Stavanger, 4 Maret 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PLUS I  +  RADEN BUKHARI POPIYA.

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.

 

 

MASIH TANGGAPAN TENGKU OMAR PUTEH ATAS TULISAN RADEN BUKHARI POPIYA.

 

Dibawah ini terkutip dari sebuah tulisan Raden Bukhari Popiya:  "Bingkisan Malam II", yang diterbitkan pada 13 Februari, 2006 01: 49:59 +0100( CET) lewat PPDI@yahoogroups, ACSA@yahooggroups dan Lantak@yahoogroups,  dari alenia ke 21, dengan tulisan yang di "B"-kan:

 

"…Pada suatu hari berangkatlah serombongan menuju Helsinki, entah tujuan apa, entah untuk mengadakan pertemuan atau berkomferensi, yang jelas mereka berangkat bersama Dr. Muhammad   Hasan di Tiro. Tibalah waktu lunch dan perutpun mulai keroncong mereka menuju kantin yang menyediakan berbagai jenis makanan europa, disana tersedia berbagai menu: hamburger, hotdog, pizza dan lain-lain, lalu kawan saya ini sangking setianya pada pemimpin, setiap gerak gerik pemimpin harus menjadi ikutannya, maka Dr. Hasan muhammad di tiro memilih pizza sebagai makan siangnya yang masih panas-panas di dalam oven, tak ketinggalan juga dengan yang lainnya terus ambil apa yang telah dipilih belia, lalu makanlah dengan lahapnya pizza yang sedap itu. terakhir beliau ceritakan kesaya dan saya tanyakan taukah kamu apa yang yamg menjadi ingradien didalam pizza skandinavia ini, tidak, jawab nya bengong, itu yang terkandung dalam pizza itu adalah daging babi. Belalak mata beliau ini akan keterangan saya itu…" (Bukhari Raden,  bukharipasi66@yahoo.no , 13 Februari, 2006 01: 49:59 +0100( CET)

 

Dari tulisan Raden Bukhari Popiya sealenia diatas itu, terundanglah beberapa pertanyaan sederhana dibawah ini yang wajib dijawabnya:

 

(1). Kapankah serombongan yang berangkat bersama Dr Tengku Hasan di Tiro, yang dikatakan pada suatu hari itu, ke Helsinki?

 

(2). Siapa-siapakah peserta dalam rombongan itu, yang berangkat bersama dengan Dr Tengku Hasan di Tiro?

 

(3). Siapakah teman kamu itu, yang kamu katakan sempat memakan pizza yang beringredient daging babi, sebagai salah seorang dari sejumlah peserta dalam rombongan itu, yang berangkat bersama dengan Dr Tengku Hasan di Tiro?

 

(4). Dimanakah teman kamu itu sekarang ini berada dan mewakili dari wilayah manakah dia itu di Achèh, sebagai peserta rombongan?

 

(5). Bagaimanakah usaha kamu, agar teman kamu itu dengan secara gentelmen bersedia memperkenalkan indetitas sebenar dirinya, kepada pembaca milis ini, dan agar bisa membantu mempertanggung jawabkan ceritanya, sebagaimana yang kamu telah katakan bahwa, ceritanya itu sebagai benar dan nyata serta bisa dipertanggung jawabkan!

 

(6). Tahukanh kamu, Raden Bukhari Popiya bahwa, cerita kamu pada alenia ke 21 itu, seperti yang tertera diatas, seperti yang telah kamu tulis itu, kini tercatat dalam sebuah memorandum sebagai orang yang pertama sekali, yang pernah menuliskan kepada WN seumpamanya.  Dan ini, telah dipandang sebagai sebuah tulisan yang mem-"fitnah" paling "kotor", paling "jahat", dan paling "tidak beradab" dan paling "kurang ajar". Diyakini, bahwa ini sememangnya dibuat dengan sengaja dan penuh kesadaraan atau dengan keangkuhan?, oleh si Raden Bukhari Popiya dari Pasie 'Lhok, Pidië!

 

Sebagaimana telah kamu, Raden Bukhari Popiya katakan bahwa, kamu tidak akan menuangkan lagi tulisan kamu yang akan datang lewat milis bebas Ahmad Hakim Sudirman, tetapi hanya lewat PPDI, Lantak dan Acsa, yang menurut kiraanmu, tulisan "fitnah" kamu, yang kotor, yang jahat, yang tidak beradab dan yang kurang ajar itu, dipastikan akan bisa dibaca oleh seluruh bangsa Achèh, sememangnya kini, telah menjadi amatan kami.  Perlu kamu ketahui bahwa, tulisan dari milis bebas Tengku Ahmad Hakim Sudirman selain dibaca oleh 5.000.0000 jiwa bangsa Achèh, juga dibaca oleh pembaca lain yang diperkirakan ratusan ribuan lagi!

