Stockholm, 26 Januari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

SALAH SATU BISNIS TNI DI ACHEH ADALAH USAHA JENDERAL SUTARTO UNTUK MEMASUKKAN KEMBALI NON-ORGANIK TNI KE ACHEH.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

ITU SALAH SATU BISNIS TNI DI ACHEH ADALAH USAHA JENDERAL ENDRIARTONO SUTARTO UNTUK MEMASUKKAN KEMBALI PASUKAN NON-ORGANIK TNI KE ACHEH.

 

"Pak Ahmad, kalau saya berkaca pada cermin, maka yang terlihat adalah wajah saya. Nah jika Pak Ahmad bercermin yang terlihat dalam cermin wajah simpanse, maka pantaslah kalau Pak Ahmad marah dan cermin itu dipecah. Mungkin itu cermin yang kurang ajar. Pak Ahmad selalu bicara "Perintah Allah dan dicontohkan oleh Rasulallah Saw.". Namun saya selalu bertanya-tanya, apakah memprovokasi, menghasut, mempitnah dan membuat interpretasi yang memojokkan orang lain. Apakah ini perintah Allah dan dicontohkan oleh Rasulallah Saw. ? Pak Ahmad bicara diseberang sana di Benua Europe yang tidak bisa melihat realita yang terjadi di Acheh. Pak Ahmad seolah-olah tahu kondisi dan situasi daerah Aceh. Padahal Pak Ahmad bisa mengilustrasikan dan menginterpretasikan kejadian yang ada di Aceh berdasarkan membaca dari surat kabar dan melihat di TV." (SP Saprudin, im_surya_1998@yahoo.co.id , Thu, 26 Jan 2006 13:24:41 +0700 (ICT))

 

Saudara Saprudin,

 

Ahmad Sudirman perhatikan dan telaah, ternyata saudara ini hanya sekedar mau kedengaran bunyinya saja dengan cara melambungkan tulisan agar dianggap bisa memberikan tanggapan atas isi tulisan Ahmad Sudirman, padahal kalau ditelaah lebih mendalam, isi tulisan saudara Saprudin itu hanyalah sekedar tulisan yang tidak mengandung kekuatan fakta, bukti dan dasar hukum yang kuat.

 

Saudara Saprudin,

 

Ahmad Sudirman telah memberikan saran sebelum ini kepada saudara yakni cobalah sebelum memberikan tanggapan atas tulisan Ahmad Sudirman perlu mempelajari lebih mendalam tentang sejarah pertumbuhan dan perkembangan RI dan hubungannya dengan Acheh, masalah MoU Helsinki dan masalah lainnya yang ada hubungannya dengan perkembangan di RI seperti masalah TNI dan yang lainnya.

 

Ternyata, apa yang disarankan oleh Ahmad Sudirman itu hanya masuk ke lubang telinga kanan dan keluar dari lubang telinga sebelah kiri, sehingga akhirnya, itu saudara Saprudin ketika memberikan tanggapan atas tulisan Ahmad Sudirman isinya seperti angin lalu saja.

 

Saudara Saprudin,

 

Kalau Ahmad Sudirman menuliskan masalah MoU Helsinki, masalah sejarah pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh dan masalah TNI itu bukan merupakan provokasi atau untuk membangkitkan kemarahan, melainkan itu semuanya adalah merupakan fakta, bukti dan dasar hukum.

 

Masalahnya, saudara Saprudin  sendiri yang tidak mengerti dan tidak memahami sejarah pertumbuhan dan perkembangan RI dan hubungannya dengan Acheh, sehingga ketika Ahmad Sudirman berbicara masalah RI dan Acheh juga TNI, langsung saja dikatakan sebagai usaha provokasi.

 

Kalau memang saudara Saprudin mempunyai dasar fakta, bukti dan hukum yang kuat, dipersilahkan menampilkan argumentasi yang didasari oleh fakta, bukti dan hukum, bukan hanya sekedar menuliskan, itu adalah provokasi.

