Stockholm, 23 Februari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

PONDASI UUD 1945 ADALAH JAUH BERBEDA DENGAN PONDASI UUM.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

ISI YANG TERKANDUNG DALAM PONDASI KONSTITUSI ADALAH YANG TERPENTING, BUKAN KEMIRIPAN KONSTITUSI.

 

"Diantara pemimpin perlu membuat kesepakatan yang disebut konstitusi dan Nabi ditunjuk oleh kelompok masyarakat di Madinah untuk menjalankan kosntitusi itu dengan bimbingan Allah. Demikian pula kita harapkan terjadi di Indonesia, kita mengharapkan agar pemimpin di Indonesia mayoritasnya Islam dan Presiden sedapat mungkin dari kalangan Islam. Jika mayoritas pimpinan itu Islam, maka kita mengharapkan mereka menjalankan konstitusi UUD45 berdasarkan Al Quran dan Hadist. Dari apa yang saya ceritakan ini intinya adalah setiap negara di Dunia ini ingin menciptakan negara yang Madani sebagaimana negara Madinah. Mereka memahami Negara Madinah itu tentunya dari tulisan-tulisan. Meskipun mereka mengatakan umat Islam teroris, tetapi Islam telah memberi contoh bagaimana sebuah negara dibentuk dari mereka yang suka berperang dan saling membunuh (Zaman Jahiliah) menjadi negara yang damai dan saling tolong-menolong" (Rasjid Prawiranegara, rasjid@bi.go.id ,  Thu, 23 Feb 2006 10:11:52 +0700)

 

Saudara Rasyid Prawiranegara di Jakarta, Indonesia.

 

Pada bulan Mei 1999 pernah Ahmad Sudirman menyampaikan tulisan tentang konstitusi pertama negara yang dibangun oleh Rasulullah saw di Yatsrib pada tahun pertama Hijrah atau bersamaan dengan tahun 622 Masehi yang berjudul "Apa kata tokoh penulis Islam dan non Islam tentang Undang Undang Madinah Daulah Islam Rasulullah" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/990531.htm )

 

Dimana negara pertama di dunia pada tahun 622 M yang dibangun oleh umat manusia diatas dunia ini dengan dasar konstitusi atau segala ketentuan dan aturan mengenai ketatanegaraan yang dinamakan Undang Undang Madinah (UUM) adalah Negara pertama di Yatsrib yang didirikan dan dibangun oleh Rasulullah saw.

 

Walaupun setiap negara modern memiliki konstitusi, tetapi isi dan tubuh konstitusi tersebut berlainan satu dengan lainnya. Sebagaimana berlainannya negara yang dibangun diatasnya.

 

Nah disini, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Ahmad Sudirman sebelum ini bahwa bukan hanya adanya konstisusi dan kemiripannya, melainkan yang paling penting adalah isi dan batang tubuhnya.

 

Sebagai contoh, misalnya dalam UUD 1945, dinyatakan bahwa "maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".

 

Nah, dari apa yang dituangkan dalam UUD 1945 sudah jelas terpancar bahwa pondasi tempat berdirinya RI itu tidak ada kaitannya dengan aqidah, ukhuwah Islamiyah dan acuan sumber hukum. Yang ada adalah ketuhanan, kemanusiaan, perstauan, musyawarah dan keadilan sosial yang tidak ada kaitan dan hubungannya Islam. Padahal itu UUD 1945 dibuat oleh anggota BPUPKI yang hampir sebagian besar anggotanya adalah ummat Islam, begitu juga ketika UUD 1945 diamandemen oleh MPR yang anggotanya hampir sebagian besar ummat Islam.

 

Sedangkan kalau digali apa yang ada dalam isi dan batang tubuh Undang Undang Madinah, maka akan ditemukan bahwa orang-orang yang beriman dan memeluk Islam (yang berasal) dari Quraisy dan Yatsrib, dan orang-orang yang mengikuti mereka, mempersatukan diri dan berjuang bersama mereka, satu bangsa negara (ummat), bebas dari (pengaruh dan kekuasaan) manusia lainnya, dimana kalau terjadi perselisihan, maka penyelesaiannya menurut hukum Allah SWT (Al Qur’an) dan apa yang ditetapkan (Sunnah) Rasulullah saw.

 

Jadi, kelihatan dengan jelas, bahwa pondasi yang dijadikan pijakan Negara pertama Yatsrib yang dibangun oleh Rasulullah saw adalah aqidah, ukhuwah Islamiyah dan sumber hukum Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.