 

Dengannya, diharapkan seluruh bangsa Achèh didunia pada umumnya dan di Stavanger, Norwegia khususnya, akan memberikan juga respon, baik dengan respon diam ala "pemuda kahfi" atau respon angkat bicara ala "pemuda perjuangan" terhadap si Raden Bukhari Popiya yang keparat itu!

 

Walaupun begitu seberkas pertanyaan dari Tengku Ahmad Hakim Sudirman dalam tulisan beliau bersubjek: "Kesepakatan Perdamaian GAM-RI Adalah Bukan Ikatan Persekutuan Antara GAM-RI" dan tulisan dari Omar Putéh bersubjek: "Tengku Omar Putéh Menguliti Tulisan Raden Bukhari Popiya", diberi keutamaan juga, agar tidak tertunda-tunda lagi,  dalam menjawab-nya…!

 

Tukiem yang Jawa setelah menjadi Achèh,  bertukar menjadi Sawijah!

 

"Subroto"?  siapakah Subroto itu, seperti yang  Raden Bukhari Popiya telah sebutkan dalam "Bingkisan Malam II"-nya ?

 

Bukhari Raden yang Achèh, setelah menjadi Jawa, bertukar menjadi Raden Bukhari Popiya! Benarkah hari ini, Raden Bukhari Popiya sudah mejadi Jawa?   Terjawab: Ya!   Jika mengikut pada namanya itu, sebagai: Raden Bukhari Popiya!  Dan sesungguhnya sudah hampir habis 5.000.000 jiwa bangsa Achèh di seluruh dunia, mengetahuinya, setelah dipablis lewat milis bebas, Tengku Ahmad Hakim Sudirman: ahmad@dataphone.se

 

Jika nanti, kalau sememangnya ada terluang masa dan kesesuaian waktu, maka mungkin saja, saya akan menuliskan sebuah buku yang akan berjudul: "Sawijah yang Achèh dan Raden Bukhari Popiya yang Jawa"…!

 

Patutlah dimaklumi, sebagaimana tulisan saya terhadap Doktor Lukman Thaib @ Doktor Lukmanul Hakim @ Doktor Tengku Tjhik di Palôh @ Doktor ............dalam "LUKMAN THAIB DAN KAIN SARUNG JAWANYA", yang belum juga lagi saya sertakan lekak-lekok, tingkah-salahnya terhadap Negara Achèh Sumatra/ASNLF/GAM, sejak dia mendatangi dan menemui saya pada tahun 1989 di Meunasah Achèh, Damansara, Malaysia itu, kecuali itulah, itulah saja dulu dari apa yang dia sendiri telah mengeksposekannya, maka demikianlah pula halnya tulisan saya, terhadap Raden Bukhari Popiya dalam "RADEN BUKHARI POPIYA"-nya.

 

Lagipun tidaklah menjadi amalan bagi saya, untuk mengakal-akali atau menukang-nukanginya. Saya dan Tengku Ahmad Hakim Sudirman telah berpegang atau berpedoman teguh seperti itu. Tetapi kiranya tidak bagi Raden Bukhari Popiya itu,  yang telah kembali menukangi "pengalamannya" yang terpapar dalam "RADEN BUKHARI POPIYA" yang telah tereksposekan itu, tapi kemudian berobah dan berentak lain, sebagaimana telah kita saksikan dalam Bingkisan Malam II-nya, yang sangat begitu bercelaru dan sukar untuk segera dicerna. Atau mungkin karena adunan tulisan itu sengaja digubah sedemikian rupa, mengikut tertib-cara bagaimana dia mengolah adunan popiya-nya: Isi, isi dan isi yang kemudian dan tahu tahunya setelah terbalun dan terbalut lantas digorengkan, lantas kemudian dikatakan: Nah, inilah popiya!   Atau nah, inilah "Bingkisan Malam II" itu !

 

Justru itulah, maka untuk menela'ah Bingkisan Malam II-nya Raden Bukhari Popiya itu, terpaksalah pula, saya mengkopikannya ikut tertib cara bagaimana perisian adunan ramuan popiyanya dibuat.

 

Penting-nya menela'ah dari perisian itu, agar kita segera mendapatkan sebuah kesimpulan lain, setelah lebih dahulu menyoali Raden Bukhari Popiya itu:

 

(1) Apakah dalam isi dari perisian ramuan-adunan popiya-nya kamu itu, kamu isi  dengan jenis daging-dagingan?

