Stockholm, 13 Februari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

PASAL 29 UUD 1945 LEBIH BERBAHAYA TERHADAP AQIDAH DAN SYARIAT ISLAM DIBANDING 12 KARTUN DENMARK.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

KALAU DITELUSURI LEBIH DALAM, MAKA AKAN DITEMUKAN ITU PASAL 29 UUD 1945 LEBIH BERBAHAYA TERHADAP AQIDAH DAN SYARIAT ISLAM DIBANDING 12 KARTUN MADE IN PARA KARTUNIS DENMARK YANG SEKULER.

 

Telah ditulis dalam Bab XI Agama Pasal 29 (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

 

Sekarang timbul beberapa pertanyaan diantaranya darimana pancasila itu digali, siapa yang merumuskan pancasila, siapa yang merubah pancasila, apakah ada hubungan antara Islam dengan pancasila, bagaimana pancasila dilihat dari sudut Islam dan bagaimana Islam memandang pancasila dan pasal 29 UUD 1945 ?

 

Isi tulisan ini adalah merupakan tambahan bagi tulisan "Mengapa ummat Islam di RI masih tetap bisa dibutakan oleh pancasila melalui RUU Tentang Pemerintahan Acheh ?" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060206.htm ) dan tulisan "Mengapa mudah diprovokasi oleh para pembuat kartun dari organisasi jurnalis Denmark yang sekuler ?" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060203.htm ) yang telah dipublikasikan beberapa hari yang lalu.

 

Nah sekarang, apakah benar pancasila sebagai falsafah negara yang tercantum dalam preambule atau pembukaan Undang Undang Dasar 1945 "Berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ke Tuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" yang merupakan hasil rumusan dan godogan Panitia Sembilan dari BPUPKI itu adalah digali dari Islam dan diterima oleh seluruh kaum muslimin dan muslimah ?

 

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan "Mengapa ummat Islam di RI masih tetap bisa dibutakan oleh pancasila melalui RUU Tentang Pemerintahan Acheh ?", jelas akan terlihat dan terbongkar oleh mereka yang mau membaca dan menggali sedikit sejarah lahirnya pancasila dan UUD 1945, bahwa dalam waktu kurang dari dua bulan itu pancasila telah dirubah.

 

Bagaimana proses terjadinya perubahan pancasila itu ?

 

Ternyata proses perubahan itu terjadi setelah Soekarno menyampaikan pidatonya yang berisikan konsepsi usul tentang dasar falsafah negara yang diberi nama dengan pancasila yang berisikan 1. Kebangsaan Indonesia atau Nasionalisme, 2. Perikemanusiaan atau Internasionalisme, 3. Mufakat atau Demokrasi, 4. Kesejahteraan Sosial dan  5. Ketuhanan pada tanggal 1 Juni 1945 didepan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritzu Zunbi Cosakai yang terdiri dari 62 anggota dengan ketuanya Dr Rajiman Widiodiningrat dibentuk dan dilantik oleh Jenderal Hagachi Seisiroo seorang jenderal Angkatan Darat Jepang yang bersidang dari tanggal 28 Mei sampai dengan 1 Juni 1945. Kemudian konsepsi usul Soekarno itu selanjutnya dibahas oleh satu panitia yang terdiri dari sembilan orang atau yang dikenal dengan sebutan Panitia Sembilan, yaitu Soekarno, Hatta, Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Agus Salim, Kahar Muzakkir, Wahid Hasyim, Ahmad Subardjo, Mohammad Yamin. Selanjutnya pada tanggal 22 juni 1945 lahirlah dari hasil rumusan ini yang oleh Mohammad Yamin disebut dengan Piagam Jakarta yang berisikan rumusan lima dasar yang asalnya diambil dari usul pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Dimana dalam sila Ketuhanan ditambahkan tujuh kata "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya".