 

Jadi sekarang, kalau kita ummat Islam telah memahami isi daripada apa yang tertuang dalam UUM dan UUD 1945, maka tidak akan ditemukan titik temu. Nah, kalau tidak ditemukan titik temu, bagaimana mungkin "Indonesia menginginkan agar negara ini (Indonesia) dapat hidup bercorak masyarakat Madinah yang sering disebut konsep negara yang Madani (diambil dari kata Madinah)", padahal rakyat Indonesia yang membuat UUD 1945 itu sendiri tidak mengacukan kepada apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dengan Negara pertama Yatsrib dan UUM-nya.

 

Oleh karena itu saudara Rasyid Prawiranegara,

 

Adalah hanya mimpi kalau masih saja saudara Rasyid menekankan: "Tentu dalam menuju masyarakat yang Madani harus pula disesuaikan dengan budaya disatu daerah", mengapa ?

 

Karena Undang Undang Madinah yang dibuat Rasulullah saw sebagai pondasi Negara pertama Yatsrib tidak disesuaikan dengan budaya daerah, melainkan diacukan kepada apa yang telah ditetapkan Allah SWT dan yang telah dicontohkan atau yang telah menjadi sunnah Rasulullah saw.

 

Nah terakhir saudara Rasyid Prawiranegara,

 

Kelemahan yang masih ada dalam pikiran saudara Rasyid dalam hal UUM dan UUD 1945 ini adalah masih terbelenggu oleh tali ikatan pancasila yang tertuang dalam mukaddimah UUD 1945 yang disamakan dengan budaya daerah yang tidak ada hubungannya dengan apa yang telah ditetapkan dan diturunkan Allah SWT dan yang telah dicontohkan Rasulullah saw.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Thu, 23 Feb 2006 10:11:52 +0700

From: "Rasjid Prawiranegara" rasjid@bi.go.id

To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>, <alcapona75@yahoo.co.uk>, <usantosobudiman@yahoo.com>, <ekoraja@yahoo.com>, <muharifb@yahoo.com>, <a.assyaukanie@pgrad.unimelb.edu.au>, <asrirs@yahoo.com>, <fauzan@indosat.net.id>, <tengkumuslim@yahoo.com>, alfanaraghi@myquran.com

Subject: RE: KALAU HANYA MELIHAT KEMIRIPAN ANTARA UUM DAN UUD 1945 TANPA MELIHAT ISINYA, MAKA AKAN TERPEROSOK KEJURANG KEBODOHAN.

 

Ass. Wr.Wb.

 

Pak Ahmad, seperti kita ketahui bersama bahwa Nabi dan kita hidupnya telah berjarak cukup jauh dan telah lebih dari 15 Abat yang lalu. Telah banyak cerita yang kita dapat mulai dari bahasa lisan yang diceritakan secara turuntemurun. Kita dapat pula membaca riwayat Nabi melalui tulisan yang terkadang ditulis untuk mendeskriditkan Nabi Muhammad atau dari ditulis untuk mengharumkan nama Nabi. Yang pasti Bapak Ahamad dan saya tidak mengenal Nabi Muhammad kecuali dari cerita-cerita, sebagaimana kita tidak mengenal wajah Nabi kecuali dari daya khayal seorang pelukis, yang mereka mencoba mereka wajah Nabi dari cerita-cerita yang ia dengar. Dan semua itu merupakan kebohongan dan kita tidak ingin agar kebohongan itu berlanjut. Dan kita sebagai umatnya harus dapat mengupayakan menghentikan semua kebohongan itu mulai dari menggunakan kekuasan (jika kita memiliki kekuasan), dengan perkataan (lisan atau tulisan atau perbuatan yaitu demonstrasi yang damai) atau dengan hatinya. Upaya menghentikan kebohongan itu dengan hatinya merupakan bentuk dari selemah-lemahnya Iman kita.

 

Wajah-wajah Nabi, oleh para seniman, dapat digambarkan sebagai orang suci atau sebagai seorang bengis atau teroris. Oleh sebab itu umat muslim melarang orang menciptakan wajah Nabi dan biarkanlah wajah Nabi itu berada dihati masing-masing umatnya yang mencintai Nabi Muhammad dengan segala bentuk sesuai dengan apa yang ia bayangkan dalam hati masisng-masing umat. Gambaran karikatur yang dibuat oleh pers barat, telah merusak ketenangan umat. Dan ini merupakan bagian dari upaya penghinaan yang mereka ingin lakukan terhadap umat Islam agar anak-anak kita dan orang-orang yang tadinya ingin memeluk Islam menjadi membenci Islam.

