Stockholm, 21 Maret 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

PARA PENDUKUNG RI-JAWA-YOGYA YANG MENCETUSKAN ISTILAH KELOMPOK UNITARIS DAN KELOMPOK FEDERALIS.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

JELAS ITU PARA PENDUKUNG RI-JAWA-YOGYA YANG MENCETUSKAN ISTILAH KELOMPOK UNITARIS DAN KELOMPOK FEDERALIS.

 

"Kalau kita membaca tulisan Bapak ini, maka kelihatannya Bapak tidak paham dengan berjuang dalam rangka NKRI dan berjuang untuk berpisah dengan NKRI. Yang membuat kelompok kelompok untaris RI-Jawa-Yogya dan no unitaris adalah pak Ahmad Sendiri atau Pak Ahmad Cs. Sedangkan Sukarno Cs (yang menamakan dirinya kelompok Nasionalis), Natsir Cs (yang menamakan dirinya kelompok Nasionalis dan berazazkan Islam) adalah tokoh-tokoh yang sejak Sumpah Pemuda thn 1928 sudah mengendaki NKRI, yang Nasional Relegius." ( Rasjid Prawiranegara, rasjid@bi.go.id , Tue, 21 Mar 2006 07:44:02 +0700)

 

Saudara Rasyid Prawiranegara di Jakarta, Indonesia.

 

Inilah kalau memang saudar Rasyid itu buta akan jalur proses sejarah pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan, Papua Barat dan RIS, sehingga dengan seenak perutnya sendiri menulis: "Yang membuat kelompok kelompok untaris RI-Jawa-Yogya dan no unitaris adalah pak Ahmad Sendiri atau Pak Ahmad Cs".

 

Saudara Rasyid Prawiranegara,

 

Itu yang melahirkan istilah unitaris dan federalis adalah para pengikut Soekarno sendiri. Dimana misalnya pada tanggal 23 Januari 1950, atau 7 bulan sebelum RIS dilebur dan dijelmakan menjadi NKRI pada 15 Agustus 1950, itu di Bandung ibu kota Negara Pasundan Negara Bagian RIS telah timbul istilah golongan unitaris dan golongan federalis. Dimana golongan unitaris yang menginginkan dan mengikuti jalur politik Soekarno cs, sedangkan golongan federalis adalah yang ingin tetap memperfatahan eksistensi negara-negara Bagian dalam tubuh negara Federasi Republik Indonesia Serikat yang telah diserahi dan diakui kedaulatannya oleh Belanda dan PBB pada tanggal 27 Desember 1949.

 

Jadi saudara Rasyid Prawiranegara,

 

Itu bukan Ahmad Sudirman yang membuat istilah kelompok unitaris RI-Jawa-Yogya, melainkan justru kelompok para pendukung Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya yang mencetuskan istilah unitaris yang dikenakan kepada unitaris RI-Jawa-Yogya-nya Soekarno.

 

Selanjutnya saudara Rasyid Prawiranegara,

 

Kalau saudara Rasyid masih saja mengotot tanpa memakai dasar fakta, bukti, sejarah dan hukum dengan terus saja menuliskan: "tidak ada NFRPI (Negara Fedrasi Republik Persatuan Indonesia) yang ada RPI dan itu merupakan Wacana. RPI bukan negara karena RPI tidak memiliki Undang-Undang. Undang-Undang yang adalah UUD tahun 50 yang berdasarkan Dekrit 5 juli 1959 dikembalikan pada UUD RI tahun 45", maka itu membuktikan betapa dangkal dan tidak pahamnya itu saudara Rasyid akan sejarah RPI dihubungkan dengan RI-Jawa-Yogya-nya Soekarno.

 

Saudara Rasyid, itu ketika Negara Federasi Republik Persatuan Indonesia (RPI) didirikan pada tanggal 8 Februari 1960 oleh Sjafruddin Prawiranegara dan Mohammad Natsir cs bersama PRRI, NII dan Permesta, ternyata RI-Jawa-Yogya pada tanggal itu telah membuang UUDSementara 1950 karena telah diganti oleh UUD 1945 pada tanggal 5 Juli 1959.

 

Jadi saudara Rasyid Prawiranegara,

 

Pernyataan saudara itu salah besar, sebab saudara Rasyid mengatakan bahwa "Undang-Undang yang adalah UUD tahun 50", padahal yang dipakai oleh RI-Jawa-Yogya pada tanggal 8 Februari 1960 adalah UUD 1945. Dan tentu saja, itu RPI adalah sangat bertentangan dengan asas dan tujuan RI-Jawa-Yogya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Keputusan Presiden No.200 Tahun 1960 tanggal 17 Agustus 1960, ketika PRRI dengan RPI serta Masyuminya dihancur-leburkan oleh Soekarno dan kelompok unitaris RI-Jawa-Yogya-nya. Dan tindakan Soekarno itu membuktikan bahwa Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang kemudian membentuk Negara Federasi Republik Persatuan Indonesia (RPI) adalah bertentangan dengan apa yang menjadi asas dan tujuan RI-Jawa-Yogya-nya Soekarno.

 

Terakhir saudara Rasyid Prawiranegara,

 

Fakta, bukti, sejarah dan hukum apalagi yang bisa kalian tampilkan saudara Rasyid, kalian sejak lama hanya pandai meraba-raba saja.

