Stockholm, 22 Februari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

PROPAGANDA MEDIA MASSA JAKARTA PAKAI BAJU KEBEBASAN BERAGAMA MODEL PANCASILA & UUD 1945 MENGHANTAM SYARIAT ISLAM DI ACHEH.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

BEBERAPA MEDIA MASSA JAKARTA MELAMBUNGKAN PROPAGANDA KOSONG DENGAN BERBAJU KEBEBASAN BERAGAMA MODEL PANCASILA & UUD 1945 MENGHANTAM SYARIAT ISLAM DI ACHEH.

 

"Nah, istri oknum TNI tersebut ditangkap di kawasan Peunayong Kota Banda Aceh ketika akan membeli nasi goreng. Namun, karena tidak memakai jilbab, perempuan tersebut ditangkap Iim Penertiban Peraturan Daerah dan dibawa ke kantor Walikota Banda Aceh. Sesampai di kantor Walikota Banda Aceh, istri oknum TNI itu di lepas kembali oleh petugas tim Peperda tanpa proses pemeriksaan" (Nasir Musa, Rakyat Merdeka, 22 Februari 2006, 13:44:57 WIB)

 

"Perempuan di Aceh tidak pernah berhenti dicekam rasa ketakutan. Trauma ketakutan akibat konflik bersenjata sampai sekarang masih terus mencekam dalam kehidupan perempuan. Trauma konflik masih juga belum reda, kini perempuan Aceh kembali dicekam oleh rasa ketakutan dengan diberlakukannya Syariat Islam yang lebih banyak merugikan perempuan seperti dilarang bekerja di malam hari" (Eko Bambang S, Jurnalperempuan.com , Rabu, 22 Februari 2006)

 

Saudara Eko Bambang S. seorang wartawan dari Jurnalperempuan.com yang juga disambut oleh Nasir Musa seorang reporter dari Rakyat Merdeka yang didirikan oleh saudara H. Margiono dan Teguh Santosa, yang berbasis di Jakarta, telah melambungkan propaganda kosong dengan memakai baju kebebasan beragama model pancasila dan pasal 29 UUD 1945 sekuler untuk dipakai menghantam syariat Islam dan pelaksanaannya di Acheh.

 

Jelas, gaya propaganda kosong yang dilambungkan oleh dua media massa Jakarta tersebut tujuannya untuk mengikis habis apa saja yang ada hubungannya dengan syariat Islam dan pelaksanaannya karena dianggap tidak sesuai dengan gaya kebebasan beragama model pancasila dan Pasal 29 UUD 1945 sekuler.

 

Sebenarnya, bagi bangsa dan rakyat Acheh yang sudah menyadari bahwa pelaksanan syariat Islam yang telah digariskan dalam Islam sudah sewajarnya dan sewajibnya dilaksanakan, bukan hanya oleh ummat Islam di Acheh saja, melainkan juga oleh ummat Islam di RI. Tetapi, karena di RI itu syariat Islam tidak diakui sebagai dasar dan sumber hukum negara, maka ketika syariat Islam dilaksanakan dan diterapkan di Acheh, ternyata itu para wartawan dan pendukung kebebasan beragama model pancasila dan pasal 29 UUD 1945 sekuler yang ada di Jakarta seperti orang-orang yang kebakaran jenggot, ditambah mereka sambil mengacung-acungkan plakat hak asasi manusia.

 

Itu soal wanita muslimah berjilbab sebenarnya sudah ada perintahnya yang terang dan benar dalam dasar hukum QS Al Ahzab, 33: 59, tidak ada tawar menawar lagi. Hanya bagi orang-orang yang tinggal dan hidup di negara yang dasar hukumnya mengacu kepada dasar hukum dan sumber hukum pancasila, maka itu dasar hukum tentang jilbab ini dilemparkan kekolong jembatan ciliwung saja, termasuk oleh para wartawan dari kelompok media massa Jakarta seperti dari Jurnalperempuan.com melalui wartawannya Eko Bambang S. dan Rakyat Merdeka melalui reporternya Nasir Musa.

