Stavanger, 29 Januari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


TENGKU OMAR PUTEH MENGULITI TULISAN RADEN BUKHARI POPIYA

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.

 

 

TANGGAPAN TENGKU OMAR PUTEH ATAS TULISAN RADEN BUKHARI.

 

Saya, pertama sekali menemui Raden Bukhari dan keluarga di rumahnya seorang teman yang sedang kami kunjungi, ketika itu dia dan sekeluarga kebetulan baru juga tiba dari Kuala Lumpur, Malaysia.  Mungkinkah dari pertemuan pertama inilah, telah tersurat sebuah petaka "fitnah" keatas saya?

 

Kemudian saya mengetahui bahwa, Raden Bukhari, telah begitu akrab sekali dengan dua orang teman.  Saya tidak tahu pasti, apakah kedua teman itu, juga kemudian akan mengatakan, mungkin keakraban itulah, kemudian menghantar kedua mereka dan saya dan semua kami kegerbang "fitnah"?

 

Lewat kedua teman itulah, Raden Bukhari terundang menjadi anggota Jema'ah Wirit Yasin anak-anak Achèh di Rogaland, Norwegia.  Malahan, dia terlantik menjadi Imam dari Wirit Yasin anak-anak Achèh di Rogaland itu.  Akan dikatakankah juga bahwa, kebaikan serupa itu juga sebagai "fitnah"?

 

Status keanggotaan dan ke Imaman-nya tergugat, sebaik saja dia balik dari menziarahi jenazah Daud Husin dan keluarga di Swedia.  Saya awal-awal lagi telah mengira yang sekembalinya dia itu dari sana sudah pasti akan memopong "fitnah"-"fitnah" terhadap saya.

 

Sebenarnya Raden Bukhari telah memberitahukan kepada saya, niat  kepergiannya untuk penziarahan itu. Maka saya katakan kepada Raden Bukhari:  "Bagi saya tidak ada apa-apa masalah kepergian kamu kesana untuk menziarahi jenazah Daud Husin dan keluarga mendiang".  Begitupun saya pesankan juga kepadanya:  "Sebaiknya ceritakanlah juga tujuan kepergian kamu itu kesana kepada sesiapa dari pihak ASNLF/GAM di Swedia, nantinya, agar yang demikian itu, akan terjauhi kamu dari "fitnah"", kata saya lagi.

 

Ketika itu dia menjawab ya dan baiklah, tetapi setiba baliknya dari Swedia dan setelah "fitnah" itu datang kedepan, barulah mau dia mengakui kepada saya bahwa, dia tidak mau melakukan apa-apa ketika itu, mengikut pada apa yang saya telah pesankan. Lagi tambahnya: "Ia kesana tidak dan kesini tidak, dan saya hanya mendengar apa-apa yang dikatakan oleh "orang sana" seperti masuk kuping kiri, lantas keluar lewat kuping kanan dan/atau sebaliknya", begitulah komentarnya terhadap "orang sana-orang dari pihak keluarga yang diziarahi" itu, walaupun saya masih terpikir bahwa, Raden Bukhari, sesungguhnya telah menyadari akan risiko "fitnah" sedemikian itu:  Seperti kesana akan "terfitnah" dan kesini juga akan "terfitnah".

 

Raden Bukhari,

 

Bukankah perlakuan masa bodoh kamu itu, yang merefleksikan kesombongan dan keangkuhan kamu, yang kemudian kemasakbodohan kamu itu pula, yang kemudian melempari saya kedalam semacam "fitnah"?

 

Itulah logikanya dan yang demikian itulah sememangnya yang ingin dilakukannya!  Dan itulah sebabnya pula, ketika saya siasat ulang seperti terkesan bahwa, dia itu, sememangnya coba meremehkan apa yang telah pernah saya pesankan.

 

Makanya, sekembalinya Raden Bukhari dari kunjugan penziarahan ke Swedia, keadaan menjadi lain, keadaan menjadi kalang-kabut, suasana menjadi bercampur-baur antara prasangka dengan "fitnah".......................

