Stockholm, 24 Januari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

JENDERAL SUTARTO KUTAK-KATIK EXXON MOBILE UNTUK MENGGEMBOL KEMBALI NON-ORGANIK TNI MASUK ACHEH.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

RUPANYA JENDERAL ENDRIARTONO SUTARTO MASIH MENCARI LUBANG UNTUK MASUK KE ACHEH, SETELAH LUBANG BRR DITUTUP RAPAT, SEKARANG MENCARI LUBANG EXXON MOBILE.

 

"Pemerintah kan tidak mempunyai dana yang cukup untuk membangun pos-pos dan melengkapi fasilitas pengamanannya seperi mobil patroli, jadi disepakati semua ditanggung perusahan yang bersangkutan. Mengenai jumlah personil TNI yang kini tengah dikerahkan untuk mengamankan obyek vital kurang dari satu batalyon untuk pengamanan PT Freeport dan akan ada penambahan kembali untuk Exxon Mobile. Sudah ada permintaan dari Exxon Mobile. Sebelumnya saat konflik berkecamuk di Aceh, jumlahnya banyak dan saat damai sejumlah personel TNI telah ditarik dari Exxon, namun kini mereka meminta lagi" (Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Endriartono Sutarto, Jakarta, 24 januari 2006)

 

Jenderal Sutarto,

 

Daripada jenderal mengkutak-katik Exxon Mobile dengan cara menjungkit-jungkit landasan hukum untuk dipakai jalan masuk ke tempat vital seperti Exxon Mobile yang ada di Acheh ataupun PT Freeport di Papua agar bisnis TNI jalan, maka lebih baik duduk merenungkan kembali bagaimana indahnya itu langit-langit yang ada di atas bumi Acheh dengan sinar cahaya bintang MoU Helsinki.

 

Jenderal Sutarto,

 

Jenderal tidak perlu lagi mengkutak-katik untuk mencari lubang guna bisa masuk ke Acheh, apalagi dengan memakai gaya taktik Exxon Mobile. Kalau memang itu Exxon Mobile perlu dijaga dari gangguan hantu TNI, boleh pakai pasukan organik TNI yang masih segudang di Acheh, tidak perlu menggembol kembali pasukan non-organik dari Jawa sana atau dari Sunda anak buahnya mang Endang Suwarya atau mang Supiadin Yusuf Adi Saputra.

 

Jenderal Sutarto,

 

Sebelum serah terima jabatan Panglima TNI, lebih baik jenderal merenungkan dan memikirkan kembali berapa banyak itu bangsa dan rakyat Acheh yang telah disapu bersih oleh pihak pasukan non-organik TNI yang segudang di Acheh itu, sehingga itu rakyat Acheh menjadi trauma berat. Kalau rakyat Acheh mendengar nama TNI sama seperti mendengar nama hantu malam, hantunya mbah-mbah jawa dengan bau kemenyannya.

 

Jenderal Sutarto,

 

Tidak perlu lagi itu di Acheh dikutak-katik, kalau tidak mau disebut sebagai orang yang anti MoU Helsinki dan yang menentang MoU Helsinki serta yang anti perdamaian di Acheh. Bangsa dan rakyat Acheh sedang menikmati kenyamanan, keindahan, kesejukan tanpa bau-bau peluru yang ditembakkan oleh pasukan non-organik TNI anak buahnya mang Supiadin Yusuf Adi Saputra dan juga anak buahnya mas Endriartono Sutarto.

 

Terakhir Jenderal Sutarto,

 

Ini hanya saran dari Ahmad Sudirman untuk jenderal yaitu persiapkan diri untuk menghadap di hari tua dan bersiap untuk mempertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Apakah memang benar dan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw melakukan pembunuhan di Acheh dengan mengatasnamakan demi unitaris jawa akan disapu bersih itu bangsa dan rakyat Acheh yang menginginkan hidup aman dan damai di negeri Acheh tanpa gangguan non-organik pasukan TNI ?

 

Berpikirlah jenderal sebelum terlambat.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

TNI Perlu Legalitas Amankan Obyek Vital

 

Jakarta, CyberNews. Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Endriartono Sutarto mengatakan, TNI memerlukan landasan hukum yang jelas untuk mendukung posisi TNI dalam mengamanakan obyek vital.

 

"Selama ini, posisi TNI dalam mengamankan obyek-obyek vital hanya berdasar keputusan presiden 2004, bahwa pengamanan obyek vital diserahkan pada perusahaan bersangkutan, sedangkan TNI hanya bersifat bantuan setelah pihak perusahaan dan kepolisian merasa tidak mampu," katanya di Jakarta.

 

Endriartono mengatakan, tugas TNI dalam pengamanan obyek vital selama ini berdasarkan kontrak karya antara pemerintah dan perusahaan, tidak berdasarkan aturan undang-undang yang jelas bagaimana peran dan fungsi TNI dalam pengamanan obyek vital.

 

"Padahal, sekarang sudah ada UU TNI dan UU Polri yang mengatur koordinasi peran dan tugas TNI-Polri dalam pertahanan dan keamanan. Jadi, untuk pengamanan obyek vital ada aturan yang jelas juga terutama posisi TNI dalam pengamanan obyek vital," katanya.

 

Untuk itu, lanjut Endriartono, TNI pada masa datang memerlukan landasan hukum untuk menegaskan posisi TNI dalam pengamanan obyek vital. Tentang dana pengamanan, Panglima TNI menjelaskan, semula pemerintah dan perusahaan bersangkutan sepakat bahwa dana bagi pendirian pos-pos dan fasilitasnya disediakan oleh perusahaan bersangkutan seperti PT Freeport dan Exxon Mobile.

 

"Pemerintah kan tidak mempunyai dana yang cukup untuk membangun pos-pos dan melengkapi fasilitas pengamanannya seperi mobil patroli, jadi disepakati semua ditanggung perusahan yang bersangkutan," katanya.

 

Mengenai jumlah personil TNI yang kini tengah dikerahkan untuk mengamankan obyek vital, Endriartono mengatakan, kurang dari satu batalyon untuk pengamanan PT Freeport dan akan ada penambahan kembali untuk Exxon Mobile.

 

"Sudah ada permintaan dari Exxon Mobile. Sebelumnya saat konflik berkecamuk di Aceh, jumlahnya banyak dan saat damai sejumlah personel TNI telah ditarik dari Exxon, namun kini mereka meminta lagi," katanya. ( ant/cn05 )

 

http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0601/24/nas1.htm

----------