Stavanger, 19 Maret 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


BANGSA ACHEH BERSATU UNTUK BERPEMERINTAHAN DAN MENJADI TUAN DI NEGARA SENDIRI.

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.

 

 

MENYOROT BANGSA ACHEH BERSATU UNTUK BERPEMERINTAHAN DAN MENJADI TUAN DI NEGARA SENDIRI.

 

KP-PRA:ďBersatu Untuk Berkuasa Atau Menjadi Budak Di Negeri SendiriĒ (Ridwan M.Spd, Banda Achèh, 14 Maret, 2006),

 

Satu Slogan/Motto lain: "Bangsa Achèh Bersatu Untuk Berpemerintahan Dan Menjadi Tuan Di Negara Sendiri!"

 

Saudara Ridwan M.Spd dalam sebaran undangan dari KP-PRA-nya saudara bertanggal 14 Maret, 2006 berslogan atau bermotto dengan: "Bersatu Untuk Berkuasa Atau Menjadi Budak Di Negeri Sendiri" (?).Apakah ini slogan/motto atau pameo?

 

Yang penting sekali bagi saudara Ridwan M.Spd, dan rakan-rakan anda hari ini, atau sekarang ini, ketika anda dan rakan anda coba bergerak bangun untuk menegakkan partai lokal di Achèh adalah perlu sekali mengetahui dan memahami sebaik-baiknya "perspektip poin" apakah sesungguhnya yang ada dalam "kornea mata" bangsa Achèh, sebagaimana yang telah dilakari pada MOU Helsinki, Finlandia.

 

Sama seperti perlunya anda dan rakan-rakan anda mengetahui dan memahami apa itu GAM. "GAM nakeuh saboh geurakan njang tuntŁt dan njang peunjoŽ Achèhnjan seubagoŽ saboh bansa: Bansa Achèh!"(GAM adalah sebuah organisasi perjuangan bangsa Achèh, yang memperjuangkan dan mempertahankan kewujudan Achèh itu sebagai sebuah bangsa: Bangsa Achèh!)

 

Achèh bukan Indonesia!†† Atau Achèh bukan Indonesia Jawa!

Bangsa Achèh bukan bangsa Indonesia atau Indonesia Jawa!

Penjajah Indonesia Jawa tidak ada hak apapun di bumi bangsa Achèh baik dari segi sejarah, sejarah ketatanegaraan atau hukum!

 

Jadi, suatu ucapan yang sangat bodoh sekali, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Prof Dr Ismail Sunny seorang anak bangsa Indonesia Jawa, yang beretniskan Achèh, yang telah berkerak tinggal tetap di Jakarta sana, walaupun dikatakan sebagai seorang ahli hukum tata negara Indonesia Jawa.

 

Tidak sempurnalah atau sebagai anehlah jika Prof Dr Ismail Sunny itu, yang berasal dari Achèh, yang nenek moyangnya Achèh, untuk dikatakan sebagai seorang ahli tata negara Indonesia Jawa, tetapi sama sekali mengabaikan pula untuk mengetahui dan memahami serta mendalami sejarah Negara (Kerajaan) Achèh dan sejarah ketatanegaraannya, sekalipun kalau dia masih mau juga menganggap Achèh itu, sebagai "bahagian" dari Indonesia Jawa.

 

Pengabaiannya untuk mengetahui dan memahami serta mendalami terhadap sejarah Negara (Kerajaan) Achèh dan sejarah ketatanegaraanya itulah, yang telah membentuk pribadinya sebagai seorang yang berpribadi hipokrit kepada bangsa Achèh, kepada bangsa nenek moyangnya sendiri, sehingga dengan congkak dan angkuh, dia berani mengatakan bahwa: "Tidak semua orang Achèh bersepahaman sama dengan orang-orang GAM!"(GAM yang diindentikkannya sebagai orang-orang Achèh atau bangsa Achèh, yang sedang memperjuangkan dan mempertahankan Achèh itu, sebagai sebuah bangsa: Bangsa Achèh!)