 

Sebaik saja seseorang tertentu, mengetahui ketibaanya balik di Stavanger, seseorang teman, menelepon saya, menanyakan tentang hal kunjungan penziarahan Raden Bukhari itu. Penjawaban saya adalah: "Raden Bukhari telah memberitahukan lebih dahulu kepada saya, akan niatnya untuk pergi kesana dan sayapun ikut mengingatkannya agar setibanya di Swedia, terus saja menghubungi pihak ASNLF/GAM, di Swedia", demikianlah keterangan itu saya berikan.

 

Sebenarnya penjawaban terhadap si penelepon itu, agak malas juga saya melayaninya, ketika itu, karena masalah MP GAM (Koalisi Suara Masyarakat Acheh Internasional Untuk Demokrasi) ataupun MB GAM (Komite Persiapan Kemerdekaan Achèh Demokratik) itu, karena sejak tahun 1999, sejak di Norwegia, saya juga yang melayaninya sendiri bukanpun mau orang lain, apalagi jika sudah bertukar menjadi "fitnah"......................

 

Kasus Raden Bukhari itu, saya kira belum apa-apa dan sayapun belum mau menganggapnya sebagai orang yang tidak setia, sebagai pengkhianat atau sebagai bukan oran Achèh lagi, atau bukan sebagai bangsa Quisling, karena bagi saya dia itu, masih sebagai anggota jema'ah Wirit Yasin Anak-anak Achèh di Rogaland, Norwegia.

 

Apalagi sayapun, telah selalu mengatakan bahwa, sesiapapun yang mau bersetia kepada Negara Achèh Sumatra/ASNLF/GAM dan bersedia mengisi tabung perjuangan, maka kita musti rangkul mereka, tidak kira apakah mereka dari dari Pasië 'Lhôk atau dari Pasië Tjot!  Kecuali terhadap keempat-empat si Pengkhianat Praktikal!

 

Dirumah teman, siapa yang telah menelepon kami, kami medengarkan beberapa hujjah mengapa anak-anak Achèh di Stavanger dan sekitarnya, di Rogaland musti memutuskan hubungan dengan Raden Bukhari.  Disana dikatakan bahwa:

 

(1) Raden Bukhari, pernah diterima langsung oleh dr Hussaini Hasssan, selaku Ketua dan merangkap sebagai Sekjen MP GAM (Koalisi Suara Masyarakat Achèh Internasional Untuk Demokrasi)  sewaktu ketibaannya di Rogaland, Norwegia.

 

(2) Raden Bukhari pernah membuat pertemuan dengan orang-orang MP GAM (Koalisi Suara Masyarakat Achèh Untuk Demokrasi) atau MB GAM (Komite Persiapan Kemrdekaan Achèh Demokratik) dan

 

(3) Raden Bukhari juga pernah mengeluarkan kata-kata, yang disifatkan seperti "menghina"? kepada Tengku Malik, dengan mengatakan kepada beliau sebagai si Malik.

 

Saya begitu terkejut dan tersentak dengan "koleksi" keterangan malam itu, yang sangat-sangat menguyukan diri saya juga, dan disitulah saya sesungguhnya baru mendengar dan tahu untuk pertama kalinya.  Raden Bukhari, bukankah ini sudah menjadi "fitnah" kepada saya juga?

 

Alhamdulillah, Raden Bukharipun, memberikan maklum balas segera. Katanya:  "Kalaulah itu, yang menjadikan saya tersingkir, dari anggota jema'ah Wirit Yasin dan dari jema'ah ASNLF/GAM, lantas bagaimana pula terhadap seorang teman yang lebih awal diterima-sambut oleh dr Hussaini Hassan Cs?  Dan bagaimana pula terhadap seseorang yang juga telah membuat pertemuan dengan orang yang sama, serta sekaligus sebagai orang yang telah menitipkan pesan takziah sampai dua kali, sebelum keberangkatan saya ke Swedia itu?"

