Stockholm, 16 Maret 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

GENG GATRA CS PENYEBAR BERITA MESUM YANG BELUM DIUJI KEBENARANNYA DI MAHKAMAH ACHEH.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

KELIHATAN DENGAN JELAS ITU KELOMPOK GENG GATRA CS PANDAINYA HANYA MENYEBARKAN BERITA MESUM YANG TANPA DIUJI  DI MAHKAMAH ACHEH.

 

"Kedua tersangka mesum pelanggar hukum Syariat Islam itu ditangkap warga saat berduaan dalam mobil yang parkir di pinggir jalan. Keduanya kini dalam proses penyelidikan kepolisian di Mapolresta Banda Aceh" (Kepala Polresta Banda Aceh AKBP Zulkarnaen, Banda Acheh, Selasa, 14 Maret 2006, www.gatra.com/artikel.php?id=92997 )

 

Geng GATRA cs ini memang sudah dikenal sejak lama sebagai penyebar berita-berita, terutama yang menyangkut masalah mesum atau masalah yang tidak senonoh yang belum jelas kebenarannya dan tidak ditunjang oleh fakta, bukti dan dasar hukum yang kuat.

 

Misalnya, itu GATRA cs bersama Antara dengan antusiasnya menurunkan berita "Mantan Juru Runding GAM Digrebek Saat Mesum" ( www.gatra.com/artikel.php?id=92997 ). Padahal kalau diteliti dan diselidiki lebih kedalam, itu berita baru cerita diatas angin saja. Artinya baru dituduh saja, belum ada bukti-bukti hukum yang kuat. Tetapi, karena itu menyangkut GAM, maka tanpa dipikir panjang langsung saja disebarluaskan oleh GATRA cs tanpa disertai dengan fakta dan bukti hukum yang kuat yang bisa dipakai untuk digelarnya peradilan agama dalam hal tindakan zina.

 

Memang pihak GATRA cs dengan menyebarkan berita yang tanpa fakta dan bukti hukum yang kuat ini adalah bertujuan untuk menyebarkan propaganda yang keropos yang diarahkan kepada pihak GAM dan bangsa serta rakyat Acheh secara umum.

 

Kalau pihak GATRA cs mengerti dan memahami bagaimana itu proses penjatuhan vonis zina yang diacukan kepada syariat Islam, maka itu GATRA cs tidak akan dengan mudah melambungkan dan menyebarkan berita mesum yang tanpa ditunjang oleh fakta dan bukti hukum yang kuat.

 

Dan nantinya, kalau itu berita ternyata setelah diuji didepan mahkamah di Acheh terbukti tidak benar, maka sebaiknya dan sewajibnya itu GATRA cs untuk dituntut ganti rugi karena dengan sengaja dan penuh kesadaran telah menyebarkan fitnah dan kebohongan yang merugikan nama baik seseorang.

 

Nah sekarang, kalau ditelusuri bagaimana sebenarnya proses penjatuhan vonis zina menurut syariat Islam, maka dibawah ini Ahmad Sudirman akan mengupas sedikit tentang zina dengan didasarkan kepada referensi hukum yang telah disusun oleh Ibnu Rusyd dalam bukunya Bidayatu'l Mujtahid.

 

Ada dua golongan yang memandang dan beranggapan pada hukum zina dan penerapan pada palakunya.

 

Golongan pertama.

 

Golongan pertama ini tidak membedakan apakah pezina itu muhshan (sudah kawin) atau tidak-muhshan (belum kawin). Muhshan ialah dewasa, merdeka, sudah kawin. Dimana keduanya dijatuhi hukuman 100 kali dera berdasarkan surat An Nuur, ayat 2: "Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman" (An Nuur, 24:2)

 

Golongan kedua.