 

(2) Kalau terisi dengan daging-dagingan, maka dengan daging apakah: lembu, atau kambing atau ayam [Sekalipun pembeli utama popiya kamu adalah masyarakat Norwegia-Normann, yang bukan Islam, tetapi saya yakin tidaklah kamu akan mengisikan popiyamu itu dengan (daging) babi]?

 

(3) Kalau terisi dengan lembu, kambing atau ayam, maka tersoal:  Apakah lembu, kambing atau ayam itu, dari belian dikedai Arab, Turki atau Somali yang halal (yang terjual dengan harga antara NKr 35.50/paket hingga NKr 37.50/paket itu untuk ayam dan antara NKr 98.00 hingga NKr 110.00/kg untuk lembu atau kambing yang halal) ataukah dari "Rema 1000" atau lain-lain supermaked Norwegia yang tidak halal (yang terjual dengan harga antara NKr 20.50/paket hingga  Nkr 22.50/paket untuk ayam dan NKr 35.00  hingga NKr 60.00/kg untuk lembu dan kambing), yang akan memberi keuntungan lebih dan berlebihan?

 

(4) Bagaimanakah pula dengan hamburger dan hotdogmu?  Apakah hamburger dan hotdogmu juga dari kedai Arab, Turki atau Somali {( yang tejual dengan harga antara NKr 100.00/paket hingga 120.00/paket) untuk hamburger dan hotdogmu dengan harga antara NKr 15.00/paket hingga NKr 20.00/paket) ataukah dari "Rema 1000" atau lain-lain supermaked Norwegia yang tidak halal (yang terjual dengan harga separuhnya)}, yang akan memberikan keuntungan lebih dan berlebihan {(saya tidak yakin kamu akan mau menjual hamburger atau hotdogmu yang "beringredient" dari (daging) babi, walaupun pembeli utama hamburger dan hotdogmu itu, adalah masyarakat Norwegia-Normann, yang bukan Islam)}, yang akan memberikan keuntungan lebih dan berlebihan?

 

(5) Kalau juga kamu ingat daganganmu ditujukan hanya untuk orang bukan Islam, lantas dengan demikian kamu akan menjualkan daganganmu itu dengan bahan yang haram atau yang tidak halal, apakah kelak ia tidak akan menggangu jiwamu dengan terkoleksi kroner-kronermu itu yang berasal dari barang dagangan yang haram atau tidak halal itu?

 

Kelima pertanyaan diatas memadai saya ajukan kepada kamu, sehubungan dan yang berkaitan sama dengan kutipan tulisan kamu dialenia ke 21 dari  bungkusan "Bingkisan Malam II", seperti tertera diatas, dipermulaan tulisan ini.

 

Selain itu perlu saya mengimbaskan sedikit akan sebuah ingatan tentang seperkara, mengapakah saya perlu menabahkan perasaan dan menyabarkan hati ketika berhadapan dengan tingkah laku kamu ketika sedang bertingkah, yang kemudian "tingkah"-mu itu, membentuk "tingkah evolusi" yang menyerupai semacam "fitnah"…???

 

Ketika kamu dibawa dan diperkenalkan oleh dua orang teman yang pertama sekali memperkenalkannya kepada kami, mereka pun telah mengatakan kepada saya bahwa, kamu sewaktu di Malaysia lagi, sememangnya sudah diketahui sebagai seorang MP GAM Tulen atau Genuine MP GAM!

 

Mereka berduapun selalu mengatakan kepada saya bahwa, walaupun kamu selalu dilontari kata-kata dengan sambilan berkelakaran atau berejek-ejekan sebagai si MP GAM namun kamu tetap tidak pernah bereaksi apa-apa.

 

Raden Bukhari Popiya,

Karena saya sudah mengetahui bahwa, kamu sebagai seorang MP GAM Tulen atau Genuine MP GAM, maka sudah tentu dan sudah pasti, saya menganggap kamu pula, ketika itu, kjuga ketika kamu bersama kami, sebagai seorang "Mu'alaff Tulen" atau "Genuine Mu'allaf" atau sebagai New Convert, sebagai saudara baru!

 

NB I:  Disini, perlulah saya jelaskan bahwa, tidaklah tepat jika Tengku Ahmad Hakim Sudirman, dikatakan oleh rakan saya dari Danmark dan Eddy Lamno Suhery, yang kini tercatat sebagai "Parasit Politik", si penumpanng baru "kereta express", ex penumpang "kereta api ASNLF/GAM" sebelum dia sampai kesana, sebagai Mu'allaf. Tengku Ahmad Hakim Sudirman, membantu bangsa Achèh tanpa disuruh dan tanpa diminta tetapi semata-mata karena Allah SWT. Beliau telah menyerahkan jantung dan hatinya kepada bangsa Achèh, demi perjuangan bangsa Achèh dalam menentukan nasibnya sendiri!

