Stockholm, 20 Februari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

UUD 1945 ADALAH UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA SEKULER.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

YA, JELAS, ITU UUD 1945 ADALAH UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA RI SEKULER.

 

"Mr. A-sudirman ini yg sok "keminter" dengan menginterpretasikan apapun tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan interpretasi yg berlawanan seakan-akan dia sendiri yg mengalami dan tahu maksud dan tujuan lahirnya setiap UU, UUD & peraturan pemerintah, tidak akan pernah mendengar atau melihat, apapun yg orang tulis dan suarakan, jika tulisan dan suara tsb. membela NKRI. Lha maunya mr A-su ini kan menjaga kondisi di milis akan ketidak benaran, ketidak keadilan dan ketidak yg lain seputar NKRI, klo bisa NKRI ini hilang dari peta dunia. Jadi cuekin ajalah. Jadi nggak usah kita liatin fakta apapun ke dia wong dia buta, nggak usah bicara apapun, wong dia tuli, karena apapun masukannya tentang NKRI, dia sudah ada rekamam jawaban yg sebaliknya. Marilah kita bersatu padu dalam iman dan kita buktikan pada dunia bahwa NKRI itu benar dan sah dan cuekin aja agitasi serta provokasi mr. A-su ini" (bambang HW,  bambang_hw@rekayasa.co.id , Mon, 20 Feb 2006 13:35:15 +0700)

 

"UU-45 itu sama dengan Mukadimah atau perjanjian Madinah yang dibuat oleh Nabi Muhammad pada saat ia ingin mendirikan masyarakat (negara) Madinah. Saya kira Pak Ahmad Sudirman paham dengan itu. Dan Undang-undang 45 tidak mengakibatkan MENJADI PUPUK SUBUR SEKULARISME DAN PENGIKIS AQIDAH DAN SYARIAT ISLAM, tetapi lebih mempererat rasa kebangsaan, sehingga tidak ada istilah Jawa atau Aceh tetapi yang ada Bangsa Indonesia. Kalau anda ke Indonesia, atau Jawa, maka orang disini lebih religius dari 20 tahun yang lalu. Orang yang berjilbab sudah dimana-mana tanpa paksaan dan tidak dilarang. Berbeda di Sewdia yang sikularis yang terang-terangan membantu penghinaan pada junjungan kita Nabi Muhammad. Masalahnya bukan kartun yang mukanya belum sama dengan Nabi, tetapi mengatakan Nabi Muhammad adalah teroris, bagi saya itu merupakan penghinaan pada Umat Islam terutama kaum mukmin. Kita melihat ada demonstrasi di Inggris menetang kartun tersebut bagaimana di Swedia ? kok kalem-kalem saja Nabi dan Agama Islam dihina ? Mana umat Islamnya yang menentang kartunis tersebut ? " (Rasjid Prawiranegara,  rasjid@bi.go.id , Mon, 20 Feb 2006 12:42:37 +0700)

 

Saudara Rasjid Prawiranegara dan saudara Bambang HW di Jakarta, Indonesia.

 

Setelah membaca tanggapan yang ditulis oleh saudara Rasjid Prawiranegara dan saudara Bambang HW atas tulisan Ahmad Sudirman yang berjudul "Akhirnya terbukti Pasal 29 UUD 1945 menjadi pupuk subur sekularisme dan pengikis aqidah dan syariat Islam" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060214a.htm ), timbul pertanyaan dalam pikiran Ahmad Sudirman, apakah mereka berdua ini pernah membaca, menggali, mengerti dan memahami secara mendalam apa itu UUD 1945 ? apa itu Undang-Undang Madinah dan apa itu NKRI ?

 

Mengapa timbul pertanyaan tersebut ? Karena apa yang dikemukakan baik oleh saudara Rasjid Prawiranegara atau saudara Bambang HW isinya tidak ada yang bisa dijadikan sebagai fakta, bukti dan dasar hukum yang kuat untuk bisa dijadikan sebagai bahan pegangan guna dipakai sebagai alat pertahanan dan pembelaannya.