 

Kemudian, persoalan perempuan muslimah kerja malam, itu demi keselamatn perempuan muslimah itu sendiri. Di negara-negara maju pun perempuan yang bekerja malam, itu dijaga dan diperhatikan sekali, siapa majikannya, dimana tempat kerjanya, sampai jam berapa kerjanya. Semua itu untuk menjaga keselamatan pekerja perempuan tersebut. Bukan untuk membatasi bagi pekerja perempuan yang bekerja malam.

 

Ahmad Sudirman yakin, kalau memang ada perempuan muslimah Acheh yang bekerja malam, kalau memang jelas siapa majikannya, dimana tempat kerjanya, apa yang dikerjakannya, maka muslimah pekerja malam tersebut tidak akan dilarang untuk bekerja malam. Tetapi, tentu saja, kalau bisa itu majikannya memberikan tugasnya sebaiknya pada siang hari, kalau memang bisa dikerjakan tugas kerjanya siang hari.

 

Jadi, semua itu bukan membatasi kesempatan bekerja malam bagi muslimah pekerja malam, sebagaimana digembar-gemborkan oleh para jurnalis media massa dari Jakarta itu, apalagi sambil menggembol dan mengacung-acungkan plakat hak asas manusia yang bertuliskan syariat Islam merugikan perempaun.

 

Inilah propaganda murahan yang dilancarkan oleh pihak media massa Jakarta yang sudah keracunan kebebasan beragama model obat lemah dan jamu gendong pancasila dan Pasal 29 UUD 1945.

 

Jadi menurut Ahmad Sudirman, sebaiknya itu para wartawan atau jurnalis dari media massa Jakartra berpikir seribu kali dulu sebelum melambungkan propaganda kosong dengan memakai baju kebebasan beragama model dan gaya pancasila dan Pasal 29 UUD 1945 untuk dipakai menyerang syariat Islam dan pelaksanannya di Acheh.

 

Ahmad Sudirman mendukung apa yang dikatakan oleh Kepala Dinas Peperda Kota Banda Acheh, Muzakkir Tulot: "Kalian mau tulis saya arogan silakan. Kalian wartawan tidak mendukung penerapan Syariat Islam di Aceh, silahkan angkat kaki dari bumi Aceh" (Muzakkir Tulot, Banda Acheh, Minggu 19 Februari 2006).

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Razia Perempuan Tentara, Wartawan Dibilang "Pukimak"

Rabu, 22 Februari 2006, 13:44:57 WIB

Laporan: Nasir Musa

 

Banda Aceh, Rakyat Merdeka. Penghargaan terhadap profesi wartawan rupanya jauh panggang dari api. Buktinya, umpatan "pukimak" dikeluarkan seorang pejabat di Nanggroe Aceh Darussalam kepada repoter Situs Berita Rakyat Merdeka.

 

Saat itu, reporter kami akan mengonfirmasi soal razia jilbab oleh Kepala Dinas Peperda Kota Banda Aceh, Muzakkir Tulot. Namun, yang diucapkan dia justru umpatan. Reporter kami, juga untuk mempertanyakan tentang adanya seorang istri oknum TNI yang dilepas kembali oleh Tim Penertiban Peraturan Daerah tanpa proses pemeriksaan.

 

“Kalian wartawan kalau tidak senang dengan saya silahkan kalian tulis...Pukimak kalian. Jangan kalian pikir saya takut dengan wartawan, di Metro (televisi) pun kalian beritakan saya tidak takut, biar kalian tahu siapa saya “ ujar Muzakkir Tulot dihubungi Minggu dini hari (19/2).

 

Muzakkir justru menuding wartawan tidak mendukung penegakan Syariat Islam di Aceh karena sering memberitakan kinerjanya yang sangat arogan.

 

“Kalian mau tulis saya arogan silakan. Kalian wartawan tidak mendukung penerapan Syariat Islam di Aceh, silahkan angkat kaki dari bumi Aceh” jelas Muzakkir berang.