 

Jadi tidaklah berazas sama sekali dari sesiapapun, yang mengatakan seolah-olah Tengku Ahmad Hakim Sudirman, yang sekarang ini, sedang menyelesaikan kesarjanaannya yang keempat dan tetapi masih lagi terus menyempatkan diri beliau membantu perjuangan bangsa Achèh, tetapi mengapakah ada orang yang sedang melihat lain kepada beliau itu, kepada saudara saya itu…?

 

Itulah sebabnya, walaupun saya sudah mulai merasa dan terasa bahwa,  kamu sudah mulai mencoba "memfitnah" saya, namun saya masih menahan diri, menabahkan perasaan, menyabarkan hati, sekalipun kamu telah sempat pula memondoki 2 orang pengkhianat pratikal: Yusuf Daud Paneuk dan Syahbuddin Rauf, dua orang yang diketahui coba menumbangkan tiang struktur Negara Achèh Sumatra/ASNLF/GAM di Swedia, dengan hanya memintakan kamu lagi, agar tidak pula mengulanginya kembali.  Tetapi apa? Apa jawabmu?  Masih ingatkah apa jawaban kamu?

 

Saya buktikan kepada kamu dan juga kepada seluruh bangsa Achèh di dunia bahwa:  Si Yusuf Daud Paneuk dan Syahbuddin Rauf, benar-benar sebagai dwi-tunggal pengkhianat bangsa Achèh, yang coba memperalat dan memperdayakan Daud Paneuk, orang tua itu, untuk merampas kuasa (coup 'd état) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 1997, dan untuk coba menumbangkan tiang struktur Negara Achèh Sumatra/ASNLF/GAM di Swedia, dibawah kepimpinan Wali Negara, Tengku Hasan di Tiro, sebagaimana pengakuan verbal Daud Paneuk sendiri, di Kantor Pemerintahan Negara Achèh Sumatra, di Kuala Lumpur, Malaysia kepada rakan saya, ketika memberi jawaban atas pertanyaan rakan saya itu: "Pakôn di Abu neupeugôt but njang lagèe njoë?  Njan keuh Njak Usôp ulôn dan Njak Syahbuddin ka dji ju djak ulôn keunoë u Kuala Lumpur".

 

"Mengapakah Bapak buat kerja seperti ini?   Itulah budak (bocah) Usup saya dan budak (bocah) Syahbuddin yang menyuruh saya kemari, ke Kuala Lumpur!"

 

Inilah Raden Bukhari Popiya, salah sebuah bukti (point) kuat, bagaimana jahat dan kotornya permainan si Yusuf Daud Paneuk dan Syahbuddin Rauf, tetapi kedua-duanya masih juga kamu pondokkan dirumah kamu.  Ini saya paparkan diantara beberapa bukti (point) lain yang akan saya paparkan lagi kemudiannya.

 

Kamu, Raden Bukhari Popiya, sememangnya tidak mengetahui apakah itu perjuangan sebenarnya. Dalam perjuangan ada garis pemisah "maya", tetapi terbayang jelas dan tegas antara siapa sebagai musuh pemimpin dan siapa sebagai musuh bangsa atau kedua-duanya sekali!   Kalau kamu menjelaskan kepada kami tentang masalah kamu dengan kedua mereka itu, dikarenakan adanya hubungan kekeluargaan antara kamu dengan kedua mereka yang bisan-berbisan, maka itu juga berarti, apa yang kamu katakan itu sebagai mengatakan bahwa, yang kamu serupa saja tidak tahu, akan apakah itu yang dimaksudkan dengan tarikan "benang merah" seperti yang suka kamu sebut-sebutkan.

 

Dan saya pun telah mengambil kesimpulan awal: Bahwa kamu adalah anak bodoh, anak yang masih bodoh, sebagai respon saya yang pertama sekali terhadap kamu, ketika saya mengajukan sebuah soalan, sehubungan masalah perjuangan dirumah saya.  Walaupun begitu, saya mau juga melayan "Bingkisan Malam I dan II"-nya kamu itu yang centang-perenang dan sekaligus untuk mengajar kamu, yang kini ikut mengkhianati perjuangan bangsa Achèh.

 

Nah, sekarang saya perlu menjelaskan mengenai "Subroto"-kamu, sebuah nama seseorang yang sangat kamu benci?  Mengapakah tidak berani kamu menyebutkan langsung nama aslinya?