 

Buktinya, itu saudara Bambang HW hanya mampu memberikan jawaban: "cuekin ajalah. Jadi nggak usah kita liatin fakta apapun ke dia wong dia buta, nggak usah bicara apapun, wong dia tuli, karena apapun masukannya tentang NKRI, dia sudah ada rekamam jawaban yg sebaliknya. Marilah kita bersatu padu dalam iman dan kita buktikan pada dunia bahwa NKRI itu benar dan sah dan cuekin aja agitasi serta provokasi mr. A-su ini".

 

Nah, dengan model jawaban seperti itu, menggambarkan bahwa saudara Bambang HW ini memang tidak memiliki suatu dasar argumentasi yang kuat yang berisikan fakta, bukti dan dasar hukum yang ada kaitannya dengan Pasal 29 UUD 1945 dihubungkan dengan aqidah, syariat Islam dan Undang-Undang Madinah.

 

Seharusnya, Bambang HW ini berusaha sekuat tenaga untuk membaca, menggali, menganalisa apa yang terkandung dalam Pasal 29 UUD 1945 itu, kemudian dihubungkan dengan aqidah dan syariat Islam. Jadi bukan hanya cukup dengan menuliskan: "P. Rasyid, Mr. A-sudirman ini yg sok "keminter" dengan menginterpretasikan apapun tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan interpretasi yg berlawanan seakan-akan dia sendiri yg mengalami dan tahu maksud dan tujuan lahirnya setiap UU, UUD & peraturan pemerintah, tidak akan pernah mendengar atau melihat, apapun yg orang tulis dan suarakan, jika tulisan dan suara tsb. membela NKRI"

 

Itu bukan jawaban, saudara Bambang HW. Itu namanya hanya sebagai alat berkelit dan menghindar dari ketidakmampuan memajukan rumus kuat yang berisikan fakta, bukti dan dasar hukum dalam hubungannya dengan Pasal 29 UUD 1945 dan aqidah serta syariat Islam.

 

Kemudian, kalau Ahmad Sudirman membaca apa yang dilambungkan saudara Rasjid Prawiranegara, maka didalamnya ditemukan butiran-butiran pendapat saudara Rasjid, tetapi isinya sangat lemah sekali, terutama dalam hal  pendapatnya tentang "UU-45 itu sama dengan Mukadimah atau perjanjian Madinah yang dibuat oleh Nabi Muhammad pada saat ia ingin mendirikan masyarakat (negara) Madinah"

 

Nah disini, saudara Rasjid Prawiranegara kelihatan dengan jelas dan gamblang tidak membaca, mengerti dan memahami apa yang tertuang dalam Undang-Undang Madinah itu. Buktinya saudara Rasjid dengan lantangnya berani menuliskan bahwa UUD 1945 itu sama dengan perjanjian Madinah atau Undang-Undang Madinah (UUM), karena yang dilihat bahwa UUM adalah merupakan konstitusi atau Undang-Undang dasar negara, begitupun UUD 1945 merupakan suatu Undang-Undang Dasar negara.

 

Tetapi, kalau dilihat dari isi yang menjadi fakta, bukti dan dasar hukumnya, ternyata sangat lemah. Mari kita buktikan dan bandingkan apa yang menjadi butiran-butiran utama dan mendasar dalam UUD 1945 dan apa yang menjadi butiran-butiran utama dan mendasar dalam UUM.

 

Nah, kalau mengacu kepada UUM maka akan terlihat dan terbaca bahwa itu UUM mengandung butiran-butiran utama: 1. Daulah Islam Rasulullah (Khilafah). 2. Allah yang berdaulat. 3. Akidah Islam. 4. Menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil. 5. Tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras dengan tujuan untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah SWT. 6. Menerapkan musyawarah. 7. Adil dan penuh amanah bagi seluruh masyarakat muslim dan non muslim dan 8. Penetapan peraturan, hukum dan undang undang didasarkan pada Al Qur'an dan Hadist.

