Stockholm, 29 Januari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

MOU HELSINKI MENGIKAT BANGSA DAN SELURUH RAKYAT DI ACHEH TANPA KECUALI.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN ACHEH YANG MENGACU KEPADA MOU HELSINKI MENGIKAT BANGSA DAN SELURUH RAKYAT DI ACHEH TANPA KECUALI.

 

"Ustad sibuk mencocokkan isi MoU Helsinki dengan Langkah-langkah Pemerintah RI. Ingat ustad, MoU  Helsinki bukan mewakili bangsa Acheh. Bangsa Acheh tersebar diseluruh wilayah dan di Acheh jumlahnya jutaan. Perdana Menteri dan Menlu GAM bukanlah orang Acheh ustad, ia adalah warga asing dan lahir juga di wilayah asing. Jadi kami tidak menerima bahwa segelintir orang seperti mereka menkleim mewakili kami semua bangsa Acheh. Karena itu, yang kami butuhkan sekarang bukanlah kekuasaan, jabatan dan harta dunia lainnya. Tapi yang kami perlukan adalah ketenangan untuk beribadah kepada Allah swt, anak-anak kami bisa sekolah dan kami mencari rezeki halal bisa dengan  tenang. Berhentilah ustad untuk selalu mengatas namakan bangsa Acheh." (Tgk Najib,  tgk_najib@yahoo.com , Date: 29 januari 2006 18:08:58)

 

Terimakasih Tgk Najib di Singapura.

 

Sebenarnya kalau tgk Najib mau saja berpikir sedikit lebih mendalam tentang kehidupan keluarga, masyarakat, pemerintahan dan negara, maka tidaklah akan menuliskan seperti yang Ahmad Sudirman kutipkan diatas, mengapa ?

 

Karena bagaimana mungkin bisa ada ketenangan untuk beribadah kepada Allah swt, anak-anak bisa sekolah dan mencari rezeki halal, bisa dengan tenang di Acheh, kalau keadaan dan situasi yang timbul di Acheh berada dibawah naungan payung hukum yang memicu kekerasan sebagaimana yang terjadi sebelum MoU Helsinki ditandatangani di Helsinki, Finlandia.

 

Coba saja bayangkan apa yang terjadi dan menimpa bangsa dan rakyat Acheh ketika di Acheh masih berlaku dasar hukum dan payung hukum darurat militer dan darurat sipil, dimana yang berlaku hukum militer, bukan hukum sipil, yang tentu mungkin bagi tgk Najib tidak ada masalah pada masa darurat militer dan darurat sipil, karena tgk tinggal di Singapura, bukan tinggal di Acheh. Tetapi bagi bangsa dan rakyat Acheh, jelas itu dasar hukum darurat militer dan darurat sipil yang menjadi payung hukum di Acheh tidak bisa memberikan kebebasan, sebagaimana layaknya rakyat sipil di tempat dan di dunia lain.

 

Nah, setelah MoU Helsinki ditandatangani, suasana dan situasi hukum di Acheh jauh berbeda, seperti antara siang dan malam. Bangsa dan rakyat Acheh diberikan kebebasan sebagaimana bebasnya rakyat-rakyat yang ada di  negara lain.

 

Itu semua disebabkan karena dasar hukum yang menjadi payung hukum di Acheh bukan lagi payung hukum yang bernama darurat militer dan darurat sipil, melainkan MoU Helsinki 15 Agustus 2005. Jadi karena MoU Helsinki inilah, situasi dan kondisi hukum berobah 180 derajat di Acheh.

 

Hanya persoalannya sekarang adalah karena usaha rehabilitasi dan rekonstruksi Acheh pasca tsunami tidak mencapai sasaran dan tidak efisien. Dana untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Acheh sudah ada, baik itu yang datangnya dari bantuan asing dan pinjaman asing atau yang telah tersedia dalam anggaran belanja, tetapi kerja dari badan rehabilitasi dan rekonstruksi untuk Acheh ini memang tidak efisien dan tidak mencapai sasaran kepada rakyat Acheh yang menjadi korban tsunami dan berhak mendapatkan bantuannya.

 

Nah, MoU Helsinki telah menjadi payung hukum di Acheh, mau tidak mau seluruh bangsa dan raklyat Acheh akan terkena payung hukum MoU Helsinki tanpa kecuali. MoU Helsinki bukan hanya menjadi payung hukum bagi segelintir orang saja, melainkan bagi seluruh rakyat di Acheh.

 

Dan dengan MoU Helsinki inilah masa depan hukum di Acheh akan ditentukan, baik itu yang menyangkut masalah perundang-undangan, kewenangan pemerintahan, ekonomi, perdagangan, pekerjaan, sumber daya alam dan manusia, hak asasi manusia, syariat Islam, peradilan agama, peradilan hak asasi manusia, kepolisian, TNI dan yang lainnya.

