudirman dipanggil di Swedia dengan panggilan Ahmad atau Hakim atau Sudirman, itu sudah cukup dan sudah terhormat, mau dipanggil dengan sebutan apa lagi.

 

Terakhir saudara Bukhari,

 

Kalau sekarang pihak GAM berhubungan dengan pihak Pemerintah RI, itu disebabkan karena didasarkan kepada isi Nota Kesepahaman Helsinki atau MoU Helsinki, bukan berdasarkan dengan dasar hukum lainnya. Jadi, tidak bisa disamakan dan disebut bahwa GAM bersekutu dengan pihak RI, mengapa ? Karena tidak ada tertulis dalam MoU Helsinki kesepakatan persekutuan antara GAM dan RI, yang ada adalah perjanjian damai yang menyeluruh yang bermartabat bagi semua pihak. Jadi istilah bersekutu dengan istilah berdamai adalah tidak sama dan artinya jauh sekali.

 

Inilah pandangan dan pendapat Ahmad Sudirman sebagai jawaban atas tulisan saudara Bukhari Raden yang dikirimkan ke ahmad@dataphone.se

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Sun, 22 Jan 2006 23:45:37 +0100 (CET)

From: Bukhari Raden bukharipasi66@yahoo.no

Subject: Bingkisan Malam 1

To: ahmad@dataphone.se

 

Assalamualaikum wr.wb

 

Kruesuemangat kata indah yang saya gunakan, kepada saudara Ahmad Sudirman yang telah menanggapi tulisan kecil saya. Sebelumnya saya minta maaf kepada rekan-rekan dalam miling list ini mungkin nanti ada kata-kata saya yang saya gunakan terkena effek terhadap rekan-rekan.

 

Saya tak bermaksud menyudut siapapun, namun real yang kadang mencuat itu adalah resiko berpolitik. Karena apa ? dalam keadan seperti ini boleh jadi kita saling berbeda pendapat. Apalagi dalam soal politik.

 

Saudara Ahmad Sudirman, Kenapa saya tujukan tulisan saya itu untuk Saudara, tentu saudara lebih tau, karena saudara Razali Paya (Omar Puteh) selalu berbonceng e-mail pada anda untuk mengumbal fitnah. Disini timbul tanda tanya saya, pantaskah saudara Ahmad Sudirman Mengaudit, memfoward tulisan keji itu yang terus terang dalam tulisan tersebut mengandung racun fitnah yang semakin hari semakin menjadi-jadi?.

 

Saudara Ahmad Sudirman. Coba kembali menelaah kalimat demi kalimat yang saudara Razali tulis itu, sebelum saudara kirim dalam miling list ini, tentu dalam hati nurani anda yang agamis dan bijak itu, tidak akan membiarkan tulisan itu dipampang dalam laman web yang selalu anda mulai dengan Bismillah dan di akhiri Wassalam, karena begitu jijik kata-kata dan label yang saudara Razali gunakan baca (pemberian gelar versi saudara Razali). Saya yakin kata-kata itu keluar dari hati yang kotor penuh amarah, penuh murka. Beliau begitu gampang melakab nama kotor baik terhadap orang yang masih hidup yang tak berdosa maupun orang yang telah kembali kepadaNya.

 

Saya teringat dalam jiwa yang bersih keluar isi yang bersih, sebaliknya dalam jiwa yang kotor terpancar isi yang kotor pula. Coba saudara Ahmad Sudirman bayangkan ! Kata-kata fitnah yang saudara Razali tulis itu sudah dan akan banyak memakan jiwa dan darah bagi bangsanya sendiri. banyak contoh yang telah terjadi baik di Aceh maupun di Malaysia, Betapa banyak orang  yang tak berdausa telah menjadi korban akibat fitnah ini, suatu saat akan saya paparkan kepada anda.

 

Seperti kita tahu dan saudara Ahmad Sudirman tahu, "fitnah itu lebih kejam dari peperangan, pembunuhan dan penganianyaan". Dalam hal ini saya terbayang, apakah jiwa saudara Razali ini telah di bayangi atau telah tercermin dari hati Dajjal seperti yang di tulis oleh Saudara  Isa Muh. Daud dalam karangan nya " Dajjal akan muncul dari kerajaan jin disegi tiga bermuda" yang hanya fitnah ankara yang beliau taburkan, semoga tidak.

 

Tetapi betapa tidak, kalau kita menelaah tulisan itu terpikir oleh kita, bahwa dalam keseharian penulis itu hanya fitnah yang terpikir di hari esok,coba anda analisa dari semenjak saya mengenal tulisan beliau ini, selalu yang ia gunakan untuk mencaci, memaki, mengupat, sumpah serapah entah apalagi tak bisa di gambarkan dengan kata-kata.

