Stockholm, 26 Februari 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

KELOMPOK FITJA DAN HALLEFORS TIDAK MENGENAL SEJARAH ACHEH TENTANG BANGSA-BANGSA YANG ADA DI ACHEH.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

AKHIRNYA KELOMPOK FITJA DAN HALLEFORS MASUK JURANG PRIJUDIS KARENA TIDAK MENGENAL SEJARAH ACHEH TENTANG BANGSA-BANGSA YANG ADA DI ACHEH.

 

"Itu tidak perlu Paya Bujok menanggapinya perdebatan antara Jawa Gusdur dengan Jawa Ahmad Sudirman, Biarlah kolompok Fitja dan Hällefors menjadi pegamat yang budiman sahaja. Itupun kalou kami mau menonton sebab karna wayang golek sangat tidak sesuai dengan selera kami, Bukankah itu lebih puas untuk anda jadikan sebagai bahan bicara dilembaran yang akan datang? Sebab hal itu lebih memuahkan anda lagipun saya rasa anda sebagai seorang dalang dan juga sangat mehendaki hal yang demikian bukan duduk diam dengan mulut tergangga, Sebagai mana halnya si pemuja mu di Norge dan Geng India mamak di Alby Sweden, Simanusia belang bertangan hitan yang sanggup menukar marwahnya demi Rupiah." (Paya Bujok, bujok_paya@yahoo.com , 24 februari 2006 22:34:09)

 

Saudara Paya Bujok di Fitja, Norsborg, Swedia.

 

Membaca apa yang dilambungkan saudara Paya Bujok diatas sebagai tanggapan atas tulisan Ahmad Sudirman "Tidak pernah muncul konsepsi Fitja atau Hallefors untuk menghantam konsepsi Abdurrahman Wahid alias Gus Dur" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060224a.htm ), ternyata saudara Paya Bujok disamping tidak memiliki fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang kuat tentang jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh, juga ia telah menjadikan bangsa sebagai objek dan alat pemukul tetapi sangat lemah dasar hukumnya, mengapa ?

 

Coba saja perhatikan apa yang dikatakan oleh saudara Paya Bujok: "Itu tidak perlu Paya Bujok menanggapinya perdebatan antara Jawa Gusdur dengan Jawa Ahmad Sudirman".

 

Ada dua hal kebodohan yang bisa diambil dari apa yang dilambungkan saudara Bujok diatas, yaitu kebodohan pertama, ia memang tidak memiliki fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang kuat tentang jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh. Kebodohan kedua, saudara Bujok memang tidak mengerti dan tidak memahami apa yang dinamakan dengan bangsa itu sendiri, dimana ia tidak bisa dan tidak mampu membedakan mana bangsa Sunda, mana bangsa Acheh, mana bangsa Gayo, mana bangsa Singkil, mana bangsa Alas, mana bangsa Bugis, mana bangsa Jawa, mana bangsa Minangkabau, mana bangsa India, mana bangsa Cina dan mana bangsa Arab.

 

Nah buktinya, ketika saudara Paya Bujok menuliskan:  "antara Jawa Gusdur dengan Jawa Ahmad Sudirman", jelas apa yang dituliskan Bujok ini benar-benar ia adalah seorang yang buta dan tidak mengerti serta tidak memahami perbedaan antara bangsa Jawa  dan bangsa Sunda, mengapa ? Karena kalau Ahmad Sudirman sebagai bangsa Sunda disebut sebagai bangsa Jawa, maka itu sudah merupakan suatu kesalahan besar dan ini membuktikan saudara Bujok adalah memang seorang yang sempit dan rendah pengetahuan dan pendidikannya.

 

Jadi saudara Paya Bujok,

 

Kalau saudara Bujok tidak mau disebut sebagai seorang yang sempit dan rendah pengetahuan, maka perlu mempelajari apa itu yang dinamakan dengan bangsa dan perbedaan-perbedaan dari bangsa-bangsa yang ada di nusantara ini. Agar supaya lain kali kalau mau menuliskan Ahmad Sudirman tidak lagi menuliskan Jawa Ahmad Sudirman, tetapi  Sunda Ahmad Sudirman.

 

Kemudian saudara Paya Bujok,

 

Saudara memang kelihatan rendah dan dangkal dalam pengetahuan sejarah Acheh terlihat ketika saudara Paya Bujok dalam menuliskan: "Geng India mamak di Alby Sweden".

 

Nah, disini kelihatan dengan jelas, itu saudara Bujok adalah memang seorang yang tidak mengerti akan sejarah Acheh-nya itu. Dimana saudara Bujok ini tidak mengerti bahwa di Acheh itu telah hidup secara turun-temurun berbagai bangsa, diantarannya  bangsa Gayo yang terbagi kedalam dialek, seperti bangsa Gayo Lut yang tinggal di daerah Danau Lut Tawar, bangsa Gayo Luwes, bangsa Gayo Linge, bangsa Gayo Seberjadi yang tinggal disekitar Lokop juga sampai ke Acheh Timur dan bangsa Gayo Johar di Sumatera Timur. Kemudian, bangsa Alas yang tinggal diwilayah Acheh Tenggara. Seterusnya bangsa Singkil yang mendiami Acheh Singkil. Bangsa Tamiang yang menduduki wilayah Acheh Tamiang, bangsa Simeulue yang hidup di Pulau Simeulue. Lalu bangsa Aneuk Jamee, bangsa Sunda, bangsa Jawa, bangsa Cina, bangsa India, bangsa Arab, bangsa Bugis, bangsa Persia, bangsa Portugis yang mendiami Kuala Daya - Lamno di pesisir barat Acheh dan bangsa Minangkabau serta suku bangsa lainnya seperti Julu, Kluet, Sigulai, Haloban dan Devayan.