 

Golongan kedua memisahkan pezina berdasarkan muhshan atau tidak-muhshan. Bagi pezina yang muhshan dijatuhi hukuman rajam, artinya dilempar dengan batu. Sedangkan bagi pezina yang tidak-muhshan (belum kawin, masih muda) dijatuhi hukuman dengan didera 100 kali sebagaimana tertulis dalam surat An Nuur, 24:2. Disini mereka mengkhususkan Al Quran surat An Nuur, 24:2 dengan Hadits.

 

Hukuman bagi pezina muhshan adalah dengan di rajam berdasar kepada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar ra. Yakni hadits yang telah disepakati shahihnya:

 

"Sesungguhnya Rasulullah saw merajam seorang Yahudi perempuan dan seorang Yahudi Laki-laki yang keduanya telah berzina, karena persoalan keduanya dilaporkan kepada Nabi oleh seorang Yahudi".

 

Kemudian jumhur fuqaha berpegang kepada hadits dibawah ini yang dikeluarkan dalam kitab-kitab shahih:

 

"Sesungguhnya Rasulullah saw merajam seseorang yang bernama Ma'iz dan merajam seorang perempuan dari kabilah Juhainah, dan merajam pula dua orang Yahudi dan seorang perempuan dari kabilah Amir dari suku Azd".

 

Sedangkan hukuman untuk pezina tidak-muhshan (orang muda, belum kawin) adalah dengan 100 kali dera sesuai dengan surat An Nuur, 24:2.

 

Kemudian dalam menghukum pezina tidak-muhshan ini ada perbedaan diantara para fuqaha, yaitu mengenai hukum pengasingan disamping hukum dera (jilid) berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh para penyusun kitab-kitab shahih dari Abu Hurairah ra. dan Zaid bin Khalid al-Juhani ra, bahwa keduanya berkata:

 

"Sesungguhnya seorang lelaki dusun datang kepada Nabi saw. Ia berkata: "Ya Rasulullah, demi Allah aku meminta kepadamu agar engkau memberikan keputusan kepadaku berdasarkan Kitabullah". Maka berkatalah lawannya, sedang ia lebih pandai dari lelaki tersebut, "Ya, putusilah diantara kami dengan Kitabullah, dan izinkanlah aku berbicara." Maka berkatalah Nabi saw kepadanya, "Katakanlah". Lalu berkatalah lelaki dusun itu, "Sesungguhnya anak lelakiku bekerja (menjadi buruh) pada orang ini, kemudian ia berzina dengan istrinya, lalu aku diberitahu bahwa anakku dikenai hukum rajam. Maka kutebus anakku dengan seratus ekor kambing dan seorang hamba perempuan kecil. Kemudian aku bertanya kepada ahli ilmu, dan mereka mengabarkan padaku bahwa anakku dikenakan hukum jilid (dera) seratus kali dan diasingkan satu tahun, dan bahwa istri orang ini dikenai hukum rajam". Maka berkatalah Rasulullah saw, "Demi Dzat yang menguasai diriku, aku akan memberikan keputusan diantara kamu berdua berdasarkan Kitabullah. Mengenai hamba perempuan kecil dan kambing, maka kembali kepadamu, sedang terhadap anak lelakimu ini dikenai hukuman seratus kali dera (jilid) dan pengasingan satu tahun. Pergilah kamu, hai Unais (panggilan untuk sahabat Anas bin Malik), kepada istri orang ini. Jika ia mengaku, maka rajamlah ia". Kemudian Unais pergi kepadanya, dan iapun mengakui perbuatannya. Maka Nabi saw menyuruh perempuan itu didatangkan, kemudian ia pun dirajam".

 

Menurut hadits ini ada hukum pengasingan disamping hukum dera (jilid). Tetapi ada beberapa perbedaan pendapat diantara para fuqaha. Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya berpendapat bahwa tidak ada pengasingan disamping jilid. Imam Syafi'i berpendapat bahwa setiap pezina harus dikenakan pengasingan disamping hukum jilid. Yakni bagi laki-laki maupun perempuan. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa pengasingan hanya dikenakan kepada pezina laki-laki dan tidak dikenakan kepada pezina perempuan.