 

Selanjutnya, BPUPKI ini mengadakan sidangnya lagi yang kedua dari tanggal 10 Juli sampai 16 Juli 1945 untuk membicarakan rancangan undang undang dasar. Dimana setelah mengalami perubahan-perubahan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945, rancangan undang undang dasar inilah yang disahkan dan ditetapkan menjadi UUD 1945 dengan rumusan terakhir pancasila yang tercantum dalam preambule (pembukaan) UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945. Dimana bunyi dari pembukaan UUD 1945 adalah "Berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ke Tuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".

 

Ternyata sila pertama hasil rumusan Panitia Sembilan ini yang menyatakan: "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya" telah dirubah atas usul sekelompok orang Kristen yang berasal dari Sulawesi Utara, tanah elahiran A.A. Maramis melalui Muhammad Hatta yang memimpin rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) itu, setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan dan Kasman Singodimedjo (keduanya bukan anggota panitia sembilan), menghapus tujuh kata dari Piagam Jakarta yang menjadi keberatan  dimaksud. Sebagai gantinya, atas usul Ki Bagus Hadikusumo (yang kemudian menjadi ketua gerakan pembaharu Islam Muhammadiyah), ditambahkan sebuah ungkapan  baru dalam sila  Ketuhanan itu, sehingga berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa dan di cantumkan dalam preambule UUD 1945.

 

Nah sekarang,  dengan jelas dan gamblang, sejarah telah mencatat, bahwa dalam jangka waktu kurang dari dua bulan, Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, dirubah menjadi Ketuhanan Yang maha Esa. Fakta, bukti dan sejarah ini membabat habis alasan-alasan orang yang mengatakan bahwa pancasila tidak mungkin dan tidak bisa dirubah.

 

Seterusnya, itu pancasila tidak ada hubungannya dengan Islam, mengapa ?

 

Karena pancasila telah disahkan dan ditetapkan sebagai asas atau dasar negara RI, maka apa yang tercantum dalam GBHN (Garis Besar Haluan Negara) yang ditetapkan dan dibuat oleh KNIP  (Komite Nasional Pusat) -selama MPR dan DPR belum terbentuk- sebagai badan  yang diserahi kekuasaan legislatif dengan berdasarkan kepada Maklumat Wakil Presiden No.10 pada tanggal 16 Oktober 1945, yang berisikan pemberian kekuasaan legislatif kepada Komite Nasional Pusat, harus selaras dan sejalan dengan apa yang ada dalam preambule UUD 1945 atau apa yang disebut dengan pancasila. Kemudian pancasila yang ada sekarang yang telah dijadikan dasar negara adalah asalnya bukan digali dari Islam, melainkan hasil rumusan dari usul pidato Soekarno, yang telah dirumuskan oleh Panitia Sembilan dan dirubah oleh PPKI.

 

Nah sekarang, kalau ada orang yang mau dan berusaha menyesuaikan dan menafsirkan pancasila dengan Islam, maka orang tersebut mau dan berusaha untuk menjual Islam dengan harga sedikit dan buta akan Islam.

 

Seharusnya, ummat Islam bukan menafsirkan pancasila dengan memakai Islam, tetapi sebaliknya, yaitu bagaimana ummat Islam melihat pancasila dari sudut Islam. Artinya disini apakah dalam Islam sudah ada dan mengandung butiran-butiran yang bisa dijadikan sebagai cara hidup, sehingga tidak perlu lagi itu butiran-butiran pancasila yang dirumuskan oleh Panitia Sembilan dan yang dirubah oleh PPKI.

 

Marilah kita kupas secara singkat. Benarkah Islam tidak tolerans?.

 

Jawabannya, tidak benar. Karena Islam tidak memaksakan seseorang untuk memeluk dan menganut Islam. "Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam...."(Al Baqarah, 256). "Agama kamu untuk kamu agama saya untuk saya"(Al Kafirun,6). Silahkan, bebas, untuk memeluk agama atau kepercayaan apa saja. Inilah yang disebut toleransi yang murni yang ada dalam Islam.