 

Tindakan yang sistimatis itu perlu dilawan dengan berjihad. Pengertian jihad itu tentu tidak selalu harus berperang, karena berperang itu merupakan jihad yang amat kecil kadarnya (menurut Nabi) dibandingkan jihad-jihad lainnya. Yang paling akbar menurut Nabi adalah jihad untuk melawan hawa nafsu kita untuk selalu mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangannya. Perintah Allah antara lain termasuk larangan menuduh orang yang seiman itu adalah kafir, mengolokolok orang lain dengan kata-kata yang tidak pantas dan betutur kata yang buruk dan Ghibah (mengguncing). Nabi telah mencontohkan pada kita dalam menyampaikan Wahyu Allah selalu dengan kata yang manis. Perintah Allah juga mengatakan bahwa semua orang mukmin harus menyampaikan Wahyu Allah meskipun satu ayat. Dengan kata lain semua umat Islam harus dapat menjadi juru dakwa, meskipun dia bukan Ustad atau Kiyayi atau Haji. Menghina, mencaci hukumnya haram.

 

Mengenai kemiripan antara UUD 45 dan Piagam Madinah bukanlah hanya pendapat saya tetapi para profesor dan Doktor yang Bapak Ahmad mungkin pula sudah membacanya. Mirip tersebut tentu bukan isinya yang sama, tetapi dalam konsep bertata negara. Konsep Nabi dalam memerintah di Madinah telah memberikan inspirasi pada banyak Anak Bangsa di Dunia ini untuk mendirikan negara sebagaimana negara Madinah, dan salah satunya adalah Amerika, meskipun negara ini tentunya tidak ingin mengakuinya bahwa konsep dasar sistem pemerintahan Amerika asal mulanya adalah dari konsep Negara Madinah. Kemudian Amerika dan negara lainnya mengembangkan konsep sistem pemerintahan Nabi yang disesuai dengan lingkungannya, termasuk Indonesia. Indonesia menginginkan agar negara ini (Indonesia) dapat hidup bercorak masyarakat Madinah yang sering disebut konsep negara yang Madani (diambil dari kata Madinah). Konsep negara Madinah itu sebagaimana kata Pak Ahmad tentunya dari Al Quran yang dijabarkan Nabi dalam konstitusi Madinah (Piagam Madinah) serta pelaksanaannya tentunya berdasarkan Al Quran dimana semua orang memiliki hak yang sama tanpa melihat agama, ras, dan suku bangsa. Bangsa Barat belajar bertata negara dari Islam dengan menggali secara rinci kadungan Al Quran dan kemudian menafsirkannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa mereka merasa canggung. Tetapi ada satu hal yang tidak dimiliki oleh orang barat adalah kepercayaan bahwa Tuhan itu satu, Nabi itu adalah utusan Allah dan Allah tidak senang dipersekutukan karena semuanya itu adalah Syirik. Dan ini merupakan kunci bagi umat Islam untuk masuk surga.

 

Konsep-konsep negara Madani telah berkembang tidak hanya di Indonesia, tetapi disemua negara. Tentu dalam menuju masyarakat yang Madani harus pula disesuaikan dengan budaya disatu daerah. Kalau kita lihat pada revolusi Perancis, maka saya dapat mengatakan bahwa banyak konsep-konsep kenegaran pada waktu itu di ilhami dengan konsep-konsep pemerintahan Nabi Muhammad (meskipun sebagian tidak mengakuinya), sebagaimana sarjana barat mencuri ilmu pengetahun dari Islam dan merubahnya seolaholah adalah hasil pengembangan mereka, sebagaimana pula Umat Islam mengembangkan Ilmu dari ilmuan Yunani, India dan Romawi.

 

Negara Barat terutama Eropah menginginkan sebuah negara yang Madani memanjang dari Inggris sampai Itali atau dari Portugis sampai Skandinavia, dari Belanda Sampai Polandia. (dan di Asia khususnya Asia tenggara kita coba bersatu dalam sebuah kumpulan ASEAN yang mirip dengan Uni Eropah)

 

Kembali dengan UUD45 dan konsep ketata negaraan yang dikembangkan secara tidak disadari berakar dari konsep negara Madinah dan para Doktor dan Profesor mengatakan bahwa Piagam Madinah adalah sebuah bentuk konstitusi pertama yang dibuat di Dunia ini. Pakar Tata negara,memahami bahwa meskipun sebelum ada Negara Madinah telah ada Negara yang berbentuk Kerjaan seperti Kerajaan Romawi atau Yunani. Negara-negara tersebut telah membuat dan memiliki aturan-aturan tetapi bukan berbentuk konstitusi. Meskipun orang barat tidak senang pada Islam, tetapi mereka telah banyak mempelajari Al Quran dan tulisan kaum Mukmin yang menafsirkan Al Quran yang kemudian diterapkan dalam disiplin Ilmu misalnya dalam ilmu ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Di Indonesia kita telah mendirikan Bank dengan prinsip syariah (Bank Syariah)