 

Begitupun biarlah menyebutkannya sebagai: A.K.Firdausia, sebuah nama perumpaan, seperti mencontohi bagaimana kamu memperumpakan nama "Subroto" itu.

 

A.K.Firdausia, yang berketurunan Jawa, telah menjadi anggota sebuah keluarga Achèh, sekaligus telah menjadi anggota keluarga besar masyarakat Achèh di Stavanger, khususnya dan di Rogaland, Norwegia pada umumnya, yang selaku seorang sarjana Sastra Inggeris, pernah bekerja membantu menterjemahkan tulisan-tulisan makalah-makalah dan buku-buku Wali Negara, yang dalam bahasa Inggeris, kedalam bahasa Achèh, di Achèh, sewaktu diperlukan di medan Achèh.  Dan ketika di Norwegia, saya telah mintakan masyarakat Achèh di Stavanger atau Rogaland, Norwegia agar menerimanya juga sebagai anggota keluarga kita, bangsa Achèh.  Mengapakah sudah menjadi demikian?

 

Apakah yang pernah kamu, Raden Bukhari Popiya, pernah buat untuk perjuangan bangsa Achèh menentang Penjajah Indonesia Jawa?

 

Untuk ini saya akan memulai menjelaskan kedudukan perkara yang berkaitan dengan itu, mengikut penjelasan yang pernah saya publikan:

 

(1) Di rumah si Ramli anak menantu Djali Djeuram, Meulaboh, pengelola website MP GAM atau MB GAM Swedia, yang ketika itu menumpang di rumah Zulkifli (juga bisannya Djali Djeuram Meulaboh, selaku majikan pemilik "tong rokok (kretek Jawa) tungguan"-nya, dipasar pagi Chow Kit, Kuala Lumpur, Malaysia, untuk tugas shift tengah malam.

 

Ketika itu, sebahagian  TNA, Tentara Negara Achèh baru saja balik dari pendidikan militernya di Afrika Utara, tetapi diantara mereka ada yang memerlukan penjelasan mengenai: "Jawa" sebagai musuh Èndatu, sebagai musuh turun-temurun, sebagai musuh bangsa, sebagai national enemy!

 

Mengulangi mengatakan "Jawa" sebagai musuh ketika saya memberikan syarahan di Rumôh Peureulak, Selayang, Kuala Lumpur, yang ketika kebetulan dihadiri oleh Daud Husein atau Daud Paneuk, (syarahan saya yang kedua dan ditempat yang kedua) langsung membuat dia berpaling dan menengadah sambil menyelutuk: "Tidak, tidak begitu, sebab As-syahid Dr Muchtar Hasbi MD, pernah memberikan surat penghargaan kepada Jawa-Jawa di Pasèe, yang berjasa ikut membela perjuangan GAM".

 

Setelah memberikan dia kesempatan untuk memberikan sanggahannya itu, maka saya pun mengatakan kepadanya.  OK-lah biar saya jelaskan dulu.  Karena, saya tahu betul dia itu, bukan tahu masalah-masalah seperti itu, apalagi dengan masalah "Jawa" dalam perjuangan kemerdekaan di Achèh.  Dan dia coba mengalah dan memberikan kesempatan kembali kepada saya, mungkinpun karena:

 

(a) Selain dia, hanya sebagai tamu yang diundang hadhir untuk syarahan saya itu,

 

(b) Juga harus menghormati saya sebagai orang yang sedang memberi syarahan dan

 

(c) Mungkin teringat akan sebuah kejadian seketika dulu, ketika di Afrika Utara sana, di komleks kampus Alfatah University?, pernah coba mempersoalkan tentang sikap dan kredibiliti saya dalam perjuanga. Sayapun memberikan ketika itu memberikan "straight response", dengan sebuah tanggapan:…"seluruh pengetahuan yang ada pada diri saya adalah untuk perjuangan.  Kami dari Wilayah Pasèe dan Peureulak (Darul Nurul 'Aqla), telah diingatkan dengan komitmen bersama As-syahid Dr Muchtar Hasbi dan As-syahid Dr Zubir Mahmud bahwa, setiap anak-anak Pasèe dan Peureulak jangan sekali-kali memikirkan akan apapun jabatan dalam perjuangan hari ini.  Karena dari Wilayah Pasèe dan Peureulaklah Islam itu, menjalar ke wilayah-wilayah lain di Achèh dan juga kemudian menjalar ke seluruh Nusantara maka, maka semangat perjuangan anak-anak Pasèe dan Peureulak mencontohi contoh-contoh seperti itu.  Ooooooh, saya tidak pernah tahu, seperti itu dengan refleksinya…. kenapakah mereka tidak mengatakan dulu, katanya lagi.