 

Kami tanyakan kepada kamu, Prof Dr Ismail Sunny:MengapakahRI (Republik Indonesia Jawa) itu, memisahkan diri (kemudian sejarah menulis RI (Jawa Jokya)itu, sebagai negara seperatis) dari RIS (Republik Indonesia Serikat) lantas membentuk negaranya mengikut model sejarah ketatanegaraan Jawa Singosari masa pemerintah Kertanegara (Si Lembu Bunting) dengan acuan Sotasono-nya, suatu bentuk ketatanegaraan kerajaan Jawa leburan dari beberapa kerajaan-kerajaan kecil seperti: Pasuruan, Balambangan, Kediri dll. menjadi satu itu, yang kemudian (pengetahuan) bentuk negara? dan bentuk pemerintahannya yang sudah ditokok dan ditambah menjadi sebuah struktur (tata) pengetahuan ketatanegaraan, yang kemudian lagi, kamu, Prof Dr Ismail Sunny-pun ikut mengapplikasikannya, sehingga terangkatlah dirimu, sebagaiseorang "ahli ketatanegaraan" yang bermodelkan asal dari sejarah ketatanegaraan Jawa Singosari (Sotasono) atau sejarah ketatanegaraan Indonesia Jawa Mojopahit Klassik itu!

 

Mengapakah pula, kamu, Prof Dr Ismail Sunny, tidak mau membuat pernyataan bahwa, "tidak semua bangsa-bangsa Jawa (baik Jawa Singosari/Mojopahit: Pasuruan, Belambangan, Kediri dll.) ataupun (Jawa Mataram: Jawa Tengah) di luar kerajaan Singosari atau diluar RI (Jawa Jokya) atau diluar Pulau Jawa sama sekali tidak bersepaham dengan RI (Jawa Jokya) atau kini disebut NKRI, menolak Sotasono, seperti cara ucapan kamu menolak GAM, organisasi perjuangan yang berjuang untuk mengapplikasikan kembali struktur negara model Negara (Kerajaan) Achèh, negara (kerajaan) nenek moyang bangsa Achèh, yang juga nenek moyang kamu} ?

 

Demikianlah saudara Ridwan M. Spd dan begitu juga rakan-rakan anda sebangsa Achèh, sepatutnya perlu mengetahui dan memahami serta juga mendalami sejarah struktur (tata) pemerintahan Negara (Kerajaan) Achèh sejak pemerintah Sultan Ali Mughajat ShahAl Qahar (1496-1528) atau sejak 100 tahun sebelum Belanda mula menjajah Jawa ditahun 1596 atau 453 tahun sebelum Belanda mewujudkan RIS (Republik Indonesia Serikat) dimana RI (Republik Indonesia Jawa, sebagai salah sebuah negara bahagiannya, yang kemudian menjadi negara seperatis terhadap RIS).

 

Prof Dr Ismail Sunny itu, yang dikatakan sebagai seorang ahli tata negara Indonesia Jawa itu, yang baru mempunyai " kuasa (hanya) sezarah" di Jakarta sana,namun kekal sebagai budak Indonesia Jawa di NKRI, tetapi sebaliknya dia membiarkan pula "Penjajah Indonesia Jawa sebagai tuan, di Achèh", dinegeri nenek moyangnya juga.

 

Mengapakah demikian?Karena dosanya, dari tingkah-ragam lakunya: Yang congkak dan yang angkuh, yang telah terus-menerus menghakis jiwa dirinya dari mengenal kembali: Sejarah nenek moyangnya sendiri, Negara (Kerajaan) Achèh dan sejarah ketatanegaraannya.

 

Beranjak dari catatan diatas itulah, maka ketika saya membaca:

Program Mendesak Komite Persiapan Partai Rakyat Aceh (KP-PRA) terbitan saudara Ridwan M.Spd dan rakan-rakan anda, yang poin-nya selusin itu, nampaknya hanya baru dua saja, terkretaria dan terklassifikasikan sebagai dapat memenuhi ciri-ciri kepentingan nasional Achèh, sedangkan selebihnya masih bersangkut dan berpaut dengan kepentingan nasional (Penjajah) Indonesia Jawa.