 

Sedangkan butiran-butiran utama yang terkandung dalam UUD 1945 adalah: 1. Negara Republik.  2. Berkedaulatan rakyat.  3. Ketuhanan Yang Maha Esa 4. Kemanusiaan yang adil dan beradab. 5. Persatuan Indonesia. 6. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan .7. Mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Nah sekarang, yang paling menyolok perbedaannya adalah tentang dasar dan sumber hukum negara, dimana UUM mengacukan sumber hukumnya kepada sumber hukum yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an dan Hadist, sedangkan UUD 1945 mengacukan sumber hukumnya kepada pancasila hasil kutak-katik Soekarno dan Panitia Sembilan yang ditetapkan oleh PPKI.

 

Jadi, dari fakta, bukti dan dasar hukum ini saja sudah kelihatan bahwa yang namanya UUD 1945 adalah tidak sama dengan Undang-Undang Madinah yang dibuat oleh Rasulullah saw ketika membangun dan mendirikan negara pertama di Yatsrib atau Madinah sekarang.

 

Selanjutnya, kalau saudara Rasjid menyatakan bahwa Undang-Undang  1945 "tidak mengakibatkan menjadi pupuk subur sekularisme dan pengikis aqidah dan syariat Islam, tetapi lebih mempererat rasa kebangsaan, sehingga tidak ada istilah Jawa atau Aceh tetapi yang ada Bangsa Indonesia", maka hasil galian dan kesimpulan saudara Rasjid ini merupakan hasil galian seorang yang tidak mengerti dan tidak memahami isi dari UUD 1945 hubungannya dengan aqidah, syariat Islam dan apa yang tertuang dalam UUM.

 

Coba saja perhatikan, Pasal 29 UUD 1945 saja isinya sudah menjurus kepada sekularisme, dan hal ini telah dikupas oleh Ahmad Sudirman dalam tulisan "Akhirnya terbukti Pasal 29 UUD 1945 menjadi pupuk subur sekularisme dan pengikis aqidah dan syariat Islam".

 

Kemudian, kalau UUD 1945 sebagai alat mempererat rasa kebangsaan, dalam hal ini saudara Rasjid menyebutnya dengan "Bangsa Indonesia", maka hasil kesimpulan saudara Rasjid inipun salah besar, mengapa ?

 

Karena, mengenai asal-usul bangsa Indonesia saja masih tidak tentu ujung-pangkalnya, apa itu yang dinamakan bangsa Indonesia, dari mana asal bangsa Indonesia, kapal munculnya di permukaan bumi, bagaimana bahasanya, bagaimana ciri-ciri bangsa Indonesia itu dan bagaimana hubungannya dengan bangsa-bangsa lain seperti bangsa Acheh, bangsa Sunda, bangsa Melayu, bangsa Jawa, bangsa Batak, Bangsa Bugis, bangsa Papua, bangsa Minangkabau, bangsa Dayak, bangsa Arab, bangsa Cina, bangsa India dan bangsa lainnya.

 

Karena memang yang namanya bangsa Indonesia saja masih kabur, maka bagaimana mungkin bisa dijadikan sebagai alat pengikat dan alat untuk mempererat  bangsa-bangsa yang ada di nusantara ini. Justru yang ada adalah hanya merupakan suatu ikatan politik saja, yaitu ikatan politik dengan memakai hasil kutak-katik Soekarno yang dinamakan pancasila dan bhineka tunggal ika-nya mpu Tantular-hindunya yang sangat rapuh itu.

 

Seterusnya, soal berjilbab, itu sudah merupakan kewajiban yang telah tertuang dan diperintahkan Allah dalam Al Qur’an "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Al Ahzab, 33: 59). Jadi, tidak ada hubungannya antara muslimah yang berjilbab dengan UUD 1945.