 

Cara Melaksanakan hukuman.

 

Bagi pezina yang tidak-muhshan didera. Menurut Imam Malik yang didera adalah punggung dan seputarnya serta harus menanggalkan baju. Menurut Imam Syafi'i yang didera seluruh anggota badan, kecuali kelamin dan muka yang harus dihindarkan serta penanggalan baju. Menurut Abu Hanifah seluruh anggota badan, kecuali kelamin, muka dan kepala serta penanggalan baju.

 

Bagi pezina yang muhshan dikenakan rajam. Menurut Imam Malik dan Abu Hanifah bahwa orang yang dirajam tidak ditanam separuh badan. Sedangkan Imam Syafi'i memberikan pilihan antara ditanam dan tidak ditanam. Tetapi diriwayatkan daripadanya bahwa yang ditanam separuh badan hanya orang perempuan saja. Para fuqaha yang berpendapat tidak menanamnya berpegang kepada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari hadits Jabir ra. Ia berkata:

 

"Maka kami merajamnya di mushalla. Tetapi tatkala batu itu menimbulkan rasa sakit padanya, ia pun lari. Maka kami menangkapnya di al-Harrah, kemudian kami memukulnya dengan batu".

 

Sedangkan para fuqaha yang berpendapat pezina harus ditanam separuh badan ketika waktu dirajam adalah berdasarkan kepada hadits dari Ali ra. tentang Syurahah al-Hamdaniyyah ketia ia menyuruh merajamnya. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Tsaur:

 

"Maka tatkala telah datang hari Jum'at, ia (Ali ra.) mengeluarkannya (Syurahah), kemudian menggali lubang untuknya. Lalu dimasukkanlah ia kedalamnya, dan orang banyakpun mengelilinginya untuk melemparinya. Maka berkatalah Ali ra., "Bukan begitu cara merajam. Aku khawatir sebagian kalian akan mengenai sebagian yang lain. Akan tetapi berbarislah kalian sebagaimana kalian berbaris dalam shalat". Kemudian ia berkata pula: "Rajam itu ada dua macam, rajam sembunyi dan rajam terbuka. Pada rajam yang dijatuhkan karena pengakuan, maka orang yang pertama merajam adalah imam (penguasa), kemudian baru orang banyak. Sedang pada rajam karena saksi, maka orang yang pertama-tama merajam ialah saksi, kemudian imam dan kemudian orang banyak".

 

Selanjutnya menurut jumhur fuqaha, bahwasanya disunatkan agar imam mendatangkan orang banyak pada saat dilaksanakan hukuman, berdasarkan surat An Nuur, 24:2 "...dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman" (An Nuur, 24:2).

 

Sedangkan mengenai waktu pelaksanaan hukuman, jumhur fuqaha berpendapat bahwa hukuman tidak boleh dilaksanakan pada saat hari sangat panas atau dingin. Dan tidak pula dilaksanakan atas orang yang sedang sakit.

 

Tetapi para fuqaha lainnya berpendapat harus dilaksanakan juga meskipun dalam keadaan sakit. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Ahmad dan Ishaq.

 

Bagi para fuqaha yang memandang kepada suruhan melaksanakan hukuman secara mutlak tanpa kecuali, maka mereka berpendapat bahwa orang sakit tetap dijatuhi hukuman pada saat sakitnya itu.

 

Sedangkan bagi para fuqaha yang memandang kepada pengertian hukum, yakni sebagai pengajaran, maka mereka berpendapat bahwa orang sakit tidak dijatuhi hukuman sampai ia sembuh. Begitu juga ketika cuaca sedang sangat panas atau sangat dingin.

 

Perkara untuk menetapkan zina.