 

Saudara Ahmad Sudirman, camkan apa yang telah saya paparkan ini atau publikpun boleh menganalisa paparan saya ini. Coba bayang peminat miling list ini dan bangsa Aceh umumnya rindu akan kata-kata atau tulisan yang membawa penyejuk hati, pendapat yang boleh di teladani, atau seperti orang tua kata ada kebijaksaan dalam bertutur kata apalagi dalam suasana yang seperti ini bukan musuh yang di cari tapi kawan yang perlu dipupuki. Karena apa ? karena rakyat Aceh telah lama di kungkung penderitaan. Bukannya menambah kepedihan sesiapa yang membacanya.

 

Kenapa perpecahan yang beliau taburkan, yang akibat perpecahan ini telah merenggut nyawa, harta dan martabat bangsa nya sendiri? mengapa? Sudah tertutupkah mata beliau, sudah tertutupkah hati bersih beliau atau sudah tertutupkah telinga beliau seperti yang Allah gambarkan Khatamallahu a`lakulu bihim, wa`la sam I`him, waa`la absarihim  ghisjawatun walahum A`zabun alim, Nauzubillah summa nauzubillah.

 

Saudara Ahmad Sudirman, saya tidak mengenal anda, walau saudara Razali telah melakab anda sebagai tungku, yang dalam tatanan Bangsa Aceh orang seharusnya di respekt. Itu terserah anda setuju atau tidak dengan gelaran itu. Yang jelas anda tidak pernah menbantah atas gelaran itu. Tetapi tidak juga seharusnya anda masuk terlalu dalam sosiologi politik bangsa Aceh. Sehingga telah berani mengkotak-kotak isi yang seharusnya disimpan rapat atau paling kurang tidak memperlebar jurang perpisahan dalam problematik antara bangsa Aceh sendiri.

 

Anda telah masuk dalam, dalam sekali malah telah melewati batas kewajaran dari seorang pengamat politik apa basis yang anda gunakan, komfirasi atau apa ? saya tak pernah mengerti apa tujuan anda disebalik itu. Dan dalam hal ini anda tidak tersadar anda pun telah terseret kedalam fitnahan-fitnahan yang mereka lancarkan. Jadi apa kata orang " seharusnya anda apa urus, siapa rugi, biar mampus" di satu pihak anda telah bertengkus lumus memperjuangkan aspirasi rakyat Aceh, sampai akhirnya anda telah di nobatkan sebagai pahlawan oleh yang namanya Razali Paya.

 

Saudar Ahmad Sudirman. Dulu saya salah seorang penggemar tulisan anda, karena begitu indah di baca, religius, jeli, dan talent. tetapi setelah anda terseret dan terjerat tali saudara Razali, anda pun tidak lagi dapat membedakan mana yang baik dan buruk. sedih sangat sedih, dan anda terlalu meng-imani yang anda sendiri nyata belum tentu setuju.

 

Perlu anda ketahui, setiap yang merasa dirinya bangsa Aceh, dalam darah nya mengalir rasa tanggung jawab, itu tidak ada yang menafikan walau jalan mungkin berbeda dan tidak ada satu golongan pun yang merasa diri nya hebat, bertanggung jawab, berkuasa penuh melainkan terpulang kepada setiap individu dan keseluruhan bangsa Aceh itu sendiri, berhak memikulnya.

 

Anda lihat sendiri, dulu mereka melancarkan fitnah bahwa MP Gam itu bersekutu dengan Indonesia. Tetapi sekarang lain, setelah mereka (red- Gam) bersekutu dengan Indonsia lain pula  fitnah yang mereka sebarkan. Disini saya bukan bermakna membenarkan pihak yang lain, tapi pandang dengan pandangan dan pikiran jernih sebelum fitnah itu di sebarkan.

 

Akhirnya

 

Saya memohon kepada Saudara Ahmad Sudirman, kala anda mulai dengan kebaikan dan akhirilah ia dengan kebaikan pula, sebab kebaikan itu milik Allah dan keburukan dan kedhaifan adalah kekhilafan manusia itu sendiri.

 

Saya memohon kepada saudara Razali sudahi fitnah keji ini, sudahi keangkuhan ini, sudahi kejahilan ini. Sebab di samping dosa besar akan membawa fadah suatu hari kelak.

 

Amin Ya Rabbal A`lamin

 

Not. Nyawamu boleh gugur

Jiwamu boleh hancur

Tapi peliharalah iman dan pejuanganmu.

 

Bukhari Raden

 

bukharipasi66@yahoo.no

Stavanger, Norwegia

----------