 

Mendengar penanggapan saya itu, dengan serta-merta, diapun menukarkan topik persoalan ke topik lain, dengan menceritakan bagaimana sesungguhnya mentaliti dr Husaini Hassan (HH), termasuk (1) Usaha mencoba menjual bot, yang pernah dipakai untuk menyeberangi Wali Negara ke sebuah negara tetangga.  (2) Yang keluar dari mendan perang sebelum mendapat keizinan dari Wali Negara terlebih dahulu dll., walaupun tidak sebanyak yang pernah dibeberkan oleh anaknya sendiri: Yusuf Daud Paneuk tentang dr Hussaini Hassan

 

dr Hussaini Hassan dan Lukman Thaib dan yang seorang lagi pernah disebut-sebut sebagai "Barua Politik" oleh pengikut-pengikut mereka: Si "Parasit Politik".  Tahukah kamu, Raden Bukhari Popiya apakah itu, yang dimaksudkan  "Barua Politik" dan "Parasit Politik"???

 

Dan kemudian dia menceritakan pula, sebuah cerita bagaimana Abu 'Aad, yang pernah sangat setia bertukar menjadi (sangat?) khianat katanya, yang tidak pernah sama sekali diduga sebelumnya, hingga dia hampir na'as di ambush oleh ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, ulah "undangannya".  Untung dengan cepat dia sempat melemparkan "tongkat" ditangannya, yang kemudiannya menyelamatkannya.

 

Saya kenal dengan Abu 'Aad itu, seorang yang pernah dikenal sangat setia kepada Abu Daud di Beuereuh-éh, sewaktu kami disinggahkan sekejap dikediaman munggilnya yang berhiaskan seperti hiasan di Jeep Cheeney di Philipina atau di motor gerobak di Pakistan, sebelum berpindah ketampat Teuku Sarong di Tiba. Dan banyak lain-lain ceritanya.

 

(d) Daud Paneuk, sememangnya dihormati karena sebagai orang tua dengan pengalamannya tersendiri, apalagi ketika itu, dia sedang menunjukkan komitmen kesetiaan-penuhnya. Pengetahuanya terhadap perjuangan tidak pernah ditambah-tambah atau bertambah-tambah!

 

Keterangan sehubungan menceritakan pada kejadian di Rumôh Peureulak, Seulayang; Kuala Lumpur,  Malaysia ini, berarti disini, saya sudah menyelesaikan point (kedua ditempat kedua) sebagaimana saya telah janjikan dalam tulisan saya: "Cerita Keluarga Kami  Plus Kemanusiaan Jawa-nya"…

 

Saya jelaskan lagi, sesiapapun bangsa Achèh, yang (terlanjur) mengawini atau dikawini "Jawa" baik yang lelaki ataupun yang perempuan, ketika bangsa Achèh sedang mengahadapi Penjajah Indonesia Jawa, dimintakan keluar dahulu dari wilayah Achèh, wilayah dimana konflik sedang berlangsung, sehingga kemudian terwujud "real atau concrete(d) peace", di Achèh.

 

Apakah lelaki Achèh ataupun perempuan Achèh (yang mengawini/dikawini "Jawa" ) itu akan bebas dari national service, tugas bangsa?  Jawabnya:  Tentu saja tidak!

 

Untuk ini kita berhadapan dulu dengan pertanyaan:  Mengapakah lelaki ataupun perempuan Achèh yang mengawini atau dikawini "Jawa" musti keluar?

 

(01). Karena sejarah telah mencatat "Jawa" sebagai musuh bangsa Achèh cq ABRI-TNI/APOLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indoneisa Jawa, si Belanda Hitam, si Jawa Chauvinis, si Jawa Sentris, si Jawa Unitaris, si Jawa Kolonialis, akan menangkap sewenang-wenangnya anak bangsa Achèh, menyiksa dan menyakiti orang-orang tua dan anak-anak, memperkosa wanita-wanita mereka, menyembelih dan atau menghilangkannya, merampok harta benda orang-orang kampung: Kerbau, lembu, kambing, ayam dan itik dan apa-apa yang dipandang mereka bisa dimanfaatkan dengan ketamakan dan keserakahannya.

 

(02). Karena bangsa Achèh, yang terutama dikampung-kampung, yang pernah disakiti, dilukai hatinya,  maka tanpa disangka dan diduga, kadangkala secara spontan akan membenci atau akan timbul marah kepada siapapun biëk "Jawa", baik yang lelaki, perempuan ataupun keturunan-keturunan dari mereka, sehingga akan terjadi sesuatu yang tidak diingini.