 

Para ulama telah sepakat bahwa untuk menetapkan zina berdasarkan kepada pengakuan dan adanya saksi-saksi. Tetapi masih adanya perbedaan pendapat dalam masalah syarat-syarat pengakuan dan syarat-syarat saksi. Kemudian adanya perbedaan pendapat mengenai penentuan zina berdasar kehamilan pada wanita yang tidak (belum) kawin.

 

Bilangan pengakuan.

 

Dalam masalah pengakuan ini timbul perbedaan yang menyangkut bilangan pengakuan. Imam Malik dan Imam Syafi'i berpendapat bahwa satu kali pengakuan sudah cukup untuk menjatuhkan hukuman. Pendapat ini dikemukakan juga oleh Ibnu Dawud, Abu Tsaur, Ath-Thabari.

 

Sedangkan Imam Abu Hanifah beserta pengikutnya, IbnuAbi Laila, Imam Ahmad dan Ishaq berpendapat bahwa hukuman zina baru bisa dijatuhkan apabila adanya pengakuan empat kali yang dikemukakan satu persatu ditempat yang berbeda-beda.

 

Imam Syafi'i dan Imam Malik mendasarkan kepada sabda Nabi saw dalam hadits Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid ra. "Pergilah kamu, hai Unais (panggilan untuk sahabat Anas bin Malik), kepada istri orang ini. Jika ia mengaku, maka rajamlah ia". Kemudian Unais pergi kepadanya, dan iapun mengakui perbuatannya. Maka Nabi saw menyuruh perempuan itu didatangkan, kemudian ia pun dirajam".

 

Sedangkan Imam Abu Hanifah mendasarkan kepada hadits Sa'id bin Jubair ra. dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi saw: "Sesungguhnya Nabi saw menolak (pengakuan) Ma'iz sehingga ia mengaku empat kali, kemudian beliau menyuruh merajamnya".

 

Mencabut kembali pengakuan.

 

Jumhur fuqaha berpendapat bahwa jika seseorang mengaku berbuat zina, kemudian ia mencabut kembali pengakuannya, maka pencabutannya itu dapat diterima. Kecuali Ibnu Abi Laila dan Utsman al-Batti yang menolak pencabutan itu.

 

Imam Malik mengadakan pemisahan dalam pencabutan pengakuan ini. Jika pencabutan itu didasarkan kepada keragu-raguan, maka pencabutan itu bisa diterima. Tetapi jika pencabutan itu tidak didasarkan kepada keragu-raguan (syubhat), maka dalam hal ini ada dua riwayat daripadanya. Yang pertama dapat diterima, dan ini adalah pendapat yang terkenal daripadanya. Sedangkan yang kedua tidak dapat diterima pencabutannya kembali.

 

Saksi-saksi.

 

"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak membawa empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik" (An Nuur, 24:4)

 

Dimana sifat-sifat saksi itu harus adil. Kesaksian harus dinyatakan dengan kata-kata yang jelas. Berdasar kepada penyaksian alat kelamin laki-laki berada pada alat kelamin perempuan. Kesaksian itu tidak berbeda-beda waktu maupun tempatnya.

 

Kehamilan.

 

Adanya perbedaan diantara para fuqaha mengenai penjatuhan hukuman zina berdasarkan pada tampaknya kehamilan. Menurut Imam Malik hukuman dijatuhkan kepada perempuan yang menunjukkan kehamilan, kecuali kalau perempuan itu dapat menunjukkan tanda-tanda bahwa ia dipaksa. Kalau mengaku sudah kawin, maka ia harus dapat mendatangkan saksi atas perkawinannya itu.

 

Imam Syafi'i dan Abu Hanifah berpendapat bahwa timbulnya kehamilan dan pengakuan telah dipaksa menyebabkan tidak dilaksanakannya hukuman terhadap perempuan itu. Begitu juga jika disertai pengakuan telah kawin, meski ia tidak mendatangkan tanda-tanda dalam pengakuannya bahwa ia telah dipaksa, atau mendatangkan saksi dalam pengakuannya bahwa ia telah kawin. Ini didasarkan kepada riwayat Umar ra, bahwa ia menerima kata-kata orang perempuan yang mengaku bahwa tidurnya nyenyak sekali, dan seorang lelaki telah menyetubuhinya, kemudian lelaki itu pun pergi, sementara ia sendiri tidak tahu, siapakah lelaki itu.