 

Sedikit saya berikan sebuah contoh yang mungkin bisa memberikan manfaat kepada anda, saudara Ridwan M.Spd dan rakan-rakan anda dari KP-PRA, sebuah kejadian dari sebuah pertemuan kami dengan Drs Nurdin AR, ex-Bupati PidiŽ, ketika Asean Games sedang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia-Red).

 

Dia ketika itu ditemani oleh Sekjen MP GAM Don Zulfahri Cs, yang mungkin anda pernah mendengar nama gila itu, sikaki busuk Abdullah Putťh, Gubernur si Pencuri itu, yang pernah bersama dr Hussaini Hassan Cs, dari Hšllefors, Fitya, Norsborg, Swedia, coba menghancurkan Negara Achèh Sumatra/ASNLF/GAM lewat medan front Malaysia?

 

Drs Nurdin AR, yang dikatakan sebagai satu-satunya Bupati dari Achèh dan malahan juga dikatakan sebagai satu-satunya Bupati diseluruh Indonesia Jawa, yang paling rapat dengan Soeharto Kleptokracy, (si algojo Jawa yang telah menyembelih lebih dari 50.000 jiwa bangsa Achèh, masa DOM), merasa sangat bangga pula, sebagai satu-satunya Bupati di Achèh yang pernah mengundang langsung Transmigran Jawa masuk ke wilayah kebupatenan PidiŽ, yang pada kenyataannya, belum pernah dilakukan oleh mana-mana Bupati-Bupati PidiŽ sebelumnya.

 

Karena, dikatakannya lagi, Transmigran Jawa, yang ada di wilayah kebupatenan-kebupatenan diseluruh Achèh itu, didatangkan langsung oleh Menteri Transmigrasi dan Koperasi Indonesia Jawa atau sebelumnya didatangkan oleh penjajah Belanda sebagai buruh Jawa kontrak.

 

Dari mana dia mendapatkan biaya pengurusan memindahkan ribuan transmigran-taranmigran Jawa Mojopahit dan Jawa Mataram itu ke wilayah kekabupatenan PidiŽ?

 

Dia dan Soeharto Kleptokracy (si algojo Jawa, yang telah menyembelih lebih 50.000 jiwa bangsa Achèh masa DOM)menggunakan biaya taktis dari dana untuk penyediaan kondom dari Program Keluarga Berencana, pada priode masa tugas Javier Peres de Cuellar, sebagai Sekjen PBB yang dulu itu.

 

Nah, disini anda, saudara Ridwan M. Spd dan rakan-rakan anda dari KP-PRA, bisa melihat bahwa, setelah dia "berkuasa" di PidiŽ, dia kemudian menjadi "budak Indonesia Jawa di negerinya sendiri"

 

Selain itu, perlu juga saya jelaskan kepada anda, saudara Ridwan M Spd dan rakan-rakan anda dari KP-RPA sedikit cuplikan lain dari "dialog" kami malam itu dengan Drs Nurdin AR yangkedatangannya ke Malaysia, selain menghadiri Asean Games, sambilan juga hendak mempromosikan film "Tjut Nja' Dhin-nya".

 

Ini, tentunya juga perlu untuk menjadikan pengetahuan tambahan kepada Prof Dr Ismail Sunny dan Prof Dr Ibrahim Alfian (Yang tidak sempat saya perbetulkan, karena ketika saya hendak memperbetulkannya didepan Dr Hasballah Sa'ad Cs di Seminar Melayu Antarabangsa di Shah Alam, Malaysia, si professor gudeg jokya itu, cepat-cepat modar menghindar, selepas melontarkan "indonesia"-nya) :

Ö..

 

XYZ: Mengapakah dalam film Tjut Nja' Dhin, ada terkibarkan bendera merah putih?

 

Drs Nurdin AR: Ooh tidak. Mungkin kamu salah melihat, atau mungkin projektornya ditempat pemutaran gambar itu kurang baik.