 

Nah, Raden Bukhari, bagaimana jelasnya imbasan sebuah "fitnah" yang telah kamu buat, tetapi kamu coba sembunyikan juga jenis "fitnah" kamu itu, yang kemudian ia mencuat keluar dan bergerak melanggar orang lain, melanggar saya, menjadi korban "fitnah", karena ulah-tingkah kamu!

 

Megenai ucapan yang disifatkan seperti menghina Tengku Malik, sikap yang demikian terlalu ramai saya dengar sejak awal 1980-an lagi, dan malahan orang-orang seperti itu, sampai kini ada dalam perjuangan dan ada yang telah menjadi syuhada, makanya saya tidak perlu menyoalnya, mengapa Raden Bukhari-pun mengeluarkan perkataan seumpama itu.

 

Kesimpulan yang saya ambil demikian itu melihat kepengalaman masa lalu yang serupa, walaupun itu juga merupakan sebuah "fitnah" yang kamu buat sendiri, sebagai:

 

(1) Anak ingusan, yang berrtungkik dan berteleran!

 

Satu kejadian lainpun yang membawa "fitnah" pernah terjadi:  Saya dimintakan oleh Raden Bukhari, agar  mendapatkan keizinan dari pemimpin, untuk membenarkan adik sepupunya Salman Usman dan juga selaku adik iparnya si Syahbuddin Rauf @ Hj Ghafur Paneuk Anténa, Ketua MB GAM (Komite Persiapan Achèh Merdeka Demokratik) untuk bermalam dirumahnya.

 

Keizinan itu diberikan. Tapi apa lacur?  Raden Bukhari selain membawa adik sepupunya,  ia juga membawa si Syahbuddin Rauf, si Ketua MB GAM (Koalisi Suara Masyarakat Achèh Internasional Untuk Demokrasi) dan si Yusuf Daud @ Krungkông Pasië 'Lhõk, si Sekjen MB GAM (Komite Persiapan Kemerdekaan Achèh Demokratik) sekalian bertiga bermondok dirumahnya.

 

(2) Ku kira, teman seiring jalan, rupanya penohok dari belakang!

 

Aduh, Raden Bukhari, kamu ini seperti sedang menciptakan sejenis "fitnah" keatas saya lagi, seperti baru terjadi didepan mata pemimpin!

 

Perilaku "fitnah" Raden Bukhari itu, sungguh mengejutkan diri saya, tetapi, mungkin tidak, bagi istrinya, yang sejak awal-awal lagi telah menyadari akan tingkah-laku suaminya, yang dengan gerak tangkas, terus meniggalkan rumahnya, pergi bermalam kekediaman lain.

 

Istrinya itu, adalah mantan anggota Jema'ah Wirit Yasin Wanita-Wanita Achèh di Rogaland, yang telah pernah memohon kepada Jema'ah Wirit Yasin Wanita-Wanita Achèh Rogland, agar terus dikekalkan keanggotaannya dalam Jama'ah Wirit Yasin Wanita-Wanita Achèh di Rogaland, dengan azam: "Bah ulôn matèe (syahid) dalam (perjuangan) Achèh Merdèhka"!   Karena gema azamnya itulah, bertahan lamalah beliau dalam Jema'ah.

 

Aduh, Raden Bukhari, kamu ini seperti telah menciptakan jenis  "fitnah" lain, keatas keluargamu sendiri, seperti baru terjadi didepan mata Omar Putéh!

 

Sebelum-sebelumnya sayapun pernah punya niat, hendak mengajak Raden Bukhari, agar dapat kiranya membantu saya dan/atau bekerja bersama-sama membangun "Achèh Sociological Research" (riset perpustakaan) di Norwegia, karena terpikirkan, yang dia mungkin agak serasi dengan kerja seperti ini, sekalipun ianya bukan rakan kerja yang ideal!  Apakah ini juga akan menjadi sebuah "fitnah", karena saya mengatakan sesuatu kebenaran yang jelas akan niat saya itu, untuk merangkulnya sebagai teman, sebagai saudara?