 

Benarkah Islam tidak mengakui agama-agama lain ?.

 

Jawabannya, tidak benar. Karena Islam mengakui agama-agama yang dianut dari sejak Nabi Adam sampai Nabi Isa Alaihi Salam. "Dan mereka yang beriman kepada Kitab yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu...."(Al Baqarah, 4). Kitab Taurat yang dianut oleh pengikut Nabi Musa, Kitab Zabur yang dianut oleh pengikut Nabi Dawud, Kitab Injil yang dianut oleh pengikut Nabi Isa.

 

Benarkah Islam tidak mengakui hak asasi manusia ?.

 

Jawabannya, tidak benar. Karena Islam tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan warna kulit, kesukuan, kepercayaan, ras, bahasa, semuanya diperlakukan dengan adil didepan hukum. "..dan apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.."(An Nisa, 58).

 

Benarkah Islam tidak mengakui persatuan ?.

 

Jawabannya, tidak benar. Karena seluruh ummat manusia diharuskan berada dalam satu kesatuan ummat, jangan bercerai berai. "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai...."(Ali Imran, 103).

 

Benarkah Islam tidak mengakui kebangsaan ?.

 

Jawabannya, tidak benar. Karena dalam Islam telah dikenal apa yang dinamakan bangsa dan suku. Tujuan dari adanya bangsa-bangsa dan suku-suku ini adalah untuk saling kenal mengenal bukan untuk saling bunuh membunuh." ...dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal..."(Al Hujurat, 13).

 

Dari jawaban-jawaban tersebut diatas, kita telah jelas memperoleh gambaran bahwa sebenarnya Islam tidak sesempit yang diduga oleh para penentang Islam yang tidak suka dan tidak senang apabila pancasila diganti dengan Islam.

 

Dari jawaban-jawaban tersebut diatas, kita telah jelas memperoleh gambaran bahwa sebenarnya itu pancasila tidak diperlukan lagi oleh ummat Islam, karena sebenarnya sudah terhimpun dalam Islam sebagai cara hidup.

 

Kemudian, bagaimana pancasila dilihat dari sudut Islam dan bagaimana Islam memandang pancasila dan pasal 29 UUD 1945 ?

 

Disini ada suatu masalah yang sangat mendasar yang perlu diketahui oleh kita semua yaitu, mengapa pancasila dan pasal 29 UUD 1945 tidak diterima oleh Islam ?.

 

Alasan pertama adalah kalaulah konsepsi ketuhanan yang maha esa menurut pancasila ini mencakup seperti apa yang telah difirmankan Allah "Katakanlah Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia" (Al-Ikhlash, 1-4), maka itulah yang disebut ajaran ketauhidan, tetapi kalau tidak, itulah ajaran pancasila yang semu, kabur dan lemah".

 

Alasan kedua adalah berdasarkan kepada Bab XI tentang Agama pasal 29  UUD'45 yang berisikan,

(1). Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

(2). Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

 

Sekarang, apakah yang dimaksud dengan "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam Bab XI pasal 29 ayat 1 diatas itu ?

 

Jawabannya adalah sebagian telah dikupas dalam tulisan "Mengapa ummat Islam di RI masih tetap bisa dibutakan oleh pancasila melalui RUU Tentang Pemerintahan Acheh ?"( http://www.dataphone.se/~ahmad/060206.htm )"

 

Kemudian kalau kita gali lebih dalam lagi mengenai konsepsi ketuhanan yang maha esa yang tercamtum dalam preambul dan pasal 29 (1) UUD 1945 itu, maka akan ditemukan suatu konsepsi ketuhanan yang maha esa yang bisa diterima oleh seluruh agama, aliran kepercayaan dan adat istiadat yang ada di negara RI. Artinya, konsepsi ketuhanan yang maha esa yang fleksibel.