 

XYZ: Kami masuk dan melihat digedung yang sama, sebaik para Bupati-bupati seluruh Indonesia (Jawa)keluar dari pertunjunkan perdana dari gedung yang sama, pada hari yang sama disana, di Jakarta.

 

Drs Nurdin AR: (sambil tertunduk) Ooh kalau begitu akan kami chek kembali. NB: Drs Nurdin Ar adalah orang yang sangat berperanan dalam pembuatan film Tjut Nja' Dhin itu.

 

XYZ: (1). Apakah sudah ada bendera "merah putih" ketika itu? (2). Dan apakah Tjut Nja' Dhin berjuang untuk Achèh atau untuk Indonesia? (3). Apakah "indonesia" sudah ada ketika itu?

 

Drs Nurdin Ar: Bendera merah putih memang belum ada ketika itu! Dan Tjut Nja' Dhin berjuang hanya untuk Achèh! Yah, benar Indonesia (Jawa) juga belum ada ketika itu.

Ö..

 

dialog saya padai dulu, setakat ini dan kemudian dikabarkan film Tjut Nja' Dhin, yang dibanggakannya sebagai satu-satunya film dokumenter dari epos perjuangan pahlawan Achèh Tjut Nja' Dhin, dengan menggunakan tiga bahasa: Achèh, Belanda dan "indonesia", dan tercatat sebagai pertama sekali di Idonesia Jawa, apalagi si Jarot kawan intimnya si Megawati Soekarno Putri ex-presiden Penjajah Indonesia Jawa, si algojo betina Jawa itu, yang telah menyembelih lebih 20.000 jiwa bangsa Achèh masa DM dan DS, sebagai bintang prianya!

 

Nah, saudara Ridwan M. Spd dan rakan-rakan anda sekalian bahwa, kini sudah jelas bahwa, Achèh itu bukan Indonesia Jawa.

 

Pahlawan-pahlawan Achèh berjuang hanya untuk generasi penerus bangsa Achèh (Generation to come), bukan untuk Indonesia Jawa atau Penjajah Indonesia Jawa!Dan Drs Nurdin AR yang punya baru sedikit "kuasa" sudah pula coba menggunakan kuasanya yang sedikit itu, untuk coba merobah sejarah bangsa Achèh, yang juga sejarah nenek moyangnya, agar dia terus bisa kekal sebagai "budak di negeri sendiri", sebagai budak penjajah Indoneisa Jawa!

 

Tetapi, mengapakah Prof Dr Ismail Sunny masih tidak mau menerima kenyataan sejarah bahwa, apa yang pernah diperjuangkan oleh pahlawan-pahlawan bangsa Achèh yang terdahulu adalah sama seperti apa yang diperjuangankan oleh pahlawan-pahlawan dan pejuang-pejuang bangsa Achèh sekarang (hari ini) cq GAM untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai satu bangsa yang bertanah air sendiri!

 

Begitu juga untuk menjadi rujukan kepada Prof Dr Ibrahim Alfian, si Maha Guru (Gudeg Jokya) sejarah Indonesia Jawa, yang mempunyai sedikit "kuasa" di Universitas Jokyakarta, tetapi masih bandel juga dan masih berani lagi memaparkan di IFA, Washington DC, bahwa "indonesia" sudah ada sejak lama di Achèh (?) sebagaimana lontaran ucapannya "masa jedah" di Seminar Melayu Antara Bangsa di Shah Alam, Malaysia, agar dia bisa saja terus kekal menjadi "budak di negera Penjajah Indonesia Jawa".

 

Walaupun dia sadar bahwa, tidak seorangpun para Ahli Sejarah Indonesia Jawa dan Para Maha Guru-Maha Guru Sejarah Indonesia Jawa dari seluruh Universitas di seluruh Indonesia Jawa, berani hingga hari ini, dengan jelas memaparkan, kapan kewujudan "indonesia" Jawa itu.

 

(Bersambung: Plus + " Bangsa Achèh Bersatu Untuk Berpemerintahan Dan Menjadi Tuan Di Negara Sendiri!")

 

Wassalam.

 

Omar Puteh

 

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------