 

Jadi disini tidak ada alasan lagi untuk mengatakan: "MoU  Helsinki bukan mewakili bangsa Acheh. Bangsa Acheh tersebar diseluruh wilayah dan di Acheh jumlahnya jutaan. Perdana Menteri dan Menlu GAM bukanlah orang Acheh, ia adalah warga asing dan lahir juga di wilayah asing"

 

MoU Helsinki bukan milik Teungku Malik Mahmud dan Teungki Zaini Abdullah atau para petinggi GAM lainnya, melainkan MoU helsinki telah menjadi milik seluruh bangsa dan rakyat Acheh tanpa kecuali dan akan menjadi dasar, payung dan acuan hukum di Acheh.

 

Undang-Undang Tentang Pemerintahan Acheh yang mengacu kepada MoU Helsinki akan  menjadi dasar hukum dan payung hukum di seluruh Acheh dan akan mengikat kepada seluruh bangsa dan rakyat Acheh. Acheh akan dipimpin oleh bangsa dan rakyat Acheh, artinya Acheh untuk Acheh.

 

Nah sekarang, mengapa Ahmad Sudirman terus menerus menampilkan masalah MoU Helsinki ini ? Karena memang dengan MoU Helsinki inilah Acheh akan dirobah dan akan berjalan kearah yang yang dikehendaki oleh sebagian besar bangsa dan rakyat Acheh yaitu perdamaian, keamanan, keadilan, kesejahteraan dan kebebasan di seluruh Acheh.

 

Dan berdasarkan alasan ini mengapa bangsa dan rakyat Acheh pasca MoU Helsinki harus memperjuankan  perdamaian, keamanan, keadilan, kesejahteraan dan kebebasan di seluruh Acheh melalui jalur hukum, tidak lagi melalui jalur kekerasan.

 

Ahmad Sudirman menulis ini dalam rangka memperjuangkan dasar hukum dan payung hukum yang mengacu kepada MoU Helsinki agar di Acheh tetap terjaga dan terpelihara perdamaian, keamanan dan kebebasan bagi seluruh bangsa dan rakyat Acheh. Usaha untuk mempertahankan perdamaian yang menyeluruh dan berkesinambungan  serta bermartabat bagi semua pihak ini adalah sangat penting dan mendasar dan salah satu caranya adalah melalui jalur hukum. Artinya, diperjuangkan melalu lembaga hukum, dalam hal ini melalui lembaga legislatif. Dalam memperjuangkan melalui lembaga hukum ini bisa melalui jaur diluar lembaga, artinya melalui pembentukan opini dan pembentukan suara dan pendapat rakyat Acheh ataupun bisa melalui langsung terlibat dalam lembaga legislatif.

 

Jadi, kalau Ahmad Sudirman sekarang memperjuangkan untuk tetap tercipta dan terjaganya perdamaian, keamanan dan kebebasan di Acheh itu melalui tulisan dan pembentukan opini, itu merupakan salah satu usaha untuk melahirkan dasar hukum dan payung hukum yang mengacu kepada MoU Helsinki agar terlaksana dan dapat dijalankan sesuai dengan apa yang telah disepakati didalamnya.

 

Selanjutnya soal minta zakat atau minta dicarikan donor atau relasi di luar Acheh, itu nantinya akan disalurkan melalui lembaga pemerintahan Acheh yang akan menangani masalah-masalah tersebut. Jadi bukan urusan perseorangan, karena ini menyangkut masalah seluruh bangsa dan rakyat Acheh.

 

Seterusnya soal pulang ke Acheh, itu kalau sudah waktunya Ahmad Sudirman akan sampai juga ke tanah Acheh dan terus ke tanah Sunda, walaupun sekarang sudah banyak petinggi GAM yang keluar masuk Acheh ikut bersama dengan bangsa dan rakyat Acheh secara perlahan membangun Acheh. Jadi kalau Ahmad Sudirman belum juga menginjakkan kaki di bumi Acheh itu bukan karena takut pulang atau takut kelaparan, melainkan apa yang telah disepakati antara pihak GAM dan pemerintah RI masih banyak yang belum dijalankan. Jadi, kalau MoU Helsinki telah benar-benar dijalankan baik oleh pemerintah RI ataupun pihak GAM secara keseluruhan, dan saling percaya bisa diwujudkan secara penuh, tidak ada lagi saling bohong-membohongi dan saling menipu dalam hal pelaksanaan MoU Helsinki, maka saat itulah Ahmad Sudirman akan melihat dan menginjakkan kaki di Acheh dan diteruskan ke bumi Sunda.

 

Terakhir, itu Teungku Malik Mahmud dan Teungku Zaini Abdulah adalah bangsa Acheh yang lahir di Acheh walaupun telah menjadi warga negara asing. Tetapi warganegara asingnya itu tidak menjadi hambatan dan tidak merobah bangsa Acheh-nya itu. Kewarganegaraan itu hanyalah formalitas hukum diatas kertas saja. Ahmad Sudirman telah memberikan penjelasan dalam tulisan sebelum ini, bahwa dalam sekejap mata itu kewarganegaraan bisa berobah. Tetapi bangsa tidak bisa dirobah. Teungku Malik Mahmud dan Teungku Zaini Abdulah adalah tetap bangsa Acheh, tidak berobah.

