Sandnes, 2 Maret 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

MENGAKU AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH, TETAPI TANGAN TERUS MENDEKAP BURUNG GARUDA DAN PANCASILA-NYA

Husaini Daud Sp

Sandnes - NORWEGIA.

 

 

AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH DI RI  TANGAN MEREKA TERUS MENDEKAP BURUNG GARUDA DAN PANCASILA-NYA.

 

"Kalau kamu konsekuen berpijak diatas kebenaran, dan mati syuhada sebagai pilihanmu, kenapa kamu harus angkat kaki dari Acheh dan sekarang berada di Norwegia. Alasan kamu sebagaimana yg dikemukakan yakni taqiyah dan hijrah. Taqiyah dan hijrah yg macam mana yang kamu pegang. disini jelas mana yang gila dan mana yang waras." (Sp Saprudin, Thu, 2 Mar 2006 12:58:41 +0700 (ICT))

 

Baiklah Saprudin.

 

Disebabkan terjadinya perang gerilya di Tanah Rencong (baca Acheh -Sumatra), orang-orang sipil terpaksa Hijrah ke Malaysia. Disebabkan Malaysia menolaknya seperti rombongan Rasulullah dulu Hijrah ke Thaif (tidak bersedia menjadi kaum Anshar sebaliknya penganiayaan yg diterima kaun Muhajirin), orang-orang sipil Acheh hijrah ke negara manapun yang bersedia menerimanya melalui UNHCR. Jadi penjebabnya jelas, kebiadaban TNI yang hanya berani menganianya dan membunuh orang-orang sipil yang sadar, orang-orang perempuan yang tak berdaya dan malah anak kecil dan bayipun turut dianianya.

 

Disini terbukti bahwa Malaysia, Brunai Darussalam, Saudi Arabia, Mesir dan lain-lain sebagainya, tidaklah  termasuk sebagai Kaum Anshar (Penolong).  Justru Negara Norwegia, Swedia, Denmark, Finlandia, Australia, New Zealand dan Canadalah yang bertindak sebagai penolong. Mereka menolong atas dasar kemanusiaan. Justru itu negara-negara yang saya sebutkan belakangan betapapun jauh lebih baik dari negara-negara yang saya sebutkan duluan. Mudah-mudahan mereka dapat menebus kesalahannya dengan berbuat baik kepada bangsa Acheh sa'at ini.

 

Kami bangsa Acheh di negara-negara tersebut adalah bagaikan "Tamu" yang akan kembali ke Acheh kelak.  Justru itu adalah mustahil bagi kami untuk menjusahkan "Tuan Rumah" apalagi mengganggunya. Kendatipun kami berfungsi sebagai Tetamu, kami tetap memperjuangkan Kemerdekaan Negara kami (Acheh - Sumatra) Sesuai kemampuan yang ada pada kami, termasuk senjata komputer untuk "menembak" orang - orang semacam kamu, Saprudin. Jadi tidak ada waktu bagi saya untuk berdialog dengan musuh kecuali "menembaknya".

 

Sekedar untuk direnungkan, bahwa dinegara Skandinavia tempat kami "bertamu" relatif tak terjadi pemorkosaan, pencurian, pembunuhan dan mabuk-mabukan. Sementara di negara-negara yang menolak kami sebagai Muhajirin hal seperti itu kerap kali terjadi, Kenapa ?

 

Khusus Mabuk-mabukan mungkin lebih banyak di Skandinavia, namun mereka punya aturan mabuk yaitu khusus malam Minggu dan di tempat yang khusus untuk hal tersebut. Yang jelas tak pernah mengganggu kemaslahatan umum.

 

Dinegara Skandinavia ini tak ada orang yang hidup miskin. Finansial rakyat terpenuhi. Lalu bandingkan dengan negara-negara yang menolak untuk menjadi Kaum Anshar. Atasan dan juga pegawai negeri pantang korupsi. Polisi benar-benar melayani publik dengan baik sekali, sementara umumnya Polisi di negara-negara yang menolak untuk menjadi Kaum Anshar senantiasa menakut-nakuti dan menyusahkan rakyat.

 

Djadi persoalannya adalah "kemunafikan". Mayoritas dari orang-orang yang mempertahankan system di Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam, Saudi Arabia, Mesir dan semacamnya, mengaku diri sebagai "Orang Islam". Namun yang sesungguhnya mereka tidak berbuat sesuai Al Qur-an dan Hadist Shahih. Jadi tak ada pasal kita menyalahkan Islam. Islam adalah rahmatan lil 'alamin. Kalau system itu benar-benar system Islam, mustahil menolak  orang-orang yang teranianya  (Kaum Muhajirin Acheh) apalagi ikut mengania nya (baca beberapa kasus pemulangan orang Acheh ke Indonesia)

 

Saprudin juga menulis: "kamu bicara yang haq, sedangkan kamu sendiri berdiri diatas kebhatilan, kemunafikan, kedustaan dan kebohongan besar yang nyata. Kalau kamu konsekuen berpijak diatas kebenaran, dan mati syuhada sebagai pilihanmu, kenapa kamu harus angkat kaki dari Acheh dan sekarang berada di Norwegia. Alasan kamu sebagaimana yg dikemukakan yakni taqiyah dan hijrah. Taqiyah dan hijrah yg macam mana yang kamu pegang. disini jelas mana yang gila dan mana yang waras. Kalau kamu gak merasa gila, datang ke Aceh bergabung dengan masyarakat Acheh, membangung Acheh, berjuang bersama rakyat Acheh, bukan jadi pengeceut persis keledai dungu dan idiot."