 

Setelah peristiwa Raden Bukhari yang sekelip mata sempat mem-"fitnah" saya, seperti didepan pemimpin dan sempat juga mem-"fitnah" keluarganya sendiri, seperti didepan saya, namun saya tetap ingin berteman dan bersaudara dengannya,  walaupun masih saya sedari, yang saya mengharungi ranjau-ranjau "fitnah" kemudiannya!.

 

Suatu hari, saya bersama seorang rakan datang menjumpai kembali Raden Bukhari, disuatu tempat, dimana ia sedang memancing. Disana saya katakan kepadanya,  agar hendaknya dimasa akan datang, tidaklah lagi mengulangi perbuatannya membawa pulang siapapun orang-orang MP GAM ( Koalisi Masyarakat Achèh Internasional Untuk Demokrasi) atau MB GAM (Komite Persiapan Achèh Merdeka Demokratik).

 

Dia langsung menjawab spontan singkat ditempat: "Tidak, saya tidak akan bisa lakukan, dan akan tetap menerima mereka-mereka dari Swerdia itu, jika mereka itu, datang lagi berkunjung ke Stavanger!"

 

Spontan sayapun membalas singkat di tempat: "OK-lah, mulai hari ini,  kita tidak perlu berhubungan lagi!"  Saya juga memutuskan hubungan diri saya, terhadap Raden Bukhari itu.  Saya bertindak demikian agar si Raden Bukhari ini, tidak akan lagi mempersendakan saya, dengan lenggang-lenggok dan gonta-gontai "fitnah-fitnah"-nya berakhir!

 

(3) Aku hendak menjadikannya Saya, rupanya Dia menjadikannya Orang!

Aku hendak menjadikannya Bukhari Tengku Raden, rupanya Dia menjadikannya: Raden Bukhari Popiya!

 

Makanya,  setelah itu, pada hari itu, hubungan saya dengan Raden Bukhari, secara resminya terputus hingga hari ini, seperti menetak putus sebuah tonggak "fitnah"........................., kecuali hubungan-hubungan yang bersifat insidentil, walaupun ini juga masih akan mengundang semacam "fitnah"!

 

Raden Bukhari,

 

Ingatkah kamu, sebuah peristiwa pergaduhan keluarga kamu dengan sebuah keluarga lain?

 

Akibat peristiwa itu, seseorang telah menelepon saya.  Saya jawab persolan telepon itu dengan singkat:  Hubungi saja orang yang bersangkutan!  Tetapi "fitnah" menimpa kepada saya sebagai makian.  Saya mengatakan demikian karena (1) Itu adalah masalah orang permpuan. (2) Ketika saya mengunjungi rumahnya perkara kamu, Raden Bukhari, yang bersangkutan itu, semacam acuh tak acuh dan menjadikan saya seperti malu karenanya kepada kamu, walaupun kasus kamu.  Hal ini, telah juga saya beritahukan kepada kamu, Raden Bukhari.

 

Apa kejadian selanjutnya ikut membuntut dari akibat saya lagi-lagi membela kamu, Raden Bukhari?  Jema'ah Wirit Yasin setengah bubar, berkibar setengah tiang!  "Fitnah" apakah ini akan kita namakan Raden Bukhari?

 

Dengan melihat sederet peristiwa yang kita lalui diatas, saya musti melalui lagi sebuah peristiwa "fitnah" 10 hari setelah saya mengundang kamu, Raden Bukhari via telephone untuk mengahdiri acara sambutan eksibisi lukisan-lukisan dari anak-anak korban Tsumnami yang dikelola oleh seorang arsitek dari Oslo, Norwegia dan 3 orang rakan dari sebuah sanggar seni GUNTOMARA dari  Banda Achèh.