 

Saudara Paya Bujok,

 

Kalau saudara ingin memperjuangkan penentuan nasib sendiri di Acheh, tanpa saudara mengerti dan memahami realita sebenarnya di Acheh yang telah hidup berbagai bangsa di Acheh, maka saudara Bujok akan hancur masuk jurang dan akhirnya masuk kedalam jurang prijudis dan jurang racun rasis yang akan menghancurkan saudara sendiri.

 

Kalau saudara Bujok mengatakan: "Geng India mamak di Alby Sweden", ini sama saja dengan saudara Paya Bujok memukul dan menghancurkan dirinya sendiri, mengapa ? Karena Paya Bujok tidak mengerti dan tidak memahami bahwa di Acheh telah hidup secara turun-temurun berbagai bangsa, diantaranya bangsa India, bangsa Gayo, bangsa Alas, bangsa Singkil, bangsa Arab, bangsa Cina, bangsa Minangkabau dan bangsa Bugis.

 

Nah saudara Paya Bujok,

 

Karena saudara adalah memang rendah dalam pengetahuan mengenai sejarah Acheh dan bangsa-bangsa yang tinggal dan hidup di Acheh, maka saudara tanpa disadari telah jatuh kedalam jurang kebutaan akan bangsa-bangsa di Acheh ini, sehingga yang keluar dari mulut dan tulisan saudara hanyalah kepicikan yang diarahkan kepada pertentangan bangsa yang ada di Acheh.

 

Coba bagaimana saudara Paya Bujok bisa mempertahankan kekuatan saudara apabila bangsa Gayo yang berpusat di Takengon, bangsa Alas yang berpusat di Kutacane dan bangsa Singkil yang berpusat di Singkil yang menyatakan diri mereka bukan sebagai bangsa Acheh, melainkan bangsa yang telah lebih dahulu ada di Acheh dengan Kerajaan Linge-Gayo-nya yang dibangun pada tahun 416 H / 1025 M di Buntul Linge dengan raja pertamanya, Adi Genali atau yang dinamakan juga dengan Kik Betul, yang mempunyai empat orang putra yaitu Sibayak Linge, Empuberu, Merah Johan, Merah Linge. Dimana Raja Linge I mewariskan sebilah pedang dan cincin permata kepada keturunannya. Sehingga terbukti bahwa Kerajaan Linge-Gayo ini yang lebih dahulu muncul dibandingkan dengan sejarah Kesultanan Acheh yang dibangun pertama kali di wilayah Acheh paling utara oleh Sultan Johan Syah pada abad 12, sekitar tahun 601 H / 1205 M, dan Kesultanan Samudera Pasai yang dibangun oleh Merah Silu yang berkuasa antara tahun 1275 M - 1297 M yang berganti nama menjadi Sultan Malik al-Saleh setelah memeluk Islam.

 

Begitu juga dengan bangsa Arab yang datang dari Hadramaut, Yaman dan bangsa India yang datang dari Gujarat dan Tamil di Acheh. Coba saja perhatikan berapa banyak orang Acheh yang memakai nama Bawazier, Badjubier, Sungkar, Al Kathiri, Al Attas, Al Habsyi, Al Aydrus, Habib, Al Ghani, Sayid dan nama Arab dan India lainnya.

 

Terakhir saudara Paya Bujok,

 

Kalau saudara ingin memperjuangkan Acheh bebas dari belenggu NKRI-nya Soekarno, maka dalami dulu pengetahuan mengenai bangsa-bangsa yang ada di Acheh, jangan seenak udel sendiri menghancurkan kehidupan bangsa-bangsa yang ada di Acheh dengan cara melambungkan sikap prijudis atau sikap negatif terhadap bangsa-bangsa yang ada di Acheh.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

From: Paya Bujok bujok_paya@yahoo.com

Return address:  PPDi@yahoogroups.com

Date: 24 februari 2006 22:34:09

To: Lantak@yahoogroups.com, ppdi@yahoogroups.com

Subject: «PPDi» Re: [Lantak] TIDAK PERNAH MUNCUL KONSEPSI FITJA ATAU HALLEFORS UNTUK MENGHANTAM KONSEPSI.....

 

Wa,alikumsalam.

 

Itu tidak perlu Paya Bujok menanggapinya perdebatan antara Jawa Gusdur dengan Jawa Ahmad Sudirman, Biarlah kolompok Fitja dan Hällefors menjadi pegamat yang budiman sahaja. Itupun kalou kami mau menonton sebab karna wayang golek sangat tidak sesuai dengan selera kami, Bukankah itu lebih puas untuk anda jadikan sebagai bahan bicara dilembaran yang akan datang? Sebab hal itu lebih memuahkan anda lagipun saya rasa anda sebagai seorang dalang dan juga sangat mehendaki hal yang demikian bukan duduk diam dengan mulut tergangga, Sebagai mana halnya si pemuja mu di Norge dan Geng India mamak di Alby Sweden, Simanusia belang bertangan hitan yang sanggup menukar marwahnya demi Rupiah.

 

Dalam hal ini perlu Anda ketahui, Bahwasanya kami tak sekeji itu, Kami sangat memahami tentang apa yang sepatut nya kami lakukan pada saat sekarang ini,Kami rasa tidaklah perlu bantuan anda lagi pula siapakah anda dalam hal perkara ini, Kami kira taklebih dari seorang badut tua yang sedang beraksi di arena Circus India sahaja, Barang kali anda juga pernah membaca nya bukan..? Nasib seorang Joker yang menerima padah di hujung hayatnya.

 

Paya Bujok

 

bujok_paya@yahoo.com

Fitja, Stockholm, Swedia

----------