 

Inilah sedikit pemikiran Ahmad Sudirman untuk tgk Najib di Singapura.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

From: Tgk Najib tgk_najib@yahoo.com

Date: 29 januari 2006 18:08:58

To: PPDi@yahoogroups.com, PPDI@yahoogroups.com, oposisi-list@yahoogroups.com, mimbarbebas@egroups.com, politikmahasiswa@yahoogroups.com, fundamentalis@eGroups.com, Lantak@yahoogroups.com, kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com, achehnews@yahoogroups.com

Subject: «PPDi» Re: «PPDi» PEMERINTAH RI HANYA MENAFSIRKAN BUKAN MENGACU MOU HELSINKI DALAM PEMBUATAN RUU..

 

Ustad Ahmad Sudirman Yth dan Tgk-tgk semua....

 

Assalamualaikum warrah matullahi wabarakaatuh.

 

Saya menghargai usaha dan pemikiran ustad Ahmad Sudirman yang selalui ia sampaikan melalui media elektronik ini. Begitu pula saudara-saudara ku yang lain, dimana pun berada di bumi Allah SWT ini.

 

Yang sangat yakin bahwa usaha-usaha kita semua ini adalah untuk kemajuan bangsa kita Acheh, untuk kemajuan rakyat kita di Acheh, dan untuk kesejahteraan rakyat kita di Acheh.

 

Dari dahulu sampai saat ini, saudara-saudara kita yang ada di Acheh, termasuk mereka dan keluarga mereka yang mengalami bencana alam Tsunami, juga turut berjuang untuk membangun kembali Acheh.

 

Jutaan rakyat Acheh saat ini berjuang untuk kemajuan bangsa Acheh. Dan diantara jutaan itu, terdapat segelintir orang Acheh seperti Ustad Ahmad Sudirman.

 

Ustad.... saya mau bertanya.....

Bantuan dan perjuangan riil apa yang sudah ustad sumbangkan untuk bangsa Acheh selain hanya melalui tulisan dan kritikan.

 

Kami yang ada di Acheh, saat ini bukan kritikan yang kami perlukan, tapi adalah tindakan/aksi nyata agar kami setiap hari bisa makan, agar anak-anak kami setiap hari sekolah, dan agar setiap hari ekonomi di Acheh bisa berjalan.

 

Jika ustad punya rezeki berlebih di Swedia, kirimkan lah zakat ustad ke Acheh untuk kami.

 

Saya sangat menghargai dan berterima kasih banyak ke Ustad, jika ustad bisa membantu kami di Acheh misalnya dengan mencari donor atau relasi ustad yang bisa membantu kami di Aceh.

 

Jika ustad mencintai aceh dan menyayangi Acheh, kenapa ustad tidak pulang ke Acheh dan membangun Acheh dengan tenaga dan pemikiran ustad di sini.

 

Apakah ustad takut pulang? Takut hanya kepada Allah, Ustad.

Apakah ustad takut kelaparan di Acheh? Itu adalah kehidupan kami sehari-hari ustad. Pemerintah RI Jawa bangsat yang menjajah Acheh, tapi mereka bahu membahu dengan kami di Acheh membantu korban Tsunami. Membantu anak-anak sehingga bisa sekolah. Membantu mengumpulkan donor dan dana dari seluruh bangsa dan suku di Indonesia tanpa melihat agama dan ras.

 

Ustad sebagai yang tahu agama, sangat saya sayangkan hanya punya kemampuan menghujat dan mengkritik. Kami bangsa Acheh di Acheh untuk saat ini tidak memerlukan itu ustad.

 

Ustad sibuk mencocokkan isi MoU Helsinki dengan Langkah-langkah Pemerintah RI. Ingat ustad, MoU  Helsinki bukan mewakili bangsa Acheh. Bangsa Acheh tersebar diseluruh wilayah dan di Acheh jumlahnya jutaan.

 

Perdana Menteri dan Menlu GAM bukanlah orang Acheh ustad, ia adalah warga asing dan lahir juga di wilayah asing. JAdi kami tidak menerima bahwa segelintir orang seperti mereka menkleim mewakili kami semua bangsa Acheh. KArena itu, yang kami butuhkan sekarang bukanlah kekuasaan, jabatan dan harta dunia lainnya. Tapi yang kami perlukan adalah ketenangan untuk beribadah kepada Allah swt, anak-anak kami bisa sekolah dan kami mencari rezeki halal bisa dengan  tenang. Berhentilah ustad untuk selalu mengatas namakan bangsa Acheh.

 

Muslim yang benar adalah muslim yang cinta damai. Muslim yang bisa memberi maaf kepada sesamanya. Muslim yang tidak menghujat sesamanya, bukankah begitu Ustad?

 

Wassalamualaikum

 

Tgk NAjib

 

tgk_najib@yahoo.com

Singapura, Singapura.

----------