 

Nah, kamu, Raden Bukhari melempar "fitnah" pula kepada saya, setelah sepuluh hari saya mengundang kamu dengan: Bukhari Raden: Jiwa Heroismeku kembali Mencuat

 

Raden Bukhari, tahukah kamu apa beda "heroic(k)" dengan "heroisme"? (dalam kurung ini, untuk membantu kamu menjawab apa itu: Heroic (k) dan apa itu: Heroisme dengan mengambil contoh: nasionalis dengan nasionalisme atau sekularis dengan sekularisme?  Tetapi perlu kamu ingat bahwa, kedua contoh dalam kurung itu, sangat berbeda makna -is-nya dengan 2 contoh pertanyaan diatas. Ini saya buat demikian supaya kamu bisa tahu bagaimana menyeka "ingus"mu, jangan sampai kecelepongan, sebelum kamu mengambil istilah itu.)

 

"Fitnah" itu saya letak jauh-jauh, seperti "fitnah" kamu buat keatas "warga negara Singapura" dalam celoteh panjang kamu, seperti buat ucapan "Congratulation" kamu, seperti sindiran kamu buat terhadap seseorang yang ditugaskan ke Achèh dari Norwegia dan kini, yang terbaru:

 

(1) Sepotong kalimat "fitnah" kamu sendiri, yang memuntahkan kamu, Raden Bukhari  yang saya dapati dalam milis Tengku Ahmad Hakim Sudirman dan

(2) Bingkisan Malam 1, yang baru-baru ini, telah diterbitkan oleh Tengku Ahmad Hakim Sudirman dari milis bebas kelolaan beliau, untuk tatapan 60.000-100.000 pembaca setia.

 

Demikianlah saya paparkan sedikit tentang bagaimana hubungan Tengku Omar Putéh dengan Raden Bukhari:

 

(4) Yang tak sampai ke ujung jalan, yang tak sampai ke ujung petang!

 

Maka sebelum saya merespon tulisan "FitnaH"-nya, kamu itu, Raden Bukhari, dari Bryne, Rogaland, Norwegia.  Pengresponan akan saya buat setelah kamu secara jentelmen menjawab dengan sesegera mungkin, tampa menunggu hingga ikan bandang bertelur ditambak!

 

Date: Sun, 22 Jan 2006 23:45:37 +0100 (CET)

From: Bukhari Raden bukharipasi66@yahoo.no

Subject: Bingkisan Malam 1

To: ahmad@dataphone.se,

 

maka perlulah lebih dahulu saya kemukan beberapa pertanyaan awal kepadanya:

 

Pernahkah Raden Bukhari mengetahui,

 

(1) "Fitnah" yang nantinya akan saya paparkan dengan selengkapnya pada judul lain, adalah "fitnah" (terhadap WN) yang telah bermula sejak dari tahun 1988, sejak di Kem Tajura + Kem Green Wood, Gombak, Malaysia dan + plus........................................!

 

(2) Bahwa, setelah "seseorang" ditugaskan turun kelapangan oleh kepimpinan Negara Achèh Sumatra/ASNLF/GAM, maka Yusuf Daud Paneuk @ Krungkông Pasië 'Lhõk dan Syahbuddin Rauf Cs, mulailah sibuk menyusun taktik, bagaimana caranya menggagalkan "seseorang" itu, dengan tugasnya.  Mengapakah demikian?  Karena "seseorang" yang dimaksudkan itu, kelak akan berperanan meningkatkan karir militernya, dan/atau jabatan lainnya.

 

(3) Bahwa, buku "Dokumen Rahasia Negara Atjeh"-nya atau lebih dikenal sebagai buku: "Buku Hijau" (kitab suci)-nya, MP GAM (Koalisi Suara Masyarakat Achèh Internasional Untuk Demokrasi) atau MB GAM (Komite Persiapan Achèh Merdeka Demokratik), adalah merupakan sebuah "buku pegangan utama" bagi dua orang propagandis yang berhati jahat, kotor dan tidak beradab dan kemudian, dikenal juga sebagai dalang utama (master mind) cobaan coup d' état di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 1997, yang masing-masing sebagai: Ketua MB GAM (Komite Persiapan Achèh Merdeka Demokratik) : Syahbuddin Rauf @ Hj Gafur Paneuk Anténa dan Sekjen MB GAM (Komite Persiapan Achèh Merdeka Demokratik): Yusuf Daud Paneuk @ Krungkông Pasi 'Lhõk.