 

(03). Karena mereka perlu juga menyara/membiayai kehidupan keluarga mereka di pengungsian sana.

 

(04). Karena kita, bangsa Achèh, tidak mahu terlibat dengan pelanggaran Hak-hak Azasi Manusia (HAM) membunuh orang/masyarakat sipil yang sangat ditentang oleh manusia sejagat/universil cq "Jawa", karena "Jawa" itu, walaupun sebagai musuh itu adalah juga manusia.  Dan lagi Islam juga melarang keras manusia membunuh sesama manusia (dengan sewenang-wenang-nya), seperti yang dilakukan oleh ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam yang hingga tahun 2005, telah menyembelih dengan sewenang-wenangnya atas bangsa Achèh, yang diperkirakan melebihi 70.000 jiwa.

 

(05). Karena dikuatiri si Penjajah Indoneisa Jawa cq ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, akan coba mempengaruhi keluarga-keluarga yang berkawin silang-berpalang ini, antara Achèh dengan "Jawa" akan mengabil kesempatan menggunakannya sebagai alat mereka, sebagai milisi.

 

(06). Karena setatus orang Achèh yang telah (terlanjur) mengawini/dikawini orang "Jawa" akan sama terpandang, sebagaimana kita memandang siapapun orang "Jawa" yang berdomisili di Achèh yang ketika perang antara bangsa Achèh dengan Penjajah Indonesia Jawa cq ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, musti keluar dahulu sementara peperangan sedang berlangsung.

 

(07). Karena setelah bangsa Achèh, yang telah (terlanjur) mengawini/dikawini "Jawa" dan "Jawa" yang telah turun temurun berdomisili plus yang baru didatangkan kemudian, yang dicanangkan sebagai realisasi  "kemanusiaan yang adil dan beradab"-nya Pancasila, sebagai alat Penjajah Indonesia Jawa meyebarkan tentara-tentara bisunya (beyond), tidak menolak keluar dari wilayah konflik, maka yang tinggal akan mudah dikwalifikasikasikan dengan jelas dan tegas sebagai "milisi Pudjakusuma"!   Pujakusuma adalah milisi dari Jawa Chauvinis, Jawa Sentris, Jawa Sentris atau Jawa Kolonialis!

 

(08). Karena hal seperti ini, sama seperti di USA, pernah mengisolirkan masyarakatnya sendiri yang berturunan Jepang yang ramai berdomisili di Hawai dan California, ketika perang Asia Timur Raya/Perang Dunia II, sedang berkecamuk (pernah juga diperjelas oleh Pemimpin di Ban Sigom Donja I), sama seperti bangsa Jepang terhadap masyarakat Korea, walaupun bekas tentara Jepang-nya sendiri yang sudah turun temurun, tetapi hingga kini, masih dipersulit/dihalang-halang untuk menjadi warga negara Jepang, karena hingga kini antara Korea dengan Jepang sesungguhnya masih tergurat permusuhan yang dalam.

 

Walaupun sebagaimana diketahui Jepang yang berasal dari Mongolia, yang adat-istiadatnya terbentuk dari perkombinasian kedua adat Korea dan China.  Atau begitu juga seperti kita lihat sikap dunia Barat hari ini, seperti sudah membentuk suatu sikap yang menguniversil, misalnya terhadap "masyarakat dari belahan dunia tertentu" setelah peristiwa 9 Sepetember, 2001.

 

(09). Karena langkah yang diambil itu hanya sifatnya taktis dan sementara.

 

(10). Karena Negara Achèh Sumatra awal-awal telah menggariskan, kepada mereka yang mematuhi arahan itu, dengan disiplin demikian, sama seperti mereka telah menghargai perlembagaan Negara Achèh Sumatra, dimana mereka yang lelaki Achèh yang (telah terlanjur) mengawini perempuan "Jawa" atau perempuan Achèh yang (telah terlanjur) dikawini lelaki "Jawa" atau anak asal dari kedua mereka akan berhak dan berkewajiban memohon kepada Negara Achèh Sumatra atau cq Pemerintah Negara Achèh agar menerima semua keluarga mereka, sebagai warga negara Achèh Sumatra.