 

Coba itu para pendukung kelompok unitaris RI-Jawa-Yogya berikan bantuan pengetahuan saudara-saudara kepada saudara Rasyid yang sudah kelabakan dan kehabisan akal ini dan pandainya hanya mengekor dan memutarbalikkan apa yang dituliskan oleh Ahmad Sudirman.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Tue, 21 Mar 2006 07:44:02 +0700

From: "Rasjid Prawiranegara" rasjid@bi.go.id

To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>, <admin@gatra.com>, <gobang@gatra.com>, <gatracom@gatra.com>, <surat@gatra.com>, <redaksi@gatra.com>, <alcapona75@yahoo.co.uk>, <usantosobudiman@yahoo.com>, <ekoraja@yahoo.com>, <muharifb@yahoo.com>, <a.assyaukanie@pgrad.unimelb.edu.au>, <asrirs@yahoo.com>, fauzan@indosat.net.id

Subject: RE: AKHIRNYA PENDUKUNG UNITARIS RI-JAWA-YOGYA TERPUKUL HABIS MELALUI FAKTA, BUKTI & HUKUM TENTANG PRRI, RPI, MASYUMI DAN PSI.

 

Ass. Wr. Wb.

 

Kalau kita membaca tulisan Bapak ini, maka kelihatannya Bapak tidak paham dengan berjuang dalam rangka NKRI dan berjuang untuk berpisah dengan NKRI. Yang membuat kelompok kelompok untaris RI-Jawa-Yogya dan no unitaris adalah pak Ahmad Sendiri atau Pak Ahmad Cs. Sedangkan Sukarno Cs (yang menamakan dirinya kelompok Nasionalis), Natsir Cs (yang menamakan dirinya kelompok Nasionalis dan berazazkan Islam) adalah tokoh-tokoh yang sejak Sumpah Pemuda thn 1928 sudah mengendaki NKRI, yang Nasional Relegius. Sukarno dan Natsir itu adalah sahabat, tetapi mereka memiliki perbedaan prinsip. Di negara yang demokrasi, tentunya perbedaan pendapat itu tidak dapat dihilangkan, sebagaimana Allah menciptakan manusia yang berbeda Ras dan Agama untuk saling berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan dalam rangka dicintai Allah.

 

Dalam masalah PRRI/Permesta, Pak Ahmad mencoba untuk mengatakan bahwa mereka adalah separatis, tetapi facta yang Pak Ahmad harus terima bahwa mereka adalah Nasionalis berazaz Islam yang cinta NKRI. Mereka berjuang untuk menciptakan NKRI yang berazazkan Islam sebagaimana bentuk Negara Madinah (zaman Rasul Allah), dimana negara itu melindungi setiap agama yang berasal dari Allah untuk hidup dengan harmoni. NKRI tidak hanya untuk orang Jawa saja atau untuk orang yang beragama Islam.

 

Adanya RPI itu adalah bentuk Wacana dari sebuah NKRI yang Ideal. Bapak Ahmad mencoba untuk menambahkan kata Negara Fedrasi pada RPI, sedangkan dalam tata bahasa Indonesia kata Fedrasi dan Persatuan memiliki arti yang berbeda. Sedangkan persamaan kata Persatuan adalah Kesatuan, sedangkan Federasi persamaannya adalah serikat sebagaimana kepanjangan dari RIS (Republik Indonesia Serikat). Dengan kata lain bahwa Pak Ahmad mencoba untuk mengkaitkan Paham Negara Kesatuan pada Paham Negara Federal. Mosi Natsir sudah jelas mengatakan Natsir adalah dalam Wadah NKRI, dan RPI adalah bentuk Ideal dari NKRI yang berwawasan Islam. Natsir tidak melanjutkan RPI karena ia tahu bahwa dampak dari adanya RPI adalah kehancuran NKRI. Dilain pihak perjuangan untuk membentuk NKRI masih jauh, karena kawan-kawan kita yang ada di Papua ingin segera bergabung dengan NKRI. Oleh sebab itu Natsir Cs menerima Amnesti dari Bung Karno sebagai kecintaan Natsir Cs pada NKRI. Sebagaimana Syafruddin Menyerahkan PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) pada Bung Karno, karena tetap ingin mendukung NKRI.

 

Meskipun Sukarno boleh dikatakan Zalim, tetapi pada umumnya Rakyat tetap menyatakan beliau sebagai Presiden sebelum diturunkan secara Paksa oleh Rakyat. Natsir Cs terus berjuang untuk menciptakan NKRI yang madani, insya Allah, Beliau berjuang dalam rangka NKRI.

 

Dari tulisan diatas tentu Bapak Ahmad dapat menilai bahwa saya menulis menurut facta, tidak ditambah dan dikurangi, dan tidak ada NFRPI (Negara Fedrasi Republik Persatuan Indonesia) yang ada RPI dan itu merupakan Wacana. RPI bukan negara karena RPI tidak memiliki Undang-Undang. Undang-Undang yang adalah UUD tahun 50 yang berdasarkan Dekrit 5 juli 1959 dikembalikan pada UUD RI tahun 45.

 

Wassalam

 

Rasyid Prawiranegara

 

rasjid@bi.go.id

Jakarta, Indonesia

----------