 

Saudara Saprudin,

 

Begitu juga apa yang ditulis oleh Ahmad Sudirman tentang TNI dan Jenderal Endriartono Sutarto bukan merupakan suatu hasutan, melainkan sebagai suatu fakta dan bukti bahwa pihak Jenderal Sutarto melambungkan suatu fakta yang ada kaitannya dengan exxon mobile di Acheh. Dimana fakta tersebut Ahmad  Sudirman terima bukan hanya dari sumber suaramerdeka.com saja, melainkan dari sumber lainnya juga.

 

Nah dari fakta tersebut kalau dihubungkan dengan MoU Helsinki, akan menimbulkan sebagaimana yang telah Ahmad Sudirman tulisan dalam tulisan "Jenderal Sutarto kutak-katik exxon mobile untuk menggembol kembali non-organik TNI masuk Acheh".

 

Jadi kalau Ahmad Sudirman menuliskan masalah tersebut, itu bukan berarti Ahmad Sudirman menghasut sebagaimana yang dinyatakan oleh saudara Saprudin.

 

Sebaiknya, kalau saudara Saprudin memang mampu memberikan tanggapan, maka cobalah  mencari argumentasi yang isinya mengadung apa yang dinyatakan Jenderal Sutarto kemudian dikaitkan kepada MoU Helsinki. Jadi bukan hanya sekedar menuliskan kata, itu hanya menghasut.

 

Saudara Saprudin,

 

Sama juga, ketika Ahmad Sudirman menuliskan fakta yang menyangkut Jenderal Sutarto yang melambungkan masalah exxon mobile dengan TNI non-organik, maka itu bukan merupakan suatu fitnah kepada Jenderal Sutarto, melainkan suatu fakta yang menerangkan adanya hubungan permasalahan antara exxon mobile, TNI dalam hal ini Jenderal Sutarto dan MoU Helsinki.

 

Dengan ditampilkannya fakta dan dasar hukum tersebut sebagaimana yang terkandung dalam tulisan Ahmad Sudirman tersebut bukan mengarah kepada fitnah. Karena yang namanya fitnah adalah kalau memang tidak ada fakta dan dasar hukumnya.

 

Jadi, dalam tulisan tersebut Ahmad Sudirman tidak memfitnah dan membuat interpretasi yang memojokkan orang lain, melainkan menuliskan permasalahan yang ada kaitannya antara exxon mobile, TNI non-organik dalam hal ini Jenderal Sutarto dan MoU Helsinki.

 

Nah, kalau memang ada dari pihak Jenderal Sutarto atau dari siapa saja yang mendukung Jenderal Sutarto dipersilahkan menampilkan bantahannya yang memakai dasar argumentasi dengan ditunjang oleh fakta, bukti dan dasar hukumnya.

 

Kalau hanya membaca tulisan Saprudin, itu isinya hanya kata-kata kosong hasil ketikannya saja. Misalnya saudara Saprudin menulis: "Jadi tidak benar apa yang dikatakan oleh Pak Ahmad, bahwa TNI akan menggondol hasil dari perusahaan EXXONMOI di Aceh."

 

Dari cara menuliskan fakta seperti ini saja, itu saudara Saprudin sudah salah, mengapa ? Karena Ahmad Sudirman tidak pernah menulis hal tersebut. Yang dituliskan oleh Ahmad Sudirman adalah "Jenderal Sutarto, Daripada jenderal mengkutak-katik Exxon Mobile dengan cara menjungkit-jungkit landasan hukum untuk dipakai jalan masuk ke tempat vital seperti Exxon Mobile yang ada di Acheh ataupun PT Freeport di Papua agar bisnis TNI jalan, maka lebih baik duduk merenungkan kembali bagaimana indahnya itu langit-langit yang ada di atas bumi Acheh dengan sinar cahaya bintang MoU Helsinki." ( www.dataphone.se/~ahmad/060124a.htm ).

 

Nah, dengan Ahmad Sudirman menuliskan kata-kata "agar bisnis TNI jalan" tidak sama arti, maksud dan tujuannya dengan apa yang dituliskan oleh Saprudin yang berbunyi: "TNI akan menggondol hasil dari perusahaan EXXONMOI di Aceh", mengapa ?