 

(11). Karena Jawa-Jawa yang sedang bekerja diperkebunan-diperkebunan hari ini, akan tetap diperlukan, sebagai buruh-buruh perkebunan di seluruh Achèh khususnya dimasa depan. Demikianlah diterangkan disini, sebagaimana telah disyarahkan oleh mantan Menteri Sosial, As-syahid Dr Zubir Mahmud, yang juga ketika itu menjawat sebagai Pj Gubernur Teming dan Pj Gubernur Wilayah Peureulak, Darul Nurul 'Akla.

 

NB II:  Raden Bukhari Popiya: (a). lautan tidak sama dengan laut, pernah kamu melihat dalam peta dunia, dimana Bermuda? (b) Tolong beritahukan saya apa artinya Grazy? (c) Apakah kamu tahu apa itu Achèh Sosiological Reseach?  Saya bukan apa-apa untuk coba mereservekan kamu kesitu untuk membantu saya, tetapi terpikirkan hanya karena ketika itu kamu sudah memiliki PC dan belum lagi apa-apapun pernah saya ceritakan kepada kamu, tentang apa-apa itu yang akan dilakukan dengan Achèh Sosiological Reseach.  Dan kalau orangnya sebodoh kamu itu, mengikut penilaian objektip (kalau pembacapun mau ikut menilai sekarang ini terhadapnya dengan rancangan rupa kerja ilmi'ah itu) yang terbaca dan terekspose dari kesemua paparan 9(?) email-nya terdahulu, sebelum muncul Bingkisan Malam I dan II,  tentu saja sangat sukar saya menceritakannya kepadanya ketika itu.  Atau orang bisa lihat sendiri ke isi Bingkisan Malam I dan II, yang to be nothing itu!

 

Jadi Raden Bukhari Popiya,

Kalaulah kamu coba menilai hubungan saya dengan A.K.Firdausia atau "Subroto"-nya kamu itu, tentu karena kamu sendiri yang bodoh dan kamu sememangnya bodoh dalam seluk perjuangan!

 

Sehubungan dengan penyebutan kamu, yang telah mengaitkan saudara Iqbal Idris dalam tulisan kamu itu, mengikut hemat saya, mungkin saudara Iqbal Idris telah diinspirasikan oleh karena berulangkalinya kamu menyebut-nyebut adanya wujud "musuh dalam selimut".  Juga kamu sendiri lagi kembali mengulangi kata-kata itu, didepan majelis orang ramai, ketika dirumah ipar kamu sendiri pada tanggal 02.02.2003,  yang hari itu, hari yang bertepatan dengan hari pencucian Ka'bah di Mekah, Saudi  Arabia.

 

Kan lebih baik kau dengan seluruh keberanianmu untuk menceritakan kepada orang ramai, sekaligus dalam internet, siapakah  sebenarnya yang kamu maksudkan dengan "musuh dalam selimut" itu, walaupun sebenarnya "musuh dalam selimut" itu adalah diri kamu sendiri?

 

Bagi saja cerita tentang kamu, sehubungan dengan  penjemputan yang dilakukan oleh dr Hussaini Hassan yang datang khusus jauh-jauh dari Hällefors atau Fitya, Swedia, yang baru saya ketahui, hanya setelah dibeberkan malam itu, malam yang memutuskan agar hubungan dengan kamu menjadi perhatian, memang belum juga terpikir bahwa, sebagai "musuh dalam selimut" yang pernah kau sebut-sebutkan dan biasanya penyebutan itu kau lakukan dengan sambilan berjenaka kiranya adalah kamu, kamu sendiri?: Bukhari Raden yang Achèh, yang kini dikenal sebagai Raden Bukhari Popiya, yang Jawa?!!

 

Karena ketika itu, fokusan saya, adalah senantiasa terhadap kamu sebagai seorang mu'allah, "Mua'allaf Tulen, "Genuine Mu'allaf", New Convert, saudara baru, yang belum juga teralih pada ingatan lain, sekalipun terhadap sebut-sebutan sebagai "musuh dalam selimut".

 

Jangan kamu menukangi juga dalam hal ini, dalam cerita ini.  Sedangkan saya hanya menekankan kepada ex ketua dan ex sekretaris: Iqbal Idris supaya membantu kerja sekretaris baru, dan ketua baru, termasuk kerja menyiapkan ikrar bertulis ta'at setia kepada pemimpin perjuangan!

 

Saya akan sambung lagi mengapakah si "Subroto"-nya kamu yang Jawa itu telah menjadi si "A.K.Firdausia" yang Achèh, seperti si Tukiem kakak angkat saya yang Jawa sudah menjadi si Sawijah, kakak angkat saya yang Achèh, akan saya lanjutkan kembali dalam:

 

(Bersambung: PLUS II + RADEN BUKHARI POPIYA).

 

Wassalam.

 

Omar Puteh

 

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------