 

Nah, istri oknum TNI tersebut ditangkap di kawasan Peunayong Kota Banda Aceh ketika akan membeli nasi goreng. Namun, karena tidak memakai jilbab, perempuan tersebut ditangkap Iim Penertiban Peraturan Daerah dan dibawa ke kantor Walikota Banda Aceh. Sesampai di kantor Walikota Banda Aceh, istri oknum TNI itu di lepas kembali oleh petugas tim Peperda tanpa proses pemeriksaan.

 

Hal itu tak terjadi pada puluhan warga lainnya. Mereka yang kena razia, baik perempuan atau laki-laki diproses hingga pukul 0300 WIB (Sabtu, 18/2). Mereka tidak dilepas sebelum pihak keluarganya datang menghadap Muzakkir Tulot. sam

 

http://www.rakyatmerdeka.co.id/situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=8587

----------

 

Rabu, 22 Februari 2006

 

Kapan Perempuan Aceh Terbebas dari Rasa Ketakutan?

Jurnalis : Eko Bambang S

 

Jurnalperempuan.com-Jakarta. Perempuan di Aceh tidak pernah berhenti dicekam rasa ketakutan. Trauma ketakutan akibat konflik bersenjata sampai sekarang masih terus mencekam dalam kehidupan perempuan. Trauma konflik masih juga belum reda, kini perempuan Aceh kembali dicekam oleh rasa ketakutan dengan diberlakukannya Syariat Islam yang lebih banyak merugikan perempuan seperti dilarang bekerja di malam hari.

 

“Kapan perempuan Aceh terbebas dari rasa ketakutan?, dulu konflik, sekarang Syariat Islam, mengapa perempuan terus menerus menjadi sasaran” kata Suraiya Kamaruzaman aktivis perempuan dari Flower Aceh ketika dihubungi redaksi jurnalperempuan.com berkaitan dengan fatwa MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) Biureun tentang pelarangan perempuan bekerja malam hari dan penangkapan sejumlah aktivis perempuan untuk perdamaian oleh Polisi Syariat di Banda Aceh.

 

Suraiya sangat mengkhawatirkan dampak buruk yang yang akan dialami oleh perempuan Aceh jika terus menerus mengalami rasa ketakutan yang silih berganti. Menurut Suraiya, fatwa MPU di Biureun yang mengekang perempuan ini semacam uji coba untuk tindakan pengekangan berikutnya. “Kalau sekarang perempuan dilarang bekerja malam hari, besok perempuan dilarang keluar malam dan selanjutnya perempuan bisa dilarang keluar rumah,” ujar Suraiya.

 

Menurut Suraiya, penerapan Syariat Islam di Aceh harusnya bisa mengakomodasi sejumlah penfsiran lain tentang Syariat Islam. Menurut Suraiya sebenarnya ada empat ulama besar di Aceh yang mempunyai tafsiran berbeda tentang interpretasi penerapan Syariat Islam, namun para ulama ini tidak diakomodasi pemahaman-pemahamannya dan hanya satu interpretasi Syariat Islam yang digunakan. Akibat dari penafsiran yang tunggal itu, segala kemungkinan pelanggaran hak asasi manusia akan terjadi.

 

Menurut Suraiya, ia menolak penerapan Syariat Islam di Aceh selama ini bukan berarti anti Islam. “Yang kita tolak adalah interpretasi dalam penerapan, karena interpretasi tersebut sangat diskriminatif dan merugikan pihak lain khususnya perempuan,”ujar Suraiya. Suraiya berharap penerapan Syariat Islam jangan melihat pada simbol-simbolnya saja, seperti kalau perempuan bekerja malam itu buruk, atau kalau perempuan bekerja di hotel itu sesat, atau perempuan memakai baju ketat itu setan. Cara demikian menurut Suraiya, memahamkan Syariat Islam dalam masyarakat secara substansi tidak tercapai, justru malah berpotensi timbulnya pelanggaran kemanusiaan.

 

http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-516%7CX

----------