 

Tidak ada perselisihan diantara para fuqaha bahwa perempuan yang dipaksa berzina itu tidak dijatuhi hukuman. ( Ibnu Rusyd, Bidayatu'l Mujtahid, Juz 3, Bab II, Bab III, hal. 617-633, Cetakan pertama 1991, Edisi Malaysia, Victory Agencie, Kuala Lumpur).

 

Nah sekarang, saran Ahmad Sudirman kepada geng GATRA cs agar dikemudian hari jangan sembarangan menyebarkan berita tidak senonoh tentang zina yang ada kaitannya dengan hukum Islam, karena berita tersebut akan menjadi senjata makan tuan.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

HUKUM & KRIMINALITAS

Mantan Juru Runding GAM Digrebek Saat Mesum

 

Banda Aceh, 14 Maret 2006 16:06

 

Mantan juru runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM), AA bin M, ditangkap warga Desa Lambhuk, Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh, Selasa dini hari, saat berduaan dengan seorang perempuan bule.

 

"Kedua tersangka mesum pelanggar hukum Syariat Islam itu ditangkap warga saat berduaan dalam mobil yang parkir di pinggir jalan. Keduanya kini dalam proses penyelidikan kepolisian di Mapolresta Banda Aceh," kata Kepala Polresta Banda Aceh AKBP Zulkarnaen, kepada wartawan di Banda Aceh, Selasa.

 

Ia menjelaskan, kedua tersangka yang diduga terlibat mesum itu diserahkan ke aparat kepolisian sekitar pukul 01.00 WIB, Selasa. Perempuan bule itu pegawai sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing, PC (24) asal Prancis.

 

Lebih lanjut, Kapolresta menjelaskan bahwa perbuatan kedua insan berlainan jenis kelamin itu telah melanggar Qanun (Perda) tentang Syariat Islam yang sudah diberlakukan secara kaffah (menyeluruh) di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

 

Disebutkan, tersangka AA bin M (34) itu kini merupakan salah seorang anggota refresentatif GAM pada tim pemantau Aceh (Aceh Monitoring Mission/AMM).

 

Lebih lanjut, Kapolresta menjelaskan bahwa berdasarkan informasi masyarakat yang menangkap kedua tersangka itu menyebutkan sering menyaksikan mobil-mobil parkir di pinggir jalan tersebut setiap larut malam.

 

"Karena sudah sering melakukan pengintaian, maka beberapa masyarakat Desa Lambhuk melakukan penggerebekan dan ditemukan dua insan berlainan jenis dalam mobil tersebut, di dalamnya ternyata seorang gadis bule dan mantan juru runding GAM," tambah Zulkarnen.

 

Penyerahan kedua tersangka mesum kepada aparat kepolisian itu juga disaksikan petugas pengawas Syariat Islam (Wilayatul Hisbah). "Wilayatul Hisbah telah meminta agar kasus tersebut diproses sesuai ketentuan Qanun yang berlaku di Aceh," tambahnya.

 

Namun karena tersangka wanitanya bukan beragama Islam, maka kemungkinan besar sanksi hukum cambuk akan dikenakan kepada mantan juru runding GAM itu.

 

"AA bin M terancam hukuman cambuk bila terbukti setelah diadili di Mahkamah Syariah. Sementara teman wanita yang berkebangsaan Prancis itu hanya sebagai saksi karena non-

muslim, sesuai Qanun Syariah Islam," ujar Kapolresta. [TMA, Ant]

 

http://www.gatra.com/artikel.php?id=92997

----------