 

Kemudian, soal di Swedia, ya, jelas, sebagian para muslimah di Swedia berjilbab dan juga sebagian kaum muslimin melakukan demontsrasi di Stockholm menentang kebebasan pers yang tidak disertai dengan rasa saling menghormati dan yang tidak bertanggung jawab pada hari Rabu, 8 februari 2006. Misalnya terhadap 12 orang kartunis Denmark yang membuat 12 kartun yang tidak didasarkan pada fakta, bukti, dan dasar hukum yang kuat tentang kehidupan pribadi, keluarga dan perjuangan Rasulullah saw.  Karena sebagian besar kaum muslimin di Swedia sudah mengerti dan memahami bahwa apa yang dibuat oleh 12 kartunis Denmark itu tidak memiliki dasar fakta, bukti dan hukum yang kuat tentang  pribadi, keluarga dan perjuangan Rasulullah saw, maka yang didemonstrasikan oleh kaum muslimin di Swedia bukan menghancurkan Kedutaan Denmark dan mengancam Duta Besar dan stafnya serta membakar bendera Denmark yang tidak ada artinya seperti yang dilakukan di Jakarta, melainkan mereka mengkritik tindakan dan usaha pelaksanaan kebebasan pers yang tidak bertanggung jawab dan tidak didasarkan pada rasa saling menghormati terutama dalam masalah kehiduapn beragama.

 

Kalaupun ada dibuat satu kartun muka yang berkumis dan berjenggot tebal dengan dikepalanya dipasangkan alat peledak yang tali-sumbunya sudah dinyalakan, itu tidak ada kaitannya dengan kehidupan pribadi, keluarga dan perjuangan Rasulullah saw, melainkan itu hanya diarahkan kepada individu-individu yang ada kaitannya seperti peledakan bom di Bali ataupun di London ataupun di Madrid ataupun di New York.

 

Nah soal itu peledakan bom adalah soal bebas, siapa saja boleh mengkutuknya dan mengkritiknya. Tetapi soal peledakan bom itu tidak ada hubungannya dengan fakta, bukti dan dasar hukum tentang kehidupan pribadi, keluarga dan perjuangan Nabi Muhammad saw.

 

Terakhir, sebagai tambahan, coba baca kembali apa yang telah ditulis oleh Hasan Bari yang dengan sengaja dan penuh kesadaran ia menghina, mengkutuk dan mencemarkan Nabi Muhammad seperti yang ditulisnya dalam tulisannya pada bulan Mei 1999 yang pernah Ahmad Sudirman tuliskan dalam tulisan "Contoh orang yang semodel para pembuat kartun dari organisasi jurnalis Denmark yang sekuler" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060204.htm ). Ini Hasan Basri adalah memang benar-benar orang yang asal Indonesia tetapi telah menjadi musuh utama Rasulullah saw dan Islam. Orang model ini yang lebih berbahaya dibandingkan dengan 12 orang kartunis Denmark, mengapa tetap dibiarkan dan didiamkan oleh orang yang mengaku muslim di RI ?

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Mon, 20 Feb 2006 13:35:15 +0700

From: "bambang HW" bambang_hw@rekayasa.co.id

To: "'Rasjid Prawiranegara'" rasjid@bi.go.id

Cc: <alcapona75@yahoo.co.uk>, <e.djunaedy@bwk.tue.nl>, <rxdhi@lycos.com>, <usantosobudiman@yahoo.com>, <ekoraja@yahoo.com>, <ahmad@dataphone.se>, muharifb@yahoo.com

Subject: RE: AKHIRNYA TERBUKTI PASAL 29 UUD 1945 MENJADI PUPUK SOLIDARITAS ANTAR UMAT BERAGAMA DI INDONESIA

 

P. Rasyid,

Mr. A-sudirman ini yg sok “keminter” dengan menginterpretasikan apapun tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan interpretasi yg berlawanan seakan-akan dia sendiri yg mengalami dan tahu maksud dan tujuan lahirnya setiap UU, UUD & peraturan pemerintah , tidak akan pernah mendengar atau melihat, apapun yg orang tulis dan suarakan, jika tulisan dan suara tsb. Membela NKRI.