 

Buku yang disusun sedemikian rupa oleh Yusuf Daud Paneuk Cs itu, semata-mata bertujuan untuk menabur fitnah.  Dengan jangkaan, yang "mereka" akan dapat pula menghancurkan struktur utama Negara Achèh Sumatra/ASNLF/GAM di Stockholm, Swedia, dibawah kepimpinan Tengku Hasan Muhammad di Tiro.

 

(4) Bahwa, Buku Hijau itu, pernah diserahkan oleh "seseorang yang tidak relevan lagi kita sebut disini" langsung ketangan rakan saya di Kuala Lumpur, ditahun 1997 dan kepada saya sendiri di Stavanger, Norwegia, dua tahun kemudian atau tepatnya ditahun 1999 oleh Ketua MB GAM (Komite Persiapan Achèh Merdeka Demokratik): Syahbuddin Rauf Hj Gafur Paneuk Anténa, lewat  Abu Nizar @ Abu Rajeuk, yang dikirim via Pos.

 

Sampul pembungkus kiriman Pos buku hijau itu, sengaja saya sobeki didepan anak-anak Achèh, para Jema'ah Wirit Yasin, di Stavanger, Rogaland, Norwegia.

 

Mengapa saya lakukan sedemikian rupa?

Karena firasat saya seperti telah membisik:  Mungkin ada apa-apanya dengan isi kiriman itu, apalagi datangnya dari Abu Nizar @ Abu Rajeuk itu, yang pada awal-awal lagi telah tersinyalir, sebagai orang yang pro MP GAM (Koalisi Suara Masyarakat Acheh Internasional Untuk Demokrasi) atau MB GAM (Komite Persiapan Achèh Merdeka Demokratik), kelompok Kampung Delik, Klang, Malaysia atau sejak di Malaysia lagi, atau sejak sebelum dia dengan peristiwa dobrakan pintu gerbang UNHCR, Kuala Lumpur Malaysia-nya.

 

(5) Bahwa, kami bangsa Achèh yang berdomisili di Stavanger, dan sekitarnya di Rogaland, Norwegia, memang dari awal-awal sekali, ingin mengetahui:  Mengapakah Radèn Bukhari, meninggalkan Kampung Pasië 'Lhõk, Achèh Pidië-nya, dan masuk Malaysia, lantas mencari perlindungan "sosial dan politik" ??? (kutipan istilah dari Raden Bukhari sendir) dari UNHCR, Kuala Lumpur Malaysia?  Dan kami juga ingin mengetahui, apakah benar Raden Bukahri, meninggalkan kampung halaman itu, setelah dirasuki hantu-nya "fitnah" jahat, kotor dan tidak beradab, yang ketika itu sedang bergentayangan disana, di Pasie 'Lhok, di Pasie Lancang, di Pasie Tjõt dan Pasie Lapang, yang berjubah Buku Hijau (kitab suci)-nya MP GAM (Koalisi Suara Masyarakat Achèh Internasional Untuk Demokrasi) atau MB GAM (Komite Persiapan Achèh Merdeka Demokratik) yang takut bertanggung jawab?