 

Misalnya aliran kepercayaan yang percaya kepada satu patung yang besar, maka konsepsi ketuhanan yang maha esa dapat diterima, karena satu patung yang besar sama dengan tuhan yang maha esa (satu). Contoh lainnya, misalnya aliran kepercayaan yang percaya kepada satu pohon beringin yang besar, maka konsepsi ketuhanan yang maha esa dapat diterimanya, karena satu pohon beringin yang besar sama dengan tuhan yang maha esa (satu).

 

Jadi, kalaulah konsepsi ketuhanan yang maha esa ini menurut konsepsi ketuhanan yang maha esa yang ada dalam aqidah Islam, maka RI hanya mengakui satu agama yaitu Islam, dan ini adalah jelas bukan yang dimaksudkan oleh  Bab XI pasal 29 ayat 1 UUD 1945 tersebut.

 

Jelas Islam tidak mengakui konsepsi ketuhanan yang maha esa dari aliran-aliran kepercayaan diatas yang menyembah satu patung yang besar atau satu pohon beringin yang besar.

 

Sedangkan konsepsi ketuhanan yang maha esa menurut preambul dan Pasal 29 (1) UUD 1945 diatas adalah mencakup keseluruhan agama dan aliran kepercayaan yang ada di negara RI dan yang bersifat fleksibel yang bukan berdasarkan kepada konsepsi ketuhanan yang maha esa yang berdasarkan ketauhidan yang bersumberkan dari aqidah Islam. Karena itu, jelas, Islam secara terang-terangan menolak konsepsi ketuhanan yang maha esa yang tercantum dalam preambul UUD 1945 diatas tersebut.

 

Nah, karena konsepsi ketuhanan yang maha esa ini bukan berdasarkan kepada konsepsi ketuhanan yang maha esa yang berdasarkan ketauhidan yang bersumberkan dari aqidah Islam, maka jelas, Islam secara terang-terangan tidak menerima konsepsi ketuhanan yang maha esa yang tercantum dalam Bab XI pasal 29 (1) UUD 1945 yang berbunyi "Negara berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa" dan sila Ketuhanan yang maha esa yang ada dalam pancasila.

 

Konsekwensi logisnya adalah, karena Islam tidak menerima konsepsi ketuhanan yang maha esa yang ada dalam Bab XI pasal 29 ayat 1 UUD 1945 dan sila Ketuhanan yang maha esa yang ada dalam pancasila, maka isi dari seluruh UUD 1945 adalah bukan dijiwai oleh aqidah Islam. Atau dengan kata lain, bahwa Islam berada di luar UUD 1945 dan UUD 1945 adalah UUD yang sekuler dan sila-sila lainnya yang ada dalam pancasila menjadi gersang dari aqidah Islam, walaupun bunyi sama, tetapi isi lain.

 

Selanjutnya, karena menurut Bab XI pasal 29 (1) UUD 1945 negara RI bukan berdasarkan konsepsi ketuhanan yang maha esa menurut aqidah Islam, maka ayat keduanya yang menyatakan bahwa "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu" adalah sama dengan penetapan yang ada di negara-negara sekuler. Artinya, bebas bagi setiap warga untuk beragama atau tidak dan sumber hukum negara RI tidak diacukan kepada apa yang telah duturnkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

 

Terakhir, berdasarkan uraian diatas menggambarkan bahwa pasal 29 (1) dan Preambule UUD 1945 adalah lebih berbahaya terhadap aqidah dan syariat Islam dibanding 12 kartun made in 12 kartunis Denmark yang sekuler, yang isinya masih belum ada apa-apanya, apalagi itu 12 kartun tersebut isinya tidak ilmiah, tidak logis dan tidak ada ditunjang oleh dasar fakta, bukti, sejarah dan hukum yang kuat yang ada hubungannya dengan Nabi Muhammad saw.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------