 

Dalam sistem kenegaran sebelumnya menurut para pakar, hanya Nabi Muhammad yang pertama kali menjalankan pemerintahannya berdasarkan konstitusi, meskipun ia telah diberikan Allah sebuah kitab Al Quran. Saya sepaham dengan Bapak bahwa Nabi menjalankan konstitusi Madinah dengan berpegang teguh pada Al Quran. Sebagaimana dikatakan Nabi, Setiap orang adalah pemimpin dan kita diperintahkan Allah untuk memilih pimpinan dari golongan kita dan pimpinan yang kita pilih tentunya harus yang se Iman. Setiap Agama memiliki pemimpin dan mereka tentunya akan memilih pemimpin diantara mereka. Dengan kata lain Nabi memberikan kita kebebasan untuk berbeda dalam agama agar kita lebih ber iman pada Allah. Sebagai umat Islam, tentunya Al Quran adalah petunjuk yang paling benar. Di agama lain masih terdapat syirik yang mengakibatkan mereka terhalang untuk masuk surga.

 

Diantara pemimpin perlu membuat kesepakatan yang disebut konstitusi dan Nabi ditunjuk oleh kelompok masyarakat di Madinah untuk menjalankan kosntitusi itu dengan bimbingan Allah. Demikian pula kita harapkan terjadi di Indonesia, kita mengharapkan agar pemimpin di Indonesia mayoritasnya Islam dan Presiden sedapat mungkin dari kalangan Islam. Jika mayoritas pimpinan itu Islam, maka kita mengharapkan mereka menjalankan konstitusi UUD45 berdasarkan Al Quran dan Hadist.

 

Dari apa yang saya ceritakan ini intinya adalah setiap negara di Dunia ini ingin menciptakan negara yang Madani sebagaimana negara Madinah. Mereka memahami Negara Madinah itu tentunya dari tulisan-tulisan. meskipun mereka mengatakan umat Islam teroris, tetapi Islam telah memberi contoh bagaimana sebuah negara dibentuk dari mereka yang suka berperang dan saling membunuh (Zaman Jahiliah) menjadi negara yang damai dan saling tolong-menolong. Mereka membaca pula bagaimana Nabi Muhammad menaklukkan Mekah tanpa perang dan kemudian mengangkat seorang pimpinan di Mekah dari musuhnya karena Nabi lebih melihat pada kemampuan lawannya itu untuk memimpin Mekah. Jika kemudian pemimpin itu menjadi orang mukmin, semua itu karena hidayah Allah.

 

Al Quran adalah pedoman hidup agar kita menjadi orang yang bertaqwa, dan dalam melaksanaannya perlu ada penjabarannya. Dalam Al Quran ada azaz-azaz bernegara tetapi tentunya semua itu harus dijabarkan lagi oleh para Alim Ulama dan Kiayi dan orang yang berilmu, antara lain dalam konstitusi dan UU Hukum (fiqih). Dalam menyampaikan Wahyu Allah Nabi juga melakukan penafsiran yang sekarang kita kenal sebagai Hadist. Penafisiran yang dibuat Nabi agar Umat Islam tidak keliru dalam memahami dan menjalankan perintah Allah yang tersirat dalam Al Quran. Allah akan menjadikan seorang anak manusia itu beriman atau tersesat, tanpa anak manusia itu memahaminya, dan Insya Allah saya dan Bapak Ahmad Sudirman senantiasa dalam perlindungan Allah. Setiap mereka yang membaca Al Quran dan memahami kandungannya, insya Allah mereka bukanlah orang-orang yang bodoh, tetapi orang-orang yang berakal, karena Al Quran hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berakal, dan semoga kita tidak pula tersat di dalam pemahamannya.

 

Banyak orang telah tamat membaca Al Quran tetapi tidak banyak perubahan yang terjadi dalam dirinya dan orang-orang yang demikian itulah yang dikatakan Allah orang-orang yang merugi dan sia-sia dalam hidupnya. Dan saya mengharap Saya dan Bapak Ahmad Sudirman dan mereka yang membaca tulisan ini bukan termasuk orang-orang yang merugi.

 

Akhir kata jika dalam tulisan ini terdapat kata-kata yang tidak baik, maka itu datangnya dari keterbatasan saya dan jika ada makna yang dapat diambil, semua itu datangnya dari Allah.

 

Wassalam

 

Rasyid Prawiranegara

 

rasjid@bi.go.id

Jakarta, Indonesia

----------