 

Saprudin.

 

Siapakah yang bathil, munafiq, dusta dan keboihongan yang nyata Saprudin ? Apa tidak salah tuduh. Bukankah kalian yang bathil yaitu bersekongkol serta membela mati-matian walau dengan cara merangkak-rangkak dengan menggunakan "Hikayat Musang". Bukankah kalian yang munafiq mengaku Islam Ahlussunnah wal jama'ah, namun kerjanya tetap membela Hindunesia Dhalim tanpa mampu menganalisa bagaimana keberadaan Hindunesia itu yang sebenarnya.  Bukankah kalian yang dusta dan bohong memfitnah keluarga Rasulullah dan Syi'ahnya, demikian juga kebohongan kalian dalam menyamakan system mpu Tantular alias system "puncasilap" dengan System Islam ?

 

Saprudin.

 

Perang di Acheh adalah perang Gerilya yang hanya dilakukan oleh tenaga yang trampil (baca TNA) Andaikata perang terbuka pastilah semua lelaki akan ikut serta. Anehnya kamu mengatakan kepada orang sipil pengecut untuk berhadapan dengan TNI, sebaliknya kamu tidak mengatakan pengecut kepada TNI yang hanya berani berhadapan dengan orang-orang sipil Acheh. TNI menjerit kalau berhadapan dengan TNA. Diantara mereka ketika pergi ke gunung mengaku terus terang kalau mereka dipaksakan untuk mencari TNA serta mintak ma'af kepada TNA agar tidak menembaknya dengan alasan tinggal anak dan Isteri di Jawa.

 

Saprudin.

 

Anda sesungguhnya sudah tertutup mata hati, tak mampulagi memahami walau bagaimanapun kuberikan penjelasan, sama persis seperti si Mubazir. Apakah kamu duplikat Mubazir ?  Kalau tidak disebabkan untuk pembaca yang budiman, buat apa saya membuang-buang waktu untuk melayani orang semacam kamu. Kan sudah kujelaskan bahwa taqiyah itu berlaku untuk kaum dhu'afa yang ada di Hindunesia dhalim sementara menunggu munculnya "Imam" yang haq. Sedangkan kami di LN tidak butuh taqiyah. Tak ada orang yang medhalimi kami di LN, justru orang munafiklah yang dhalim.

 

Kemudian kamu juga tidak memahami kalau perjuangan itu tergantung kepada keahliannya masing-masing: Berilah pekerjaan itu kepada ahlinya" (Hadist). Justru itu betapa dungunya orang-orang yang sama serti kamu, meminta Ustaz Ahmad Sudirman agar pergi ke Acheh untuk menolong orang-orang musibah. Fungsi Ustaz adalah Di medan Internet. Andaikata ada orang lain yang memiliki kemampuan yang sama seperti Ustaz untuk menggantikan tugasnya, barulah dimungkinkan untuk terjun ke Lapangan (baca tanah Rencong), demikian juga tenaga saya masih dibutuhkan untuk "menembak orang-orang semacam Saprudin.

 

Saprudin.

 

Kami tunduk patuh kjepada pemimpin pencetus "Kebangkitan Acheh - Sumatra". Kami baru kembali ke Acheh kalau sudah diperintahkan atau ditugaskan untuk itu sebagaimana sebahagian orang - Acheh - Sumatra yang sudah pulang sekarang.

 

Bilalhi fi sabilillah

 

Husaini Daud Sp

 

husaini54daud@yahoo.com

Sandnes, Norwegia.

----------

 

SP Saprudin <im_surya_1998@yahoo.co.id> wrote:

 

Ya Husaini Daud, saya tidak ingin memperlebar adu argumentasi. Saya hanya menjelaskan konsep berdasarkan pemahaman ulama-ulama ahlussunah wal jamaah, saya akan pegang itu sampai mati. Seandainya kamu berafiliasi dengan pemahaman syiah, ya itu urusan kamu. kamu bicara yang haq, sedangkan kamu sendiri berdiri diatas kebhatilan dan kebohongan yang nyata. Kalau kamu konsekuen berpijak diatas kebenaran, dan mati syuhada sebagai pilihanmu, kenapa kamu harus angkat kaki dari Acheh dan sekarang berada di Norwegia. Alasan kamu sebagaimana yg dikemukakan yakni taqiyah dan hijrah. Taqiyah dan hijrah yg macam mana yang kamu pegang. disini jelas mana yang gila dan mana yang waras.

 

terima kasih.

 

Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------