 

Karena bisnis TNI di Acheh itu adalah usaha Jenderal Sutarto untuk memasukkan kembali pasukan non-organik TNI ke Acheh melalui lubang exxon mobile dengan alasan menjaga pos-pos keamanan yang didirikan disekitar exxon mobile. Tentu saja hal ini bertentangan dengan MoU Helsinki. Kalau hanya sekedar menjaga keamanan di sekitar exxon mobile, cukup mengerahkan pasukan organik TNI di Acheh yang sekarang masih berjumlah 14.700 personil.

 

Saudara Saprudin,

 

Kalau Ahmad Sudirman menulis "unitaris jawa" itu artinya unitaris RI-Jawa-Yogya. Nah, karena saudara Saprudin tidak mengerti dan tidak memahami sejarah pertumbuhan dan perkembangan RI, maka saudara Saprudin ini tidak mengenal dan tidak memahami kelompok unitaris dan kelompok federalis yang pernah muncul mendominasi digelanggang sejarah pertumbuhan dan perkembangan RI dan hubungannya dengan Acheh.

 

Coba baca kembali itu sejarah pertumbuhan dan perkembangan RI dan hubungannya dengan Acheh yang benar, bukan hanya mencomot dan menelan begitu saja.

 

Saudara Saprudin,

 

Kalau saudara mau memberikan sarahan tentang TNI di mimbar bebas ini bukanlah orangnya, lebih baik itu Jenderal Endriartono Sutarto yang memberikannya, mengapa ? Karena saudara Saprudin tidak mengenal dan tidak mengetahui bahwa orang-orang yang memakai label nama dengan huruf akhir "o" itulah yang mengontrol dan terus menerus menduduki kursi tertinggi TNI sampai detik sekarang ini.

 

Terakhir saudara Saprudin,

 

Saran Ahmad Sudirman kepada saudara Saprudin yaitu sebelum saudara memberikan tanggapan lagi, coba terlebih dahulu pelajari secara mendalam permasalahannya agar supaya mencapai sasaran, bukan hanya seperti buih-buih saja yang kosong dan keropos.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Thu, 26 Jan 2006 13:24:41 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin <im_surya_1998@yahoo.co.id>

Subject: Balasan: JENDERAL SUTARTO KUTAK-KATIK EXXON MOBILE UNTUK MENGGEMBOL KEMBALI NON-ORGANIK TNI MASUK ACHEH

To: antara@rad.net.id, alasytar_acheh@yahoo.com, ahmad_mattulesy@yahoo.com, a_yoosran@yahoo.com, bun.hold@kpk.go.id, barakatak_jol_leos@yahoo.com, bbuana@rad.net.id, bh@jawapos.co.id, bambang_hw@re.rekayasa.co.id, bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk

 

Berikut salah satu tulisan Pak Ahmad yang berbunyi sbb.:

 

"Ini hanya saran dari Ahmad Sudirman untuk jenderal yaitu persiapkan diri untuk menghadap di hari tua dan bersiap untuk mempertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Apakah memang benar dan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw melakukan pembunuhan di Acheh dengan mengatasnamakan demi unitaris jawa akan disapu bersih itu bangsa dan rakyat Acheh yang menginginkan hidup aman dan damai di negeri Acheh tanpa gangguan non-organik pasukan TNI ?"

 

Pak Ahmad, kalau saya berkaca pada cermin, maka yang terlihat adalah wajah saya. Nah jika Pak Ahmad bercermin yang terlihat dalam cermin wajah simpanse, maka pantaslah kalau Pak Ahmad marah dan cermin itu dipecah. Mungkin itu cermin yang kurang ajar.

 

Pak Ahmad selalu bicara "Perintah Allah dan dicontohkan oleh Rasulallah Saw.". Namun saya selalu bertanya-tanya, apakah memprovokasi, menghasut, mempitnah dan membuat interpretasi yang memojokkan orang lain. Apakah ini perintah Allah dan dicontohkan oleh Rasulallah Saw. ?