 

Lha maunya mr A-su ini kan menjaga kondisi di milis akan Ketidak benaran, ketidak keadilan dan ketidak….. yg lain seputar NKRI, klo bisa NKRI ini hilang dari peta dunia…. Jadi cuekin ajalah….  Jadi nggak usah kita liatin fakta apapun ke dia…. wong dia buta, nggak usah bicara apapun .. wong dia tuli….. karena apapun masukannya tentang NKRI, dia sudah ada rekamam jawaban yg sebaliknya…..

 

Marilah kita bersatu padu dalam iman dan kita buktikan pada dunia bahwa NKRI itu benar dan sah dan cuekin aja agitasi serta provokasi mr. A-su ini.

 

Salam.

 

Bambang HW

 

bambang_hw@rekayasa.co.id

Jakarta, Indonesia

----------

 

Date: Mon, 20 Feb 2006 12:42:37 +0700

From: "Rasjid Prawiranegara" rasjid@bi.go.id

To: "Ahmad Sudirman" ahmad@dataphone.se

Cc: <alcapona75@yahoo.co.uk>, <e.djunaedy@bwk.tue.nl>, <rxdhi@lycos.com>, <usantosobudiman@yahoo.com>, <ekoraja@yahoo.com>, <ahmad@dataphone.se>, muharifb@yahoo.com

Subject: RE: AKHIRNYA TERBUKTI PASAL 29 UUD 1945 MENJADI PUPUK SUBUR SEKULARISME DAN PENGIKIS AQIDAH DAN SYARIAT ISLAM.

 

UU-45 itu sama dengan Mukadimah atau perjanjian Madinah yang dibuat oleh Nabi Muhammad pada saat ia ingin mendirikan masyarakat (negara) Madinah.

 

Saya kira Pak Ahmad Sudirman paham dengan itu.

 

Dan Undang-undang 45 tidak mengakibatkan MENJADI PUPUK SUBUR SEKULARISME DAN PENGIKIS AQIDAH DAN SYARIAT ISLAM, tetapi lebih mempererat rasa kebangsaan, sehingga tidak ada istilah Jawa atau Aceh tetapi yang ada Bangsa Indonesia.

 

Kalau anda ke Indonesia, atau Jawa, maka orang disini lebih religius dari 20 tahun yang lalu. Orang yang berjilbab sudah dimana-mana tanpa paksaan dan tidak dilarang. Berbeda di Sewdia yang sikularis yang terang-terangan membantu penghinaan pada junjungan kita Nabi Muhammad. Masalahnya bukan kartun yang mukanya belum sama dengan Nabi, tetapi mengatakan Nabi Muhammad adalah teroris, bagi saya itu merupakan penghinaan pada Umat Islam terutama kaum mukmin.

 

Kita melihat ada demonstrasi di Inggris menetang kartun tersebut bagaimana di Swedia ? kok kalem-kalem saja Nabi dan Agama Islam dihina ? Mana umat Islamnya yang menentang kartunis tersebut ?

 

Saya bukan pemeluk agama yang religius tetapi kalau Nabi dan Agama di Hina maka wajib kita berjihad. Amerika menuduh Indonesia sarang teroris karena banyak umat Islam yang sangat religius dan kami disini memiliki kelompok-kelompok Jamah yang selalu mengkaji Al Quran dan Hadist dan kami bukan teroris.

 

Wassalam.

 

Rasjid Prawiranegara

 

rasjid@bi.go.id

Jakarta, Indonesia

----------