 

(6) Bahwa, keberangakatan dan ketibaan  Radèn Bukhari ke Bryne, Rogaland, Norwegia, yang diuruskan oleh pihak UNHCR, Kuala Lumpur, Malaysia, dikatakan bukan karena korbanan darah syuhada dari 70.000 jiwa lebih bangsa Achèh, korbanan kebiadaban dan ketidak berprikemanusiaan-nya ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam atau karena alasan sosial-ekonomi berbungkuskan sosial dan politik atau sebab lain-lain, dengan cara memburuk-burukan TNA, Tentara Negara Achèh? sebagaimana kemiripan alasan-nya anak-anak Achèh lain terhadap kebrutalan dan kebiadaban TNI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, sebab ini juga, akan dapat menggugahi hati pihak UNHCR, Kuala Lumpur, Malaysia?

 

(7) Bahwa, kalau keberangkatan dan ketibaan Radèn Bukhari ke Bryne, Rogaland, Norwegia, bukan karena darah syuhada dari 70.000 jiwa lebih bangsa Achèh, yang terkorban akibat kebiadaban dan ketidak berprikemanusiaan-nya ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, maka dapatkah Raden Bukhari menjelaskan kepada kami bangsa Achèh di Stavanger dan sekitarnya di Rogaland, Norwegia, dan diseluruh dunia dengan selengkap-lengkapnya atau lewat milis bebas kelolaan Tengku Ahmad Hakim Sudirman, agar bisa menjadi tatapan semua, walaupun sudah berobah menjadi kelabu !?

 

(8) Bahwa, kalimat ini: Saya memohon kepada saudara Razali sudahi fitnah keji ini, sudahi keangkuhan ini, sudahi kejahilan ini. Sebab di samping dosa besar akan membawa fadah suatu hari kelak.  Apakah kalimat ini:..........."membawa fadah suatu hari kelak", sebagai sebuah ancaman-nya model Raden Bukhari secara verbal terhadap Tengku Omar Putéh?  Kalau ya, silakan buat dengan lebih tegas, apakah bagaimana bentuk ketegasan ancaman itu dan kirimkan ke internet,ke saya: om_puteh@yahoo.com !?!

 

(9) ..............Kata-kata fitnah yang saudara Razali tulis itu sudah dan akan banyak memakan jiwa dan darah bagi bangsanya sendiri. banyak contoh yang telah terjadi baik di Aceh maupun di Malaysia, Betapa banyak orang  yang tak berdausa telah menjadi korban akibat fitnah ini, suatu saat akan saya paparkan kepada anda (saya kutip dari tulisan kamu, Raden Bukhari, pada "Bingkisan Malam 1"-mu).

 

Bukankah "Pang" Ilyas Klèk-Klèk dari Wilayah Pasie 'Lhok dan "Pang" Rahman Gurèe dari Wilayah 'Lhok Sukôn untuk menembaki TNA, Tentara Negara Achèh dan bansa-bangsa Ahcèh yang setia dari sisi belakang?   Dua wilayah baru?

 

Raden Bukhari, jelas-jelas kamu membuat "fitnah jahat, kotor dan tidak beradab", silakan kamu paparkan dengan segera sebelum menjelang esok hari!  Jangan coba menipu Tengku Ahmad Hakim Sudirman dengan menyertakan hati busukmu itu!  Padahal sebab akibat taburan "fitnah" buku hijau Yusuf Daud @ Krungkông Pasië 'Lhõk Cs dan akibat kalian coba membentuk "angkatan perang mp gam/mp-gam, setelah lewat tataran kem "green wood" gombak, kuala lumpur.

 

(10) Dan jangan coba kamu, Raden Bukhari menipu bangsa Achèh pula.  Kapankah kamu, Raden Bukhari pernah memikirkan barang semenitpun nasib bangsa Achèh yang disembelih siang-malam oleh ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, selain waktu kamu itu, kamu habiskan semuanya untuk menggoreng Popiya, sehingga-hingga kamu kini, telah dikenal oleh 5.000.000 jiwa bangsa Achèh seluruh dunia, sebagai "Raden Bukhari Popiya!"    

 

(Bersambung:  PLUS  I + TENGKU OMAR PUTEH MENGULITI TULISAN RADEN BUKHARI POPIYA!)

 

Wassalam.

 

Omar Puteh

 

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------