 

Pak Ahmad bicara diseberang sana di Benua Europe yang tidak bisa melihat realita yang terjadi di Acheh. Pak Ahmad seolah-olah tahu kondisi dan situasi daerah Aceh. Padahal Pak Ahmad bisa mengilustrasikan dan menginterpretasikan kejadian yang ada di Aceh berdasarkan membaca dari surat kabar dan melihat di TV.

 

Bicara dasar hukum yang selalu menghiasi tulisan Pak Ahmad di mimbar bebas ini. Apakah dengan membaca berita dari koran, melihat berita dari TV bisa dijadikan dasar hukum untuk bicara mendiskriditkan orang lain tanpa bukti-bukti yang bisa dipertanggung jawabkan. Biasanya orang menginterpretasikan sesuatu masalah, sebelumnya diadakan pengkajian uji material secara langsung di lapangan, bukan berdasarkan saduran atau membaca berita di koran. Akan lebih terhormat, bila hasil interpretasi itu dilakukan dengan objektif, jujur dan jauh dari buruk sangka.

 

Ya saya mengakui bahwa TNI sebuah institusi negara telah banyak melakukan pelanggaran2 kemanusiaan, bukan hanya di Aceh saja, bahkan dibeberapa daerah di Indonesia. Rasanya tidak fair apabila menyangkut pautkan konflik di Aceh dengan unitaris jawa, jawa centris atau sebutan lainnya. Memang yang menjadi pucuk pimpinan negeri ini adalah orang Jawa sejak jaman Soekarno s/d sekarang. Bukan berarti orang jawa yang jadi pimpinan itu harus menerapkan adat istiadat jawa atau jawanisasi terhadap daerah lain.

 

Dalam tubuh TNI sendiri, tidak semua orang jawa yang duduk di deretan atas (perwira) semua orang jawa. Dalam tubu TNI ada pimpinan yang berasal dari luar jawa seperti  Jenderal Abdul Haris Nasution, Letjen. TB. Simatupang, dan banyak lagi Jenderal-jenderal non jawa.

 

Memang etnis jawa itu mendominasi dalam tubuh birokrasi baik instansi pemerintah maupun swasta. Tapi bagi saya itu hanyalah sebuah kompetisi dalam mengasah kompetensi diri dalam percaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Siapa yang punya kompetensi yang mumpuni, maka dialah yang akan keluar sebagai pemenang.

 

Berkaitan dengan salah satu Oil Company (EXXON MOBIL OIL INDONESIA) yang beroperasi di Aceh yang meminta bantuan Panglima TNI untuk menambah personil untuk menjaga perusahaan tsb dari kemungkinan buruk yang terjadi. Kemauan mendatangkan personel TNI ke Aceh dalam rangka menjaga perusahaa EXXON MOI itu, itu diminta oleh pucuk pimpinan EXXONMOI di Jakarta yaitu Mr. Ronald I Wilson selaku President & General Manager. Permohonan EXXONMOI tidak langsung ke Panglima TNI, terlebih dahulu meminta persetujuan kepada BPMIGAS (Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi) selaku badan yang mengawasi kegiatan hulu migas di Indonesia yang dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama. Kebetulan EXXONMOI adalah salah satu KKKS yang dikoordinir oleh BPMIGAS.

 

Jadi tidak benar apa yang dikatakan oleh Pak Ahmad, bahwa TNI akan menggondol hasil dari perusahaan EXXONMOI di Aceh. EXXONMOI itu salah satu perusahaan besar milik Amerika, maka konsekuensi logis apabila para pimpinan EXXONMOI meminta pimpinan TNI untuk mendatangkan personel ke Aceh dalam rangka menjaga kegiatan operasi perusahaan tsb.

 

Ok Pak Ahmad, rupanya ulasan saya cukup sekian. Rasanya tidak akan menemukan titik temu apabila yang dibicarakan adalah flashback tanpa memberikan solusi yang bisa dipahami oleh semua orang.

 

SP Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------